Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 107 Dejavu


__ADS_3

Pada pesta pernikahan Ustadz Jaki dan Shinta yang diadakan di Pondok Pesantren Al-Mukmin juga kedatangan rekan-rekan dokter dari rumah sakit tempat Shinta bekerja dan juga rekan-rekan dokter yang merupakan teman sefakultas Shinta. Dan yang paling menghebohkan yaitu tamu yang merupakan teman-teman satu sekolah dan satu kelas dengan mereka.


Mereka semua tidak mengira jika Ustadz Jaki lah yang bisa mendapatkan hati seorang Shinta yang terkesan menjauhkan diri dari teman lelaki yang menyukainya. Dan mereka juga tidak mengira jika Shinta lah yang bisa meluluhkan hati Ustadz Jaki yang tidak bisa tersentuh oleh perempuan sejak dulu.


"Sayang, masih lama gak ini pestanya?" ucap Ustadz Jaki yang berbisik di telinga kanan Shinta yang tertutup hijab.


Pipi Shinta merona tanpa sadar mendengar Ustadz Jaki memanggilnya dengan sebutan sayang. Untung saja wajahnya menggunakan full make up sekarang, jika tidak, sudah bisa dipastikan jika wajahnya memerah dan pipinya merona menahan malu.


Namun dalam dada Shinta merasa bahagia dan deg-degan tidak karuan hanya dengan mendengar sebutan sayang dari suaminya.


"Sayang... kapan selesainya...," Ustadz Jaki merajuk di telinga Shinta membuat Shinta menjadi geli mendengarnya.


"Gak tau, tanya Umi aja," jawab Shinta sekenanya daripada harus menjelaskan pada suaminya yang merengek sedari tadi.


Dengan segera Ustadz Jaki turun dari pelaminan menghampiri Umi Sarifah.


"Umi... ini kapan selesainya sih, lama bener. Selesai sekarang aja boleh gak?" tanya Ustadz Jaki pada Umi Sarifah.


"Ngawur! Masih jam berapa ini?" sahut Ustadz Fariz yang berada di samping Umi Sarifah bersama dengan Rhea.


"Yang jadi pengantin kan aku, terserah aku dong," jawab Ustadz Jaki kesal.


"Lah kalau pengantinnya jam segini ngamar, tamu-tamunya ngucapin selamatnya ke siapa? Masa' ke Umi? Ada-ada aja nih Ustadz," ucap Rhea sambil terkekeh.


"Nah boleh tuh, Umi aja ya yang mewakili," Ustadz Jaki tersenyum lebar pada Umi Sarifah.


"Gak sekalian aja minta Umi yang pakai baju pengantin?" sahut Ustadz Fariz yang bertujuan menyindir Ustadz Jaki namun berakhir dia sendiri yang mendapatkan tepukan di punggungnya dari Umi Sarifah.


Puk!


Punggung Ustadz Fariz dipukul oleh Umi Sarifah hanya sebatas pukulan biasa, tanpa tenaga, sehingga seperti tepukan di punggung Ustadz Fariz.


"Aduh, sakit Umi," ucap Ustadz Fariz merengek.


"Ini suami kamu kenapa jadi gini?" tanya Umi Sarifah yang heran melihat Ustadz Fariz yang merengek, tidak seperti biasanya.


"Gak tau Umi, bawaan bayi kali," ucap Rhea sambil terkekeh.


"Umi mau pakai baju pengantin gantiin Shinta?" Ustadz Jaki menyetujui ide Ustadz Fariz dan berakhir mendapat jeweran di telinganya dari Umi Sarifah.


"Cah edan! Udah sana buruan, masa' Shinta dibiarin sendirian di pelaminan. Pengantin prianya digantikan orang lain mau?" ucap Ustadz Fariz menakut-nakuti Ustadz Jaki.


"Eh jangan dong. Ya udah aku ke sana dulu. Umi, kalau bisa buruan dibubarin aja ya," ucap Ustadz Jaki sambil tersenyum lebar, kemudian berjalan menuju pelaminan.


Umi Sarifah, Ustadz Fariz dan Rhea tertawa mendengar permintaan konyol dari Ustadz Jaki. Sedangkan Mama dan Papa Shinta tidak mengetahui tingkah konyol dari menantunya karena mereka duduk bersama kedua orang tua Rhea.


"Dari mana aja sih? Masa' aku ditinggal sendirian? Dikiranya orang-orang aku nikah sendiri loh gak ada lakinya," Shinta berucap kesal pada Ustadz Jaki.


"Sembarangan, siapa yang bilang?" tanya Ustadz Jaki.


"Setan," jawab singkat Shinta yang masih kesal.


"Hehehe... jangan marah gitu dong. Tadi aku cuma nyuruh Umi bubarin acaranya biar kita bisa cepat istirahat," jawab Ustadz Jaki sambil nyengir tidak berdosa.

__ADS_1


"Hah?!" Shinta melongo kaget mendengar ucapan Ustadz Jaki.


Ya Allah gini amat punya laki, konyol sih konyol, somplak sih somplak, tapi ini kebangetan. Tapi lucu sih... aku suka. Hehehehe.... Shinta berkata dalam hati memaki suaminya, tapi dia juga mengakui rasa sukanya pada suaminya.


Akhirnya acara pesta pernikahan Ustadz Jaki dan Shinta selesai. Dan saat-saat inilah yang ditunggu-tunggu oleh Ustadz Jaki. Saat-saat di mana jiwa laki-lakinya membuktikan.


Shinta diajak masuk oleh Ustadz Jaki ke dalam kamarnya yang sudah disulap menjadi kamar pengantin. Hiasan-hiasan dan suasana romantis yang terdapat di dalam kamar pengantin ini dibuat oleh Rhea, sehingga terasa sangat istimewa sekali.


Ketika menaiki tangga untuk bisa ke kamar, Shinta agak kesulitan karena baju pengantinnya, sehingga dia berjalan sangat hati-hati dan sangat pelan sekali.


Seettt...


Mata Shinta terbelalak mendapati tubuhnya seperti melayang, dan ketika dia sadar, dia sudah dalam gendongan Ustadz Jaki.


"Eh ngapain digendong?" tanya Shinta yang malu karena melihat Ustadz Fariz dan Rhea tersenyum jahil pada dirinya di bawah tangga.


"Katanya minta acara gendong-gendongan biar so sweet kayak Rhea," jawab Ustadz Jaki yang membuat Shinta bertambah malu karena sudah pasti Ustadz Fariz dan Rhea mendengarnya.


Setelah masuk ke dalam kamar, Shinta tidak melihat wajah Ustadz Jaki sama sekali. Ustadz Jaki mendudukkan tubuh istrinya di atas ranjang. Dia hanya menunduk malu atas semua perlakuan suaminya.


"Yang... Sayang... kok nunduk terus gitu sih?" Ustadz Jaki berjongkok di depan Shinta dan menengadahkan wajahnya untuk melihat wajah istrinya sambil meraih kedua tangan istrinya.


"Eh itu... anu.. apa.. a-aku mau mandi dulu, gerah," ucap Shinta gugup.


"Ya udah, sana mandi. Cepetan ya, habis itu nganu," ucap Ustadz Jaki yang masih betah melihat wajah istrinya.


Shinta bertambah gugup karena Ustadz Jaki tidak menyingkir dari hadapannya. Dengan segera Shinta berdiri dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.


Ustadz Jaki mengetuk pintu kamar mandi, dan Shinta membuka sedikit pintu tersebut.


"Apa?" tanya Shinta yang sedikit menyembulkan kepalanya dari dalam kamar mandi.


"Perlu bantuan gak?" tanya Ustadz Jaki sambil tersenyum jahil.


"Hah?!" Shinta bingung dengan pertanyaan yang diajukan Ustadz Jaki padanya.


"Mau dimandiin?" tanya kembali Ustadz Jaki dengan senyum jahil dan menaikkan turunkan alisnya.


Brak!


Pintu di tutup seketika oleh Shinta dan dia berteriak dari dalam kamar mandi,


"Gak Usah!"


Ustadz Jaki tertawa melihat istrinya yang tidak pernah seperti itu selama dia mengenalnya. Dan kini, seolah dia mempunyai mainan baru yang bisa dia jahili setiap saat.


Tok... tok... tok...


Pintu kamar mandi kembali diketuk oleh Ustadz Jaki.


"Sayang... Sayang... Shinta Sayang... udah belum mandinya? Jangan lama-lama, keburu ngantuk nanti," teriak Ustadz Jaki dari depan pintu kamar mandi.


Ceklek!

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka, Shinta keluar ragu-ragu dari dalam kamar mandi. Dia memakai bathrobe yang biasanya dia pakai di rumah. Dari tadi sebenarnya Shinta sudah selesai, namun dia ragu untuk keluar dari kamar mandi, karena sungguh dia sangat gugup dan malu.


Dia tidak asing dengan alat reproduksi dan proses pembuahan karena dia mempelajarinya sebagai seorang dokter Sp.OG, tapi untuk melihat dan mempraktekannya secara langsung membuat Shinta gugup dan malu.


Padahal biasanya Shinta sangat tertarik dan senang ketika melakukan praktek mengenai profesinya, namun untuk praktek yang satu ini berbeda dari biasanya. Dan Shinta merasa harus menyiapkan dirinya.


Mata Ustadz Jaki terpanah melihat Shinta keluar dari kamar mandi dengan berbalut bathrobe dan rambut panjangnya terurai basah.


"Cantik," ceplos Ustadz Jaki tanpa sadar dengan meneguk ludahnya.


Shinta bertambah malu dan gugup sehingga dia tidak fokus. Shinta hendak melangkah ke kanan namun Ustadz Jaki pun melangkah ke kiri, setelah itu Shinta melangkah ke kiri dan Ustadz Jaki pun melangkah ke kanan. Akhirnya selama beberapa menit mereka berada di depan pintu kamar mandi hanya karena hal seperti itu.


"Awas iiih... buruan mandi," ucap Shinta sambil menunduk malu hingga dia tidak berani memanggil suaminya dengan sebutan sayang.


"Ok cinta," seru Ustadz Jaki senang dan dengan jahilnya dia mencuri cium pipi Shinta sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi.


Shinta mematung tak percaya dengan apa yang terjadi. Tangannya menyentuh pipi kirinya yang dicium oleh suaminya. Baru kali ini pipinya dicium oleh lelaki selain Papanya. Dan rasanya, seperti ada desiran aneh dalam dirinya. Beberapa detik kemudian dia tersadar dan menepuk-nepuk kedua pipinya dengan kedua tangannya agar tersadar sepenuhnya.


Setelah beberapa menit, Ustadz Jaki keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya sedang mengeringkan rambutnya, duduk di depan cermin di meja rias.


"Sayang... sholat yuk," Ustadz Jaki mendekat dan memegang kedua pundak Shinta sambil melihat ke arah cermin,melihat wajah istrinya melalui cermin yang berada di depannya.


Shinta bertambah gugup dan secepat kilat dia berdiri.


"Aku wudhu dulu," ucapnya ketika sudah berdiri dari duduknya.


Setelah Shinta selesai wudhu, gantian Ustadz Jaki yang masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu.


Sebelumnya, Shinta sudah menata sajadah dan menyiapkan baju koko serta sarung untuk Ustadz Jaki ketika tadi Ustadz Jaki berwudhu.


Ustadz Jaki berdiri di depan pintu kamar mandi melihat Shinta dan dua sajadah yang sudah tertata rapi, serta baju koko dan sarung yang sudah disiapkan oleh Shinta. Ustadz Jaki tersenyum senang dan lega.


"Kok diam disitu? Ada apa?" tanya Shinta yang memandang suaminya dengan heran.


"Gapapa, seneng aja liat semuanya udah tertata dan ada yang menyiapkan. Tau gitu dari dulu aja aku nikahin kamu," ucap Ustadz Jaki sambil terkekeh membuat Shinta bertambah malu.


Setelah itu mereka melaksanakan shalat sunah dua rakaat. Ustadz Jaki membalikkan badannya ketika selesai berdoa dan mengulurkan tangannya untuk dicium oleh Shinta. Sekarang Shinta tidak ragu seperti tadi, karena ini bukan yang pertama lagi dan tidak ada orang lain, jadi dia tidak perlu malu.


Ustadz Jaki mendekatkan wajahnya pada wajah Shinta dan membacakan doa sebelum mencium keningnya. Desiran aneh itu kembali terasa oleh Shinta. Dan dia kembali terhenyak ketika tubuhnya digendong oleh Ustadz Jaki menuju ranjang setelah mukenanya dilepaskan oleh suaminya.


Dengan senyum menggoda Ustadz Jaki perlahan melepaskan bathrobe Shinta di bawah selimut yang sudah mereka pakai. Dan senyum Ustadz Jaki kembali merekah melihat wajah Shinta merona dan wajahnya menghadap ke lain arah.


"Sayang, lihat suamimu ini dong," Ustadz Jaki menggoda Shinta.


Dan ketika Shinta sedikit merintih kesakitan meskipun sudah ditahannya, tiba-tiba lampu kamar mereka padam. Kini suasana kamar mereka menjadi gelap gulita.


Di kamar sebelah, ada sepasang suami istri yang sedang melakukan hal sama seperti pengantin baru. Mereka pun kaget ketika lampu kamar mereka tiba-tiba padam.


"Bie, seperti dejavu," ucap Rhea dan mereka berdua tertawa mengingat malam pengantin mereka waktu itu.


Namun tawa mereka berhenti ketika mendengar suara teriakan dari luar kamar mereka.


"Umiiiiiii....."

__ADS_1


__ADS_2