Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 250 Aku mau!


__ADS_3

Selama beberapa hari Izam melakukan shalat istikharah guna meminta petunjuk pada Allah. Petunjuk akan keraguan hatinya dalam memilih seorang istri.


"Izam, bagaimana hasilnya?" tanya Ustadz Fariz sambil memakan kue buatan Rhea.


Kini mereka bertiga, Ustadz Fariz, Izam dan Rhea sedang menikmati kue dan teh hangat tanpa kehadiran Yasmin.


"Alhamdulillah Abi, Izam sudah mendapatkan jawabannya," jawab Izam sambil tersenyum lega.


"Bagus itu. Tapi apa kamu yakin dengan jawabanmu ini?" tanya Ustadz Fariz kembali.


"Insya Allah Izam yakin Abi. Apapun nanti Izam tidak akan menyesal, karena ini sudah menjadi keputusan hati Izam," jawab Izam setelah meminum seteguk teh hangatnya.


"Bunda tebak kalau petunjuk yang kamu cari itu sama dengan apa yang ada dalam hati kamu. Benarkah?" tanya Rhea dengan antusias.


Izam terkekeh mendengar tebakan daei Bundanya. Kemudian dia berkata,


"Bunda memang Bundanya Izam. Bunda tau semua tentang Izam, bahkan perasaan Izam pun Bunda tau," jawab Izam sambil terkekeh.


"Istri siapa dulu dong...," ucap Ustadz Fariz dengan bangganya.


"Emang Bunda istrinya siapa Bi?" tanya Izam sambil terkekeh menggoda Abi nya.


"Wah kamu kurang ajar Zam. Mentang-mentang habis ini kamu sudah akan mempunyai istri," tukas Ustadz Fariz sambil terkekeh.


"Izam ingin hubungan Izam dengan istri Izam kelak sama seperti Abi dan Bunda yang selalu romantis dan harmonis," ucap Izam sambil tersenyum melihat Abi dan Bundanya secara bergantian.


"Kalau bisa kamu harus lebih dari kita," sahut Rhea sambil memeluk Ustadz Fariz dan tertawa kecil.


Ustadz Fariz membalas pelukan istrinya dan mencium kening istrinya. Lalu dia berkata,


"Nanti pasti kamu akan mempunyai kisahmu sendiri. Dan tentunya Abi serta Bunda akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian," tutur Ustadz Fariz pada Izam.


"Lalu, siapa pilihan hatimu itu Zam?" tanya Rhea penasaran.

__ADS_1


Senyum Izam kini hilang, dia sekarang memasang wajah serius dihadapan kedua orang tuanya.


"Abi, Izam minta tolong Abi untuk mengantarkan Izam menemui Kyai Anwar. Izam akan memberikan jawaban atas rencana perjodohan yang beliau tawarkan pada Izam," ucap Izam dengan menatap serius pada Ustadz Fariz.


"Baiklah, kapan kamu akan menemui Kyai Anwar? tanya Ustadz Fariz dengan serius pada Izam.


"Insya Allah besok Bi. Tapi sebelumnya Izam harus menemui Salsa terlebih dahulu. Izam ingin memberitahukan keputusan Izam pada Salsa," tukas Izam kemudian.


"Baiklah, terserah kamu saja. Abi dan Bunda harap semuanya akan tetap berhubungan baik meskipun ada rasa kecewa dan sakit hati," ucap Ustadz Fariz sambil tersenyum pada Izam.


"Jadi... siapa yang kamu pilih Izam?" tanya Rhea penasaran.


Izam tersenyum jahil menggoda Bundanya. Dia tahu jika Bundanya itu sangat penasaran dengan pilihan hatinya.


"Bunda pasti senang jika mendengarnya," jawab Izam yang kemudian berjalan cepat keluar pintu dan mengucapkan salam ketika akan keluar dari pintu rumahnya.


"Anak Abi itu jahilnya bukan main," gerutu Rhea kecewa karena tidak mendapatkan jawaban dari Izam.


"Kan udah dijawab sayang," ucap Ustadz Fariz sambil terkekeh.


"Pasti kabar baik itu akan segera Bunda dengar," ucap Ustadz Fariz sambil mengusap punggung Rhea yang sudah berada dalam pelukannya.


Kini Izam sudah berada di rumah Salsa. Kebetulan sekali jika di rumah Salsa sedang ada Yasmin saja. Ustadz Jaki masih belum pulang menjemput Shinta di rumah sakit.


Selama Salsa pulang dari rumah sakit, Yasmin selalu menemani Salsa di rumah ketika Ustadz Jaki dan Shinta tidak berada di rumah. Dan kini Izam berada bersama mereka.


Yasmin mengerti jika Izam, kakaknya itu akan berbicara serius dengan Salsa. Karena dia adik yang pengertian, dia memberikan waktu untuk mereka berbicara.


Yasmin tidak meninggalkan mereka berdua, dia hanya berada di dapur untuk mengambilkan Izam minuman.


"Salsa, apa kamu mau menikah denganku?" tanya Izam dengan jantungnya yang berdebar kencang dan tangannya yang berkeringat dingin serta sedikit gemetar.


Sontak saja Salsa yang tadinya menundukkan kepalanya tidak ingin melihat Izam, kini dia mengarahkan kepalanya untuk melihat wajah Izam.

__ADS_1


Terlihat jelas kegugupan di wajah Izam. Senyum yang diberikannya kaku, mungkin Izam takut jika Salsa menolaknya.


"Kak Izam ini ngomong apa sih? Bukannya Kak Izam itu sudah mempunyai calon jodoh?" tanya Salsa tanpa menyebutkan nama Adiba, nama yang membuatnya sakit hati selama beberapa waktu.


"Kakak belum menyetujuinya dan ternyata pilihan hati Kakak itu adalah kamu. Apa kamu mau menerima perasaan dan hati Kakak ini untukmu?" tanya Izam kembali dengan menatap intens pada mata Salsa.


"Kenapa Kakak tiba-tiba mengatakannya pada Salsa?" tanya Salsa yang kini bersemu merah pada pipinya.


"Karena Kakak ingin segera memberikan jawaban pada Kyai Anwar jika Kakak menolak perjodohan yang ditawarkannya pada Kakak," jawab Izam tanpa mengalihkan pandangan matanya dari wajah Salsa.


"Kak... apa itu akan baik-baik saja? Mereka kan...."


Salsa tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena memang benar dia merasa sangat bahagia mendengar pernyataan Izam padanya, tapi dia merasa sedih karena dia tidak bisa mengabaikan jika hubungan Pondok Pesantren Al-Mukmin dengan Pondok Pesantren Al Hikmah menjadi buruk karena keputusan Izam yang lebih memilih dirinya.


"Kamu gak usah khawatirkan itu, yang aku ingin tau sekarang itu apa jawabanmu agar aku bisa memberikan jawaban untuk Kyai Anwar," sahut Izam dengan nada santai seperti biasanya.


Wah gawat dong, kalau aku gak nerima pasti Kak Izam akan menerima perjodohan itu. Terus aku gimana dong? Salsa berkata dalam hatinya.


"Sa... Salsa... apa aku terlalu memaksa kamu? Ya kalau misalnya kamu butuh waktu untuk berpikir gapapa kok, Kakak akan pulang sekarang. Tapi kalau bisa jangan lama-lama ngasih jawabannya, soalnya Kakak berniat akan sowan ke rumah Kyai Anwar besok," ucap Izam sambil tersenyum pada Salsa yang masih diam menatapnya.


Huffft... ternyata gak gampang meskipun aku tau Salsa ada rasa padaku, mungkin ini karma buatku yang menyia-nyiakan perasaannya selama ini padaku, batin Izam.


Izam berdiri, dia lebih memilih untuk memberikan waktu pada Salsa agar dia bisa memikirkan lagi jawaban yang akan diberikannya.


"Kakak pulang dulu ya, Assalamu'alaikum...," ucap Izam sambil mengusap kepala Salsa yang berbalut hijab, sama seperti dulu ketika dia masih menganggapnya seperti adiknya sendiri.


"Kak Izam tunggu!" seru Salsa menghentikan langkah kaki Izam yang akan keluar dari pintu rumahnya.


Izam pun menoleh kembali ke belakang untuk menghadap Salsa.


"Salsa mau. Salsa menerimanya. Salsa mau jadi istrinya Kak Izam," ucap Salsa sambil menunjukkan rona malu di kedua pipinya.


"Alhamdulillah...," ucap Izam penuh dengan kelegaan dan tersenyum melihat Salsa yang malu-malu melihatnya.

__ADS_1


"Yeee... Kak Salsa jadi Kakak iparnya Yasmin," seru Yasmin sambil memeluk Salsa dari samping.


Salsa kaget karena Yasmin tiba-tiba berada di sampingnya dan memeluknya. Dan dia juga malu pada Yasmin yang ternyata mendengar pembicaraannya dengan Izam sedari tadi.


__ADS_2