
Berbekal dengan alamat yang diberikan oleh Yasmin, Ustadz Fariz, Ustadz Jaki dan Izam menuju ke alamat tersebut.
Maria, ibu susu dari Yasmin sangat kaget ketika didatangi oleh mereka bertiga.
"Sebenarnya siapa kalian? Kenapa kalian bertanya-tanya tentang Zahra?" tanya Maria dengan melihat mereka bertiga secara bergantian.
"Maaf, kami ini yang menolong Zahra waktu malam itu dia sedang kabur dari kejaran orang-orang jahat yang membunuh ibunya," jawab Ustadz Fariz.
Mendengar jawaban dari Ustadz Fariz, Maria yakin jika mereka bertiga benar-benar orang yang menolong Zahra. Apalagi dengan penampilan mereka yang tidak seperti orang jahat, sehingga Maria sedikit yakin pada mereka.
"Apa kalian tidak berbohong?" tanya Maria menelisik ketika mereka bertiga sudah duduk di ruang tamu.
"Apa tampang kami seperti penipu?" Ustadz Jaki bertanya balik pada Maria.
Maria kembali menatap mereka satu persatu dari atas hingga bawah. Kemudian dia kembali bertanya,
"Di mana sekarang Zahra berada?"
"Dia ada bersama dengan keluarga kami. Sekarang dia sedang bersekolah. Apa Ibu bisa memberitahukan tentang Zahra pada kami?" tanya kembali Ustadz Fariz pada Maria.
"Apa bisa kami bertemu? Tapi jangan di tempat ini, terlalu berbahaya untuk Zahra," ucap Maria.
"Pasti kami akan mempertemukan kalian. Tapi kami ingin mengetahui terlebih dahulu tentang masa lalu Zahra," tukas Ustadz Fariz.
"Masa lalu? Kenapa kalian tidak bertanya sendiri pada Zahra?" tanya Maria dengan memicingkan matanya seolah dia mencurigai mereka bertiga.
Ustadz Fariz menghela nafasnya, dia tahu ini tidak akan mudah baginya untuk mendapatkan informasi dan bukti yang akurat. Namun keyakinannya membuatnya tidak putus asa untuk mendapatkan semua informasi yang dia butuhkan.
"Kami ingin tahu tentang Zahra ketika masih bayi dan kami harap ibu bisa memberikan informasi itu pada kami," jawab Ustadz Fariz.
"Untuk apa? Kenapa kalian membutuhkan informasi Zahra ketika bayi?" tanya Maria menyelidik.
"Begini Bu, kami menduga jika Zahra yang ditolong oleh Ustadz Fariz malam itu adalah anaknya yang hilang diculik ketika bayi," ucap Ustadz Jaki yang sudah tidak sabar beradu tanya dengan Maria.
__ADS_1
"Diculik? Bayi?" celetuk Maria kaget mendengarnya.
"Iya, benar sekali Bu. Anak saya ketika bayi diculik," jawab Ustadz Fariz membenarkan.
"Lalu apa hubungannya dengan Zahra?" tanya Maria kembali.
"Pertama karena wajahnya yang sangat mirip dengan Bundanya, yang kedua adalah tanda lahir yang dimiliki Zahra sama dengan tanda lahir yang dimiliki anak kami dan yang ketiga adalah kalung yang dipakai oleh Zahra sama dengan kalung yang dipakai anak kami ketika hilang. Dan asal Ibu tau, kalung itu hanya ada satu saja di dunia. Karena kalung itu dibuat kakeknya hanya untuk Zahra," tutur Ustadz Fariz.
Maria terhenyak, dia merasa sangat bahagia mendengar fakta bahwa Zahra sudah menemukan kedua orang tuanya dan sudah kembali pada keluarganya. Namun dia tidak bisa begitu saja membenarkan apa yang diberitahukan oleh Ustadz Fariz padanya.
"Bagaimana saya bisa percaya dengan apa yang kalian bicarakan jika tidak ada bukti yang membenarkan semua itu?" tanya Maria untuk mencari tahu lebih tentang bayi mereka yang hilang.
"Saya rasa Ibu sebenarnya sudah tau dan kami tidak perlu memberitahukan lebih detail lagi bukan?" Izam menyahuti pembicaraan mereka.
Maria diam, kini dia yang merasa terpojok. Dia memang berharap jika Zahra bisa bertemu dan berkumpul dengan kedua orang tua kandungnya. Dan dia harus bisa menjaga Zahra karena Pak Anto dan Bu Yati kini telah tiada.
Mungkin sekarang sudah waktunya Zahra harus bahagia dan berkumpul dengan kedua orang tua kandungnya, batin Maria.
"Baiklah akan saya ceritakan apa yang saya ketahui," ucap Maria.
Kemudian Maria menceritakan apa yang dia ketahui. Semua tentang yang diceritakan Pak Anto dan Bu Yati padanya hingga akhir dari perjalanan hidup Pak Anto dan Bu Yati yang mengharuskan Zahra lari dari daerah tersebut.
Mereka bertiga tersenyum bahagia, kini mereka lebih yakin jika Zahra yang kini ada di rumah mereka adalah Yasmin Zahra Mahadi, anak dari Ustadz Fariz dan Rhea yang hilang diculik ketika bayi.
"Terima kasih Bu atas informasi yang Ibu berikan pada kami. Semua itu sangat berarti bagi kami. Dan kami yakin jika Zahra yang kami tolong adalah anak kami," ucap Ustadz Fariz seraya berdiri dari duduknya.
"Saya harap Zahra sekarang akan bahagia bersama keluarga aslinya dan kedua orang tua kandungnya. Kasihan dia sedari kecil harus keluar masuk rumah sakit karena trauma di kepalanya dan dia selalu kesusahan dalam hidupnya," ucap Maria sambil mengingat Zahra pada saat masa kecilnya.
"Baiklah, kami akan pulang sekarang dan terima kasih sekali lagi," tukas Ustadz Jaki sebelum mereka keluar dari rumah Maria.
"Tunggu sebentar, kenapa kalian tidak melakukan tes DNA saja untuk memastikannya?" tanya Maria menghentikan mereka bertiga yang akan keluar dari rumahnya.
"Kami memang akan melakukannya setelah mencari tau tentang masa lalu Zahra," jawab Ustadz Fariz.
__ADS_1
"Semoga memang Zahra benar-benar anak kandung Bapak. Tolong jaga dia dan bahagiakan dia," ucap Maria tulus.
Ustadz Fariz mengangguk dan mengucap salam sebelum keluar dari rumah Maria.
Di Pondok Pesantren Al-Mukmin Salsa mengajak Yasmin mengikuti semua kegiatan seperti santriwati yang lain.
Ketika Yasmin didekati oleh Hana, Salsa merasa tidak suka. Hingga sekarang Salsa masih belum bisa menerima jika Hana yang menyebabkan Umi Sarifah meninggal.
Trauma kecelakaan yang disaksikannya membuat Salsa menjadi ketakutan dan menyalahkan Hana. Sebenarnya Salsa juga tersiksa, dia selalu gemetar ketika melihat kecelakaan, apalagi ketika dia melihat cairan segar berwarna merah yang keluar dari tubuh orang yang terluka.
Mereka memang selalu memberi pengertian pada Salsa jika bukan karena Hana lah Umi Sarifah meninggal. Namun mereka tidak bisa memaksa Salsa untuk menerimanya karena semua butuh proses agar Salsa baik-baik saja dan tidak lagi trauma dengan kejadian tersebut.
"Mau ke mana kamu?" tanya Salsa pada Hana ketika melihat Hana berjalan ke arah rumah Ustadz Fariz.
Mereka kini berada di kebun belakang. Salsa dan Yasmin baru saja mengambil sayuran yang dimintai tolong oleh Rhea untuk mengambilnya.
"Mau ke rumah Kyai," jawab Hana.
"Untuk apa?" tanya Salsa menyelidik.
"Ini, aku akan memberikan tugas santri yang diberikan oleh Izam," jawab Hana.
"Ustadz Izam, ingat itu. Dan biasanya tugas-tugas seperti itu akan mereka kumpulkan sendiri ketika pertemuan selanjutnya bukan? Kenapa jadi kamu yang mengumpulkan?" tanya Salsa heran sambil berjalan mendekati Hana.
"Tidak apa-apa, biar aku saja yang memberikannya pada Izam," jawab Hana.
"Ustadz Izam," bentak Salsa memperingatkan Hana.
Kemudian Salsa menyahut amplop coklat yang berisi lembaran-lembaran kertas dari tangan Hana. Namun Hana masih saja mempertahankannya. Terjadilah tarik menarik antara Hana dan Salsa.
Yasmin yang melihat mereka seperti itu merasa harus menghentikan mereka berdua. Yasmin mencoba menghentikan mereka berdua, namun tangan Hana yang mencoba mempertahankan amplop tersebut terlalu kuat, sehingga tarikan tangannya itu mengenai kepala Yasmin yang berada di sampingnya hingga Yasmin mundur dan kehilangan keseimbangan.
"Auuuuuh...!"
__ADS_1
Yasmin jatuh terduduk di tanah dan berteriak serta merintih kesakitan ketika melihat cairan segar berwarna merah keluar dari kakinya.
"Zahra!"