Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 224 Terulang kembali


__ADS_3

Beberapa bulan sudah pencarian baby Yasmin tidak membuahkan hasil. Tentu saja Rhea sangat sedih dan selalu menyalahkan dirinya sendiri.


Berbagai upaya sudah mereka kerahkan untuk mencari baby Yasmin dan pencarian mereka belum menemukan titik terang hingga sekarang.


"Bunda jangan nangis lagi ya. Izam akan berdoa dan membantu untuk mencari adik Izam."


Izam duduk di depan Rhea dan memegang kedua tangannya, dia mengatakan pada Bundanya apa yang selalu dia katakan untuk setiap harinya. Dia tidak bisa melihat Bundanya seperti itu setelah penculikan Yasmin.


Air mata Rhea kembali menetes mendengar perkataan Izam. Dipeluknya tubuh lemah Bundanya yang tidak ada semangat itu dengan sangat erat.


"Bunda jangan sedih, jangan menangis. Izam jadi sedih melihat Bunda seperti ini," ucap Izam yang juga mengeluarkan air matanya ketika memeluk Bundanya.


Seperti tercubit hatinya ketika Rhea mendengar ucapan dari anak sulungnya itu. Dia mengurai pelukan anaknya itu dan diusapnya air mata Izam yang juga menyakitkan hati Rhea ketika melihatnya.


Rhea pun mengangguk menyetujui permintaan dari anak sulungnya itu.


Ustadz Fariz yang sedari tadi melihat interaksi dari ibu dan anak itu, hatinya menjadi trenyuh dan tidak sanggup rasanya melihat air mata dari kedua orang yang dicintainya.


Keinginannya untuk bisa mendekat dan berbagi pelukan bersama istri dan anaknya itu tidak bisa dihentikannya. Ustadz Fariz mendekati mereka dan membawa tubuh anak dan istrinya itu ke dalam pelukannya.


"Sayang, kita keluar dari kamar ini ya. Kita jalani semuanya seperti biasanya. Bukan karena kita melupakan adiknya Izam, justru kita harus kuat agar kita bisa menemukan Yasmin," ucap Ustadz Fariz sambil mengusap jejak air mata di pipi istrinya.


"Kita harus sabar dan kuat agar cobaan ini bisa kita lewati bersama. Kita akan terus mencari Yasmin dan di samping itu Izam juga membutuhkan Bundanya," ucapnya kembali.


Apa yang dikatakan oleh Abi semuanya benar. Aku sangat bersalah jika mengabaikan Izam yang masih sangat butuh Bundanya, Rhea berkata dalam hatinya membenarkan perkataan suaminya.


"Astaghfirullahaladzim.... Astaghfirullahaladzim....


Astaghfirullahaladzim...."


Rhea beristighfar dengan suara lirih dan bergetar menahan rasa sakit yang teramat dalam di hatinya.


Senyuman tipis terlihat di bibir Ustadz Fariz, namun air matanya menetes seiring senyumnya itu. Sesungguhnya dia juga sangat terpukul sama seperti istrinya, namun dia tidak bisa ikut terpuruk bersama istrinya karena satu-satunya cara terbaik adalah menghadapi semuanya dan berusaha menyelesaikan masalah mereka.


Tangan Ustadz Fariz mengusap kepala Rhea yang berbalut hijab. Sudah sangat lama sekali mereka tidak saling bermanja setelah peristiwa penculikan baby Yasmin.

__ADS_1


"Kak Izam.... Kak Izam ayo main...."


Tiba-tiba Salsa dengan suara cemprengnya masuk ke dalam kamar tersebut.


"Izam main di luar bersama Salsa dulu ya. Biar Abi yang membawa Bunda keluar setelah ini," ucap Ustadz Fariz sambil mengacak-acak lembut rambut hitam Izam.


Izam pun mengangguk dan beranjak dari duduknya. Kemudian dia mendekati Bundanya dan berkata,


"Izam sayang Bunda."


Kemudian Izam mencium kedua pipi Bundanya, setelah itu dia keluar dari kamar tersebut bersama dengan Salsa.


Di tempat lain, Yasmin kini menangis dengan kerasnya. Dia merasa tidak nyaman berada di tempat yang sangat ramai dan banyak kepulan asap rokok yang mengelilinginya.


Yasmin yang sudah sangat aktif itu membuat Bu Yati kewalahan. Ditempatkannya Yasmin di ruang belakang tempat para pekerja beristirahat, dan dengan berbekal mainan Yasmin ditinggal sendiri ketika Bu Yati dan Pak Anto melakukan pekerjaannya.


Bruk!


Terdengar suara benda terjatuh dengan kerasnya, dan tidak lama kemudian suara tangisan Yasmin terdengar sangat nyaring hingga luar ruangan tersebut.


"Aduh bayi itu sangat menyusahkan," ucap seorang penjaga klub yang berjalan keluar dari toilet di dalam ketika mendengar suara tangisan Yasmin yang sangat keras dan mengganggu pendengarannya.


Orang kepercayaan Bos Leo yang bertugas menjaga keamanan klub tersebut meminta agar Bu Yati membawa Yasmin keluar dari tempat mereka.


"Tapi Pak, bagaimana kami bisa bekerja jika anak yang sekecil itu kami tinggal di rumah sendirian?" tanya Bu Yati pada orang tersebut.


"Itu urusan Ibu. Dan tidak ada urusannya dengan kami. Cepat bawa anak Ibu pergi dari sini atau akan kami bawa keluar anak itu sekarang juga."


Orang tersebut mengancam Bu Yati sehingga membuat Bu Yati bingung dan ketakutan.


Tiba-tiba datanglah seorang pelayan yang berlari mendekati Bu Yati. Dengan nafas yang terengah-engah dia berkata,


"Bu, itu anak Ibu jatuh dan menangis sangat keras sekali."


"Apa?" ucap Bu Yati yang kaget mendengar perkataan pelayan tersebut dan bergegas berlari menuju ruang belakang di mana Yasmin berada.

__ADS_1


"Zahra!"


Bu Yati berteriak dan berlari ke arah Yasmin. Segera di gendongnya Yasmin yang tidak henti-hentinya menangis dengan sangat kencang.


"Cepat bawa keluar dia, atau kalian akan kami usir dari sini!"


Orang yang mengusirnya tadi kembali mengusirnya dan mengancamnya.


Tiba-tiba Yasmin muntah seperti waktu itu, saat mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit ketika menemukan baby Yasmin untuk pertama kalinya.


"Bu, ada apa?"


Pak Anto yang mendengar keributan ketika akan melihat Yasmin menjadi panik ketika mendengar tangisan Yasmin yang tidak seperti biasanya.


"Pak, Zahra muntah-muntah, tadi sepertinya dia jatuh dari situ," jawab Bu Yati panik sambil menunjuk arah tempat tidur yang terletak di atas kursi dan berganti menunjuk tempat Yasmin terjatuh di lantai.


"Cepat bawa bayi itu keluar. Dari tadi tangisannya tidak berhenti. Mengganggu sekali!"


Penjaga tadi kembali mengusir mereka agar cepat membawa Yasmin keluar dari klub tersebut.


"Ayo Bu, cepat kita bawa Zahra ke rumah sakit," ucap Pak Anto sambil membawa istrinya keluar dari tempat itu


Mereka berdua segera membawa Yasmin yang masih saja menangis dengan motor menuju rumah sakit. Namun dalam perjalanan ke rumah sakit, Yasmin kembali muntah tepat di dekat klinik dokter Randi yang menjadi tempat perawatannya pada saat ditemukan Bu Yati dan Pak Anto waktu itu. Maka lagi-lagi niat mereka membawa Yasmin ke rumah sakit harus berganti, mereka memutuskan untuk membawa Yasmin ke klinik tersebut.


"Dok, cepat tolong anak kami," Bu Yati berseru ketika masuk ke dalam klinik tersebut.


"Ada apa Bu?" tanya perawat yang sedang berjaga di sana.


"Anak kami jatuh dan nangisnya tidak berhenti sedari tadi, dia juga muntah-muntah," Bu Yati menerangkannya dengan panik.


Dokter Randi yang mendengar keributan di depan segera keluar dari ruangannya dan dia mendengar apa yang dibicarakan oleh perawat dan Bu Yati.


"Cepat bawa ke ruang periksa!" sahut dokter Randi sambil berlalu ke dalam ruangan untuk memeriksa pasien.


"Zahra?!"

__ADS_1


Dokter Randi kaget melihat anak yang sedang periksanya adalah bayi cantik yang dulu sangat dia kagumi.


Dia memang lupa akan Bu Yati dan Pak Anto karena banyaknya orang yang dia temui, namun wajah Yasmin tidak pernah dia lupakan, terutama kalung yang bertuliskan nama Zahra itu sangat dikenalinya.


__ADS_2