
Berita keguguran kandungan Mirna sudah menyebar di masyarakat. Ada yang merasa iba dan ada pula yang mengatakan itu sebagai karma dari kesombongan Mirna yang setiap kali menyombongkan kehamilannya ketika ditanya oleh seseorang.
Sebenarnya dia merasa sangat bersyukur, namun cara Mirna untuk bersyukur tidaklah benar. Dia menyombongkan apa yang telah dikaruniakan Allah padanya. Kekufurannya atas rezeki Allah membuatnya menerima akibatnya sekarang ini.
Kesedihan Mirna seolah tidak berujung. Dia larut dalam kesedihannya. Hal itu membuat Pandu, Hana dan Anita menjadi iba padanya.
Kesehariannya masih sama seperti pada saat dia sedang hamil. Dia malas melakukan hal-hal yang dikerjakannya sebelum dirinya dinyatakan hamil oleh dokter Dita.
"Maaf ya Nit kamu harus mengurus warung Mirna sampai saat ini. Aku bingung Nit bagaimana membuat Mirna kembali seperti dulu lagi. Semuanya sudah aku lakukan dan dia masih saja tetap seperti itu," ucap Pandu yang merasa tidak enak pada Anita.
"Gapapa Mas. Sebaiknya Mas Pandu lebih sabar dan dekati terus Mbak Mirna agar kesedihannya bisa berlalu," tukas Anita.
Mirna keluar dari kamarnya, dia melihat Anita sedang berbicara dengan Pandu di ruang makan. Saat ini Anita sedang menyiapkan makanan di meja makan dan Pandu duduk di kursi meja makan sambil berbicara dengan Anita.
"Kalian sedang apa?" tanya Mirna ketus.
"Mbak Mirna, sarapan dulu Mbak. Anita sudah masak buat Mbak Mirna. Ini lauk kesukaan Mbak Mirna," ucap Anita sambil tersenyum ke arah Mirna.
Mirna menatap Anita tidak suka, kemudian dia beralih menatap Pandu. Dia tidak menyukai keadaan seperti itu karena mengingatkannya pada pernikahannya dulu. Ustadz Fariz yang selalu dilayani makannya oleh Rhea, sedangkan dia yang menjadi istri pertamanya hanya menonton saja seperti sekarang ini.
"Nit, mendingan kamu pulang aja deh sekarang. Aku udah sehat dan aku udah gak butuh bantuanmu," ucap Mirna setelah duduk di kursi meja makan.
"Mir, kamu ini kenapa sih? Anita ini sudah banyak membantu kita, terutama membantu kamu. Kamu tidak boleh mengatakan hal seperti itu pada Anita," ucap Pandu dengan nada tinggi dan tegas.
"Sudahlah Mas, Mbak, setelah ini Anita akan pulang. Mbak Mirna baik-baik ya, jaga kesehatan jika tidak ada Anita di sini. Sekarang kita makan dulu saja," tutur Anita sambil duduk di kursinya.
"Hana mana, kok dia gak ada di sini?" tanya Mirna sambil menoleh ke kamar Hana yang pintunya sudah terbuka lebar.
"Hana sudah berangkat tadi pagi Mbak," jawab Anita.
"Pagi sekali, gak biasanya," gerutu Mirna sembari mengambil nasi ke dalam piringnya.
Pandu hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya yang kembali berubah semenjak keguguran kandungannya.
__ADS_1
Dalam hatinya Pandu selalu bertanya tentang siapa sebenarnya istrinya itu. Dia seperti tidak mengenal sosok Mirna yang sifatnya suka berubah-ubah.
Dan benar apa kata Pak Ratmo sebelum dia meninggal. Pak Ratmo menitipkan Mirna padanya dan memintanya agar tidak meninggalkannya. Dia juga memberitahukan sikap egois Mirna yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun.
Pandu mengingat itu dan dia lebih memilih mengalah. Mungkin ini karma dia setelah membuat sakit hati kedua istri yang sebelumnya dia nikahi. Rhea dan Ani, hati mereka pernah dia kecewakan dan dia sakiti. Kini dia mendapatkan istri yang jauh dari Rhea dan Ani.
Setelah mereka sarapan, Anita benar-benar meninggalkan rumahnya untuk kembali ke rumah suaminya. Dia hanya berkunjung ke rumahnya satu minggu sekali seperti biasanya bersama suaminya dan adiknya.
"Mir, kamu jangan bersikap seperti itu lagi. Kita sangat berhutang banyak pada Anita. Dia membantu kita tanpa meminta imbalan dari kita," tutur Pandu pada Mirna.
"Mas Pandu kok membela Anita sih?" tanya Mirna kesal.
"Siapa yang membela sih Mir, aku hanya mengatakan yang sebenarnya," jawab Pandu.
Mirna masih saja dengan pemikirannya, dia tidak suka jika suaminya membela wanita lain. Sedangkan Pandu juga masih dengan pendapatnya, dia merasa sangat sungkan pada Anita dengan sikap Mirna yang seperti itu.
Anita, dia faham dengan sikap Mirna. Dia tidak pernah menyalahkan Mirna sekalipun Mirna menyinggungnya. Dia mengerti apa yang dirasakan oleh Mirna.
Mirna bertambah kesal ketika mendengar Pandu menutup pintu rumah dan menyalakan motornya.
Awas saja kamu Mas jika kamu macam-macam. Aku gak boleh terus-terusan begini. Aku harus bangkit. Benar kata Hana, aku harus berusaha dan berdoa agar bisa hamil kembali, Mirna berkata dalam hatinya dengan melihat kepergian Pandu dari jendela kamarnya.
Setelah itu Mirna segera berganti pakaian dan pergi ke pasar dengan menghubungi suaminya.
"Kamu mau ke mana Mir?" tanya Pandu ketika sudah sampai di depan rumah.
"Antarkan aku ke pasar Mas. Aku mau buka warung sekarang," jawab Mirna sambil naik ke boncengan motor Pandu.
"Kamu di rumah aja Mir. Biar aku saja yang bekerja mencari uang," ucap Pandu yang belum juga menyalakan mesin motornya.
"Kenapa Mas melarang aku keluar rumah? Mas macam-macam ya?" Mirna bersuara sedikit tinggi pada Pandu.
"Kamu ini Mir pikirannya aneh-aneh. Aku hanya menyuruhmu untuk istirahat di rumah karena kamu membutuhkannya," jawab Pandu kesal.
__ADS_1
"Enggak. Aku gak butuh istirahat lagi. Aku sekarang mau kembali ke kehidupanku semula agar aku bisa hamil lagi," ucap Mirna.
Mendengar perkataan Mirna, Pandu merasa kaget dan dia menghela nafasnya karena merasa akan lebih sulit lagi menandingi ego nya Mirna.
"Ayo Mas buruan berangkat. Setelah dari pasar, antarkan aku sekalian ke warung," perintah Mirna pada Pandu.
Pandu pun mulai menyalakan mesin motornya dan melajukan motornya itu menuju pasar. Setelah dari pasar mereka menuju warung milik Mirna.
Tidak ada Anita, kini Mirna kembali memasak dan mengurus warungnya seorang diri. Sedangkan Pandu kembali bekerja sebagai tukang ojek meninggalkan Mirna seorang diri di warungnya.
"Harusnya Hana yang membantu aku sekarang. Daripada dia di Pondok Pesantren Al-Mukmin gak ngapa-ngapain, cuma bantuin Ustadzah aja. Mending di sini bantuin aku masak sama ngurus warung," omel Mirna sambil tangannya mengerjakan pekerjaannya.
"Coba deh nanti aku bicara sama dia. Pasti dia tidak akan berani membantah," ucap Mirna kembali sambil memasak.
Di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Hana selalu menantikan kesempatan agar bisa dekat dengan Yasmin.
Seperti saat ini, dia kembali mendekati Yasmin ketika melihat Yasmin sedang melakukan kegiatan di Pondok Pesantren Al-Mukmin bersama santri lainnya.
"Yasmin, apa kabar?" tanya Hana ketika sudah berada di samping Yasmin.
Yasmin menoleh dan tersenyum pada Hana. Merasa itu suatu kesempatan, Hana ingin memanfaatkan kesempatan itu agar lebih dekat dengan Yasmin.
"Yamin, bagaimana kalau kita nanti-"
"Yasmin, yuk kita berangkat sekarang. Kita sudah ditunggu Kak Izam di dalam mobil," seru Salsa dari jarak jauh yang tidak mengetahui jika ada Hana di dekat Yasmin.
"Iya kak, tunggu sebentar," seru Yasmin pada Salsa.
"Kak, maaf ya aku harus pergi sekarang," ucap Yasmin pada Hana.
Hana mengangguk dan berkata dalam hatinya,
Ya... gagal lagi deh.
__ADS_1