Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 48 Talak tiga!


__ADS_3

" Mbak Mirna jangan dipotong dulu kalau ada orang ngomong!" sahut Ustad Jaki.


Mirna memutar bola matanya malas sambil komat kamit gak jelas.


Terserah aku dong, yang tak potong omongannya suamiku sendiri kok, ngapain situ yang ribut?


"Mirna, tolong dengarkan aku terlebih dahulu. Selama ini, aku sudah berusaha untuk mentolerir segala tindakan kamu yang menyimpang dari kewajiban kamu sebagai seorang istri, karena aku berharap banyak pada kamu selama ini agar kamu bisa berubah. Namun sayangnya setiap kesempatan yang aku berikan selalu saja kamu sia-siakan, bahkan parahnya lagi kemarin kamu telah melakukan sesuatu hal yang sangat fatal sehingga membuat Rhea pendarahan. Jadi-"


"Apa maksudmu Mas? Aku tidak melakukannya," sahut Mirna.


"Mbak Mirna, tolong dengarkan dulu!" sahut Ustad Jaki kesal.


Mirna menoleh dan menatap tajam penuh permusuhan pada Ustad Jaki.


Ustad Fariz mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, memejamkan matanya untuk menguatkan hatinya dan mempersiapkan dirinya. Sungguh tidak bisa dibayangkannya jika mengucapkan kata talak bisa serumit ini jika yang ditalak adalah Mirna. Setiap kata talak yang akan dikatakan oleh Ustad Fariz selalu diselanya.


"Bismillahirrahmanirrahim.... Mirna, saya memutuskan untuk menjatuhkan kamu talak tiga mulai sekarang. Saya harap kamu menerima keputusan saya," Ustad Fariz mengucapkannya secara tegas.

__ADS_1


Pak Ratmo, paman Mirna memejamkan matanya mendengar keputusan talak dari suami Mirna.


Pak Adrian dan Bu Ratih merasa lega karena nantinya Rhea, anak mereka tidak lagi mengalami tekanan batin akibat perkataan keji dan perbuatan dari Mirna.


Namun mereka juga merasa kasihan pada Mirna yang merupakan istri pertama dari menantunya. Tadinya mereka sulit melepaskan Rhea untuk dijadikan istri kedua dari Ustad Fariz, namun mereka berharap agar Mirna dan Rhea bisa rukun sebagai istri dari Ustad Fariz.


Ternyata harapan mereka tidak menjadi kenyataan. Mirna malah menganggap Rhea sebagai saingan atau musuhnya. Padahal setahu mereka Mirna lah yang menyuruh suaminya untuk menikahi Rhea. Dan ketika mereka mendengar perbuatan Mirna yang membahayakan Rhea dan kandungannya, mereka merasa sangat kecewa dan marah.


Berbeda lagi dengan Ustad Jaki, dia malah mengacungkan kedua jempol tangannya ketika Ustad Fariz berhasil mengatakan kalimat talaknya dengan lancar.


Sedangkan Ustad Bani dan Ustadzah Anisa saling memandang karena kaget dengan keputusan dari Kyai mereka, pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukmin.


"Tidak, tidak mungkin kan Mas? Aku dulu pernah bilang jika aku menyetujui pernikahanmu dengan Rhea asal aku tidak kamu cerai. Dan ternyata sekarang.... kenapa kamu ingkar Mas?" Mirna berdiri dan mendekat ke arah Ustad Fariz.


"Mirna, aku tidak pernah berjanji padamu kan? Itu kamu sendiri yang mengatakannya, dan juga kesalahanmu sudah sangat fatal sehingga bisa membahayakan Rhea dan kandungannya," ucap Ustad Fariz tegas dia tidak mau Mirna mencari alasan lagi.


"Aku melakukan apa? Aku tidak melakukan apapun. Lagian Rhea kepleset di dekat sumur karena keteledorannya. Kenapa aku yang harus dipersalahkan?" Ucap Mirna dengan emosi yang menggebu-gebu.

__ADS_1


"Cukup Mirna! Akuilah semua perbuatanmu sebelum kamu malu didepan orang banyak!" seru Ustad Fariz yang mulai jengah dengan semua bantahan Mirna.


"Aku kenapa? Apa yang harus aku akui?" tantang Mirna dengan nada tinggi.


"Cukup! Coba dengarkan ini!" Ustad Fariz menyalakan rekaman suara dua santriwati yang mengatakan kesaksiannya pada saat melihat Mirna di dekat sumur Rhea dengan melumuri lantai sumur tersebut menggunakan satu botol minyak goreng.


Rekaman itupun di dengarkan oleh semua orang yang ada di ruangan tersebut. Mereka kaget dan tidak menyangka bahwa semua itu dilakukan oleh Mirna. Dia benar-benar tega membahayakan Rhea dan kandungannya.


Semua orang di ruangan tersebut menggelengkan kepalanya seraya beristighfar mendengar kelakuan Mirna.


Sekarang mereka mengerti mengapa Ustad Fariz menjatuhkan talak tiga pada Mirna.


"Tapi Mas, ini fitnah! Ini tidak benar!" Mirna masih saja berkelit bahwa dia tidak melakukan hal yang ditujukan padannya.


"Bukti dan saksi sudah ada, jadi kamu tidak bisa berkelit lagi," Ustad Fariz berdiri, karena dia merasa tidak akan bisa berhenti jika berdebat dengan Mirna.


"Saya akhiri pertemuan ini. Terima kasih atas kedatangan semuanya. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," Ustad Fariz mengatakannya dengan cepat dan segera berjalan menuju ke arah pintu.

__ADS_1


Mirna berlari menyusul Ustad Fariz dan menghentikannya dengan memegang tangannya.


"Mas... Mas Fariz tidak bisa begitu. Itu fitnah Mas, aku harap kamu bisa menghukum orang yang memfitnahku. Aku mohon Mas..."


__ADS_2