
Bagai bak disambar petir Shinta terdiam. Dia tidak menyangka sahabatnya bisa hamil di luar nikah. Dan sekarang sahabatnya itu memohon padanya agar dia mengijinkan sahabatnya itu menikah dengan suaminya.
Secepat kilat Ustadz Jaki menyambar tangan Shinta dari tangan Tasya.
"Sayang, ayo pergi," ucap Ustadz Jaki kesal.
"Aku mohon pada kalian. Hanya kalian yang bisa membantuku. Aku janji, aku gak akan mengganggu hubungan kalian. Aku hanya butuh kamu untuk menikahiku Jak," suara Tasya menghentikan langkah kaki Ustadz Jaki dan Shinta yang hendak melangkah.
"Gila kamu! Kamu pikir aku dinas sosial apa yang harus menikahi wanita-wanita hamil yang gak bersuami?" Ustadz Jaki bertambah kesal setelah mendengar permintaan Tasya padanya.
"Tolonglah Jak.... Aku mohon.... Shinta pasti gak akan keberatan kok, iya kan Shin? Kita sahabat yang berbagi suka duka bukan?" Tasya kini memojokkan Shinta dengan ucapannya yang seolah-olah memaksa Shinta untuk menyetujui keinginannya dengan mengatasnamakan persahabatan mereka.
"Jangan memaksa Shinta untuk menyetujui permintaanmu yang gila itu. Sampai kapanpun aku gak akan mau menikah lagi dengan siapapun," Ustadz Jaki semakin kesal dan marah menghadapi Tasya yang menurutnya tidak tahu diri.
Ustadz Jaki kembali menarik tangan Shinta yang masih berada dalam genggamannya tadi. Namun tangan Shinta yang satunya dipegang oleh Tasya, dia ingin menghentikan Shinta agar tidak pergi meninggalkannya.
"Sayang, sebentar," ucap Shinta sambil menahan tangan suaminya.
Ustadz Jaki menoleh dan mendengus kesal melihat Shinta yang memandangnya dengan penuh permohonan. Ustadz Jaki memandang Shinta seolah bertanya dengan matanya. Shinta tersenyum dan mengangguk. Terpaksa Ustadz Jaki menuruti istrinya, dia mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu.
"Aku kangen sekali sama kamu Shinta," ucap Tasya sambil memeluk tubuh Shinta membuat Ustadz Jaki jengah melihatnya.
"Apa kita bisa bicara berdua?" Tasya bertanya ketika mengurai pelukannya.
"Enggak. Gak bisa. Shinta istriku, jadi dia harus selalu bersamaku. Apalagi dia sedang mengandung anakku, jadi aku harus selalu menjaganya," ucap Ustadz Jaki dengan ketus pada Tasya.
"Ha-hamil?" Tasya kaget hingga melepaskan tangannya yang masih berada di lengan Shinta.
"Iya, Shinta sedang hamil anakku karena aku suaminya," jawab Ustadz Jaki yang masih ketus pada Tasya.
"Beneran Shin?" kini Tasya bertanya pada Shinta.
"Ya iyalah, gak percayaan amat sih jadi orang. Aku suaminya, jadi anak yang dikandung dia itu anakku," Ustadz Jaki menyahut dengan kesal sama seperti kebiasaannya jika sedang kesal terhadap sesuatu.
__ADS_1
Shinta memegang tangan Ustadz Jaki untuk menghentikannya berbicara. Shinta pun memandang suaminya seolah mengharap agar suaminya mau memenuhi permintaannya dan berkata,
"Sayang, biarkan aku berbicara dengan Tasya, sebentar saja."
Sebenarnya Ustadz Jaki keberatan, sangat keberatan malah. Dia takut jika Shinta yang berhati lembut dan tidak tega terhadap penderitaan orang lain akan menyetujui permintaan konyol dari sahabatnya yang bernama Tasya itu.
"Enggak. Kalau mau aku akan menemanimu. Jika kalian keberatan, aku gak akan mengijinkan," ucap Ustadz Jaki dengan tegas.
Shinta terdiam sebentar, sedangkan Tasya mencari cara agar dia bisa berbicara berdua dengan Shinta.
"Ya udah kamu ikut kita. Percuma juga, kamu kan gak bisa dilarang," ucap Shinta pada suaminya.
Di saat Ustadz Jaki sedang kesal itu dia melihat wajah Shinta yang juga sedang kesal padanya, sehingga kekesalan Ustadz Jaki menjadi luruh karena gemas melihat wajah Shinta yang lucu dan menggemaskan jika sedang kesal padanya. Itulah sebabnya dia sering membuat Shinta kesal, agar dia bisa melihat wajah istrinya yang lucu dan menggemaskan itu.
Ustadz Jaki mencubit hidung Shinta dengan gemas dan tersenyum melihat Shinta mengeluh seperti biasanya. Tasya yang melihat Ustadz Jaki dan Shinta bahagia hanya karena perlakuan sederhana seperti itu membuatnya iri. Tangan Tasya mengusap perutnya dan berkata dalam hati,
Apa bisa aku bahagia seperti kalian? Atau aku harus mengenyahkan janin yang tidak berdosa ini? Tapi aku tidak tega melakukannya.
Setelah itu mereka bertiga mencari tempat duduk di sebuah cafe dekat lokasi acara reuni tersebut. Di sana mereka bertiga merasa canggung duduk bertiga dengan posisi Tasya duduk berhadapan dengan Shinta dan Ustadz Jaki. Tadinya Tasya meminta agar Shinta duduk bersamanya, namun Ustadz Jaki melarangnya dengan keras, dia tidak mau dibantah apapun alasannya.
Tasya menunduk, dia menyiapkan hati dan kata-kata yang akan disampaikannya pada Shinta dihadapan Ustadz Jaki yang sekarang telah menjadi suami Shinta yang berstatus sahabat baiknya.
Tasya mengambil nafas dalam-dalam dan menghempaskannya, kemudian dia berkata,
"Aku dihamili teman kerjaku Shin."
"Dan dengan seenaknya kamu menyuruhku untuk menikahimu karena kamu sedang hamil anak orang lain. Kenapa gak dia aja yang tanggung jawab? Dia kan yang melakukannya," Ustadz Jaki meluapkan kekesalannya yang dia rasakan sejak tadi.
"Karena aku gak cinta sama dia. Sejak dulu dia selalu mendekatiku dan mengatakan perasaannya padaku. Tapi aku gak ada perasaan apapun sama dia. Sampai akhirnya pagi itu tiba-tiba aku terbangun dan berada satu ranjang dengannya. Aku gak tau apa yang terjadi padaku malam itu dan seminggu yang lalu dokter mengatakan bahwa usia kandunganku sudah dua minggu. Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus menggugurkannya?" Tasya menceritakan apa yang terjadi padanya dengan emosi dan meneteskan air matanya.
"Astaghfirullahaladzim...," Shinta dan Ustadz Jaki beristighfar ketika mendengar Tasya mengatakan akan menggugurkan kandungannya.
"Gila kamu! Bayi itu gak berdosa. Kamu dan laki-laki itulah yang berdosa hingga membuat bayi itu ada. Lagipula kenapa harus aku yang bertanggung jawab untuk kesalahan yang gak aku perbuat? Mintalah laki-laki itu untuk mempertanggung jawabkan semuanya," Ustadz Jaki mengeluarkan kembali kekesalannya.
__ADS_1
"Karena aku mencintaimu Jak. Aku mencintaimu sejak dulu hingga sekarang. Aku memang berniat untuk kembali pulang beberapa waktu lalu untuk menemuimu dan mengatakan perasaanku padamu, tapi ternyata kalian sudah menikah. Dan kenapa harus Shinta? Dia gak pernah cinta sama kamu, dan dia sahabatku. Kenapa kalian tega sekali padaku?" Tasya kembali memojokkan mereka berdua sehingga membuat Shinta merasa bersalah padanya.
"Omong kosong apa itu. Ini memang udah takdir, aku dan Shinta bersatu. Kami menikah dan punya anak, semua udah jadi ketentuan Nya. Jadi jangan katakan hal bodoh seperti itu lagi. Aku mencintai Shinta sejak dulu dan sampai kapanpun itu. Aku gak akan menyakitinya dan gak akan menikah lagi dengan alasan apapun. Itu janjiku padanya," kini Ustadz Jaki menjadi emosi menghadapi Tasya.
Shinta memandang suaminya yang sedang emosi. Apa yang dikatakan oleh suaminya itu mampu membuat Shinta menjadi terharu sekaligus bersyukur bersuamikan Ustadz Jaki. Pasalnya, Ustadz Jaki tidak pernah berjanji apapun padanya sebelum menikah ataupun sesudah menikah, terlebih soal poligami. Ada desiran kebahagiaan dalam hati Shinta hingga dia mengucap syukur dalam hatinya.
"Aku gak cinta sama dia. Aku cintanya sama kamu Jak. Dan bukannya kamu sekarang menjadi Ustadz? Pasti kamu akan membantuku bukan. Kamu gak mau kan melihat aku menggugurkan kandunganku ataupun melihat mayatku nanti? Aku mohon Jak, nikahi aku," Tasya memohon dengan meneteskan air matanya, dia hendak meraih tangan Ustadz Jaki namun dengan sigap Ustadz Jaki menarik tangannya.
"Justru karena aku paham aturannya jadi aku bisa dengan mudah memutuskan untuk tidak menikahimu. Di samping aku gak mau menikah denganmu, kamu juga gak bisa nikah dengan siapapun kecuali dengan laki-laki itu, karena Allah melarang wanita yang sedang hamil melakukan pernikahan," ucap Ustadz Jaki dengan senyum penuh kemenangan.
Tasya terhenyak, dia tidak berpikir sejauh itu. Semua yang sudah direncanakannya mampu ditolak oleh Ustadz Jaki dengan mudahnya.
"Lalu aku harus bagaimana? Shinta... tolong aku, tolong sahabatmu ini. Kamu juga sedang hamil bukan? Jadi pasti kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan. Aku mohon Shin...," Tasya mengiba pada Shinta.
Shinta menatap dengan iba pada sahabatnya itu, andaikan dia mampu untuk menolongnya pasti dia akan menolongnya dengan cara apapun. Tapi ini, berbagi suami? Shinta sungguh tidak pernah membayangkan akan bisa melakukannya. Dan dia sangat membenci hal itu.
"Tasya, kamu memang sahabatku, tapi jika harus berbagi suami, aku gak bisa melakukan itu. Maaf....," Shinta mengucapkannya dengan tegas.
Bibir Ustadz Jaki melengkung ke atas. Dia senang dengan jawaban dari Shinta yang tidak akan melepaskan suaminya meskipun pada sahabat terbaiknya.
"Kamu jahat Shin. Kamu udah gak menganggap persahabatan kita lagi," Tasya memandang Shinta dengan kesal.
"Bukan seperti itu Sya. Laki-laki itu masih hidup dan dia bisa bertanggung jawab. Kamu harus meminta pertanggung jawabannya," Shinta mengoreksi tuduhan Tasya padanya.
"Apa jika laki-laki itu tiada, aku bisa menikah dengan Jaki?" tanya Tasya pada Shinta.
"Enggak!" sahut Ustadz Jaki dengan tegas.
"Maaf Sya, aku gak bisa," jawab Shinta dengan tatapan lembut pada Tasya.
"Baiklah, aku rasa kalian ingin melihatku menggugurkan janin ini atau jika tidak, aku yang akan mati karena malu. Dan aku pastikan kalian akan menyesal," ucap Tasya dengan emosi sambil beranjak meninggalkan Ustadz Jaki dan Shinta yang masih duduk di sana.
Shinta kaget mendengar perkataan terakhir Tasya padanya. Berbeda dengan Ustadz Jaki yang terkesan santai dan senang karena Tasya pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Dasar wanita aneh. Harusnya kita yang pergi duluan karena marah sama dia. Eh ini malah kebalik, dia yang pergi duluan, pakai marah-marah lagi," Ustadz Jaki menggerutu sambil terkekeh.
Shinta diam, dia memikirkan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Sahabat yang sedari dulu dekat dengannya, saling berbagi apapun itu baik suka ataupun duka. Dan kini Shinta merasa bersalah karena tidak bisa membantu sahabatnya yang sedang dalam kesusahan.