Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
menyapa


__ADS_3

.


.


.


"apa aku begitu menyusahkanmu? aku tidak perlu digaji, biarkan saja aku bekerja disini dan aku mohon tutupi identitasku..! kalian sangat baik dan ramah pada aku yang sedang menyamar tidak punya status sepertiku." tanya Sean.


"menyamar? aku malah ragu kalau kau memang seorang Pangeran." tantang Ana.


"ha? maksudnya?" tanya Sean.


Ana mendongakkan dagunya dengan pongah, "aku ragu kalau kamu memang seorang Pangeran, aku rasa kamu itu seorang penghianat yang kebetulan mencuri baju seorang Pangeran yang sebenarnya."


Sean menyemburkan tawanya, "apa wajahku terlihat seperti seorang Penghianat? kenapa kamu tidak melihat fotoku di Media? negara kalian Punya Ponsel kan?"


Ana terkekeh membuat Sean mengernyit.


"zaman sekarang wajah pun bisa menipu Orang, siapa tau kamu Operasi plastik dan terobsesi ingin menjadi Pangeran sungguhan tapi malah dibuang ke Laut Oleh Pangeran yang sebenarnya." ejek Ana.


Sean semakin mengerutkan keningnya, "wajahku apa bisa ditiru?"


Ana memutar kedua bola matanya dengan malas.


"tapi dokter bedah mengatakan wajahku sulit di tiru kalau pun ada yang mencoba mengikuti wajahku mungkin hanya bisa meniru 3 % dari wajahku ini saja." Sean memegang wajahnya yang menurutnya memang tampan.


Ana menatap datar Sean, "ternyata kau pengurus Kuda yang narsis ya? silahkan kau pamerkan wajahmu itu diluar sana, atau kalau kau mau jadi Artis atau Model aja sekalian tapi jangan di hadapanku, aku bosmu sekarang."


Sean menggeleng, "aku tidak mau menjadi model."


"ha? apa peduliku? jadi pengurus kuda terus?" ejek Ana.


"bolehkah? aku tidak menyangka menjadi Pengurus Kuda sangat menyenangkan tidak ada konflik Kerajaan, perjodohan, perebutan tahta, musuh dibalik selimut, masalah rumit antar pejabat yang berebut ingin menjadi Penguasa tertinggi setelah Raja, penjilat."


Ana memijit pelipisnya mendengar ocehan Sean.


"bahkan disini aku hanya perlu memandikan kuda, memasang bajunya Kuda, memberi makan dan tidak membuatku sakit kepala karna membahas penerus tahta calon Ratu." sambung Sean lagi.


Ana masih diam, "kau bicara lagi akan aku potong lidahmu."


Sean merapatkan bibirnya seketika, "kamu bos yang baik tapi juga jahat."


"aku Bos yang Jahat." ketus Ana.

__ADS_1


"tapi mereka bilang kalau kamu Bos yang baik." bela Sean.


"mereka berbohong supaya kamu betah disini." jawab Ana.


"berarti kamu tidak betah aku bekerja disini?" tanya Sean langsung mengerti.


Ana meraup wajahnya sendiri, "sebenarnya apa yang ada di otakmu ha? kau itu seorang Calon Penguasa kan? kenapa malah suka pekerjaan begini padahal kau punya tanggung jawab besar, di negara sana entah berapa air mata jatuh karna mencarimu tapi kau malah bersenang-senang disini tanpa memikirkan mereka disana."


Sean terhenyak, Ia tidak menyangka Ana bisa setegas ini dan tau arti tanggung jawab yang Ia pikul.


"ak--aku berjanji akan kembali ketika menemukan dalangnya, bisakah kamu memberiku Ponsel?" tanya Sean.


"ckk...! kau sudah begitu fasih saja bahasa Indonesia, terkadang aku lupa kalau kau itu Orang Luar." dumel Ana sambil mengeluarkan ponselnya dan diberikan ke Sean.


Sean menekan Ponsel Ana sambil menanyakan bisakah Ponsel Ana melakukan panggilan Luar Negeri dan Ana mengangguk jengah padahal semua Ponsel bisa asalkan punya Pulsa atau Paketan.


Sean berbicara cukup lama dengan Orang Kepercayaannya sedangkan Ana tentu mengerti bahasa yang di gunakan oleh Sean tapi pura-pura tidak tau sebab Sean taunya kalau Ana bisa bahasa English bahasa lain tidak.


.


"bagaimana?" tanya Ana sambil menyimpan ponselnya.


"sudah..! tapi aku dengar dari Orang Kepercayaanku Orang-orang Istana mengadakan pesta besar-besaran atas kehilanganku bahkan mereka menemukan jasatku, tapi siapa yang memalsukan jasatku?"


Sean mengangguk-ngangguk, "setelah aku menyelesaikan pekerjaanku aku ingin kamu menjadi permaisuriku." kata Sean menatap Ana dengan senyuman.


Ana melebarkan matanya, "jangan ngaco ya? aku tidak pernah mau terlibat dengan intrik kerajaan juga banyak wanita aku tidak suka berbagi suami."


"jika aku tidak menjadi Raja dan tidak punya istri lain apa kamu mau menikahiku?" tanya Sean terdengar serius.


Ana diam tapi tatapannya datar ke Sean yang tampak sekali seperti sedang mencari tau ekspresi Ana yang sulit untuk ditebak pemikirannya.


Ana melenggang pergi meninggalkan Sean yang tidak bisa mengejar lalu membawa Kuda Putih Ana yang bulunya sampai sudah kering saking lamanya berbicara dengan Ana masuk ke Kandang.


"apa gadis Asia memang sejutek ini? baru kali ini harga diriku sebagai seorang Pangeran di anggap tidak penting." dumel Sean.


sejak saat itu Ana selalu bolak-balik ke kandang Kuda dan mulai menimbulkan kecurigaan dari Alena sebab kemanapun Ana pergi pasti selalu membawa Alena tapi sekarang malah tidak pernah membawa Alena.


"kenapa mengikuti kakak?" tanya Ana dengan heran.


Alena nyengir ternyata Ana mengetahui keberadaannya, "kakak kemana sih akhir-akhir ini? aku kesepian sendirian Kak."


"kan ada Nenek." jawab Ana.

__ADS_1


Alena bergelayut dilengan Ana, "ada apa sih kak? biasanya Kakak tidak pernah menutupi apapun dariku."


Ana menghela nafas panjang, "ya sudah kamu boleh ikut tapi jaga rahasia kakak ya?"


Alena melebarkan matanya, "rahasia?"


"mau apa tidak?" tanya Ana langsung dibalas angguk-anggukan oleh Alena.


Ana terpaksa memberitau Alena sebab Ia juga kasihan tidak membawa Alena kemana-mana lagi padahal mereka selalu berdua.


.


betapa terkejutnya Alena melihat Pria gagah tengah mengusap Kuda dan Ia yakin Pria itu memiliki aura khusus kebangsawanan.


"siapa dia kak?" tanya Alena memicingkan matanya.


"dia Kakak temukan di lautan lepas." jawab Ana.


Alena membelalak seketika, "hah??"


"diam dan dengarkan cerita Kakak biar jangan salah paham, kakak sama sekali tidak ingin menampungnya tapi dia bersikeras ingin disini bahkan sudah kakak kasih kerjaan bersihkan kandang Kuda pun bukannya kabur malah betah disini." gerutu Ana.


Alena mendengarkan cerita Ana sambil menahan tawa sekuat tenaganya, Ana tidak sadar raut wajahnya yang berubah-ubah ekspresi itu terlihat oleh Sean.


"siapa perempuan yang bicara dengan Ana? kenapa Ana bisa berekspresi dengannya?" gumam Sean penasaran tidak melihat Alena yang tengah membelakanginya.


Sean melihat Ana yang tampak berbeda jika tidak bersamanya, Ana seperti gadis normal yang sederhana serta ramah bahkan menggemaskan tapi ketika berbicara dengan Sean yang seorang Pangeran penerus tahta di idam-idamkan banyak wanita bangsawan malah di anggap orang tidak penting bagi Ana.


"cantik sekali." gumam Sean memuji kecantikan Ana yang mengerucutkan bibirnya bahkan terkadang Ana melototi perempuan didepan Ana itu.


Alena menoleh kebelakang sehingga bertatapan dengan Sean yang memicingkan matanya, Alena berlari ke arah Sean yang tertegun melihatnya sedikit mirip dengan Ana.


"Alena? kenapa kamu mendatanginya?" tanya Ana dengan kesal sambil melangkah menuju Alena.


"haloo?? aku Alena, adik kandung Kak Ana." sapa Alena dengan ramah.


"oh adiknya..!" batin Sean.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2