Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 204 Beberapa pesan dari Umi


__ADS_3

Kiki teringat akan mimpinya pada saat dia belum sadarkan diri.


"Mimpi itu... mimpi itu sama seperti yang diceritakan Umi padaku," ucap Rhea ketika tiba-tiba teringat akan mimpinya yang membuatnya tersadar dari tidurnya setelah melahirkan putrinya, anak keduanya bersama dengan Ustadz Fariz.


"Ada apa sayang? Mimpi apa?"


Ustadz Fariz bertanya dengan khawatir pada istrinya.


Saat ini Ustadz Fariz teramat sangat mengkhawatirkan Rhea sejak kejadian pingsan ketika melihat Hana meminta maaf padanya.


"Bi, pada saat Bunda berpikir untuk menerima lamaran Abi, Umi pernah menceritakan mimpinya padaku. Dan mimpi Umi tadi hampir sama seperti mimpiku barusan, mimpi yang membuat aku terbangun ini tadi."


Rhea mengatakannya dengan menerawang kembali tentang mimpinya tadi.


"Mimpi? Mimpi apa sayang?" tanya Ustadz Fariz penasaran.


Rhea menghela nafasnya berat, setelah beberapa detik kemudian dia mulai berbicara.


"Tadi Bunda bermimpi sama seperti mimpi Umi yang diceritakan padaku. Umi menggendong seorang bayi dan kita berdua sangat senang melihat Umi yang bahagia menggendong cucunya. Namun tidak lama kemudian Umi mengembalikan bayi itu pada kita, dan dia berpesan pada kita agar mendidik Izam menjadi anak yang saleh. Umi mengatakan jika dia sangat menyayangi Izam dan Izam sudah cukup membuktikan rasa sayangnya pada Umi dengan melindunginya. Lalu Umi berpamitan, katanya dia akan bertemu dengan Abah. Apa arti ini semua Bi? Apa ini hanya mimpi biasa agar aku bisa terbangun dari tidurku?"


Panjang lebar Rhea menceritakan semuanya. Pikirannya sedang kacau memikirkan banyak hal.


Ustadz Fariz tersenyum getir melihat wajah istrinya. Dia tidak tega menceritakan apa yang terjadi pada Umi Sarifah sekarang ini.


Apa ini cara Umi berpamitan pada Rhea? Umi meninggalkan kami dengan mempersilahkan anggota keluarga yang baru masuk dalam keluarga kita. Kenapa Umi tidak mau menunggu hingga adik Izam lahir agar bisa melihatnya dan menggendongnya Umi? Bahkan aku belum bertemu dan meminta maaf untuk yang terakhir kalinya pada Umi.


Ustadz Fariz berkata dalam hatinya dengan melihat wajah istrinya, tanpa sadar air matanya menetes kala mengingat Umi Sarifah, sosok ibu yang sangat dia kagumi.


"Abi kenapa nangis?"


Rhea berkata sambil mengusap air mata Ustadz Fariz yang menetes di pipinya.


Ustadz Fariz hanya menggeleng dan mengembangkan senyumnya dengan paksa agar istrinya tidak khawatir padanya.


"Assalamu'alaikum...."


Salam yang di berikan oleh Shinta itu membuat Ustadz Fariz dan Rhea menoleh ke arah pintu. Dan terlihat Shinta yang sedang menggendong seorang bayi berjalan menuju ke arahnya.


"Wa'alaikumussalam...," jawab Ustadz Fariz dan Rhea bersamaan.

__ADS_1


"Ini putri kalian berdua. Lihatlah, cantik sekali bukan? Mirip seperti Bundanya," ucap Shinta ketika memberikan bayi mungil tersebut pada Rhea.


Rhea menerima bayi mungil itu ke dalam gendongannya. Ustadz Fariz yang berada di dekatnya tersenyum bahagia melihat bayi mungil yang baru dilahirkan itu mampu membuat kesedihannya teralihkan.


"Loh kenapa Salsa bisa tidur di sini?" tanya Shinta pada Rhea dengan suara lirih.


Salsa kini sedang tertidur di samping Rhea sambil memeluk Rhea.


"Tadi dia menangis histeris lagi ketika aku bertanya tentang Izam dan Umi, setelah itu dia tertidur pada saat aku memeluknya. Mungkin dia kecapekan menangis," jawab Rhea sambil mencoba memberikan ASI pada bayinya.


"Biar aku bawa dia ke ruanganku saja."


Shinta menggendong Salsa yang wajahnya penuh dengan jejak air mata.


"Shin, apa minuman yang saya kasih tadi sudah habis? Kamu berikan saja minuman itu sampai habis agar Salsa bisa lebih tenang," ucap Ustadz Fariz sebelum Shinta berjalan keluar ruangan tersebut.


"Sepertinya sudah habis Ustadz," jawab Shinta sambil mengingat-ingat.


"Ya sudah biar nanti saya buatkan lagi ya," ucapan Ustadz Fariz ini diangguki oleh Shinta.


"Assalamu'alaikum,"ucap Shinta ketika akan meninggalkan ruangan tersebut.


"Wa'alaikumussalam...," jawab Ustadz Fariz dan Rhea bersamaan.


Rhea memberitahukan pada Ustadz Fariz dengan memperlihatkan tanda lahir tersebut padanya setelah memberikan ASI pada bayinya.


"Iya ya sayang, gak nyangka kalau putri kita ini mempunyai tanda lahir yang bisa menjadi ciri khasnya."


Ustadz Fariz pun tersenyum melihat bayi mungil di gendongan istrinya itu tertidur dengan pulas.


"Mmm... Bi, bagaimana keadaan Umi dan Izam?"


Kini Rhea bertanya pada Ustadz Fariz dengan menatap mata suaminya itu serius. Jujur saja Rhea sangat penasaran dengan keadaan mereka karena menurutnya Shinta dan suaminya itu sedari tadi menunda-nunda jika akan menjawab pertanyaan Rhea tentang keadaan Umi Sarifah dan Izam.


"Sini, biar Abi tidurkan putri Abi ini di box bayinya."


Ustadz Fariz berkata sambil meminta bayi mungil itu dari gendongan Rhea.


Sangat berat bagi Ustadz Fariz untuk memberitahukan pada Rhea tentang kematian Umi Sarifah. Namun sangatlah tidak tepat jika mereka merahasiakan hal tersebut dari Rhea.

__ADS_1


Benar memang jika mereka takut akan kondisi Rhea jika memberitahukan tentang kematian Umi Sarifah padanya. Dan mereka juga merasa salah jika Rhea mengetahui hal tersebut dari orang lain.


"Sayang, Izam masih tertidur. Kita doakan dan kita bantu dia agar dia bisa kembali bersama kita," ucap Ustadz Fariz sambil memegang kedua tangan Rhea dan menatapnya dengan intens.


"Lalu Umi? Apa Umi masih belum mau bangun juga?" tanya Rhea dengan rasa penasaran yang tinggi mengingat Umi Sarifah yang berpamitan padanya melalui mimpinya.


"Umi... Umi telah berpulang. Beliau meninggalkan kita," suara Ustadz Fariz tersendat menahan tangisnya agar dia bisa menguatkan Rhea nantinya.


Rhea terkejut dan diam, namun air matanya menetes tanpa suara tangisnya. Kini Rhea kembali syok mendengar berita kematian dari Umi Sarifah. Dalam diamnya dia mengingat setiap kata yang diucapkan Umi Sarifah padanya.


Ustadz Fariz membawanya dalam pelukannya dan menenangkannya meskipun hatinya sendiri sangat sedih kehilangan sosok ibu yang paling berarti untuk hidupnya.


"Sayang...," Ustadz Fariz memanggil Rhea yang masih ada dalam pelukannya, namun Rhea tidak menyahut sama sekali.


Ustadz Fariz takut jika Rhea kembali sedih dalam diamnya serta pingsan seperti tadi. Bahkan dalam pelukannya sekalipun Ustadz Fariz tidak merasakan tubuh Rhea yang bergetar karena menangis. Dipanggilnya kembali istrinya itu agar sadar apabila sedang melamun.


"Sayang... Bundanya Izam..."


Tak ada jawaban dari Rhea, sehingga membuat Ustadz Fariz melepaskan pelukannya untuk melihat istrinya itu.


Benar saja, sekarang ini Rhea tetap diam dan dengan uraian air matanya dia hanya mengedipkan matanya tanpa bereaksi apapun.


"Sayang, kamu harus kuat. Kita boleh bersedih, tapi jangan terlalu lama. Kita semua memang bersedih karena kita sangat kehilangan Umi. Tapi kita harus tetap menjalankan apa yang diinginkan oleh Umi. Dan juga, ingatlah jika sekarang ini sudah ada putri kita yang sangat membutuhkanmu selain Izam. Jadi, aku mohon kamu jangan seperti ini."


Ustadz Fariz menangis di hadapan Rhea. Dia memohon pada istrinya itu agar bisa kembali seperti semula. Kemudian dia mencium kedua mata istrinya itu dengan harapan air mata istrinya bisa berhenti, namun air matanya sendiri masih menetes karena kesedihannya melihat keadaan istrinya saat ini serta kenyataan yang menyatakan Umi Sarifah telah berpulang pada sang kuasa.


"Sayang... aku mohon jangan membuat aku tersiksa. Kita harus membantu Izam agar dia berusaha lebih keras lagi untuk kembali bersama kita."


Seperti sebuah mantra, mendengar nama Izam disebut oleh Ustadz Fariz, Rhea kembali tersadar.


"Izam... Izam anakku...," ucap Rhea yang kembali tersadar dari lamunan kesedihannya.


Dengan segera Ustadz Fariz memeluk Rhea dengan air matanya yang masih saja keluar dari pelupuk matanya.


"Abi jangan menangis. Maafkan Bunda. Bunda ingin melihat Umi dan Izam, apa boleh?" ucap Rhea sambil mengusap air mata suaminya.


Ustadz Fariz pun mengangguk sebagai jawaban pertanyaan dari istrinya itu.


Kelahiran selalu menyenangkan orang di sekitarnya dan kematian selalu menyedihkan orang terdekatnya.

__ADS_1


Bagaimanapun kelahiran dan kematian selalu berdampingan. Mereka selalu datang dan pergi sesuai takdir yang telah dituliskan.


__ADS_2