Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 154 Tentang aku pada saat itu


__ADS_3

"Ha-hana?" celetuk Rhea tanpa sadar ketika mendengar nama Hana.


Hana, nama yang dulu akan diberikan oleh Rhea pada anak perempuan Rhea dengan Andri. Dan kini Rhea mendengar nama tersebut digunakan oleh anak Andri bersama wanita lain.


Apa maksud dari semua ini? Mengapa dia memakai nama Hana untuk anak perempuannya bersama dengan wanita lain? sejenak Rhea berkata dalam hatinya.


"Maaf, bisa menumpang ke toilet?" tanya Ani pada Ustadz Fariz, Ustadz Jaki dan Rhea.


"Silahkan masuk saja Bu, nanti letak toiletnya bisa tanya orang yang berada di dalam," jawab Ustadz Jaki yang sudah merasakan hawa dingin dari ruangan tersebut.


"Terima kasih, maaf merepotkan kalian semua," ucap Ani sebelum beranjak dari tempat duduknya.


Ani segera mengajak Hana untuk masuk ke dalam rumah menuju toilet. Saat melewati ruang tengah, Ani dan Hana mendengar suara tawa anak-anak yang sedang menonton televisi.


"Ibu, Hana mau kesitu," ucap Hana sambil menunjuk Izam dan Hana.


Umi Sarifah menoleh ke arah Hana dan Ani yang berada di luar ruang tengah, kemudian Umi Sarifah mendekati mereka.


"Ada apa Nak?" tanya Umi Sarifah pada Ani.


"Maaf Umi, Hana mau menumpang ke toilet. Apa boleh?" jawab Ani.


"Tentu saja boleh. Ayo biar Umi antarkan kalian," tukas Umi Sarifah sambil berjalan terlebih dahulu menuju kamar mandi.


Shinta masih berada di dapur dengan dibantu oleh Mbak Atik. Saat Shinta melihat Umi Sarifah yang berjalan melewati dapur, dia memanggil Umi Sarifah untuk bertanya,


"Umi, ini sudah matang. Apa anak-anak mau makan terlebih dahulu?"


"Sepertinya mereka sudah kelaparan. Biarkan mereka makan terlebih dahulu," jawab Umi Sarifah yang berhenti di depan dapur sejenak ketika dipanggil oleh Shinta.


Umi Sarifah melihat Hana yang menelan ludahnya ketika melihat dapur dan mencium bau sedap dari dapur tersebut.


"Bu, Hana lapar," celetuk Hana kemudian.

__ADS_1


Ani merasa tidak enak dengan Umi Sarifah yang tersenyum melihat Hana mengatakan hal itu sambil menelan ludahnya.


"Hana katanya mau pipis, yuk buruan," tukas Ani pada Hana karena malu pada Umi Sarifah.


"Itu, kamar mandinya," Umi Sarifah menunjuk pintu kamar mandi.


Kemudian Umi Sarifah meninggalkan Ani dan Hana yang masuk ke dalam kamar mandi untuk menuju dapur.


"Shinta, siapkan tiga mangkuk ya, satunya untuk anak kecil tadi," ucap Umi Sarifah ketika sudah berada di dekat Shinta.


"Mereka siapa Umi?" tanya Shinta heran.


"Tamu, mereka sedang cari pekerjaan dan tempat tinggal," jawab Umi Sarifah sambil tersenyum.


Kemudian Umi Sarifah kembali ke ruang tengah untuk menemani Izam dan Salsa. Ketika Hana dan Ani melewati ruang tangah, mereka dipanggil oleh Umi Sarifah untuk bergabung bersama mereka.


"Ibu, Hana mau lihat itu," ucap Hana sambil menunjuk televisi yang sedang menayangkan film kartun.


"Hana... sini Nak," Umi Sarifah memanggil Hana untuk bergabung bersama mereka.


Ani pun mengantarkan Hana masuk ke ruang tengah dan duduk diantara Izam dan Salsa.


"Maaf Umi merepotkan. Saya tinggal ke depan dulu Umi," Ani merasa sungkan pada Umi Sarifah.


"Tidak apa-apa, biarkan Hana di sini bersama Izam dan Salsa," jawab Umi Sarifah.


"Hana, Ibu ke depan dulu ya mau menemani Bapak," Ani berpamitan pada Hana dan Hana menganggukkan kepalanya tanpa melihat ke arah ibunya.


Ketika Ani hendak masuk ke dalam ruang tamu, dia mendengar hal yang tidak dia inginkan. Ani menghentikan langkahnya untuk mendengarkan lebih lanjut apa yang mereka bicarakan di ruang tamu tanpa kehadirannya di sana.


Keadaan di ruang tamu sedari tadi setelah sepeninggalan Ani dan Hana hening karena Rhea tidak bisa membuka pembicaraan, dia tidak tahu apa yang akan dia bicarakan. Dan Pandu pun sedari tadi hanya memandang Rhea untuk menggali lebih banyak lagi ingatannya.


Ternyata ingatannya kembali begitu saja tanpa Pandu sadari ketika melihat Rhea di hadapannya dan tanpa sakit kepala yang melanda seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Rhea, maafkan aku yang baru datang menemuimu. Selama ini aku hilang ingatan dan tidak mengingat apa-apa tentang kita, bahkan tentang diriku sendiri aku tidak ingat," Pandu menjeda penjelasannya untuk melihat reaksi dari Rhea ketika dia menceritakan apa yang terjadi dengannya.


Namun Rhea hanya diam saja, dia sekarang ini hanya ingin mendengarkan apa yang terjadi dengan mantan suaminya itu setelah kecelakaan mobilnya bersama dengan Silvi beberapa tahun yang lalu.


Kemudian Pandu meneruskan ceritanya setelah dia tidak mendapatkan pertanyaan apapun dari Rhea.


"Aku ditolong oleh Pak Minto, bapaknya Ani. Selama ini aku tinggal dengan mereka karena aku tidak mengingat apapun. Beruntung Pak Minto adalah tabib yang biasa mengobati orang-orang di sekitar hutan tempat aku ditemukan waktu itu, sehingga luka dan ingatanku lebih cepat pulih meskipun masih kembali sedikit demi sedikit yang aku ingat. Dan sekarang aku sudah kembali menemukanmu, aku ingin kita kembali seperti dulu Sayang."


Sontak saja mata Ustadz Fariz, Ustadz Jaki dan Rhea membelalak karena mendengar apa yang diucapkan oleh Pandu. Tangan Rhea memegang erat tangan Ustadz Fariz. Ustadz Fariz mengerti jika istrinya sedang ketakutan, telapak tangan Rhea sangat dingin ketika menggenggam telapak tangan Ustadz Fariz.


"Apa maksud anda? Rhea adalah istri saya, dan anda sudah menjadi mantan suaminya, jadi anda tidak berhak atas istri saya. Dan tolong jangan memanggil istri saya dengan sebutan sayang. Anda sudah memiliki istri, tolong hargai istri anda juga," sahut Ustadz Fariz dengan nada datar dan aura dingin dari wajah Ustadz Fariz keluar.


"Tapi kami belum bercerai dan memang Ani istri saya, tapi itu sebelum ingatan saya kembali," jawab Pandu yang tidak mau disalahkan.


"Dia tetap istrimu meskipun kamu menikahinya pada saat kamu hilang ingatan. Dan kalian sudah memiliki anak, itu tandanya kamu mencintainya. Jangan karena egomu lantas kamu menelantarkan anak dan istrimu," tiba-tiba Rhea berbicara karena merasa sangat kesal dengan mantan suaminya yang berbicara seenaknya.


"Aku melakukannya karena efek dari obat yang diberikan oleh Pak Minto, bapaknya Ani," jawab Pandu dengan entengnya.


"Apa maksudmu? Kenapa kamu menyalahkan orang lain untuk menutupi keinginanmu melakukan hubungan suami istri itu?" Rhea seakan emosi karena Pandu yang memang sedari dulu tidak berubah, dulu ketika masih menjadi Andri dia memang keras kepala, dan sekarang setelah dia hilang ingatan dan menjadi Pandu, masih saja dia keras kepala.


"Memang kenyataannya seperti itu. Setelah aku meminum obat yang dibuatkan oleh bapaknya Ani, badanku terasa panas dan aku tidak bisa menahannya karena itu efek dari obat ramuan tersebut," jawab Pandu yang masih merasa benar.


"Astaghfirullahaladzim, meskipun begitu dia tetap istri anda. Kalian sudah menikah dan wajar kalian melakukannya, hingga sekarang istri anda sedang hamil lagi. Tidak pantas anda mengatakan seperti itu," sahut Ustadz Fariz dengan kesal.


Pandu semakin kesal karena melihat tangan Rhea dan tangan Ustadz Fariz saling menggenggam. Dari dulu dia tidak pernah mau jika miliknya dimiliki atau disentuh oleh orang lain.


"Tapi aku belum menceraikan dan aku ingin kita kembali lagi seperti dulu," Pandu mencoba kembali mengatakan niatannya.


"Dalam segi agama kalian sudah lama bercerai. Dan kini kalian sudah memiliki kehidupan sendiri-sendiri, jadi kita jalani saja hidup kita yang sekarang ini karena kita sudah bahagia dengan kehidupan kita masing-masing. Saya mohon anda jangan mengungkit cerita lama anda ini lagi, karena akan melukai banyak orang nantinya. Tolong hormati perasaan orang lain," Ustadz Fariz berkata dengan tegas pada Pandu.


Dia memang tidak bisa berkata atau bertindak kasar, tapi dia bisa bertindak tegas jika itu menyangkut keluarganya, orang yang sangat dia cintai.


"Tapi aku-"

__ADS_1


"Mas... apa sudah selesai? Hana sepertinya rewel," Ani tiba-tiba masuk ke dalam ruang tamu mengagetkan mereka semua sehingga perkataan Pandu terhenti.


__ADS_2