Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 222 Di antara dua pilihan


__ADS_3

"Pak bagaimana ini, biayanya semakin bertambah. Apa kita bawa pulang saja ya Zahra?"


Bu Yati mengatakan kegelisahannya pada suaminya. Biaya perawatan Yasmin yang tiap hari bertambah membuatnya bingung untuk membayarnya.


Ingin rasanya dia melepaskan baby Yasmin, namun egonya untuk mempunyai anak membuatnya mempertahankan baby Yasmin bagaimanapun caranya.


"Mungkin memang belum saatnya kita diberi kesempatan untuk mempunyai anak Bu," ucap Pak Anto pada istrinya.


"Tapi aku terlanjur sayang pada Zahra Pak. Apa tidak bisa kita usahakan biayanya?"


Bu Yati masih saja memaksa suaminya agar tetap mempertahankan baby Yasmin menjadi anak mereka.


"Lalu bagaimana dengan biayanya Bu? Mau cari ke mana kita?"


Pak Anto menghela nafasnya setelah mengucapkan hal itu pada istrinya.


Sejenak Bu Yati diam, dia berpikir bagaimana caranya agar mereka bisa mendapatkan uang untuk membayar biaya perawatan dan pengobatan baby Yasmin.


Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu. Kemudian dia mengatakannya pada suaminya.


"Pak, kenapa kita tidak meminjam uang pada Bos Leo saja? Pasti kita dikasih berapapun yang kita mau. Kita kan sudah lama bekerja bersama dia."


Pak Anto yang sedang diam berpikir, kini terhenyak karena mendengar perkataan dari istrinya.


"Bu, Ibu tau kan kalau Bos Leo itu rentenir? Bisa Ibu bayangkan bunga dari uang pinjaman kita berapa Bu?"


Pak Anto menatap intens manik mata istrinya untuk meyakinkan apa yang dia katakan pada istrinya itu.


"Kita kan bekerja bersama dia sudah lama Pak, sejak usahanya itu berdiri. Jadi pasti dia akan memberikan bunga dan tenggang waktu yang berbeda dengan orang lainnya. Coba saja Pak kita pinjam dia."


Bu Yati masih saja memaksa agar suaminya mau meminjam uang untuk membiayai perawatan dan pengobatan baby Yasmin.


"Bu, kita kembalikan saja ya Zahra pada keluarganya," Pak Anto mencoba membujuk istrinya.


Seketika raut wajah Bu Yati berganti kesal pada Pak Anto. Dia memalingkan wajahnya dari suaminya dan berkata,


"Mau dikembalikan ke mana, kita saja gak tau rumahnya di mana."

__ADS_1


Setelah mengucapkan hal itu, Bu Yati pergi meninggalkan suaminya yang masih berada di tempat tersebut.


Pak Anto pun mengikuti istrinya dan berusaha mensejajari langkahnya. Kemudian dia berkata,


"Kita bisa menyerahkannya pada pihak kepolisian Bu."


Tiba-tiba Bu Yati menghentikan langkahnya dan menghadap suaminya.


"Dan kita akan dituduh sebagai penculik kemudian kita dipenjara. Bapak mau seperti itu?" ucap Bu Yati dengan kesal, lalu dia kembali berjalan untuk melihat baby Yasmin yang masih dalam perawatan di klinik tersebut.


Pak Anto kembali menghela nafasnya. Dia merasa bingung dengan apa yang dia hadapi sekarang ini.


"Huffftt... Apa yang harus aku lakukan? Gak punya anak bingung, punya anak juga bingung," ucapnya sebelum dia meneruskan kembali langkah kakinya untuk menyusul istrinya.


"Bagaimana keadaan Zahra dok?" tanya Bu Yati pada dokter Randi yang selesai memeriksa keadaan baby Yasmin.


"Sudah semakin membaik Bu, tapi saya sarankan untuk beberapa hari lagi dia dirawat di sini agar kita bisa memantaunya," jawab dokter Randi menanggapi pertanyaan dari Bu Yati.


"Tapi dok biayanya....," Bu Yati tidak bisa meneruskan ucapannya, dia merasa ragu untuk mengatakan pada dokter Randi masalah keuangannya.


"Maaf Bu, bukannya kita menahan anak Ibu di sini, hanya saja memang sangat diperlukan untuk memantau keadaannya dalam beberapa hari ke depan karena anak Ibu masih berusia beberapa bulan dan usianya masih rentan Bu. Takutnya ada efek samping lain dari benturan di kepalanya."


"Bu, bagaimana? Bapak sudah pusing Bu. Sekarang terserah Ibu saja maunya bagaimana."


Pak Anto sudah memutuskan untuk menuruti kemauan dari istrinya. Dia hanya tidak mau jika karena beda pendapat nantinya istrinya itu meninggalkannya. Usia pernikahan mereka sudah sangat lama dan Pak Anto tidak mau terjadi hal-hal buruk dalam pernikahannya.


"Bapak coba pinjam ke Bos Leo aja ya Pak. Siapa tau aja jalan kita memang ada di situ," ucap Bu Yati untuk meyakinkan suaminya.


"Ibu yakin?" tanya Pak Anto pada istrinya.


Bu Yati mengangguk dengan cepat dan dengan tegas dia menjawab,


"Yakin Pak."


"Ibu tau kan resikonya jika kita meminjam uang ke Bos Leo?" tanya Pak Anto kembali.


"Iya Pak, tenang aja. Kita berdua kan kerja di sana," jawab Bu Yati kemudian.

__ADS_1


"Baiklah, Bapak akan meminjam uang pada Bos Leo. Tapi Bapak cek dulu berapa biaya yang akan kita bayarkan nanti."


Pak Anto menghela nafasnya berat setelah mendapat anggukan dari istrinya, kemudian dia berlalu untuk mencari tahu biaya perawatan dan pengobatan baby Yasmin.


Setelah mengetahui biaya perawatan dan pengobatan baby Yasmin, Pak Anto segera bergegas menemui Bos Leo untuk membicarakan niatnya meminjam uang padanya.


Kedatangan Pak Anto disambut dengan senang hati oleh Bos Leo. Tanpa ragu dan tanpa memohon, Bos Leo segera memberikan sejumlah uang yang diinginkan oleh Pak Anto.


Dengan tangan gemetar Pak Anto menerima uang tersebut dan dengan berat hati dia memasukkan uang itu ke dalam tas yang sengaja dia bawa dari rumah.


"Bagaimana Pak, apa Bos Leo meminjamkan kita uangnya?" tanya Bu Yati dengan antusias ketika melihat suaminya datang menghampirinya.


Lagi-lagi Pak Anto menghela nafasnya. Dia tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan. Entah baik atau buruk dia sudah tidak bisa membedakannya. Bahkan untuk membayangkannya saja dia tidak mampu bagaimana kehidupannya selanjutnya setelah dia meminjam uang dari Bos Leo.


"Ini Bu, apa kita membayarnya sekarang?"


Pak Anto memberikan tas yang dibawanya berisi uang tadi pada istrinya.


"Ya udah Pak, ayo kita bayar sekarang," ucap Bu Yati dengan antusias dan sumringah.


"Sebentar Bu, apa Ibu yakin? Ini belum terlalu lama loh Bu, belum terlambat. Kita bisa mengembalikan uang ini dan mengembalikan bayi itu jika Ibu mau," ucap Pak Anto menghentikan langkah kaki istrinya dengan memegang tangannya.


Bu Yati menghempaskan tangan suaminya dengan kasar setelah mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Kemudian dia merampas tas yang berisi uang itu dari tangan suaminya dan berjalan meninggalkan suaminya untuk membayar biaya pengobatan dan perawatan baby Yasmin.


Lagi-lagi Pak Anto menghela nafasnya dengan berat. Dia menatap nanar punggung istrinya yang berjalan meninggalkannya.


Semoga apa yang kami lakukan benar dan semuanya akan baik-baik saja, Pak Anto berkata dalam hatinya.


"Ini Bu tagihannya untuk sementara karena pasien masih dalam perawatan," ucap seorang kasir pada Bu Yati.


Bu Yati pun membayar sesuai dengan tagihan yang diberikan. Dia memberikan sejumlah uang sesuai dengan jumlah yang tertulis.


Kasir tersebut memberikan bukti pembayaran dan menjelaskan pembayaran tersebut.


"Apa anak saya masih lama dirawat di sini?" tanya Bu Yati pada kasir tersebut.


"Maaf Bu saya kurang tau. Lebih baik Ibu bertanya saja pada dokter yang menanganinya," jawab kasir tersebut dengan senyumnya.

__ADS_1


Semoga saja cepat pulang agar biayanya tidak bertambah lagi, Bu Yati berkata dalam hatinya.


__ADS_2