Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 18 Istri teladan


__ADS_3

Ustad Fariz menghentikan langkahnya ketika dia melihat Rhea di taman dengan sosok lelaki yang berpenampilan hampir sama dengannya.


Ck, dia lagi. Bukannya dia udah tau kalau Zahra akan jadi istriku? batin Ustad Fariz menggerutu kesal.


"Bukannya itu Rhea mas? Malam-malam gini berduaan sama lelaki? Mas... itu sama aja dengan mencoreng nama Mas Fariz sebelum kalian menikah. Orang-orang pasti berpikiran buruk tentangnya. Apalagi para santri, bisa-bisa mere-" belum selesai Mirna menjelek-jelekkan Rhea, Ustad Fariz menatap tajam Mirna yang terus nyerocos, kemudian Ustad Fariz meninggalkan Mirna yang masih sibuk menjelek-jelekkan Rhea.


"Assalamu'alaikum..," Ustad Fariz memberi salam


"Wa'alaikumussalam...," jawab Ustad Jaki dan Rhea bersamaan.


"Ustad?" kaget Rhea mendapati Ustad Fariz sudah berada di dekat mereka.


"Ciieee Ustad, padahal udah jadi Kyai, tapi aku sama Umi tetap disuruh manggil Ustad, katanya biar mengingatkannya pada sosok Zahra yang memanggilnya Ustad. Cieee... ," Ustad Jaki menggoda Ustad Fariz yang ketahuan memancarkan cemburunya.


"Hah?" Rhea kaget mendengar ucapan Ustad Jaki.


Rhea tidak mengira jika Ustad Fariz mempunyai cara yang khusus untuk mengingatnya.


"Kamu itu selalu aja godain orang kerjaannya. Terus kalian ini ngapain disini berdua?" tanya Ustad Fariz pada Rhea dan Ustad Jaki.


"Ehemm... bilang aja cemburu," ledek Ustad Jaki pada Ustad Fariz dengan memandang ke arah lain.


"Udah malam, gak baik berdua-duaan disini apalagi bukan mahram," ujar Ustad Fariz dengan memandang mereka berdua secara bergantian.


Rhea menunduk tak berani menatap Ustad Fariz yang sepertinya sedang marah.


"Oh jadi kalau kita udah halal boleh dong berduaan malam-malam disini?" tanya Ustad Jaki pada Ustad Fariz.


Ustad Fariz langsung menoleh pada Ustad Jaki dan menatapnya dengan tatapan membunuh. Ustad Jaki terkekeh melihat ekpresi Ustad Fariz.


"Nikah sama Abang yuk Neng biar halal, biar bisa mojok di taman," canda Ustad Jaki yang kini dapat pelototan mata dari Ustad Fariz.


Rhea gelagapan, bingung menghadapi candaan Ustad Jaki karena sekarang ini mereka berhadapan dengan Ustad Fariz.


"Ustad Fariz baru pulang?" Rhea memberanikan diri untuk berbicara pada Ustad Fariz dengan disertai senyum manisnya seperti biasanya.


Senyum itu... senyum yang selalu tidak bisa kulupakan, batin Ustad Fariz yang membuat bibirnya ikut tersenyum.


"Ehemmm... ditungguin bininya noh," tunjuk Ustad Jaki ke arah Mirna dengan dagunya.


Mirna mendekat dan menggandeng tangan Ustad Fariz. Rhea salah tingkah dan canggung. Dia takut jika dilabrak kembali oleh Mirna di wilayah Pesantren ini. Namun pandangan mata Rhea tidak sengaja tertuju pada tangan Mirna yang menggandeng tangan Ustad Fariz, dan sialnya mata Rhea tetap terpaku di sana hingga Ustad Fariz mengikuti arah pandang mata Rhea yang tertuju pada tangan mereka berdua.


Ustad Fariz serba salah. Dia jadi bingung harus bagaimana. Tidak pantas jika dia melepaskan tangan istrinya yang menggandengnya. Namun dia juga ingin menjaga hati Rhea agar tidak tersakiti lagi.


Rhea tahu diri. Dia segera berpamitan dengan alasan ada janji mengaji dengan Umi. Tatapan mata Ustad Jaki pada Mirna tidak bersahabat. Setelah itu Ustad Jaki menyusul Rhea, berjalan di belakangnya seperti layaknya seorang bodyguard.


Ustad Fariz mendesah kesal dengan situasi yang dihadapinya saat ini.


Belum poligami aja udah repot. Apalagi udah poligami? Ustad Fariz membatin dengan menghembuskan nafas berat.


Mirna tersenyum penuh kemenangan. Sekarang dia tahu bagaimana caranya memenangkan suaminya.


Ustad Fariz masih memandang punggung Rhea yang ditutupi oleh punggung Ustad Jaki. Dia merasa situasi ini tidak adil baginya. Pandangan matanya tetap mengarah pada satu titik sampai objek itu menghilang.

__ADS_1


Mirna menarik paksa tangan suaminya untuk pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah, Ustad Fariz akan kembali keluar rumah, namun suara Mirna lagi-lagi mengganggunya.


"Pasti Mas mau ketemu wanita itu kan? Ingat Mas kalian belum halal. Pantes aja tadi ngajak cepat-cepat, pulang" tanya Mirna pada Ustad Fariz sekalian dengan menyindirnya.


"Astaghfirullahaladzim Mirna... apa sih mau kamu? Kan udah dijelaskan tadi kalau aku ada banyak pekerjaan di pondok pesantren," jawab Ustad Fariz dengan menahan kekesalannya.


Mirna masih dengan muka sebalnya, tidak mau mendengar alasan suaminya.


"Lagian liat aja tadi itu, kalau memang dia wanita baik-baik, tidak mungkin bersama dengan lelaki malam-malam gini cuma berduaan aja di taman," Mirna masih saja menjelek-jelekkan Rhea.


Mirna berusaha untuk menggagalkan niatan suaminya untuk menikahi Rhea.


"Udahlah, kita kan gak tau apa yang sebenarnya terjadi. Gak baik berburuk sangka seperti itu," tutur Ustad Fariz agar istrinya sadar dari sifat suudzon nya.


"Belain aja terus, istri sendiri malah gak dibelain," sahut Mirna dengan sebal.


"Mirna kamu kenapa sih jadi begini? Sudah terserah kamu, aku mau ke pondok pesantren dulu," Ustad Fariz pergi melangkah keluar dari rumah.


"Mas tunggu... aku ikut," Mirna berlari dan berteriak menyusul suaminya yang sudah berjalan jauh darinya.


Ustad Fariz mendengus kesal, pasalnya Mirna tidak pernah melepaskannya sendiri. Sekarang ini Mirna mengikutinya dan dia duduk di kursi yang ada di dalam ruangan Ustad Fariz.


Jujur Ustad Fariz merasa tidak nyaman diikuti oleh Mirna kemanapun. Dia serasa tahanan yang diikuti kemanapun dia pergi. Padahal sedari tadi saat di rumah Paman Mirna, dia ingin sekali cepat pulang karena ingin bertemu dengan Rhea. Namun kini hanya tinggal keinginannya saja, dan tidak mungkin dia lakukan karena ini sudah sangat malam.


Bahkan Mirna sudah tertidur sedari tadi. Padahal Ustad Fariz sengaja berlama-lama agar Mirna pulang duluan. Sialnya malah Mirna tetap menunggunya layaknya istri yang setia.


Ustad Fariz akan membangunkan Mirna, namun tiba-tiba dia ingin ke toilet. Keluarlah Ustad Fariz dari ruangannya. Niat hati dia ingin ke toilet, namun di saat perjalanannya ke toilet, dia melihat seorang bidadari hatinya di taman sedang menikmati udara malam dengan memejamkan matanya.


"Belum tidur?" tanya Ustad Fariz mengagetkan wanita itu.


"U-ustad? sedang apa disini?" tanya Rhea yang tergagap karena kaget.


"Masih ada yang dikerjakan di kantor. Kamu ngapain disini malam-malam, gak takut sendirian?" tanya Ustad Fariz dengan suara yang lembut dan tersenyum manis.


"Lagi cari angin aja. Emm... ini udah mau balik kok. Assalamu'alaikum...," Rhea mencoba menghindar kembali dari Ustad Fariz.


"Wa'alaikumussalam... Rhea tunggu," Ustad Fariz menghentikan langkah kaki Rhea.


Langkah kaki Rhea berhenti dan dia berbalik.


"Ada apa Ustad?" tanya Rhea.


"Besok kamu masih ada disini kan? Ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu," jawab Ustad Fariz.


Rhea hanya mengangguk, kemudian dia berbalik meninggalkan tempat itu untuk kembali ke dalam kamarnya yang kini berada di rumah Umi Sarifah.


Ustad Fariz segera ke toilet, setelah itu kembali ke dalam kantornya untuk membangunkan istrinya.


Mirna ogah-ogahan jalan menuju rumahnya. Dengan gaya manjanya dia minta digendong oleh Ustad Fariz. Namun dengan tegasnya Ustad Fariz menolak kemauan Mirna.


Meskipun mengantuk, Mirna tetap menggerutu kesal karena kemauannya tidak dipenuhi oleh suaminya.


Ustad Fariz enggan mendengar ocehan istrinya. Dia lebih memilih berjalan cepat agar cepat sampai di rumah.

__ADS_1


Keesokan harinya, Rhea sibuk bersama dengan Umi mulai dari pagi. Selepas subuh Umi mengajak Rhea memasak, tentu saja hal itu sangat disenangi oleh Rhea. Karena sedari dulu Rhea membantu Ibunya memasak untuk catering mereka. Sehingga Rhea sangat handal dalam hal memasak dan membuat kue.


Entah mengapa hari ini Rhea ingin sekali memasak rendang, dan menu ini juga merupakan menu kesukaan Ustad Fariz. Dan Rhea tahu betul itu.


Umi hanya menjadi penonton saja ketika Rhea beraksi di dapur. Umi sangat mengagumi kelihaian Rhea ketika di dapur.


Pantas saja Ustad Fariz sangat menyukai Rhea, bukan hanya cantik, baik, pintar, tapi dia juga pandai memasak dan membuat kue. Sangat beda sekali dengan Mirna. Astaghfirullahaladzim.... batin Umi tidak tahan untuk memuji Rhea.


Setelah makanan sudah siap, Rhea dan Umi menata semua masakan di atas meja makan. Dan dia juga membuatkan kopi untuk Ustad Fariz dan Ustad Jaki, sedangkan Umi dibuatkan teh madu hangat oleh Rhea. Dan Rhea membuat susu untuk dirinya sendiri.


Ustad Fariz dan Ustad Jaki datang bersamaan dari arah Pondok. Mereka langsung menuju meja makan seperti biasanya. Mata Ustad Fariz berbinar ketika melihat menu kesukaannya sudah terhidang di meja makan. Kemudian dia merasakan kopi yang ada di depannya.


"Ini pasti buatan mu ya?" tanya Ustad Fariz sambil melihat Rhea yang mulai mengambil nasi untuk Umi Sarifah.


"Sok tau," sahut Ustad Jaki.


"Tau dong, rasanya selalu sama, aku tahu betul rasa ini buatan siapa," jawab Ustad Fariz.


Ustad Jaki mengambil cangkir kopinya, kemudian dia meminumnya.


"Enak... pas racikannya, benar buatan kamu Rhea?" tanya Ustad Jaki menatap Rhea.


"Semua yang ada disini buatan Rhea. Umi aja cuma disuruh jadi penonton gak dibolehin ikut masak, Umi sangat bersyukur kalau punya anak perempuan seperti Rhea, " jawab Umi Sarifah.


"Istri teladan," sahut Ustad Jaki.


Ustad Fariz melirik Ustad Jaki yang tersenyum sambil menikmati kopinya.


Tiba-tiba dari arah dapur Mirna masuk dan duduk di kursi yang kosong. Tanpa permisi dia mengambil piring kosong yang ada di meja dan mulai mengambil nasi dan lauk ke dalam piringnya.


"Emmm... enak, beli dimana Umi?" tanya Mirna sambil mengunyah nasi dan daging rendang yang disuapkan ke mulutnya.


"Itu Rhea yang-" Umi menjawab pertanyaan Mirna.


"Aku yang beli di warung masakan padang yang ada di depan mbak," Rhea memotong perkataan Umi Sarifah.


"Pantes enak. Yang sebelah mana?" tanya Mirna kembali.


"Kenapa Mirna? Kamu mau beli?" tanya Umi Sarifah.


"Iya Umi, ini kan makanan kesukaan Mas Fariz. Dari dulu dia minta masakin rendang, tapi gak pernah cocok. Kalau ini kayaknya cocok, tuh Mas Fariz lahap banget makannya," jawab Mirna sambil menaruh daging rendang pada piring suaminya.


"Ya kalau gitu kamu belajar masak yang enak dong biar disayang suami, jangan malah beli," ucap Umi Sarifah.


"Uhuuk...," Ustad Jaki tersedak.


Reflek Rhea mengambilkan gelas yang berisi air putih dan memberikannya pada Ustad Jaki.


Ustad Fariz melirik tidak senang ketika Ustad Jaki menerima gelas tersebut dari tangan Rhea.


"Terima kasih," ucap Ustad Jaki sambil tersenyum ketika menerima gelas tersebut.


Sarapan pagi itu dirasakan Rhea dengan tidak nyaman. Karena Mirna terus-terusan berusaha mencari perhatian Ustad Fariz di depan Rhea.

__ADS_1


Rhea menyadari jika dia hanya seseorang yang tidak harus ada di tempat ini. Dia ingin memberitahukan pada Umi tentang keinginannya untuk pulang.


"Zahra, bisa kita berbicara?" tanya Ustad Fariz pada Rhea.


__ADS_2