Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 158 Ada apa dengan dia?


__ADS_3

"Mbak Mirna, ini ibu yang ingin bekerja di sini," ucap Anita dengan menunjuk Ani ketika Mirna sudah berjalan mendekat ke arah mereka.


Mirna melihat Ani dari atas hingga bawah ketika dia sudah berada di depan Ani.


"Loh Ibu sedang hamil ya? Wah maaf saya tidak bisa memperkerjakan orang yang sedang hamil," tukas Mirna pada Ani.


"Saya mohon Bu, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Saya dan keluarga saya sangat membutuhkan tempat tinggal dan biaya hidup Bu. Tolonglah Bu, suami saya juga belum mendapatkan pekerjaan. Saya mohon Bu...," Ani memohon dan mengiba pada Mirna.


"Tapi Bu, dalam keadaan hamil begitu mana bisa Ibu bekerja di sini? Saya butuh tenaga Bu, bukan pikiran," Mirna menolak permohonan Ani padanya.


"Kerja apa saja Bu, tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa kerja keras. Dan ini kehamilan saya yang kedua, jadi Ibu tidak perlu khawatir," ucap Ani sambil memegang perutnya.


Rasa itu kembali lagi. Perut Ani terasa nyeri dan kencang. Bahkan kini menetes keringat dingin pada dahi dan pelipis Ani. Kepalanya terasa berputar-putar dan penglihatannya sedikit demi sedikit menjadi pudar. Dan....


Brukkk!!!


"Astaghfirullahaladzim, Bu, Ibu kenapa?" Anita berseru setelah melihat tubuh Ani terjatuh di lantai.


Anita segera berlari mendekati Ani yang tubuhnya sudah terkulai lemas di lantai. Dan Mirna yang juga kaget melihat Ani yang sedang berbicara dengannya tiba-tiba pingsan, dia mendengus kesal, tapi dia juga khawatir pada Ani.


"Pingsan Mbak," ucap Anita setelah membantu mengangkat sedikit tubuh bagian atas Ani dan memeriksanya.


"Haduh jadi ngerepotin aja kan. Gini ini kalau ada wanita yang lagi hamil ngotot kerja. Mangkanya Mbak itu malas Nit mau memperkerjakan wanita hamil di sini," Mirna mengomel ketika sudah mendekat melihat keadaan Ani.


Untungnya warung dalam keadaan sepi, para pembeli sudah meninggalkan warung beberapa menit yang lalu, sehingga tidak ada yang tahu jika Mirna mengomel panjang.


"Untung aja lagi sepi, kalau pas ada pembeli bisa-bisa bikin seret rejeki aja," Mirna menggerutu di hadapan Anita dan Ani.


"Mbak, ini bantuin, tolongin angkat kek, atau apa gitu, malah ngomel aja," kini Anita yang mengomeli Mirna.


"Ini juga karena kamu Nit, coba kalau kamu dari awal nolak dia, pasti dia gak akan pingsan di sini. Lain kali kalau ada orang yang lagi hamil cari kerja, tolak aja langsung," Mirna menanggapi omelan Anita padanya.


Di sisi lain ada Pandu dan Hana yang sedang berjalan mencari keberadaan Ani. Di setiap perjalanannya, Pandu bertanya pada orang yang berada di sana. Mereka mengatakan bahwa Ani berjalan mengikuti jalan tersebut.

__ADS_1


Hingga sampailah Pandu dan Hana yang berada dalam gendongannya itu di jalan raya yang pertama kali mereka datangi setelah turun dari mobil pick up yang ditumpanginya hingga sampai di daerah tersebut.


"Pak, Hana lapar.... Ibu di mana sih Pak?" Hana mengeluh dalam gendongan Pandu.


"Hana berdoa ya supaya kita bisa cepat bertemu dengan Ibu. Semoga Ibu baik-baik saja," Pandu mencoba menenangkan hati Hana.


"Pasti Ibu juga lapar Pak. Tapi kenapa Ibu meninggalkan kita? Apa karena Ibu lapar, jadi Ibu mencari makan sendirian?" Hana kembali bertanya pada Pandu.


"Nanti ya kita tanyakan pada Ibu kalau sudah ketemu," jawab Pandu.


Jujur saja Pandu tidak bisa menjawab pertanyaan dari Hana yang ditujukan padanya, karena dia tidak mengetahui alasan sebenarnya mengapa Ani bisa meninggalkan mereka tanpa berpamitan.


Apa karena ucapan ku tadi, jadi Ani kesal dan meninggalkan kami? Apa aku salah jika aku ingin meraih kembali milikku? Ck, dasar Ani nya aja yang gak mau ngertiin perasaanku, Pandu berkata dalam hatinya.


"Pak, Hana lapar. Kita beli makan di warung Bu Mirna sama Mbak Anita aja yuk. Itu udah kelihatan warungnya," Hana merengek kembali dalam gendongan Pandu.


Sebenarnya Pandu tidak menyetujui keinginan Hana untuk membeli makan sekarang, karena menurutnya tadi mereka sudah makan di Pondok Pesantren Al-Mukmin. Jadi untuk mengirit uang yang hanya tinggal sedikit dalam sakunya itu dia harus menolaknya.


Namun dia merasa kasihan pada Hana yang selalu merengek kelaparan sejak tadi. Sehingga dengan terpaksa Pandu menyetujuinya.


Pandu pun menurunkan Hana dan dengan segera Hana berlari menuju warung milik Mirna.


"Bu Mirna.... Mbak Anita... Hana datang....," Hana berseru sambil berlari masuk ke dalam warung tersebut.


"Hana?!" seru Anita dan Mirna ketika mendengar Hana berteriak menyebutkan nama mereka.


"Hana mau beli-"


"Ibu... Ibu kenapa?" ucap Hana yang kaget mendekati Ibunya yang sedang pingsan di lantai.


Hana menangis melihat ibunya tergeletak di lantai dengan kepalanya di atas pangkuan Anita.


"Ibu... Ibu bangun Bu... Ibu... Ibu kenapa?" Hana menangis tersedu-sedu di sebelah ibunya.

__ADS_1


Mirna dan Anita saling menatap dengan wajah heran dan bingung, setelah itu Anita bertanya pada Hana,


"Apa ini Ibumu?"


Hana mengangguk di sela tangisnya, kemudian dia menjawab,


"Iya, ini Ibu Hana."


"Hana!" teriak Pandu berjalan masuk ke dalam warung tersebut.


"Bapak, Ibu...," Hana berteriak disela tangisnya sambil menunjuk Ani yang masih tergelatak di lantai dan kepalanya masih berasa di pangkuan Anita.


Mata Pandu terbelalak melihat keadaan Ani saat ini. Dengan segera dia mendekati Ani dan memeriksa keadaannya.


"Ada apa dengan dia?" tanya Pandu pada Anita dan Mirna disaat dia memeriksa nafas Ani.


"Tiba-tiba saja dia pingsan. Nanti saja saya ceritakan, lebih baik kita bawa segera ke rumah sakit," jawab Anita dengan paniknya setelah tersadar dari bengongnya ketika melihat Pandu masuk ke dalam warung mereka.


Dengan segera Pandu mengangkat tubuh Ani dan mencari kendaraan yang bisa mereka tumpangi.


Beruntungnya Pak Ratmo tiba-tiba menghentikan mobilnya di depan mereka.


"Ada apa ini?" ucap Pak Ratmo pada Pandu, Anita dan Mirna yang berdiri di depan warungnya mencari kendaraan yang bisa mengantarkan mereka ke rumah sakit.


"Mau bawa Ibu ini ke rumah sakit Pak," jawab Anita mewakili mereka semua.


"Ayo cepat masuk, Bapak antar kalian ke rumah sakit," Pak Ratmo memerintahkan mereka semua untuk masuk ke dalam mobil yang dikendarainya.


Dengan segera Pandu masuk ke dalam mobil itu setelah Anita membukakan pintu mobilnya. Setelah itu Hana yang masuk ke dalam mobil mengikuti Bapaknya.


"Mbak Mirna cepat antar mereka, biar warungnya Anita aja yang jaga," ucap Anita sambil mendorong tubuh Mirna masuk ke dalam mobil.


"Loh... loh.. kenapa jadi aku yang harus nganter mereka? Kenapa bukan kamu aja?" Mirna berucap disaat tubuhnya didorong oleh Anita masuk ke dalam mobil bersama Pandu dan keluarganya.

__ADS_1


"Anita belum selesai masak Mbak. Kan yang masak Anita, apa Mbak Mirna mau masak semua itu?" jawab Anita pada Mirna yang sudah duduk di dalam mobil.


Sontak saja Mirna menggelengkan kepalanya, karena memang masakan Mirna tidak seenak Anita. Dan di warung tersebut yang memasak semuanya adalah Anita, sedangkan Mirna hanya membantu saja ketika Anita memasak.


__ADS_2