Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 118 Pasang surut kecemburuan


__ADS_3

"Sayang, aku mau pulang. Tolong beritahu dokter Dina," Shinta meminta pada Ustadz Jaki untuk memberitahukan pada dokter Dina.


"Apa diperbolehkan?" tanya Ustadz Jaki menanggapi permintaan dari istrinya.


"Pasti diperbolehkan, karena aku tau kondisi diriku sendiri, dan aku tau apa yang harus aku lakukan nanti ketika sudah berada di rumah," Shinta kembali meyakinkan suaminya.


"Udah Ustadz, lebih baik panggilkan saja dokter Dina, lebih baik Shinta beristirahat di rumah kan daripada di sini? Nanti ada yang cemburu lagi," Rhea menyindir Ustadz Jaki.


"Siapa yang cemburu Sayang?" Ustadz Fariz menyahut ketika dia baru masuk ke dalam ruangan tersebut.


Rhea hanya tersenyum jahil meilhat Ustadz Jaki. Dan Shinta tau maksud dari ucapan Rhea barusan.


"Umi sudah diantar pulang?" tanya Rhea pada Ustadz Fariz untuk mengalihkan pertanyaan suaminya.


Ustadz Fariz mengangguk dan mencium kening Rhea setelah Rhea mencium tangannya.


Shinta tersenyum senang melihat keharmonisan Rhea dan Ustadz Fariz. Dia berharap agar dia dan suaminya bisa seperti mereka karena kisah cinta dari Ustadz Fariz dan Rhea sangat menggerakkan hati Shinta ketika membacanya dari buku Rhea dan mendengar ceritanya dari Ustadz Jaki.


"Sayang, sebentar ya aku panggilkan dokter Dina dulu," Ustadz Jaki hendak pergi namun Shinta melarangnya.


"Pakai HP ku aja," ucapan Shinta menghentikan Ustadz Jaki yang hendak pergi memanggil dokter Dina.


"Emang kamu bawa HP?" Ustadz Jaki bertanya pada istrinya.


"Hehehe... kayaknya ketinggalan di rumah, bahkan aku gak ingat HP ku ada di mana," Shinta tersenyum lebar membuat Ustadz Jaki lega karena Shinta tidak lagi menyalahkan dirinya atas apa yang dia alami sekarang.


"Sudahlah, aku akan mencari dokter Dina agar cepat datang ke sini untuk memeriksamu. Aku akan bilang padanya jika pasiennya mengancam untuk kabur jika tidak dipenuhi permintaannya untuk pulang ke rumah," ucap Ustadz Jaki sambil mengusap kepala istrinya yang terbalut hijab dan mencium keningnya sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


"Ustadz, Rhea, tolong jaga Shinta sebentar, aku akan memanggil dokter Dina untuk memeriksanya," Ustadz Jaki meminta tolong pada Rhea dan Ustadz Fariz.


"Ok. Jangan sampai berantem ya Ustadz," Rhea meledek Ustadz Jaki dan itu membuatnya mendapat pelototan dari Ustadz Jaki.


Ustadz Fariz mencubit hidung istrinya karena kejahilannya pada Ustadz Jaki yang sedari tadi kepala istrinya itu berada di pangkuannya. Rhea merasa letih karena kandungannya yang sudah membesar, dia merebahkan dirinya di atas sofa besar yang berada di ruang kamar inap Shinta dengan berbantalkan paha suaminya.


Rhea mendekati Shinta untuk menemaninya, sedangkan Ustadz Fariz tetap berada di sofa sambil membalas satu persatu pesan yang sedari tadi mengeluarkan bunyi pada ponselnya.

__ADS_1


"Rhea, apa maksud ucapanmu tadi? Apa suamiku sedang cemburu?" Shinta menanyakan pada Rhea.


"Dia dengar semua pembicaraanmu dengan dokter Randi tadi. Entahlah, sepertinya dia sadar kalau dokter itu suka sama kamu," Rhea memberitahukan penilaiannya.


"Gak mungkin Re, kami sudah berteman tahunan sejak kami sama-sama menjadi mahasiswa baru di tempat yang sama, dan entah kenapa kita juga bertemu lagi di sini, di rumah sakit yang sama," Shinta menyanggah penilaian Rhea pada dokter Randi.


"Kamu aja yang gak peka Shin. Aku sama Ustadz Jaki aja tau kalau dokter Randi terang-terangan ada rasa suka sama kamu," ucap Rhea yang membuat Shinta berpikir lebih jauh lagi, dia menerawang, mengingat-ingat seolah memutar kembali tiap dokter Randi bersamanya sedari dulu memang baik dan perhatian padanya, tapi sayangnya Shinta hanya menganggapnya sebagai teman baik saja.


Tiba-tiba dokter Dina dan Ustadz Jaki datang membuyarkan lamunan Shinta. Dan Rhea pun kembali duduk di sofa bersama suaminya.


"Akhirnya Ustadz Jaki bisa merasakan cemburu juga," ucap Ustadz Fariz lirih ketika Rhea sudah duduk di sampingnya dan menyandarkan kepalanya di pundak Ustadz Fariz.


"Memangnya kenapa?" Rhea menanggapi ucapan suaminya.


"Dulu aja sok-sokan bikin aku cemburu dengan sengaja dekat-dekat sama kamu. Dan sekarang.... rasain tuh...," Ustadz Fariz tersenyum melihat Ustadz Jaki yang sedang mendengarkan hasil pemeriksaan Shinta dari dokter Dina.


Rhea mengangkat kepalanya dari pundak suaminya. Dia menatap lekat suaminya yang tertawa bahagia melihat Ustadz Jaki yang sedang cemburu.


"Oh... jadi Hubby cemburu...," Rhea berucap sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Baru tau? Gitu aja nuduh Shinta gak peka, padahal dirinya sendiri juga gak peka," ucap Ustadz Fariz sambil meletakkan kedua tangannya pada kiri dan kanan kepala Rhea kemudian dia menggesek-gesekkan hidungnya dengan hidung Rhea yang sama-sama mancung, seperti biasanya mereka lakukan jika berada di rumah.


"Eh udah unyu-unyuannya, terusin nanti di rumah. Kita mau pulang sekarang. Tolong Pak sopir yang terhormat disiapkan baik-baik ya mobilnya," Ustadz Jaki menghentikan acara romantis-romantisan ala Ustadz Fariz dan Rhea.


"Ih ogah, Rhea ke sini tadi bawa mobil sendiri sama Umi, jadi sekarang kita bawa mobil sendiri-sendiri bersama pasangan kita," Ustadz Fariz tersenyum pada Ustadz Jaki dan apa yang diucapkan oleh Ustadz Fariz membuat Ustadz Jaki melongo.


"Yaelah... baru aja tadi sekali jadi penumpang, sekarang udah jadi sopir lagi. Gak ada solidaritasnya sama sekali sih," Ustadz Jaki mendengus kesal pada Ustadz Fariz dan itu membuat Ustadz Fariz dan Rhea terkekeh melihatnya.


"Udah ya, kita duluan. Hati-hati bawa mobilnya. Jangan sampai istrimu kenapa-napa, bisa-bisa Umi marah jika terjadi apa-apa sama menantunya," Ustadz Fariz memperingatkan Ustadz Jaki dengan kalimat candaannya.


"Huss... huss... pergi sana, jangan sampai kembali lagi ganggu orang yang lagi indehoy ya. Awas aja," Ustadz Jaki mengusir sekaligus mengancam Ustadz Fariz dan Rhea dengan menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya ke arah pintu untuk menyuruh mereka keluar.


"Indehoy... indehoy... ingat ini di Rumah sakit bukan di rumah," ucap Ustadz Fariz berniat mengejek Ustadz Jaki


Dan benar saja, Ustadz Jaki lupa jika mereka sedang di rumah sakit, sandal yang dipakai Ustadz Jaki sudah mendarat dengan indah di lantai dekat Ustadz Fariz berada. Untung saja Ustadz Fariz cekatan, sehingga dia bisa menghindar dari sandal yang dilemparkan oleh Ustadz Jaki padanya. Dan untung saja dokter Dina sudah keluar dari kamar tersebut sedari tadi sehingga dia tidak melihat tingkah-tingkah konyol dan perdebatan dari kedua Ustadz yang sudah dewasa ini.

__ADS_1


"Wleeee gak kena," ucap Ustadz Fariz sebelum dia melesat keluar pintu dengan meninggalkan Rhea yang masih melongo melihat tingkah suaminya.


Ustadz Jaki yang terpancing kembali akan melemparkan sandalnya yang satunya lagi, namun dihalangi oleh Shinta.


"Stop! Mau pulang gak pakai sandal kalau ilang dua-duanya?" seru Shinta untuk menghentikan lemparan suaminya.


Ustadz Jaki mencebik kesal, tapi dia nurut apa yang diperintahkan oleh istrinya. Dipasangnya kembali sandal kirinya pada telapak kaki kirinya dan dia berjalan ke arah Rhea berada untuk mengambil sandalnya yang sebelah kanan.


Namun ketika Ustadz Jaki menunduk untuk mengambil sandalnya, dia melihat Ustadz Fariz sedang memanggil Rhea dengan melambaikan tangannya. Sontak saja sandal kanan yang berada dalam genggamannya, kini dilemparkannya kembali ke arah Ustadz Fariz, dan kali ini lemparan itu berhasil mengenai kaki kanan Ustadz Fariz.


Dengan gerakan cepat, Ustadz Fariz mengambil sandal yang mengenainya tadi dan dilemparkan ke bawah. Untung saja tidak ada orang yang berada di bawah, sehingga Ustadz Fariz yang berada di lantai atas tidak mengenai orang lain ketika melemparkan sandal Ustadz Jaki ke bawah.


Rhea tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Ustadz Jaki yang seperti kehilangan barang berharganya.


"Sayang... ayo pulang!" Ustadz Fariz berseru dari depan pintu.


"Sayaaaaang.... sandalku dibuang ke bawah," Ustadz Jaki merengek pada Shinta dan itu membuat para wanita di ruangan tersebut tertawa.


"Pokoknya kalau gak ketemu, aku gak mau pulang sama kamu. Malu ah masa' gak pakai sandal," Shinta mencoba menjahili suaminya.


Dengan segera Ustadz Jaki berlari ke bawah untuk mengambil sandalnya tanpa mempedulikan ejekan dari Ustadz Fariz.


Setelah Ustadz Jaki menemukan sandalnya, dia kembali ke dalam kamar Shinta dan membantu istrinya itu untuk bersiap pulang dan mengemasi barangnya yang hanya sedikit saja berada di kamar itu.


Shinta didorong menggunakan kursi roda oleh Ustadz Jaki menuju bagian administrasi untuk membayar biaya perawatan istrinya.


Dokter Randi sekali lagi menghampiri Shinta ketika Shinta menunggu suaminya di sebelah kursi tunggu. Sedangkan di bagian adminstrasi secara tidak sengaja Ustadz Jaki bertemu dengan Ustadzah Farida bersama ibunya yang sedang membayar biaya perawatan Ayah Farida.


Ustadz Jaki terpaksa mengobrol sebentar dengan Ustadzah Farida dan ibunya karena dia menghormati ibunya Ustadzah Farida yang mengajaknya berbicara. Namun pandangan Ustadz Jaki mengarah pada istrinya yang sedang diajak berbicara dengan dokter Randi.


Shinta hanya mendengarkan saja apa yang dokter Randi bicarakan, sedangkan pandangan matanya tetap melihat suaminya yang kadang tersenyum ketika berbicara pada seorang wanita tua yang bersama dengan Ustadzah Farida.


Mata Ustadz Jaki dan Shinta saling menatap dari tempat mereka masing-masing dengan jarak kurang lebih sepuluh meter. Mereka ingin meninggalkan lawan bicara mereka, namun seakan mereka mencegahnya dan kini mereka saling dikuasai rasa cemburu sehingga badan mereka sulit untuk digerakkan untuk menghampiri pasangan mereka.


"Apa kamu yakin suami kamu tidak akan poligami? Biasanya kaum seperti mereka itu suka berpoligami. Apa kamu siap untuk itu? Lihatlah itu, sepertinya mereka sangat dekat sekali," dokter Randi kembali menyulut kecemburuan Shinta dengan harapan Shinta bisa terprovokasi dan hanya dengan melihat penampilan Ustadz Jaki yang menggunakan baju koko dan sarung dia mengklaim bahwa Ustadz Jaki suka berpoligami.

__ADS_1


__ADS_2