Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 130 Latihan


__ADS_3

Beruntung sekali Izam berada di tengah keluarga Pondok Pesantren Al-Mukmin. Bayi yang baru lahir itu mendapatkan limpahan kasih sayang dan perhatian dari banyak orang. Bahkan Baby Izam menjadi rebutan orang-orang yang ingin menggendongnya.


"Sini biar aku yang gendong Izam," ucap Ustadz Jaki sambil mengarahkan tangannya di depan Ustadz Fariz yang sedang menggendong Izam.


Ustadz Fariz mengalihkan pandangannya dari wajah putranya pada Ustadz Jaki yang berada di depannya.


"Emang bisa?" Ustadz Fariz bertanya dengan pandangan tidak percaya.


"Lah kan lagi belajar sekarang, biar bisa nanti kalau gendong anak sendiri," jawab Ustadz Jaki yang masih saja menyodorkan tangannya di depan Ustadz Fariz.


"Ogah, enak aja anakku dibuat percobaan," ucap Ustadz Fariz sambil mempererat gendongannya dan lebih mendekatkan tubuh baby Izam padanya.


"Pelit banget sih, baru punya anak satu aja pelit, gimana kalau punya anak sepuluh?" gerutu Ustadz Jaki sambil duduk di depan Ustadz Fariz.


"Tinggal tambah dua lagi biar genap jadi satu lusin, terus bikin dah kesebelasan. Keren kan?" jawab Ustadz Fariz sambil tersenyum mengejek Ustadz Jaki.


"Ck, lihat aja nanti pasti bakalan aku susul, satu sama," ucap Ustadz Jaki tidak mau kalah.


"Kamu punya satu, aku punya dua. Jadi gak bisa sama," Ustadz Fariz mengejek Ustadz Jaki sambil terkekeh.


"Dasar gak mau ngalah. Udah tua juga," Ustadz Jaki mengomel pada Ustadz Fariz.


"Tua kan umurnya, orangnya masih tetap ganteng gapapa," sahut Ustadz Fariz berniat membuat Ustadz Jaki kesal.


"Ganteng dari mananya? Habis ini kalau udah tua pasti Rhea gak mau," ucap Ustadz Jaki sambil menjulurkan lidahnya.


"Sembarangan kalau ngomong," Ustadz Fariz melempar bantal kursi pada Ustadz Jaki.


"Eh.. eh ada apa sih ini? Ada bayi jangan lempar-lemparan," Umi Sarifah melerai perdebatan Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki.


"Ini Umi, Ustadz Fariz pelit banget. Pinjam Izam aja gak boleh. Padahal Jaki kan pengen gendong," Ustadz Jaki mengadu pada Umi Sarifah.


"Pinjam... pinjam... emangnya putraku yang ganteng ini mainan apa dipinjam? Kalau mau latihan gendong, sana gendong boneka, aman gak bakalan cidera kalau jatuh," Ustadz Fariz menyahuti aduan Ustadz Jaki pada Umi Sarifah.


"Sensitif banget macam wanita lagi dapet," ucap Ustadz Jaki menanggapi ucapan dari Ustadz Fariz.


"Udah... udah... sini biar Izam sama Umi aja. Kalian makan dulu sana, Umi tadi udah makan duluan," ucap Umi Sarifah sambil mengarahkan tangannya pada tubuh baby Izam.


"Jangan Umi, nanti dipinjam Jaki buat latihan gimana?" Ustadz Fariz menarik tubuh baby Izam ke dalam dekapannya.

__ADS_1


"Gak akan. Sini biar Umi yang gendong. Kalian makan saja sana, udah disiapin sama istri kalian," ucap Umi Sarifah sambil membawa tubuh baby Izam dalam gendongannya.


Ustadz Fariz berjalan ke ruang makan diikuti oleh Ustadz Jaki sambil saling mengejek seperti biasanya.


"Tuh latihan gendong ibunya dulu baru nanti gendong bayinya," ucap Ustadz Fariz sambil duduk di kursi makan sebelah Rhea.


"Kalau gendong Shinta sih udah sering. Iya gak Sayang?" Ustadz Jaki menengadahkan wajahnya pada Shinta dengan menaik turunkan alisnya.


"Apaan sih," jawab Shinta menahan rasa malu dihadapan Ustadz Fariz dan Rhea.


"Masih pagi bahasannya udah gendong-gendongan," Rhea berucap sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, heran dengan kelakuan kedua Ustadz yang ada di dekatnya ini.


"Suami kamu ini pelit, masa' pinjem Izam aja gak boleh, padahal kan aku mau latihan gendong biar bisa lancar besok-besok pas gendong anak sendiri," kini Ustadz Jaki berganti mengadu pada Rhea, berharap Rhea membelanya.


"Dikira training apa pakai latihan?" jawab Rhea diluar prediksi Ustadz Jaki.


Ustadz Fariz terkekeh melihat Ustadz Jaki yang cemberut mendengar jawaban dari Rhea.


"Gak suami gak istri sama-sama nyebelin," gerutu Ustadz Jaki.


Tiba-tiba mulut Ustadz Jaki disumpal oleh Shinta menggunakan kerupuk yang baru saja diambilnya.


Dan Ustadz Jaki kesal karena lagi-lagi dia yang kalah berdebat dengan pasangan suami istri yang ada di dekatnya itu, Ustadz Fariz dan Rhea. Tapi senyumnya mengembang karena Shinta melayaninya makan seperti biasanya.


Untung punya istri, kalau masih jomblo kayak dulu, pasti bakalan ngenes lihat mereka berdua uwu-uwuan. Emangnya cuma mereka berdua aja yang bisa? Aku juga bisa kaliiii.... Ustadz Jaki berkata dalam hatinya sambil melihat Shinta yang sedang bersiap akan menyendokkan makanannya pada mulutnya.


Dengan cepatnya Ustadz Jaki mengarahkan sendok Shinta pada mulutnya dan melahap makanan yang ada pada sendok Shinta.


Hap! Dengan cepat makanan itu dikunyah oleh Ustadz Jaki dan tersenyum pada istrinya. Shinta melongo melihat apa yang dilakukan oleh suaminya.


"Kenapa ambil makananku?" Shinta bertanya pada Ustadz Jaki.


Ustadz Jaki memberi kode pada Shinta dengan mengarahkan dagunya ke arah Ustadz Fariz dan Rhea.


Shinta mengerti maksud suaminya Mungkin suaminya ingin seperti Ustadz Fariz dan Rhea yang sesekali mereka saling menyuapi. Namun Shinta kaget ketika sebuah sendok yang berisikan makanan penuh berada di depan mulutnya.


Terpaksa Shinta membuka mulutnya karena tidak ingin suaminya kecewa. Dia melahap makanan yang disuapkan oleh suaminya dan membuat mulutnya terasa penuh karena kebanyakan.


"Kira-kira dong kalau nyuapin, makanan sebanyak itu gak muat di mulutku," ucap Shinta sambil menyuapkan sesendok makanan yang tidak penuh, sesuai dengan porsi Shinta.

__ADS_1


"Kurang banyak Sayang, terlalu sedikit itu," ucap Ustadz Jaki yang tadinya bermaksud untuk memberikan contoh pada Shinta banyaknya makanan yang harus dia sendokkan untuk menyuapi Ustadz Jaki.


"Ya udah makan sendiri gih," ucap Shinta kesal.


Ustadz Fariz dan Rhea tidak menanggapi Ustadz Jaki dan Shinta, mereka lebih memilih asyik dengan dunia mereka berdua.


Selesai makan, Ustadz Jaki mengantarkan Shinta berangkat kerja. Masih dengan wajah yang kesal, Shinta selalu menjawab pertanyaan Ustadz Jaki dengan sewot dan bernada kesal.


"Lagi dapet ya Sayang, sensitif banget," ucap Ustadz Jaki sambil mengemudikan mobilnya.


"Dapet?" celetuk Shinta yang mengingat-ingat kapan terakhir dia mendapatkan periodenya.


Sepertinya udah lama. Apa mungkin... Ah, aku gak mau berharap terlalu banyak. Biar nanti saja coba aku buktikan, Shinta berkata dalam hatinya.


"Sayang, kenapa?" Ustadz Jaki bertanya dengan sesekali melihat istrinya yang duduk di kursi sampingnya.


"Gapapa. Emmm... Sayang, kalau misalnya aku...," ucapan Shinta menggantung karena tidak yakin dengan apa yang akan dia katakan.


"Kenapa?" tanya Ustadz Jaki heran.


"Ck, dia lagi. Kenapa sih manusia itu selalu aja di dekat kamu? Masih gak bisa nerima juga kalau kamu udah jadi istri orang lain?" Ustadz Jaki kesal melihat dokter Randi yang keluar dari mobil yang diparkir di sebelah mobil Ustadz Jaki yang baru terparkir.


"Udah biarin aja. Aku masuk dulu ya. Assalamu'alaikum....," Shinta tergesa-gesa berpamitan dengan mencium punggung tangan Ustadz Jaki.


Shinta segera mengambil alat untuk menampung urine nya dan mengeluarkan alat yang berguna untuk menjawab pertanyaan yang sedari tadi mengganggu pikirannya.


Kemudian Shinta mencoba mengoleskan gel pada perutnya sendiri sebelum ada perawat yang datang ke ruangannya. Diarahkannya alat USG itu pada perutnya dan mata Shinta terbelalak melihat layar monitor tersebut. Setelah itu mata Shinta berkaca-kaca melihat layar monitor tersebut tanpa berkedip dengan menggerakkan alat yang masih berada di atas perutnya.


"Sayang, ini HP kamu ketinggalan di mobil," Ustadz Jaki masuk ke dalam ruangan Shinta tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Ustadz Jaki tertegun, dia mematung melihat perut istrinya yang terbuka dengan alat yang masih ada di atas perutnya. Dan Ustadz Jaki semakin bingung ketika melihat mata Shinta berkaca-kaca melihat layar monitor yang tidak jauh darinya.


"Sayang kamu kenapa? Kamu sakit?" Ustadz Jaki panik mendekati istrinya yang berada di ranjang pemeriksaan.


"Sayang... aku... aku...," Shinta tak kuasa menahan air matanya.


"Kamu kenapa Sayang? Kamu gak sakit kayak Mbak Mirna kan?" Ustadz Jaki bertanya dengan panik dan penuh kekhawatiran.


Tuk!

__ADS_1


Reflek Shinta meletakkan alat USG yang masih dipegangnya itu pada mulut Ustadz Jaki.


__ADS_2