Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 103 Bocah yang bisa bikin bocah


__ADS_3

"Mirna!" seru Pak Ratmo dari arah yang tidak jauh darinya.


Pak Ratmo yang berjalan hendak mengembalikan kunci mobil ke rumah Umi Sarifah mendadak berhenti karena melihat Mirna keluar dari rumah Umi Sarifah.


Mirna menoleh karena merasa namanya dipanggil oleh seseorang.


"Pa-paman...," Mirna ketakutan melihat Pamannya.


Pak Ratmo berlari kecil mendekati Mirna dengan penuh kemarahan. Dengan menjinjing sedikit sarungnya, Pak Ratmo tergopoh-gopoh mendekati Mirna.


"Mirna, ngapain kamu di sini? Paman kan sudah bilang kalau kamu tidak boleh datang ke wilayah Pondok Pesantren Al-Mukmin lagi," ucap Pak Ratmo.


Pak Ratmo benar-benar marah karena Mirna melanggar perintahnya, dia merasa sangat malu pada keluarga Umi Sarifah yang sudah baik padanya dan keluarganya semenjak dulu.


"A-aku... Pa-Paman aku gak berniat apa-apa. Aku-"


"Ayo pulang, kita bicara di rumah," seru Pak Ratmo dengan penuh kemarahan.


Mirna menurut saja, dia tidak berani melawan Pamannya karena takut dipulangkan ke kota asalnya, kota yang sama dengan Rhea berasal.


Mirna memang lebih suka tinggal di sini karena di kota asalnya banyak yang tidak menyukai Mirna, karena itulah dulu Bapak Mirna sebelum meninggal membuat amanat agar Ustadz Fariz menikahi Mirna dengan harapan Mirna akan berubah lebih baik lagi dan orang-orang tidak akan memandang rendah Mirna lagi.


Memang benar setelah Mirna menikah dengan Ustadz Fariz, para tetangga tidak ada yang berani menggunjingkannya karena sungkan pada Ustadz Fariz. Dan kini jika dia kembali ke sana, sudah bisa dipastikan lagi jika dia akan menjadi bahan gunjingan kembali.


Mirna berjalan pulang dengan perasaan takut, karena dia melihat Pamannya yang sangat marah padanya. Hingga pada saat sampai rumah Pamannya, Pak Ratmo sudah masuk ke dalam rumahnya, tapi Mirna masih berdiri di depan pintu, dia enggan masuk, takut jika dia benar-benar diusir oleh Pamannya.


"Mirna! Ayo cepat masuk!" seru Pak Ratmo dari dalam rumah.


Dengan segera Mirna masuk sambil berlari tanpa menjawab panggilan Pamannya.


"Duduk!" seru Pak Ratmo sambil menunjuk kursi di hadapannya.


Mirna pun duduk di tempat yang ditunjuk oleh Pamannya. Tatapan Pak Ratmo padanya membuat Mirna sangat ketakutan. Wajar saja Mirna sangat ketakutan, karena Pak Ratmo tidak pernah sama sekali marah padanya selama ini, meskipun Mirna membuatnya kesal dan marah. Tapi kali ini Pak Ratmo benar-benar seperti orang lain, bukan Paman yang dia kenal selama ini.


"Pa-paman tadi aku... aku hanya memberitahu Mas Fariz tentang penyakitku," ucap Mirna dengan ketakutan sehingga dia tergagap.


"Apa tujuanmu memberitahu mantan suamimu penyakitmu? Kamu tau kan jika kalian tidak mungkin bisa bersatu lagi?" suara Pak Ratmo meninggi.


"Ya kan siapa tau bisa rujuk setelah tau penyakitku," kini Mirna sudah bisa menjawab seperti biasanya.

__ADS_1


"Kamu tau kan peraturannya Mirna... dari segi manapun tetap gak bisa!" seru Pak Ratmo dengan nada yang meninggi dan matanya melotot serta nafasnya tidak beraturan karena amarahnya.


"Ah udahlah Paman, aku mau istirahat dulu. Lagian Mas Fariz tadi aku minta untuk menemani berobat aja gak mau kok. Masa sama mantan istri tega gitu," ucap Mirna sambil berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.


"Mirna, pokoknya Paman gak mau tau, kalau kamu pergi ke sana tanpa Paman, kamu akan Paman usir. Dengar itu," teriak Pak Ratmo agar Mirna mendengarnya.


Brak!


Pintu kamar Mirna ditutup dengan sangat keras, dan bantingan pintu tersebut menandakan kekesalan Mirna yang tidak dapat diutarakan.


"Astaghfirullahaladzim... Mas... Mas... anakmu ini loh kok bisa seperti ini toh Mas... Mas...," Pak Ratmo berbicara seolah-olah berbicara dengan Bapaknya Mirna.


Di dalam kamarnya Mirna kembali merasakan sakit di perutnya. Semakin dia kesal dan semakin dia marah, dia pasti merasakan kembali rasa sakit itu, bahkan bisa bertambah pada saat dia sedang merasakan stress.


Sedangkan di dalam kamar lainnya, sepasang suami istri ini sedang merasa jika mereka bersalah pada Mirna. Rhea merasakan suaminya juga merasakan hal yang sama dengan dirinya.


"Bie, apa Hubby masih merasa bersalah pada Mbak Mirna?" tanya Rhea pada suaminya.


Ustadz Fariz menoleh padanya, dan menatap dalam padanya.


"Ti-"


Ustadz Fariz berdiri dan berkata,


"Aku tidak mau."


Kemudian Ustadz Fariz keluar dari kamarnya tanpa menoleh pada Rhea sedikitpun. Hal itu membuat Rhea menjadi sedih, karena Ustadz Fariz tidak pernah seperti itu padanya. Kini dia hanya berdiam selepas suaminya keluar dari kamar mereka.


Beberapa menit selanjutnya Ustadz Fariz kembali masuk ke dalam kamar dan berjalan cepat ke arah Rhea, dengan cepat Ustadz Fariz meraih tubuh Rhea untuk berdiri dari duduknya dan memeluknya dengan erat.


"Sayang, maafkan aku... maaf... maaf jika aku membuatmu bersedih, maaf....," suara serak Ustadz Fariz memberitahukan Rhea jika suaminya itu sedang menangis.


Rhea mengurai sedikit pelukannya untuk melihat wajah suaminya. Benarlah jika Ustadz Fariz sekarang ini sedang menangis, masih terlihat jelas air mata yang masih basah jatuh menetes di pipinya. Rhea mengusap air mata suaminya itu dan tak terasa air matanya juga ikut menetes ketika melihat suaminya menangis.


"Hubby tidak salah apa-apa, aku yang salah karena membuat Hubby marah. Maafkan aku Bie," ucap Rhea dengan suara sedikit bergetar.


Rhea melakukan hal yang sama dengan Ustadz Fariz ketika menenangkannya. Rhea menghapus air matanya, kemudian mencium kedua matanya dan seluruh bagian wajahnya. Hal itu membuat Ustadz Fariz tersenyum karena baru kali ini Rhea melakukan hal itu padanya.


Setelah itu Ustadz Fariz pun melakukan hal serupa pada Rhea. Hal yang membuat Rhea menjadi tenang setiap kali dia mengeluarkan air mata. Dengan mencium kedua matanya dan seluruh wajahnya, serta pada bibirnya yang sedikit agak lama hingga mereka merasakan ketenangan.

__ADS_1


Setelah mereka merasakan ketenangan, Ustadz Fariz mendudukkan Rhea kembali dan dia berjongkok di hadapan istrinya.


"Sayang, maafkan aku tadi, aku tidak mau jika kamu menyuruhku untuk melakukan hal itu. Aku harap kamu tidak lagi menyuruhku untuk mengasihani atau mengurusi Mirna. Kita sudah menjadi orang lain, dan tidak harus kita yang membantunya. Ada orang lain yang bisa membantunya. Memang kita harus saling membantu, tapi tidak dengan mempertaruhkan kebahagiaan kita. Aku tau kamu merasa tidak enak padanya, tapi bukan dengan cara seperti ini. Mengerti?" ucap Ustadz Fariz sambil memegang kedua tangan istrinya dan berbicara dengan nada yang sangat lembut sekali dan tatapan matanya sangat penuh dengan harapan dan cinta untuk istrinya yang ditatapnya saat ini.


"Maafkan aku Bie, aku hanya... aku hanya merasa egois ketika melihat Hubby diam dan bersedih. Aku gak mau jika Hubby merasa bersalah, jadi... jadi aku memberi Hubby kesempatan untuk menebusnya," ucap Rhea lirih.


"Bukan karena itu Sayang, aku tadi hanya berpikir bagaiman caranya agar Mirna tidak datang kemari lagi meskipun dengan berjuta alasan, karena aku tau jika kamu pasti akan seperti ini setelah bertemu dengannya," Ustadz Fariz kembali meyakinkan Rhea.


Rhea tersenyum karena dia merasa salah mengartikan sikap diam suaminya tadi. Dengan segera dia memeluk kembali tubuh suaminya dan berkata,


"Terima kasih suamiku... terima kasih atas cintamu yang indah ini. Aku sungguh bahagia bersamamu. Aku bahagia memiliki suami sepertimu," ucap Rhea sambil memeluk suaminya.


"Aku juga sangat bahagia Sayang, bahagia sekali mempunyai istri sepertimu, dan bahagia karena kita akhirnya bisa bersatu," ucap Ustadz Fariz menimpali ungkapan cinta dan kebahagiaan istrinya.


Ustadz Fariz mengurai pelukannya dan kini dia menempelkan bibirnya pada bibir istrinya.


Ceklek!


Suara pintu yang tiba-tiba terbuka.


"Wow... live...," ucap Ustadz Jaki yang tiba-tiba membuka pintu kamar Ustadz Fariz dan Rhea.


Reflek mereka menjauhkan tubuh mereka seolah ketahuan sedang berbuat mesum. Ustadz Fariz menoleh dan mendengus kesal ketika melihat Ustadz Jaki yang dengan jahilnya tersenyum padanya. Sedangkan Rhea menunduk malu, kemudian melihat ke arah lain agar wajahnya tidak terlihat oleh Ustadz Jaki.


Ustadz Fariz berjalan mendekati Ustadz Jaki dengan muka kesal.


"Ada apa? Masuk kamar orang gak ketuk pintu dulu, gak salam, udah lupa adab masuk kamar orang?" ucap Ustadz Fariz kesal.


"Maaf, tadi pintunya kebuka dikit sih. Aku kira kalian gak ngapa-ngapain. Hehehe....," Ustadz Jaki nyengir tanpa dosa.


"Ck, kebiasaan... ada apa ganggu aja. Awas aja besok pas malam pertama kena karma batu tau rasa loh," ucap Ustadz Fariz yang bermaksud bercanda.


"Ih serem doanya. Ayo cabut lagi doanya, aku gak mau ya malam pertamaku besok gagal," ucap Ustadz Jaki memohon sambil memberikan undangan yang ada di tangannya.


"Ngebet banget, udah kebelet ya?" ledek Ustadz Fariz sambil menerima undangan yang diberikan Ustadz Jaki padanya.


"Hehehehe.... udah tau gak usah diomongin," jawab Ustadz Jaki cengengesan.


"Dasar bocah," ucap Ustadz Fariz sambil memukulkan undangan tersebut pada lengan Ustadz Jaki.

__ADS_1


"Yeee... bocah-bocah gini bisa bikin bocah tau gak?" ucap Ustadz Jaki memprotes Ustadz Fariz dan kemudian berjalan menjauhi Ustadz Fariz karena Ustadz Fariz akan kembali memukulkan kembali undangan itu padanya.


__ADS_2