
"Abi... Bunda...!" teriak Izam ketika turun dari komidi putar berlari menuju Ustadz Fariz dan Rhea.
"Abi.... Manda...!" Salsa pun berteriak sambil berlari menuju Ustadz Jaki dan Shinta.
"Bapak... Ibu...!" Hana melakukan hal yang sama, dia ingin berteman dengan Izam dan Salsa serta ingin melakukan seperti apa yang dilakukan Izam dan Salsa.
Ketiga anak-anak itu berlari menuju orang tuanya masing-masing.
Ustadz Fariz dan Rhea melebarkan tangannya kesamping dan berjongkok untuk menyambut anaknya itu masuk dalam pelukan mereka.
Sama seperti ketika Izam masih belajar berjalan, hal itu masih dilakukan mereka agar Izam merasakan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya meskipun dia sudah besar nanti.
Setelah menangkap tubuh Izam yang masuk dalam pelukan mereka, Ustadz Fariz mengangkat tubuh Izam dan menggendongnya serta bercanda dengannya.
Hal yang sama dilakukan oleh Ustadz Jaki dan Shinta. Mereka memang belajar dari Ustadz Fariz dan Rhea yang terlebih dahulu membina rumah tangga.
Namun mereka juga selalu memberikan nasehat ketika dibutuhkan. Begitupula sebaliknya, saling mengingatkan dan saling mencontoh untuk kebaikan.
Sedangkan Hana terdiam ketika berada di depan Pandu dan Mirna. Mereka belum terbiasa seperti itu. Mungkin juga karena Mirna bukan ibu kandung Hana. Atau mungkin juga karena Mirna belum pernah berdekatan dengan anak kecil sehingga kurang peka pada mereka.
"Izam gak berat Bi?" tanya Izam pada Ustadz Fariz yang sedang di gendong olehnya.
"Meskipun Izam berat pun Abi masih kuat menggendong jagoan Abi ini," jawab Ustadz Fariz sambil terkekeh dan mencubit hidung Izam yang semakin melebar tertarik oleh pipinya uang gembul itu.
"Itu karena Abi sayang sama Izam," sahut Rhea seperti biasanya.
"Abi juga sayang sama Bunda," Ustadz Fariz menanggapi ucapan Rhea.
"Kok Bunda gak digendong sama Abi?" tanya Izam yang menampakkan wajah bingungnya.
"Izam gak tau aja, Abi selalu gendong Bunda kok tiap Izam udah tidur," sahut Ustadz Jaki dengan entengnya.
Dan pantat Ustadz Jaki lah yang menjadi korban kaki Ustadz Fariz dari samping.
Ustadz Fariz yang masih dalam keadaan menggendong Izam pun menahan tubuhnya berdiri dengan satu kaki mengarah ke samping menendang pantat Ustadz Jaki yang tidak jauh berada di dekatnya.
Sedangkan Rhea dan Shinta yang berada di dekat mereka hanya menggeleng melihat tingkah kedua Ustadz yang masih saja sama seperti sebelumnya padahal status mereka kini sudah berubah menjadi seorang Abi.
"Beneran Abi suka gendong Bunda? Berarti kalau Izam sudah besar, Abi juga gendong Izam dong, kan Abi sayang sama Izam," ucap Izam dengan polosnya.
__ADS_1
Seketika mata Ustadz Fariz melotot pada Ustadz Jaki yang sedang menertawakannya.
"Doakan Abi masih kuat gendong jagoan Abi sampai besar ya," jawab Ustadz Fariz sambil tersenyum meyakinkan anaknya.
"Beneran ya? Yeee....," Izam berseru kegirangan.
Rhea dan Ustadz Fariz tersenyum bahagia melihat hal kecil yang membuat anak mereka bahagia.
"Tagih aja Zam janjinya nanti kalau sampai besar gak mau gendong kamu," ucap Ustadz Jaki sambil terkekeh.
Mata Ustadz Fariz kembali melotot pada Ustadz Jaki dan itu membuat Ustadz Jaki semakin senang melihat Ustadz Fariz kesal padanya.
"Encok encok dah lu," Ustadz Jaki bersuara lirih di dekat telinga Ustadz Fariz.
Dan Ustadz Jaki pun tertawa puas melihat Ustadz Fariz yang semakin kesal padanya.
Mereka melakukan itu seperti biasanya tanpa menyadari jika di dekat mereka masih ada Pandu, Mirna dan Hana yang menatap iri keharmonisan mereka sebagai keluarga.
Hana ingin seperti mereka. Pasti Hana akan senang mempunyai orang tua yang sayang. sekali seperti mereka.
Hana berkata dalam hatinya sambil mendongak melihat wajah Pandu dan Mirna secara bergantian.
Sedangkan Mirna menatap kesal melihat keluarga mantan suaminya yang terlihat bahagia tanpa dirinya.
Begitupula dengan Pandu yang menatap iri mantan istrinya terlihat sangat bahagia dibanding bersama dengan dirinya kala itu.
Padahal dia kini hidup di desa, kenapa dia kelihatan sangat bahagia seperti itu dibanding dulu pada saat kita hidup di kota? Di sana serba ada dan hidup dengan nyaman, kenapa dia lebih senang hidup di sini yang sepertinya masih kekurangan, kalah jauh dengan hidupnya yang dulu?
Pertanyaan-pertanyaan itu hanya mampu diucapkan Pandu dalam hatinya.
"Kemana lagi kita?" tanya Ustadz Jaki pada Ustadz Fariz.
"Jagoan Abi mau ke mana sekarang?" tanya Ustadz Fariz pada Izam yang masih berada di gendongannya.
Mata Izam berkelana mencari apa yang ada di sekitarnya. Matanya tertuju pada sesuatu yang membuatnya berbinar ketika melihatnya.
"Izam mau beli itu," ucap Izam sambil menunjuk gula-gula kapas berwarna-warni yang bergelantungan di dalam kantong plastik bening, terlihat sangat memikat hati anak-anak karena keindahan warnanya.
"Salsa juga mau itu Abi," ucap Salsa yang juga masih ada dalam gendongan Ustadz Jaki menunjuk gula-gula kapas yang ditunjuk oleh Izam.
__ADS_1
"Ck, Salsa selalu ikut-ikutan," ucap Izam yang menggembungkan pipinya, terlihat sangat menggemaskan.
"Biarin, kan di sana gak ada tulisannya-"
"Salsa dilarang beli!"
Dengan cepatnya Izam menyahut ucapan Salsa. Dan itu membuat Ustadz Fariz, Rhea, Ustadz Jaki dan Shinta tertawa.
Selalu saja kedua anak itu yang membuat suasana di rumah mereka menyenangkan dan penuh dengan tawa. Dan karena itu juga Umi Sarifah meminta agar mereka tetap tinggal satu rumah di sana hingga Umi Sarifah meninggalkan mereka.
Siapa yang tega mengecewakan Umi Sarifah yang sudah seperti ibu mereka sendiri, bahkan perlakuannya pada mereka melebihi ibu kandung mereka sendiri.
Ustadz Fariz dan Rhea menoleh ke arah Ustadz Jaki dan Shinta yang berada di sebelahnya untuk mengajak mereka berjalan sekarang, namun mata mereka tidak sengaja bertemu dengan mata Pandu dan Mirna.
Ustadz Jaki dan Shinta pun melihat ke arah Pandu dan Mirna yang berada di sebelahnya. Sontak saja Ustadz Jaki tersenyum ketika melihat tangan Pandu berada di pinggang Mirna.
Pandu yang melihat Ustadz Jaki tersenyum seperti mengejeknya itu membuat matanya mengikuti arah pandang Ustadz Jaki.
Dengan segera Pandu melepaskan tangannya dari pinggang Mirna dan melihat ke arah Rhea yang sudah tidak lagi melihat ke arahnya.
Mirna kesal saat Pandu melepaskan tangannya dari pinggangnya ketika Rhea melihat ke arah mereka.
Hana menarik-narik tangan Pandu tanpa sadar dia menunjuk gula-gula kapas yang kini dipegang oleh Izam dan Salsa sambil berkata,
"Hana mau itu."
"Ayo kita belikan Mas," ucap Mirna sambil menggandeng Hana.
Seketika Hana tersenyum lebar. Dia senang sekali karena Mirna benar-benar menepati janjinya sebelum mereka berangkat ke pasar malam tadi.
Tangan Mirna bergelayut manja pada lengan Pandu ketika mereka kembali bertemu dengan Ustadz Fariz dan Rhea yang masih bersama dengan Ustadz Jaki dan Shinta beserta anak-anak mereka.
Mirna melakukan itu karena melihat Rhea yang menggandeng Ustadz Fariz seperti itu ketika mereka akan berjalan meninggalkan penjual gula-gula kapas.
Emangnya cuma kamu aja yang bisa seperti itu? Aku juga bisa. Dia kan juga mantan suami kamu, dan aku juga bisa mendapatkannya. Hati kamu pasti sakit sama sepertiku yang masih sakit ketika melihatmu dengan mantan suamiku. Lagi pula kamu pasti masih cinta sama mantan suamimu ini karena kalian bukannya bercerai karena keinginan kalian, tapi kalian berpisah karena dia tidka ingat denganmu. Nasibmu sungguh tragis Rhea, Mirna mengejek Rhea dalam hatinya.
Ustadz Jaki terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Mirna yang seperti anak kecil memamerkan mainannya.
Hana mendekati Izam dan Salsa yang memakan gula-gula kapasnya.
__ADS_1
Salsa menoleh ke arah sampingnya ketika Hana berada di sampingnya dengan membawa gula-gula kapasnya.
"Dasar peniru!" ucap Salsa dengan ketus pada Hana.