
"Aaahh.... lelah sekali," ucap Pandu sambil mengusap peluhnya.
"Apa aku harus terus bekerja seperti ini? Dapat uangnya cuma sedikit, tapi tenaga yang dikeluarkan tidak sebanding dengan uang yang di dapat. Kerja apa-apaan ini?" Pandu mengeluh sambil menghela nafasnya yang terasa berat.
Tiba-tiba saja ada orang yang duduk di sampingnya dan memberinya minuman dalam kemasan botol padanya.
"Jika kehidupan kita tidak bahagia, jangan salahkan keadaan. Sebab terpenting bukanlah keadaan yang kita alami, namun bagaimana cara kita merespon keadaan tersebut. Buktinya banyak orang miskin bisa hidup bahagia, sebab dia merespon kemiskinannya dengan ikhtiar dan kesabaran," ucap Ustadz Fariz sambil menatap ke arah depan dan setelah dia mengatakan itu semua, Ustadz Fariz menoleh ke arah sampingnya di mana Pandu duduk di sana.
Ustadz Fariz menoleh ke arah Pandu untuk melihat bagaimana reaksinya setelah mendengarkan apa yang telah dikatakannya pada Pandu. Bukan menggurui, hanya saja memberikan nasihat pada Pandu agar dia tidak mengeluhkan nasib dan kehidupannya saat ini.
"Kamu? Ah kamu bisa bicara seperti itu karena tidak pernah mengalami apa yang aku alami. Coba kalau kita bertukar tempat, apa kamu sanggup berbicara seperti itu?" Pandu menanggapi ucapan Ustadz Fariz dengan sedikit kesal, namun dia mengambil botol minuman yang disodorkan Ustadz Fariz padanya dan meminumnya.
"Apa kamu kenal saya? Apa kamu tau apa yang saya alami mulai dari kecil hingga sekarang? Manusia punya cerita, nasib dan takdirnya sendiri-sendiri. Semua sudah diatur oleh Allah, dan kita hanya perlu sabar, ikhtiar dan lebih mendekatkan diri pada Nya agar kita bisa melalui itu semua," Ustadz Fariz menanggapi perkataan Pandu dengan senyuman getir.
"Apa kamu datang ke sini hanya untuk menceramahi ku? Dan minuman ini, kamu tidak meracuninya kan?" Pandu menanyakan hal konyol pada Ustadz Fariz.
"Hahahaha... apa saya terlihat seperti itu?" Ustadz Fariz menanggapi pertanyaan Pandu dengan tawanya yang seperti tidak ada beban.
"Mungkin saja. Siapa yang tau," jawab Pandu dengan melihat ke arah depan karena dia tidak mau melihat wajah dari suami mantan istrinya.
"Saya hanya berniat untuk memberikan minuman pada orang yang sedang kehausan dan mengeluhkan nasibnya," ucap Ustadz Fariz sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
"Apa kamu tinggal di sini?" Ustadz Fariz bertanya pada Pandu.
"Iya," jawab Pandu singkat.
"Berusahalah untuk kedua anakmu agar mereka bangga mempunyai bapak sepertimu," ucap Ustadz Fariz sambil berdiri hendak meninggalkan Pandu yang masih duduk di tempat itu.
"Bagaimana kabar Rhea? Apa dia baik-baik saja?" Pandu menghentikan Ustadz Fariz yang hendak pergi dari tempat itu dengan pertanyaannya.
__ADS_1
"Alhamdulillah dia dan bayi dalam kandungannya baik-baik saja. Kami bahagia dan kami akan selalu bahagia," jawab Ustadz Fariz sambil tersenyum menoleh ke arah Pandu yang juga sedang melihatnya.
"Apa ini? Kamu pamer kebahagiaan padaku? Anak kedua? Kalau dipikir-pikir anak kita hampir seumuran semuanya," ucap Pandu sambil tersenyum getir.
"Abi!" suara seruan Rhea membuat Ustadz Fariz dan Pandu menoleh ke arahnya.
"Udah selesai?" tanya Ustadz Fariz pada Rhea yang berjalan mendekat padanya.
Rhea tidak mengetahui jika ada Pandu yang duduk tidak jauh dari tempat Ustadz Fariz berdiri. Matanya hanya memandang suaminya saja dan memberikan senyuman manisnya pada suaminya.
"Udah Bi, sebentar lagi karyawan tokonya yang antar barangnya ke rumah. Katanya beli minuman buat Bunda Bi, mana? Bunda udah tungguin dari tadi loh," Rhea mengatakannya seiring langkah kakinya berjalan ke arah Ustadz Fariz.
Kok seperti ada yang mengganjal sih? Seperti ada yang memperhatikanku, Rhea berkata dalam hatinya pada saat berada di depan Ustadz Fariz.
"Astaghfirullahaladzim!" Rhea berseru dan kaget melihat Pandu setelah dia menoleh ke arah yang membuatnya merasa seperti ada yang memperhatikannya.
Sial, kenapa dia kaget seperti itu? Apa dipikirnya aku ini hantu? Pandu menggerutu dalam hatinya.
"Hati-hati Sayang, pelan-pelan saja jalannya," ucap Ustadz Fariz seraya melepaskan gandengan tangan Rhea untuk melingkarkan tangannya di pinggang Rhea seperti biasanya ketika mereka berjalan bersama.
"Rhea, tunggu!" Pandu berseru untuk menghentikan Rhea, namun Rhea tidak menoleh dan tidak menghentikan langkah kakinya, bahkan dia berjalan dengan lebih cepat sekarang.
Ustadz Fariz menjaga tubuh Rhea pada saat Rhea berjalan dengan langkah cepatnya. Ustadz Fariz tahu jika saat ini istrinya itu sedang marah sekarang ini.
Dibukanya pintu mobil itu untuk istrinya dan membantunya untuk duduk dengan nyaman di dalam mobil tersebut.
"Sayang, tunggu sebentar ya aku belikan minuman dulu," ucap Ustadz Fariz kemudian.
"Gak usah Bi, kita langsung pulang aja ya," Rhea tersenyum ketika mengatakannya.
__ADS_1
"Bunda gak marah kan Abi berbicara padanya?" Ustadz Fariz bertanya pada Rhea.
"Bunda gak marah Bi, hanya saja lebih baik kita menghindarinya, karena Bunda gak ingin terjadi hal-hal buruk yang akan merusak kebahagiaan dan ketentraman keluarga kita," Rhea menjelaskan pada Ustadz Fariz dengan suara yang lembut seperti biasanya.
"Apa Bunda membencinya?" Ustadz Fariz kembali bertanya pada Rhea.
"Bunda memang kecewa padanya, marah padanya, tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Dan aku tidak membencinya, karena membenci orang juga butuh tenaga dan pikiran Bi, bunda gak mau memikirkan hal yang tidak berguna," jawab Rhea sambil terkekeh di akhir ucapannya.
"Bunda memang istri dan ibu yang hebat," ucap Ustadz Fariz sambil meraih tubuh Rhea dan membawanya ke dalam pelukannya.
Kemudian dia mengurai sedikit pelukannya dan mencium dahinya setelah mengatakan sesuatu pada istrinya itu,
"Aku mencintaimu istriku, Zahra ku, habibati ku."
Rhea tersenyum malu mendengar ungkapan cinta dari suaminya, kemudian dia mengatakan sesuatu untuk mengalihkan perhatian suaminya yang sedang melihatnya merona malu karena ungkapan cintanya.
"Udah yuk Bi kita pulang, kasihan Izam kalau terlalu lama ditinggal, pasti Izam nyariin."
"Bukan hanya Izam yang nyariin Bunda kalau ditinggal terlalu lama, suamimu ini juga pasti nyariin kalau habibati nya gak terlihat," ucap Ustadz Fariz menanggapi perkataan istrinya.
"Abi ini loh bisa-bisanya membuat Bunda jadi... Aaah... udah yuk pulang....," Rhea tidak meneruskan ucapannya, dia malah menutup wajahnya karena malu pada suaminya.
Hanya perkataan sederhana, namun bisa membuat hati Rhea menjadi senang dan nyaman mendengarnya.
Apa ini yang namanya cinta? batin Rhea sambil melirik suaminya yang sedang mengemudikan mobilnya.
Pandu yang tadinya beristirahat dari pekerjaannya menjadi kuli panggul di pasar, kini dia kembali melaksanakan pekerjaannya setelah melihat Rhea yang pergi bersama suaminya.
Pandu merasa bahwa dirinya harus menjadi lebih sukses seperti dulu agar bisa lebih dari suami Rhea dan agar tidak dipandang sebelah mata oleh Rhea.
__ADS_1
"Ok, Andri Brahmana harus bisa kembali lagi dan aku pastikan akan membuat kalian tidak menyepelekan aku!" ujar Pandu menyemangati dirinya sendiri.