
Rhea menatap dari jendela kamarnya awan yang berarak mengiringi langit yang perlahan berganti warna menjadi gelap.
Tatapan matanya berhenti pada buah mangga yang tidak jauh berada di dekat rumahnya. Pohon mangga itu masih milik Pondok Pesantren Al-Mukmin karena berada di wilayah Pondok Pesantren tersebut.
Air liurnya seolah menetes melihat buah mangga yang bergelantungan dengan lebarnya di pohon tersebut.
Memang kehamilan Rhea bisa dibilang tidak menyulitkannya, sebab dia sampai detik ini tidak pernah mengalami morning sickness dan gejala-gejala lain yang mengharuskan dia untuk beristirahat.
Rhea bahagia dengan kehamilannya, bahagia dengan hidupnya saat ini sehingga kehamilannya pun tidak pernah menyusahkannya, dia masih bisa beraktifitas seperti biasanya.
Sampai detik ini kehamilan Rhea belum diketahui oleh Mirna. Karena rasa malunya tempo hari, Mirna jarang sekali berada di wilayah Pondok Pesantren. Dia tidak mau mendengar gosip atau gunjingan yang ditujukan untuknya. Sebenarnya dia sangat malu, namun dia tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.
Rhea tidak mengikuti shalat maghrib di Masjid karena sebelum adzan maghrib berkumandang Rhea mangalami kram perut yang ringan, namun dia tidak mau mengambil resiko, apalagi saat ini suaminya tidak sedang bersamanya. Untuk tiga hari ini suaminya akan tinggal bersama istri pertamanya.
Rhea menjalankan shalat maghrib sendiri di rumahnya. Pada saat dia berbuka puasa sendiri, tiba-tiba air matanya menetes. Dia merasa sedih, mungkin efek dari kehamilannya yang membuatnya terlalu sensitif, karena tidak biasanya dia seperti ini.
Entah mengapa hati Ustad Fariz merasa tidak tenang. Setelah shalat maghrib dia mencari Rhea di Masjid, namun tidak ada. Hatinya bertambah tidak tenang karena seharian ini dia tidak bertemu dengan Rhea, istri tercintanya.
Selesai shalat maghrib, Rhea menghubungi suaminya karena dia ingin meminta sesuatu. Dia teringat akan mangga yang ada di pohon tadi. Oleh karena itu dia menginginkan agar suaminya mengambilkan buah mangga itu untuknya.
Ponsel Ustad Fariz bergetar ketika dia dalam perjalanan menuju rumah Rhea. Dia segera berlari menuju rumah Rhea ketika mendengar Rhea membutuhkannya.
Tok... tok... tok..
Suara pintu yang diketuk membuat Rhea yang sedang melamun kembali sadar. Dengan segera dia membuka pintu karena mendengar suara suaminya memanggil namanya.
"Zahra... sayang.. buka pintunya," seru Ustad Fariz dari luar pintu.
Rhea membuka pintu rumahnya dan Ustad Fariz langsung berhambur memeluknya.
"Sayang ada apa? Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ustad Fariz dengan nada khawatir dan dia menggerak-gerakkan badan Rhea ke kiri dan ke kanan untuk melihat kondisi tubuhnya.
"Gapapa Bie, cuma aku lagi pengen makan sesuatu," ucap Rhea diiringi dengan senyuman manisnya.
"Alhamdulillah... hufft... aku kira ada apa-apa, soalnya hatiku merasa gak tenang dari tadi kepikiran kamu," ucap Ustad Fariz sembari mengajak Rhea masuk dan duduk di kursi ruang tamu.
__ADS_1
Dalam hati Rhea bersyukur karena apa yang dirasakannya tadi bisa dirasakan juga oleh suaminya. Dia jadi bertambah yakin jika mereka memang berjodoh.
"Mau makan apa hmmm?" tanya Ustad Fariz yang jongkok di depan Rhea yang duduk di kursi dengan mengusap tangan Rhea.
"Bie, mau gak ngambilin mangga di pohon yang ada di sebelah lapangan itu?" tanya Rhea ragu.
"Owalah... ya pasti mau dong sayang, kamu tunggu disini aja ya. Oh iya mau berapa?" tanya Ustad Fariz sebelum pergi.
"Ikut ya Bie, aku pengen lihat ngambilnya. Boleh?" ucap Rhea dengan tatapan memohon.
Ustad Fariz tersenyum dan mengangguk.
"Ya boleh dong sayang...," ucapnya.
Kemudian dia menggandeng Rhea menuju pohon mangga yang diinginkan Rhea.
"Yang itu Bie.. bukan, bukan yang itu," seru Rhea menunjukkan letak buah mangga yang diinginkannya.
"Yang ini?" tanya Ustad Fariz.
"Bukan Bie, kurang kanan dikit," Rhea menunjuk dengan jarinya.
"Iya Bie yang itu," jawab Rhea sumringah.
Ustad Fariz mengambil buah mangga dengan galah yang diambilnya dari gudang penyimpanan barang.
"Mas Fariz, kok disini sih, bukannya sekarang kamu harusnya di rumahku?" tiba-tiba Mirna berada di dekat mereka dan menegur suaminya dengan nada kesal dan emosi.
"Mirna. Sebentar aku ambil buah mangga ini dulu buat Rhea," ucap Ustad Fariz yang masih dengan usahanya mengambilkan mangga untuk Rhea.
"Kerjaannya ngerepotin orang aja sih, ngapain nyuruh-nyuruh suami ngambilin mangga malam-malam gini. Beli di pasar kan bisa," oceh Mirna dengan mengambil galah dari tangan suaminya dan dilemparkannya ke sembarang arah.
"Mirna, apa-apaan kamu," seru Ustad Fariz yang kaget galahnya diambil oleh Mirna.
"Mas yang apa-apaan. Mas lebih mementingkan dia daripada aku istri pertama Mas," seru Mirna dengan emosi.
__ADS_1
"Kamu salah Mirna, aku tidak pernah membedakan kalian, hanya saja saat ini Rhea-"
"Bie, pulanglah bersama Mbak Mirna. Aku baik-baik saja. Aku akan mengurus semuanya sendiri," ucap Rhea dengan suara agak bergetar.
"Tapi-"
"Aku mohon Bie," kini suara Rhea sudah serak menahan tangis.
"Sudah, kalian berdua pergi saja, biar Rhea bersama Umi," suara Umi mengalihkan perhatian mereka.
Memang Umi sedari tadi mengikuti Mirna. Karena sebenarnya sehabis maghrib Mirna datang ke rumah Umi Sarifah untuk mencari suaminya. Mengetahui bahwa suaminya tidak ada disitu, Mirna dengan emosi mengatakan akan mencarinya di rumah Rhea.
Umi Sarifah yang mendengar perkataan Mirna yang sedang emosi menjadi khawatir dengan Rhea. Karena Umi Sarifah tahu jika Rhea akan selalu menerima apapun yang dilakukan oleh Mirna tanpa melawannya.
Umi Sarifah mengikuti Mirna di belakangnya. Dan sangat kebetulan sekali Umi berada di tempat itu pada saat Rhea membutuhkan tempat bersandar.
Ustad Fariz merasa kecewa dengan Mirna yang tidak pernah menghargai Rhea sebagai istrinya. Padahal selama ini Rhea selalu menghargai Mirna sebagai istri pertama suaminya.
Ustad Fariz sangat sakit hatinya melihat Rhea yang sedih akan ucapan Mirna yang ditujukan untuknya dan Ustad Fariz tahu jika Rhea pasti sedang menangis.
Ustad Fariz mengikuti Mirna karena tangannya ditarik oleh Mirna menuju ke rumahnya.
Sedangkan Rhea berada di rumahnya dengan Umi Sarifah. Kini dia menangis di pelukan Umi Sarifah.
"Sabar ya Nduk. Umi tau ini sangat berat untukmu, apalagi kamu dalam keadaan hamil. Umi tau pasti kamu sangat membutuhkan suamimu pada saat hamil seperti sekarang ini, Umi pernah merasakannya, jadi Umi tau apa yang kamu rasakan," Umi Sarifah membawa Rhea dalam pelukannya.
Rhea menangis menumpahkan semua kesedihannya di dalam pelukan Umi Sarifah.
"Kamu mau mangga Nduk? Biar Ustad Jaki saja ya yang mengambilkannya," Umi Sarifah mengambil ponselnya di saku gamisnya.
Rhea menghentikan Umi Sarifah yang akan menghubungi Ustad Jaki.
"Sebentar lagi isya' Umi, nanti aja setelah selesai tarawih," dengan menghapus air matanya Rhea tersenyum pada Umi Sarifah karena dia tidak ingin Umi Sarifah sedih melihatnya.
"Beneran kamu gapapa?" Umi Sarifah bertanya dengan gelisah.
__ADS_1
"Rhea baik-baik aja Umi. Sekarang Umi pulang saja, sebentar lagi udah isya'," ucap Rhea yang senyumnya masih mengembang.
Umi Sarifah memandang Rhea lekat, dia tahu kesedihan yang dirasakan Rhea saat ini. Namun dia harus menuruti kemauan Rhea agar Rhea merasa tenang.