Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 147 Sakit....


__ADS_3

Hari berganti dengan cepatnya. Bulan pun ikut berganti menemani Ustadz Jaki yang selalu siaga dengan kehamilan istrinya.


Shinta memang tidak cuti meskipun sudah mendekati hari perkiraan kelahiran bayinya karena dia ingin cuti lebih lama saat usai melahirkan.


Tiba-tiba saja Ustadz Jaki mendapatkan panggilan dari rumah sakit. Mereka mengabarkan jika Shinta akan melahirkan. Dengan terburu-buru Ustadz Jaki berangkat ke rumah sakit hingga dia lupa mengabarkan pada keluarganya dan keluarga Shinta bahwa Shinta sedang berjuang untuk melahirkan buah hati mereka.


Karena saking terburu-burunya, Ustadz Jaki lupa meletakkan ponselnya di meja makan ketika mengambil kunci mobil yang berada di rak lemari yang berada di ruang makan.


Pada saat ponsel Ustadz Jaki kembali berbunyi, Ustadz Jaki sudah tidak berada di rumah, dia sudah ada di jalan tanpa mengetahui ponselnya tertinggal di meja makan tadi.


Suara ponsel Ustadz Jaki yang berkali-kali dan menggema di dalam rumah, membuat orang yang berada di dalam rumah menjadi bingung.


"Ini HP nya siapa Mbak Atik?" tanya Umi Sarifah sambil membawa ponsel Ustadz Jaki yang tertinggal tadi menuju dapur.


"Loh saya gak tau Umi. Coba saja Umi lihat dalamnya barangkali ada foto pemiliknya," jawab Mbak Atik sambil mengaduk masakannya.


"Ada apa Umi?" tanya Rhea sambil menggendong Baby Izam yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian.


"Ini loh ada HP di atas meja makan. Mana bunyi terus lagi dari tadi. Gak tau punya siapa. Coba kamu lihat, barangkali kamu tau ini punya siapa," jawab Umi Sarifah sambil memberikan ponsel tersebut pada Rhea dan meminta Baby Izam untuk digendongnya.


"Emmmm... wanginya cucu nenek. Udah ganteng banget mau ke mana Sayang?" Umi Sarifah berbicara pada Izam yang hanya dibalas tawa oleh Izam dengan gigi yang masih muncul beberapa.


"Ini sih HP Ustadz Jaki Umi. Nih wallpaper nya aja fotonya sama Shinta. Sedangkan HP Shinta kan covernya warna pink," ucap Rhea sambil memperlihatkan foto narsis Ustadz Jaki bersama Shinta.


"Kok tiba-tiba ada disitu sih? Padahal tadi kan gak ada. Apa Ustadz Jaki tadi pulang sebentar ya, terus HP nya ketinggalan di meja?" Umi Sarifah bertanya sambil berpikir.


"Mungkin aja Umi. Terus ini gimana HP nya Umi?" Rhea bertanya pada Umi Sarifah sambil menyodorkan HP Ustadz Jaki di depan Umi Sarifah.


"Taruh di-"

__ADS_1


Ternyata ponsel Ustadz Jaki kembali berbunyi dan itu membuat Umi Sarifah dan Rhea kaget sedangkan Baby Izam tertawa dengan riangnya.


"Coba kamu angkat aja. Takutnya penting karena dari tadi bunyi terus," Umi Sarifah memerintahkan Rhea untuk mengangkat ponsel Ustadz Jaki yang berdering karena ada panggilan masuk.


Rhea pun menuruti Umi Sarifah dengan mengangkat telepon yang masuk pada ponsel Ustadz Jaki. Seketika mata Rhea membelalak karena kaget.


"Umi, Shinta akan melahirkan," ucap Rhea dengan nada gelisah pada Umi Sarifah.


"Lalu di mana Ustadz Jaki sekarang? Kenapa ponselnya ada di sini?" Umi Sarifah bertanya dengan gelisah.


"Kurang tau Umi. Rhea tanyakan sama Abi nya Izam dulu ya," Rhea menjawab pertanyaan Umi Sarifah seraya mengambil ponselnya di saku gamisnya.


Setelah itu Rhea menanyakan pada suaminya tentang keberadaan Ustadz Jaki dan dia memberitahukan jika Shinta akan melahirkan di rumah sakit.


Rhea dan Umi Sarifah menunggu kabar dari rumah sakit dan kabar dari Ustadz Fariz yang sedang mencari keberadaan Ustadz Jaki.


"Mobil... mobil... mobilnya ada gak?" tiba-tiba Rhea teringat akan mobil yang berada di garasi.


"Oh iya ya, kenapa gak ingat dari tadi. Sebentar, aku lihat dulu di garasi," ucap Ustadz Fariz yang kemudian berjalan menuju garasi.


"Aku susul ke rumah sakit aja sekalian memberikan ponselnya Ustadz Jaki, seperti ya memang dia sudah berangkat dan HP nya tertinggal di rumah," Ustadz Fariz berjalan menuju rak kunci untuk mengambil kunci mobil milik Rhea.


"Sendirian?" tanya Rhea yang sebenarnya ingin sekali ikut, namun dia tahu jika dia harus menjaga Izam di rumah.


"Iya, Bunda jaga Izam aja ya di rumah. Gak baik bayi berada di rumah sakit," jawab Ustadz Fariz dan mendapat anggukan dari Rhea dan Umi Sarifah.


"Apa Umi perlu ikut Le?" kini giliran Umi Sarifah yang bertanya pada Ustadz Fariz.


"Umi di rumah aja ya nemenin Izam sama Bundanya," Ustadz Fariz menjawab dengan sopan pada Umi Sarifah.

__ADS_1


Dan Umi Sarifah pun harus berada di rumah bersama dengan Rhea dan Izam. Sedangkan Ustadz Fariz bergegas menuju rumah sakit untuk mengetahui keberadaan Ustadz Jaki yang benar-benar sudah berada di sana atua tidak.


Sesampainya di rumah sakit, Ustadz Jaki segera berlari menuju ruangan yang sudah diberitahukan oleh perawat. Di sana Shinta sedang merasakan rasa sakit yang membuatnya ingin menangis.


"Sayang, jangan nangis, pas buatnya aja gak nangis," ucap Ustadz Jaki yang sudah ada di dekat Shinta.


Bukannya kamu yang keenakan? Aku kesakitan sampai nangis, kamu lupa? ingin sekali Shinta mengatakan hal itu pada suaminya, nyatanya dia hanya bisa mengatakannya dalam hati karena dia tak mampu berbicara karena rasa sakit yang dia rasakan saat ini.


Para perawat yang ada di ruangan tersebut tersenyum karena mendengar ucapan Ustadz Jaki pada istrinya yang sedang menahan rasa sakit. Untungnya saja para perawat yang ada di ruangan tersebut sudah mengenal Ustadz Jaki sehingga mereka tidak heran dengan sikap dan lelucon dari suami dokter mereka.


Shinta tidak menyahuti ataupun menjawab semua ucapan suaminya yang sedari tadi mengoceh tanpa henti. Dia hanya sibuk merasakan rasa sakitnya yamg semakin membuncah ketika waktunya semakin mendekati kelahiran.


Dan tibalah saatnya, Shinta merasakan perutnya semakin mulas. Dan dia tanpa mau berkata langsung menyambar rambut suaminya yang sedang menciumi tangannya.


Sontak saja Ustadz Jaki berteriak kesakitan dan bersamaan dengan Shinta yang mengejan, hingga rambut Ustadz Jaki sangat berantakan dan ada beberapa yang rontok di tangan Shinta. Beberapa detik kemudian suara tangis bayi terdengar dalam ruang persalinan tersebut.


"Alhamdulillah....," ucap Ustadz Fariz yang beberapa menit lalu datang dan melihat Ustadz Jaki sedang bertahan dengan siksaan istrinya ketika sedang melahirkan.


Beberapa saat kemudian Ustadz Jaki keluar setelah membisikkan adzan pada telinga kanan bayi dan iqomah pada telinga kiri bayi tersebut.


"Anak nakal, istri sedang melahirkan gak ngasih kabar. Semua orang pada heboh nyariin kamu!" ucap Ustadz Fariz sambil memukul pundak Ustadz Jaki yang berjalan dengan lemah dan penampilan awut-awutan.


"Tapi, selamat Ustadz udah jadi Abi sekarang," Ustadz Fariz mengucapkan selamat pada Ustadz Jaki yang memandangnya dengan tatapan mengiba.


"Kenapa? Laki-laki atau perempuan?" tanya Ustadz Fariz kembali.


Ustadz Jaki menggeleng dan berkata dengan memasang wajah sedih,


"Sakit... rasanya rambutku sudah habis sampai akar-akarnya."

__ADS_1


__ADS_2