
Sahabat, kata itu sangat bermakna bagi sebagian orang. Namun ada juga yang tidak memaknai spesial kata tersebut.
Shinta sangat menjunjung tinggi persahabatannya dengan Tasya. Selama ini hanya Tasya yang ada tiap hari, tiap waktu dan tiap kesempatan untuk menemaninya. Bahkan ketika kedua orang tua Shinta pergi ke luar kota, Tasya lah yang selalu menemaninya dengan menginap di rumah Shinta.
Setiap Shinta merasa sedih selalu ada Tasya yang menghiburnya. Dan setiap Shinta menghadapi masalah atau diganggu oleh teman yang lain, selalu Tasya yang menjaga dan melindunginya. Kini, ketika Tasya berada dalam masalah, dia menuntut balik Shinta untuk membantunya.
Apakah aku harus membantunya? Apakah sekarang giliranku untuk membalas jasa-jasanya selama ini padaku? Shinta bertanya dalam hatinya sesudah Tasya pergi meninggalkannya dan Ustadz Jaki yang masih duduk di bangku cafe itu.
Ustadz Jaki melirik Shinta meskipun mulutnya sedang berbicara tentang kepergian Tasya yang menurutnya tidak sopan. Ustadz Jaki tahu jika Shinta bersedih karena mungkin persahabatannya dengan Tasya akan berakhir.
"Sayang, mau makan di sini, balik ke tempat reuni apa pulang ke rumah? Eh mungkin kamu mau ke tempat lain untuk jalan-jalan atau makan?" Ustadz Jaki bertanya pada Shinta agar dia tidak lagi memikirkan persahabatannya dengan Tasya.
Shinta tersadar jika dia mengabaikan suaminya setelah kepergian Tasya dari hadapannya tadi. Dia mencoba tersenyum meskipun hatinya masih saja resah karena Tasya.
"Sayang, ingat ya kamu lagi hamil. Kamu gak boleh kepikiran hal-hal yang gak berguna seperti tadi. Ngerti?" ucap Ustadz Jaki sambil memegang kedua pipi Shinta dengan kedua telapak tangannya.
Shinta menatap suaminya dengan intens, dia melihat kekhawatiran dari mata itu. Shinta pun tersenyum agar suaminya tidak lagi khawatir padanya.
"Ya udah yuk cari tempat lain aja, kita jalan-jalan sambil cari makan di tempat lain," Ustadz Jaki menggenggam tangan Shinta, lalu membantunya untuk berdiri dan menggandengnya untuk berjalan menuju parkiran mobil mereka.
Sebisa mungkin Shinta mengenyahkan pikirannya dari Tasya dan rasa bersalahnya pada sahabatnya itu, namun suara Tasya yang menyalahkannya selalu terngiang di telinganya.
Ustadz Jaki selalu berusaha mengalihkan pikiran Shinta agar dia lupa akan masalah Tasya. Beberapa saat memang Shinta berhasil tertawa lepas seperti biasanya, namun beberapa detik kemudian bayangan wajah sedih Tasya terlihat di matanya, bahkan suara Tasya yang menyalahkannya kembali terngiang di telinganya.
"Sayang, ini maem dulu," Ustadz Jaki mengarahkan sendok makanannya pada mulut Shinta.
Shinta pun tidak bisa menolak, dia membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang disuapkan oleh suaminya.
Diselingi dengan guyonan dan kejahilannya, Ustadz Jaki mencoba mengenyahkan semua pikiran Shinta tentang Tasya. Hingga malam hari mereka pulang ke rumah, Ustadz Jaki masih saja berusaha keras untuk selalu menghibur Shinta.
"Assalamu'alaikum....," Ustadz Jaki memberi salam ketika masuk ke dalam rumah diikuti oleh Shinta yang juga mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam....," jawab Umi Sarifah dan Rhea yang sedang bersama Baby Izam di ruang tengah.
"Eh kalian udah pulang. Gimana acaranya seru gak?" Rhea menyambut Ustadz Jaki dan Shinta dengan pertanyaannya berniat untuk mencari tahu tentang reaksi teman-teman mereka ketika melihat Shinta di acara reuni tadi.
__ADS_1
"Aku ke kamar dulu ya, mau bersih-bersih badan dulu," ucap Shinta pada Rhea.
Setelah itu dia bersalaman pada Umi Sarifah dan mencium punggung tangannya. Kemudian menciumi Baby Izam dan berpamitan pada Umi Sarifah untuk pergi ke kamarnya.
"Ada apa?" tanya Rhea lirih pada Ustadz Jaki.
"Rhea, coba kamu ngobrol sama dia. Sepertinya dia masih memikirkan sahabatnya itu," ucap Ustadz Jaki dengan kesal ketika bermaksud menyebut Tasya.
"Kenapa?" tanya Rhea bingung.
Kemudian Ustadz Jaki menceritakan pada Umi Sarifah dan Rhea apa yang terjadi tadi di acara reuni mereka.
"Astaghfirullahaladzim...," Umi Sarifah dan Rhea bersamaan beristighfar ketika mendengar cerita dari Ustadz Jaki.
"Ya udah Nduk, cobalah kamu temui Shinta, ajak ngobrol dia," Umi Sarifah memberi perintah pada Rhea.
"Dan kasih dia wejangan, kata-kata yang melarangnya untuk memikirkan sahabatnya itu dengan kata yang halus. Kamu kan jagonya itu merangkai kata," Ustadz Jaki menambahi ucapan Umi Sarifah.
"Apa yang jago?" tiba-tiba suara Ustadz Fariz muncul di dekat mereka.
"Masuk rumah tuh salam dulu Pak Kyai Fariz yang terhormat," Ustadz Jaki menyindir Ustadz Fariz dengan matanya yang juga melirik pada Ustadz Fariz.
"Udah tadi salam, kalian aja yang pada heboh di sini, jadi gak dengar ada orang ucap salam di luar," jawab Ustadz Fariz dengan berjalan mendekati Ustadz Jaki dan meraup bibir Ustadz Jaki dengan telapak tangannya.
"Isssh...," ucap Ustadz Jaki tidak terima dan dia mencoba menendang pantat Ustadz Fariz namun tidak kena karena gerakan kaki Ustadz Jaki sudah terbaca oleh Ustadz Fariz.
Ustadz Fariz mendekati Umi Sarifah untuk mencium tangannya dan mengambil alih Baby Izam dari gendongan Umi Sarifah.
"Udah sana Rhea, cepetan temui Shinta," Ustadz Jaki kembali memerintahkan Rhea.
"Eh tunggu sebentar. Tadi apa yang jago?" tanya Ustadz Fariz penasaran karena dia hanya mendengar tidak sepenuhnya percakapan Ustadz Jaki dan Rhea.
"Itu Bundanya Izam kan jago merangkai kata," jawab Ustadz Jaki.
"Bukan hanya jago merangkai kata, merangkai kentut juga jago dia," ucap Ustadz Fariz sambil terkekeh mengingat kejadian tadi di kamar sebelum dia berangkat ke Masjid Pondok Pesantren Al-Mukmin.
__ADS_1
"Hah?" Ustadz Jaki kaget bercampur bingung.
"Masa' bunyi kentutnya bisa berbaris rapi kayak kereta," Ustadz Fariz terkekeh mengucapkannya.
"Halah, sama Hubby juga malah dihirup-hirup kentutnya. Wangi kan katanya tadi," sahut Rhea disertai tawanya.
"Saking cintanya itu, sampai bau busuk dibilang wangi," kini Ustadz Jaki yang berkomentar.
"Terpaksa, gak sengaja kehirup pas lagi nafas. Masa' iya gak nafas? Bisa-bisa mati dong kehabisan nafas," jawab Ustadz Fariz mengoreksi ucapan Ustadz Jaki.
"Oooh gitu.... jadi maunya tidur sendiri-sendiri nih?" tanya Rhea dengan senyum jahilnya.
"Eh enggaklah. Gak boleh tidur sendiri-sendiri. Gapapa deh kentut berkali-kali, udah terbiasa," jawab Ustadz Fariz sambil tersenyum lebar.
Umi Sarifah tertawa mendengar percakapan mereka yang hanya candaan namun menjadikan hiburan untuknya.
"Udah... udah... malah ngomongin masalah kentut lagi. Ayo cepetan Rhea kamu temui Shinta, aku takut dia termenung lagi mikirin yang tadi," Ustadz Jaki berkata dengan gusar dan memohon pada Rhea.
"Iya... iya... siap Bapak Ustadz Jaki yang tidak terhormat," ucap Rhea sambil berlari kecil menuju kamar Ustadz Jaki dan Shinta.
"Wah semakin nyebelin aja istrinya Ustadz Fariz," Ustadz Jaki berkata dengan kesal dan duduk di sebelah Ustadz Fariz.
Tok... tok... tok..
"Shin... Shinta... apa aku boleh masuk?" tanya Rhea pada Shinta sambil mengetuk pintu kamar Shinta.
Tidak berapa lama Shinta membuka pintu kamarnya dan memberikan senyum yang terpaksa ketika Rhea tersenyum padanya.
"Shin...," Rhea memanggil nama Shinta dan menggenggam tangannya ketika duduk di sofa yang berada di kamar tersebut bersebelahan dengan Shinta.
Tiba-tiba saja Shinta memeluk tubuh Rhea dan menangis hingga tersedu-sedu.
"Ada apa Shin? Bilang padaku. Aku pasti akan berusaha membantumu," Rhea memancing Shinta untuk mengatakan semuanya pada Rhea.
"Rhea, haruskah aku..."
__ADS_1