Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 195 Apa dia cemburu?


__ADS_3

"Biar sama Mirna aja Mas. Anita biar di rumah aja. Kasihan dia nanti capek," sahut Mirna dengan sewot.


"Capek? Anita gak capek kok Mbak," ucap Anita yang tidak mengerti dengan ucapan Mirna karena tidak biasanya Mirna perhatian padanya, biasanya Mirna malah suka sekali menyuruh-nyuruhnya.


"Kamu itu Nit jadi suka bantah Mbak sekarang ini," Mirna kembali berucap kesal pada Anita.


Anita mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Mirna padanya.


"Maksud Mbak Mirna apa?" tanya Anita dengan wajah kebingungan.


"Udah deh kamu di rumah aja, biar aku sama Mas Pandu yang beli susu buat Emir," tukas Mirna yang masih sewot pada Anita.


Anita semakin tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh ucapan Mirna, dia merasa jika Mirna bukan kasihan padanya, menurutnya Mirna lebih seperti memerintahkannya untuk tetap berada di rumah.


"Kamu tau Mir di mana belinya dan apa susu yang biasa di minum oleh Emir?"


Pandu bertanya pada Mirna agar Anita dan Mirna tidak meributkan kembali siapa yang akan ikut dengannya untuk membeli susu Emir.


"Ya jelas tau lah Mas, kan Emir juga sering sama aku. Lagian aku yang sekarang jadi ibunya Emir, kenapa harus Anita yang ikut membelinya?"


Tanpa sadar Mirna mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Dan ucapan Mirna itu membuat Anita mengerti jika Mirna saat ini sedang cemburu padanya.


Emmm Mbak Mirna, katanya gak mau nikah sama Mas Pandu. Katanya terpaksa, tapi cemburu juga, Anita berkata dalam hatinya sambil tersenyum melihat Mirna.


"Ya sudah. Ayo kalau gitu kita beli sekarang."


Pandu bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil dompetnya setelah mengajak Mirna untuk berangkat membelinya.


Sedangkan Anita masih saja tersenyum melihat Mirna yang terlihat sangat kesal padanya.


"Apa?"


Mirna bertanya pada Anita dengan melebarkan matanya setelah itu berjalan dengan menggendong baby Emir ke dalam kamar.


"Mas ngapain sih bukannya ngajak aku, malah ngajak Anita," Mirna berkata kesal pada Pandu setelah dia masuk ke dalam kamar mereka berpapasan dengan Pandu yang akan keluar setelah mengambil dompetnya.


Pandu menghentikan langkahnya, lalu dia menjawab.

__ADS_1


"Siapa yang mengajak sih Mir? Aku kan hanya minta diantarkan saja. Aku gak tau tokonya di mana dan susu apa yang biasanya di minum oleh Emir."


"Ck, alasan. Sekarang yang jadi istri Mas Pandu itu aku, bukannya Anita. Ingat Mas!"


Mirna memberi peringatan pada Pandu seperti watak aslinya yang selalu mengutamakan egonya.


Pandu memicingkan matanya, dia merasakan keanehan dalam diri Mirna, tidak seperti Mirna yang biasanya dia kenal sebelum menjadi istrinya.


"Kamu kenapa sih Mir kok gitu aja jadi masalah?" tanya Pandu kemudian.


"Gak kenapa-kenapa. Pokoknya ingat kataku tadi. Kalau ada apa-apa mintanya ke aku aja jangan ke Anita. Udah sekarang kita berangkat," ucap Mirna seraya mengambil tasnya.


Pandu dibuat melongo olehnya. Mendengar apa yang dibicarakan oleh Mirna tadi seolah mengatakan bahwa Mirna merupakan istrinya yang sebenarnya dan seperti sedang merasa cemburu pada Anita.


Apa dia cemburu pada Anita? Bukannya dia keberatan dengan pernikahan ini, mangkanya kita membuat perjanjian malam itu sebelum kita menikah?


Pandu bertanya-tanya dalam hatinya hingga beberapa saat dia tersadar ketika Mirna memanggilnya dari luar kamarnya.


"Mas... Mas Pandu, ayo berangkat!"


Teriakan Mirna membuat baby Emir yang sedang digendongnya berjingkat kaget dan setelah itu baby Emir menangis dikarenakan kaget ketika sedang tidur dengan nyenyaknya.


"Sini Mbak biar Emir sama aku aja. Sekarang Mbak Mirna sama Mas Pandu dan Hana berangkat ke toko aja," ucap Anita sambil meminta baby Emir dari gendongan Mirna.


Karena Mirna sudah capek menenangkannya dan karena dia ingin segera pergi dengan Pandu, maka Mirna memberikan baby Emir pada Anita.


Sepertinya memang bayi sangat peka sekali terhadap sekitarnya, tak terkecuali hati orang yang menggendongnya.


Beberapa detik setelah dalam gendongan Anita, baby Emir tidak menangis lagi. Itulah yang membuat Anita tersenyum melihat baby Emir yang kini tertidur kembali dengan anteng di dalam gendongan Anita.


Mirna bertambah kesal melihat baby Emir yang tidak menangis lagi dan tidur dengan nyenyak di dalam gendongan Anita.


Anita lagi, Anita lagi. Kenapa sih Nit mereka semua suka sama kamu? Padahal aku juga memperlakukan mereka sama seperti kamu memperlakukan mereka. Apa yang sebenarnya kamu inginkan Nit? Kenapa kamu seolah mendekati Mas Pandu dan anak-anaknya?


Mirna menggerutu dalam hatinya dengan hidungnya yang kembang kempis menahan kekesalannya.


"Ayo Mir berangkat. Biar Emir sama Anita saja di rumah," ucap Pandu sambil berjalan keluar dari rumahnya.

__ADS_1


"Hana, ayo katanya mau ikut," Mirna melambaikan tangannya mengajak Hana untuk segera ikut dengan mereka berdua.


"Emmm... gak jadi deh Bu, Hana di rumah aja sama Mbak Anita dan Emir," jawab Hana dengan sumringah.


Mirna mengernyitkan dahinya, dia menatap heran pada Hana dan Anita yang saling memandang dan tersenyum bahagia. Dan hal itu membuat Mirna bertambah kesal pada Anita.


"Mir, ayo!"


Pandu yang sudah berjalan terlebih dahulu menoleh ke belakang dan berseru kembali memanggil Mirna.


Mirna pun membalikkan badannya dengan kesal dan berjalan di belakang Pandu.


Sepanjang perjalanan, tangan Mirna melingkar dengan indah di pinggang Pandu.


Ada rasa senang yang dirasakan oleh Pandu. Dia senang karena Mirna tanpa diperintah sudah mau melingkarkan tangannya di pinggang Pandu dan tidak seperti dulu yang sering sekali berbicara judes dengan Pandu jika ditanya olehnya.


Mulai hari ini Mirna membuat Pandu merasa aneh akan semua sikap-sikapnya.


Sedangkan Mirna masih saja menggerutu dalam hatinya meskipun kini dia sedang berada di boncengan motor Pandu.


Hana, Emir, kenapa semua dekat sekali dengan Anita? Jangan sampai Mas Pandu juga lebih dekat dengan Anita daripada denganku. Aku gak bisa mengalah lagi. Enak aja, dulu aku harus menyerahkan Mas Fariz pada Rhea, masa' iya sekarang aku harus membiarkan Mas Pandu dekat dengan Anita? Pokoknya itu gak boleh terjadi.


Tanpa sadar tangan Mirna yang melingkar do pinggang Pandu semakin mengerat ketika dia berbicara dalam hatinya tidak akan membiarkan Pandu dekat dengan Anita.


Pandu kaget ketika merasakan pegangan tangan Mirna lebih erat di punggungnya dan tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas.


Sedangkan di rumah, Hana dan Anita sedang membahas kesepakatan mereka tadi.


"Hana pinter deh. Ini sesuai janji Mbak Anita."


Anita memberikan dua batang coklat untuk Hana. Tadi pada saat Mirna masuk ke dalam kamar untuk mengambil tasnya, Anita membuat kesepakatan dengan Hana.


Anita memberitahu Hana jika dia memiliki coklat yang akan diberikan pada Hana, dengan syarat Hana harus berada di rumah bersama dengannya untuk menjaga Emir.


Niat Anita sebenarnya adalah ingin memberi kesempatan pada Mirna dan Pandu agar bisa berkendara berdua setelah mereka menikah. Apalagi Anita seperti menangkap ada kecemburuan dari diri Mirna padanya ketika berbicara pada Pandu.


"Ini dua-duanya buat Hana Mbak?" tanya Hana pada Anita dan diangguki Anita dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

__ADS_1


"Terima kasih Mbak Anita," ucap Hana yang sangat bahagia sambil memeluk Anita.


"Hana sayang sama Mbak Anita."


__ADS_2