
.
.
.
Ana hanya berputar sambil tersenyum saja sudah membuat setiap mata tak berkedip memandang Ana belum lagi tangan Ana yang perlahan bergerak pelan dengan begitu elegan seperti seorang Ratu hebat menari sehingga Para lelaki yang menyaksikan itu membuka mulut selebar-lebarnya.
"happ....!"
Ana yang sedang berputar dengan senyum yang kian melebar tiba-tiba terhenti ketika tangannya ditarik dan masuk ke pelukan Sean.
"tidak usah menari didepan umum." kata Sean dengan nada serius menatap tajam para Lelaki yang sampai mengeluarkan air liur saking elegan dan penuh perasaannya gerakan Ana.
Ana dipelukan Sean diam saja sambil menyunggingkan senyum tipisnya, "Alena...! jika kakak kembali nanti sepertinya Kakak harus memberimu penghargaan khusus, terimakasih pengajaranmu adekku sayang." batin Ana yang sebenarnya tidak terlalu berbakat menari tapi karna Alena lah yang memaksa Ana menari.
Asoka semakin mengepalkan tangannya lalu melangkah ke arah Ana dan menarik tangan Ana sehingga terlepas dari pelukan Sean.
"apa maksudmu tadi ha?" bentak Asoka akhirnya menunjukkan warna aslinya didepan banyak Orang.
Ana melihat Asoka dengan sangat polos, "bukankah kamu yang memintaku menari tadi?" pertanyaan polos Ana itu seperti menampar pipi Asoka secara tidak langsung.
Sean menarik tangan Ana lalu melindunginya dibelakang tubuhnya sehingga Sean berhadapan dengan Asoka.
"sudah cukup..! aku akan membawanya pulang bersamaku karna kami tidak menjamin acaramu tetap lancar jika kami tetap disini." kata Sean dengan dingin lalu mengenggam tangan Ana dan pergi dari Acara Ulang Tahun Asoka itu.
senyum tipis di bibir Ana terbit seketika tapi tidak ada yang bisa melihatnya termasuk Sean, acara itu akan tetap hancur walau Ana pergi dari sana karna Citra buruk Asoka telah dimulai sejak kemarahan Asoka tadi terhadap Ana.
.
di kamar Sean,
"kenapa kamu menari didepan umum?" tanya Sean dengan serius.
"kenapa? aku menari karna mantan Tunanganmu itu." ketus Ana.
__ADS_1
Sean memijit pelipisnya seketika, "Ana? kami tidak punya hubungan apapun, dia memang mencari muka dekat dengan Ratu saat ini tapi bagaimanapun Ratu maupun Raja tidak bisa mengatur urusan hidupku tentang pasangan pilihanku."
Ana mengangguk, "bagaimana Ratu sekarang menjadi Ratu?"
Sean menatap Ana tidak percaya, "kenapa kamu membahas Orang lain Ana? urus saja masalah kita bagaimana caranya biar kita cepat keluar dari Penjara ini."
Ana menatap kesal Sean, "kamu ini marah tanpa alasan kenapa sih?"
"aku sudah bilang kalau aku menyukaimu kan? jadi ku mohon jangan membuatku merasa ingin mencongkel mata Pria yang memandangmu." omel Sean.
Ana berkacak pinggang, "kalau ada yang patut disalahkan itu adalah kamu Sean..! kenapa kamu malah menyalahkan aku? aku sudah bilang tidak mau terlibat dengan Intrik Istana tapi kamu memaksaku, sekarang malah menyalahkanku?"
Sean memejamkan matanya lalu memegang kedua tangan Ana yang ditepis oleh Ana langsung tapi Sean terus berusaha memegang tangan Ana.
"ak--aku minta maaf Ana..! maafkan aku, aku terlalu marah sampai tidak bisa berpikir jernih." Sean akhirnya meminta maaf pada sang pujaan hati.
Ana diam saja tanpa merespon.
"aku belum pernah jatuh Cinta Ana, aku tidak pernah merasakan perasaan rumit ini Ana..! ku mohon jangan marah padaku yang terlalu menyukaimu ini." pinta Sean.
Sean pun pasrah lalu dengan berat hati menuruti permintaan Ana sedangkan Ana tidak menoleh sama sekali pada Sean.
Sean memukul dinding Kamarnya sendiri lalu keluar dari sana tanpa berbicara sepatah katapun, Sean tidak paham dengan Cinta tapi memang Ia akui Perasaan Cinta itu sangat rumit sehingga sulit dirangkai bahkan Sean yang jarang terpancing amarahnya bisa emosi karna perasaan Cinta itu membuatnya cemburu pada gadis yang Ia cintai dipandang Pria lain.
Sean masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan segala kelebihan Ana yang bisa membuat Pria manapun tergila-gila padanya.
Ana menghela nafas, "ckk...! dia benar-benar menyebalkan..! sejak kapan aku setuju menjadi pacarnya? tingkahnya tadi seperti aku ini Istrinya tertangkap basah tengah berselingkuh dengan Pria lain." gerutu Ana dengan tatapan sengit ke arah pintu Kamarnya.
Ana menenangkan diri lalu mengganti pakaiannya menjadi lebih nyaman, Ana menghubungi Keluarganya di Indonesia serta berterimakasih pada Alena yang mengajarkannya menari dengan perasaan sehingga hari ini Ana menang.
Xabara yang tau sulitnya intrik kerajaan pun meminta Ana untuk menjaga sikap kalau perlu gunakan akting gadis polos yang tidak tau apa-apa dan didukung oleh Rovert untuk meracuni siapa saja yang membuat Putrinya itu kesal.
.
Ana terkekeh memikirkan perkataan Keluarganya beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
"lebih baik aku tidur..! 2 Minggu lagi An dan Carrina akan mengadakan Pesta Pernikahan besar-besaran, aku harus cepat selesaikan dalam waktu cepat lalu bisa kesana." gumam Ana yang tidak mau ketinggalan moment bahagia Keluarganya itu.
baru beberapa saat Ana tertidur sudah tersentak saja, matanya terbuka lalu menoleh ke Pintu ada Sophia yang bersujud meminta ampunan serta memohon untuk Sean, Ana bangkit dari ranjangnya.
"apa maksudmu Sophia? apa dia yang mengadu padamu? dia yang memintamu melakukan ini?" tanya Ana dengan nada tak senang.
Sophia menggeleng lalu meminta Ana pergi ke suatu Ruangan sehingga Ana bisa melihat Sean tengah berolahraga.
"apa ini masalahnya? dia hanya berolahraga samsak tinju kan?" tanya Ana dengan kesal ke Sophia.
Sophia mengatakan Sean seperti itu sudah hampir 5 jam dan tangannya sudah penuh luka, Sophia tidak tau permasalahan Sean jadi hanya punya satu pemikirannya yaitu meminta Ana menghentikan Sean.
Ana menghela nafas, Ia sama sekali tidak mengerti mengapa Orang jatuh cinta bisa bertindak bodoh? bahkan apa yang Sean lakukan sama saja dengan Pria lainnya kalau sudah dimabuk Cinta.
Ana melangkahkan kakinya ke arah Sean lalu berdiri tepat didepan samsak sehingga ketika Sean hendak meninju samsaknya terhenti karna ada Ana menghalanginya.
"Ana? kenapa kamu disini? apa kamu tidak tidur?" tanya Sean menurunkan tangannya sambil melihat sekeliling ternyata ada Sophia yang menundukkan kepalanya diam-diam merasa lega akhirnya Sean tidak melukai tangannya sendiri lagi.
"kamu juga sedang apa disini? apa kau tidak sadar telah mengganggu jam tidurku? Sophia memintaku untuk menghentikan kegilaanmu ini, apa kau bodoh??"
Sean menarik nafas panjang, "aku merasa bersalah padamu Ana."
"ya..! kau memang bersalah padaku karna memarahiku tapi bisakah kau tidak bertindak bodoh? hanya membiarkanku sendiri saja kau tersinggung? sebenarnya apa isi otakmu itu ha?" kesal Ana yang kini balik memarahi Sean.
Sean diam saja tanpa membalas kata-kata Ana karna Ia tau tindakannya ini memang sangat bodoh tapi mau bagaimana lagi, menurut Sean hanya ini cara untuk membuatnya bisa tenang dan merasa lebih baik.
Ana melihat tangan Sean, "cepat ikuti aku...!" titah Ana menghela nafas panjang.
Sean mengikuti Ana dari belakang dengan kepala tertunduk tapi matanya melihat langkah kaki Ana yang membelakanginya.
.
.
.
__ADS_1