
Shinta merasa tidak nyaman dengan pandangan orang lain yang selalu menatapnya dari mulai masuk ruangan tersebut. Berbeda dengan Ustadz Jaki yang dengan bangganya menggandeng Shinta.
Sebagian teman mereka yang tahu jika Ustadz Jaki dan Shinta telah menikah pasti sudah bisa menebak jika wanita yang bercadar digandeng oleh Ustadz Jaki adalah Shinta, teman mereka. Namun yang tidak mengetahui bahwa Ustadz Jaki dan Shinta telah menikah, mereka semua bertanya-tanya tentang wanita bercadar tersebut. Karena yang mendapatkan undangan pernikahan mereka hanya teman-teman dekat mereka saja.
Mata Shinta berkelana mencari sosok sahabat yang ingin dia temui. Sedari masuk ruang itu tak henti-hentinya mata Shinta mencari-cari sahabatnya yang sangat ia rindukan.
"Jaki...! benar kan kamu Jaki? Ih tambah keren aja deh kamu. Bisa kita ngobrol sebentar?" suara wanita itu membuat Shinta menjadi senang, bibirnya yang tertutup cadar itu tersenyum ketika melihatnya, namun dia menjadi kesal ketika wanita itu mengajak Ustadz Jaki untuk ngobrol bersama dirinya.
"Maaf kamu siapa ya?" tanya Ustadz Jaki yang memang tidak mengenali wanita yang sedang menyapanya.
"Ih sombongnya kamu Jak," ucap wanita tersebut dengan berpura-pura kesal.
"Bukannya sombong, aku memang tidak begitu hafal dengan nama teman-teman wanita meskipun satu kelas denganku," Ustadz Jaki menjelaskan sambil terkekeh.
Shinta menarik tangannya dari genggaman tangan Ustadz Jaki, namun Ustadz Jaki tidak begitu saja melepasnya. Ustadz Jaki tetap mempertahankan tangan Shinta yang di genggamnya.
Wanita tersebut melirik tangan Ustadz Jaki dan wanita bercadar yang saling bergandengan tangan.
Siapa wanita bercadar ini? Tidak tau malu, bercadar tapi kelakuan kayak gitu, mau aja gandengan tangan sama laki-laki, wanita tersebut berbicara dalam hatinya.
Shinta hanya menatap wanita tersebut tanpa berbicara padanya. Dia hanya ingin tahu apa yang akan dilakukan wanita tersebut dengan keinginannya untuk berbicara pada Ustadz Jaki.
"Tapi dulu kamu selalu menanyakan Shinta padaku, apa jangan-jangan kamu lupa semua temanmu sekarang?" wanita tersebut masih saja mencaritahu.
"Ya emang aku taunya cuma Shinta sampai sekarang," Ustadz Jaki menjawab sambil terkekeh dan menoleh ke arah Shinta.
"Ckckck... dasar kamu Jaki gak pernah peka. Sekarang apa kita bisa berbicara?" wanita tersebut kembali bertanya.
Ustadz Jaki menoleh pada Shinta, hanya dengan memandang saja dia tahu jika Shinta tidak mengizinkan, dan sebenarnya Ustadz Jaki juga tidak ingin berbicara pada wanita manapun jika hanya berdua saja.
"Kita bicara di sini saja," jawab Ustadz Jaki.
"Tapi aku hanya ingin berbicara berdua saja Jak, bisa kan?" wanita itu bertanya namun seolah-olah dia memaksa.
__ADS_1
Ustadz Jaki kembali menoleh pada Shinta, dan kemudian dia berkata,
"Maaf, aku sedang bersama istriku dan aku tidak bisa meninggalkannya sendiri," jawab Ustadz Jaki yang membuat wanita tersebut terperanjak kaget.
"I-istri? Ka-kamu udah nikah?" wanita tersebut bertanya pada Ustadz Jaki.
"Iya dong, Jaki gitu loh. Masa' ganteng-ganteng gini belum nikah?" ucap Ustadz Jaki dengan bangganya.
"I-ini serius?" wanita tersebut kembali bertanya karena merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Iya lah, masa' iya Jaki yang jujur ini bisa berbohong. Nih buktinya," jawab Ustadz Jaki sambil tersenyum dan memperlihatkan genggaman tangan Ustadz Jaki dan Shinta yang saling bertautan.
Wanita tersebut tertegun dan wajahnya menjadi sedih. Shinta menatap wanita itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Sepertinya Shinta ingin mengetahui kenapa wanita tersebut bersikap seperti itu pada Ustadz Jaki.
"Ehm... maaf, kami mau ke sana, teman-teman sudah menungguku sedari tadi," ucap Ustadz Jaki ingin segera menghindari wanita tersebut.
Ustadz Jaki memang sudah berpengalaman menolak keinginan wanita yang mendekatinya sejak dulu dia bersekolah. Hanya Shinta saja yang tidak mengetahuinya karena dia tidak pernah mendekati Ustadz Jaki.
"Eh tunggu dulu, namaku Tasya," wanita tersebut memperkenalkan dirinya dengan mengarahkan tangannya di depan Shinta.
"Bolehkah aku berbicara dengan suamimu?" tanya Tasya pada Shinta dengan senyum yang penuh harap.
Ustadz Jaki kaget dengan kenekatan Tasya yang dengan beraninya meminta ijin pada Shinta untuk berbicara dengannya.
Shinta tidak tega dengan tatapan yang menyiratkan permohonan dari mata Tasya. Karena Shinta dan Tasya sudah bersahabat sejak lama sehingga Shinta tahu jika Tasya sedang memohon padanya.
Shinta pun mengangguk dan itu membuat Ustadz Jaki mendengus kesal. Namun hal berbeda dirasakan oleh Tasya, dia tersenyum senang dan berterima kasih pada Shinta dengan menjabat tangan Shinta menggunakan kedua tangannya.
"Terima kasih ya," ucap Tasya dengan senyum cerianya.
"Jaki, ayo kita ke sana," Tasya menunjuk tempat yang berada di pojok ruangan itu.
"Di sini aja," ucap Ustadz Jaki sambil bergeser beberapa langkah dari tempatnya.
__ADS_1
Tasya membuang nafasnya dengan kasar, dia merasa tidak akan mudah berbicara pada Ustadz Jaki.
Tasya pun mengikuti Ustadz Jaki, dia bergeser beberapa langkah untuk berada di depan Ustadz Jaki berdiri.
"Ada apa? cepat katakan," ucap Ustadz Jaki dengan malas dan kepalanya menghadap Shinta yang juga sedang melihatnya.
Tasya menghirup udara banyak-banyak dan mengeluarkannya sebelum berbicara untuk memepersiapkan hatinya.
"Jaki, apa kamu mau menikahiku?" ucap Tasya dengan sekali tarikan nafas.
Ustadz Jaki kaget dan menoleh pada Tasya setelah mendengar ucapan dari Tasya.
"Kau gila. Bukannya kamu tau aku sudah menikah?" ucap Ustadz Jaki dengan emosi.
Dari tempatnya berada Shinta melihat suaminya berbicara dengan emosi. Dia segera menghampiri mereka karena Shinta tidak mau suaminya emosi menghadapi sahabatnya.
Shinta memegang lengan Ustadz Jaki ketika sudah berada di dekatnya dan Ustadz Jaki menoleh padanya, sedangkan Tasya kaget melihat istri Ustadz Jaki berada di dekat Ustadz Jaki sebelum dia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tadi.
"Ayo kita pergi," Ustadz Jaki menggandeng tangan Shinta untuk meninggalkan Tasya yang masih berdiri di hadapannya.
"Tunggu," Shinta menghentikan langkah Ustadz Jaki yang sudah membalikkan badannya bersiap untuk melangkah.
Shinta melepas cadar yang dipakainya tanpa meminta ijin dengan Ustadz Jaki dan dia tersenyum pada Tasya.
"Shinta?" ucap Tasya yang kaget melihat wanita dibalik cadar tersebut adalah Shinta, sahabatnya.
"Sayang, kenapa dilepas. Ayo pakai lagi," ucap Ustadz Jaki dengan nada kesal dan memakaikan kembali cadar tersebut pada Shinta.
"Sebentar saja, aku ingin berbicara pada Tasya, dia sahabatku yang ingin aku temui di acara reuni ini," ucap Shinta dengan tangannya yang menahan tangan Ustadz Jaki ketika memakaikan kembali cadar miliknya.
Ustadz Jaki mendengus kesal dan rasanya dia ingin mengajak Shinta pulang dari acara itu.
"Gak ada, ini harus tetap kamu pakai," Ustadz Jaki tetap memakaikan cadar itu pada Shinta dan Shinta tidak bisa membantahnya.
__ADS_1
"Shin, aku mohon... ijinkan aku menikah dengan Jaki karena aku sedang hamil," Tasya memegang kedua tangan Shinta dan menatap Shinta dengan tatapan penuh permohonan.