Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 24 Tiiit... tiit... tiiit...


__ADS_3

Sudah bisa ditebak oleh Ustad Jaki dan ustad Fariz jika Mirna akan merusak momen malam pengantin Rhea dan Ustad Fariz.


Semalam Ustad Jaki memberitahukan agar setelah acara resepsi digelar Ustad Fariz dan Rhea meninggalkan rumah Umi Sarifah karena dia mempunyai firasat bahwa Mirna akan mengacaukan semuanya.


Ustad Fariz pun menyetujuinya karena dia berpikiran sama dengan Ustad Jaki. Setelah Ustad Fariz meminta ijin pada Umi Sarifah tentang pembicaraannya dengan Ustad Jaki, Umi Sarifah pun mengijinkannya karena dia juga menghawatirkan hal yang sama.


Dan semuanya sudah terjawab. Kini Mirna berada di rumah Umi Sarifah untuk mencari suaminya agar pulang bersamanya dengan berbagai macam alasan. Sampai-sampai kamar pengantin yang sudah dihias kini menjadi sasaran kemarahan Mirna.


Kamar itu sekarang bukan lagi kamar pengantin, lebih tepatnya seperti kamar pasangan yang habis bertengkar hebat, karena semua barang di kamar tersebut berserakan seperti diacak-acak oleh perampok.


Berbeda dengan kondisi kamar yang kini benar-benar dihuni oleh pengantin baru. Kamar yang mereka tempati kini lebih bagus dan tertata layaknya kamar pengantin baru.


Suasana malu dan canggung terasa dalam kamar pengantin baru ini. Atmosfernya terasa beda dengan kamar mereka tempo hari sebelum menikah. Itulah yang kini mereka rasakan.


"Zahra, mmm... sebaiknya kita membersihkan badan dulu," ucap Ustad Fariz dengan grogi.


"Hah? Mmm... Ustad dulu aja ya, aku mau ganti baju dulu," ucap Rhea kikuk.


Ustad Fariz tersenyum, dia mendekat dan berlutut di depan Rhea yang sedang duduk di pinggiran ranjang.


Ustad Fariz mengambil tangan Rhea dan disatukan dengan tangannya. Kemudian dia berkata,


"Jangan panggil Ustad lagi, sekarang aku kan suamimu."


Senyum itu, senyum yang ditampilkan oleh Ustad Fariz membuat Rhea menjadi semakin terpesona. Bibir Rhea terangkat dan membentuk lengkungan senyum yang menghiasi bibirnya.


"Udah punya nama panggilan buat aku?" tanya Ustad Fariz dengan senyumnya yang masih melekat.


"Mmm...," Rhea berpikir sejenak, namun setelah itu dia mengangguk dan tersenyum jahil.


"Apaan? Jadi penasaran," tanya Ustad Fariz tidak sabar.


"Ada deh... sekarang mandi aja dulu sana, aku mau ganti dulu, gerah," jawab Rhea seraya mengusir.


"Perlu bantuan?" tanya Ustad Fariz menggoda.


"Iiissh... baru tau aku suamiku Ustad mesum," ucap Rhea.

__ADS_1


"Hush... cuma sama kamu aja, sama yang lain enggak. Lagian Ustad juga manusia, jadi punya nafsu dan rasa cinta juga. Bagaimanapun aku menghindari rasa cinta itu, tetap tidak akan hilang jika Allah tidak mengijinkannya," ucap Ustad Fariz yang membuat Rhea tersenyum dan tiba-tiba berhambur memeluknya.


Ustad Fariz kaget karena serangan mendadak dari Rhea. Meskipun begitu inginnya dia memeluk Rhea sedari dulu, baru kali ini dia merasakan dan jantungnya luar biasa berdegup sangat kencang seolah akan keluar dari tempatnya.


Ustad Fariz berusaha menetralkan detak jantungnya sekuat tenaga agar semuanya bisa terkendali sesuai waktunya. Setelah detak jantungnya lumayan bisa dikontrolnya, dia mengecup kening Rhea dan hal itu membuat Rhea sadar jika dia memeluk suaminya terlebih dahulu karena senang mendengar perkataannya tadi.


Rhea melepaskan tangannya yang memeluk pinggang Ustad Fariz dan dia mundur ke belakang satu langkah untuk memberi jarak. Namun kepalanya kini menunduk karena malu yang luar biasa akibat dari sikap agresifnya yang tanpa sadar memeluk suaminya terlebih dahulu.


Ustad Fariz terkekeh, dia sangat gemas melihat istri yang dicintainya bersikap seperti itu. Namun dia tidak mau membuat istrinya bertambah malu, akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk menggoda istrinya itu, dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Rhea memukul-mukul kepalanya karena malu. Dia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa menahan dirinya. Namun dia cepat-cepat berganti baju sebelum suaminya keluar dari kamar mandi.


Sialnya, terlalu banyak aksesoris dan resleting yang tidak bisa dia jangkau. Namun Rhea berusaha sekuat tenaga agar semuanya bisa terlepas sebelum suaminya keluar dari kamar mandi.


Namun nasib tak berpihak padanya, ketika dia sedang sibuk menggapai resleting yang ada di punggungnya, Ustad Fariz sudah keluar dari dalam kamar mandi. Ustad Fariz mendekat ke arah Rhea.


Tiba-tiba tangan Ustad Fariz menggantikan tangan Rhea untuk membuka resleting yang ada di punggung Rhea.


Rhea menghadap depan dan terlihat jelas di cermin sosok suaminya itu berada di belakangnya.


"E.. e.. i-itu...," ucap Rhea tergagap.


"Mengerti?" tanya Ustad Fariz.


Rhea mengangguk, kemudian Ustad Fariz menyatukan dahi mereka selama beberapa menit, dan setelah itu dia melepaskannya.


"Wah bahaya, kamu mandi dulu aja ya. Hufft....," Ustad Fariz menoleh ke arah lain dan menghembuskan nafasnya panjang.


Cepat-cepat Rhea masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil baju tidurnya yang sudah dia siapkan di ranjang tadi.


Ustad Fariz berkali-kali beristighfar dan menghela nafasnya, namun masih saja tidak bisa dikendalikan. Dia terkekeh melihat dirinya yang seperti ini, seperti ABG yang baru saja menikah.


Padahal dia sudah pernah menikah, namun dia tidak merasakan hal seperti ini pada pernikahannya yang sebelumnya. Menurut Ustad Fariz, perasaannya kini lebih indah dan membuatnya bahagia.


Pintu kamar mandi terbuka, membuat penglihatan Ustad Fariz tertuju pada pintu kamar mandi yang ada sesosok wanita yang dicintainya dan sekarang sudah menjadi istrinya. Ustad Fariz terpesona dengan Rhea yang sudah tidak memakai makeup dan hanya memakai bathrobe warna ungu dengan handuk di kepalanya.


Rhea berjalan ke meja rias dan mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Tanpa dikomando, Ustad Fariz mendekat dan mengambil alih hairdryer itu dari tangan istrinya. Dia mengeringkan rambut istrinya dengan telaten dan menyisirnya dengan lembut.

__ADS_1


"Rambut kamu bagus, aku suka. Tapi, rambut ini hanya aku yang boleh melihatnya," ucap Ustad Fariz yang masih dengan kegiatannya mengeringkan rambut Rhea dan melihat ke arah cermin.


Rhea menatap cermin selama suaminya membantunya mengeringkan rambutnya dan menyisirnya. Sungguh dia bersyukur memiliki suaminya sekarang ini, karena suaminya yang dulu tidak pernah melakukannya seperti ini meskipun suaminya yang dulu selalu mengatakan bahwa dia sangat mencintai Rhea.


Rhea tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan suaminya dan Ustad Fariz memperlihatkan senyumnya kembali melalui cermin setelah melihat anggukan kepala Rhea dari cermin.


"Udah selesai. Yuk kita ambil wudhu dulu setelah itu kita shalat dua rakaat," ucap Ustad Fariz sambil meletakkan kembali hairdryer pada tempatnya dan membantu istrinya berdiri dengan memegang kedua pundaknya.


Setelah itu mereka melaksanakan shalat sunah dua rakaat. Setelah salam, Ustad Fariz menoleh ke belakang dan memberikan tangannya pada istrinya.


Rhea menerima uluran tangan suaminya dan mencium punggung tangannya, namun tak terasa air matanya menetes sehingga Ustad Fariz pun merasakan bahwa istrinya meneteskan air mata.


Diraihnya kepala istrinya itu dengan kedua tangannya dan dikecupnya lama kening istrinya itu.


Setelah itu dia melepaskan mukenah istrinya dan menggendongnya ke ranjang. Rhea malu dan menyembunyikan wajahnya pada dada suaminya.


Ditaruhnya tubuh istrinya itu secara perlahan di atas ranjang. Setelah itu mulailah dia mencium dan menyentuh bagian tubuh istrinya dengan perlahan dan penuh perasaan sehingga Rhea mampu melambung tinggi dengan apa yang dilakukan suaminya.


Setelah Ustad Fariz membacakan doa untuk memohon kebaikan agar nutfah nya menjadi keturunan yang solih shalihah, dia melakukan penyatuan yang mampu membuat mereka melambung tinggi menikmati kenikmatan, sampai akhirnya mereka melakukan pelepasan bersamaan.


Setelah itu Ustad Fariz mengusap peluh di wajah Rhea dan mengecup keningnya yang sama-sama masih terengah-engah.


"Terima kasih istriku," ucap Ustad Fariz seraya mengecup kembali kening istrinya.


Kemudian dia memakai kembali pakaiannya dan memunguti pakaian Rhea. Namun Ustad Fariz tersenyum melihat istrinya yang kelelahan seolah tak bertenaga, sehingga dia membantu memakaikan pakaian istrinya.


Tentu saja Rhea menolak karena malu, tapi dia tidak bisa menolak keinginan dari suaminya.


Setelah itu mereka kembali tidur. Namun sesuatu tak terduga terjadi. Tiba-tiba lampu di kamarnya mati.


Mereka berdua bingung. Rhea takut dan memegang tangan suaminya. Ustad Fariz bingung kenapa lampu kamarnya tiba-tiba mati.


Dengan bermodal senter yang ada pada ponselnya, Ustad Fariz mengajak istrinya keluar kamar, dan ternyata memang seluruh ruangan di rumah itu sudah dimatikan lampunya sejak mereka masuk ke dalam kamar tadi.


Ustad Fariz menekan saklar lampu di ruang tamu, namun lampu tidak mau menyala. Di ruangan yang lain pun sama. Dan akhirnya mereka melihat dari jendela, lampu-lampu diluar rumah sekitar pondok masih menyala.


Dengan rasa heran mereka keluar dari rumah untuk mengecek meteran listrik, dan ternyata.....

__ADS_1


Tiiit... tiiit... tiiit....


__ADS_2