
.
.
.
Alena melirik kebawah mendengar teriakan para penonton, "apa yang mereka hebohkan?" gumam Alena penasaran.
Alena bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah depan lalu tangannya memegang pagar pembatas serta melihat kebawah.
"apa ada tamu istimewa?" gumam Alena mengedarkan pandangannya hingga matanya bertemu dengan Saga yang mendongak ke arahnya sambil tersenyum tipis.
Alena melebarkan matanya, "kenapa Stalker aneh itu bisa ada disini?" gumam Alena celingukan lalu berbalik badan kembali ke bangkunya.
Saga kembali dengan raut wajahnya yang tidak bersahabat membuat siapapun yang mau menyapa Saga memilih diam dan pura-pura tidak lihat saja saking takutnya, mereka semua berpikir 2 kali jika harus bersinggungan dengan Reyza alias Saga.
Reyza adalah seorang Pengusaha yang berhasil menaikkan kedudukan Perusahaan Ayahnya yang dulu tidak sesukses ini, kini Perusahaan milik Reyza di bidang pertambangan dan ladang sawit berkembang pesat sehingga dimasukkan dalam 20 golongan Muda Negara Indonesia yang memiliki gaji sangat tinggi. Keturunan Maldev dan Kerabat Maldev jelas semua masuk dalam golongan itu.
"Tuan Reyza? kami akan antar Tuan Muda di Ruangan VVIP kami yang nomor 2, ampuni kami Tuan Muda..? Ruangan VVIP nomor 1 telah dimiliki oleh tamu spesial kami." kata Orang itu dengan sangat takut.
Saga mengangguk, "aku sudah melihatnya." jawab Saga yang tidak marah Alena lah yang menghuni Ruangan VVIP 1.
mereka yang mendengar Saga/ Reyza mengalah pun terpaku ditempat, selama ini Reyza tidak suka menjadi yang kedua selalu ingin yang pertama dan Perusahaannya dibidang Pertambangan dan Sawit telah merajai diberbagai Negara, beruntung Reyza tidak bersaing dengan Perusahaan X Company Group yang mencangkup Teknologi walau begitu Reyza sangat ahli dibidang IT.
Reyza/Saga diantar ke Ruang sebelah dengan Alena hanya pembatas kain saja, Alena mendengus menatap tajam ke arah tetangganya kini.
"selalu saja mengikutiku!" decak Alena yang tau kalau Saga datang ke acara ini karna tau dirinya akan datang.
Stalker yang selalu mengekorinya dan tau apa saja tentangnya, Alena terkadang merasa risih tapi mau bagaimana lagi kalau Ia banyak memiliki Fans Fanatik yang datang sendiri tanpa Alena minta.
.
Alena berdiri seketika melihat pertarungan Anggar sebagai inti dari semua Acara, Alena memicingkan matanya melihat gerakan 2 petarung Anggar itu.
"payah nya." gumam Alena merasa 2 petarung Anggar itu hanya bermain-main saja menurut Alena.
Alena melipat kedua tangannya sambil memperhatikan pertarungan yang tidak normal itu dimata Alena padahal ilmu mereka tidak bisa dibandingkan dengan Alena.
Alena berdecak lalu salah satu Pemain Anggar tersungkur dan ada seorang pemain Anggar yang sudah pensiun menantang perempuan didepannya.
"kau telah menyalahgunakan aturan..? kenapa kau menyerang muridku?? seharusnya kau tidak menyerangnya terlalu keras..!" marah Pelatih Anggar itu pada lawan muridnya.
"dia sedang sakit Pak.! tapi bapak tetap memaksanya ikut permainan ini." jawab lawan dari murid yang dilatih oleh Pria itu.
__ADS_1
"aku tidak peduli..! diantara muridku dia ini yang paling kuat seharusnya kalau kau tau dia sakit mengalah lah..! apa susahnya?" bentak Pria itu dengan nada tak terima.
"jangan kasar-kasar Pak Martin..! ini Murid pak Jo nanti kalau Pak Jo pulang kalian bisa berantem lagi." salah satu Pelatih mencoba menenangi amarah Martin.
pertengkaran mereka dilihat oleh banyak orang tentu saja harus ada yang menghentikan perdebatan Martin itu yang tidak terima muridnya kalah.
"aku tidak terima..?" tegas Pak Martin.
"pak..! ini acara hanya untuk hiburan bukan buat yang lain, tidak ada hadiah apapun kan?"
Pak Martin menarik kerah lawan yang menjatuhkan muridnya tadi.
"hentikan...?" suara itu membuat Pak Martin dan yang lainnya menoleh ke belakang.
Alena berjalan dengan anggun ke arah mereka semua, Pak Martin menelan salivanya bersusah payah karna tau sosok yang menghentikan nya. Martin terlalu marah sampai lupa kalau tamu yang datang ke acara ini bukan Orang sembarangan.
Alena berdiri di hadapan Pak Martin, "lihat keadaan Muridmu...!!" tunjuk Alena dengan ekor matanya.
Pak Martin melihat ke arah Muridnya lalu kembali menatap ke Alena.
"kalau marah itu boleh tapi lihat situasi..! ini hanya permainan bukan ajang memperebutkan piala kan?" sambar Alena lagi.
Pak Martin tidak berani melawan Alena hanya menundukkan kepalanya, "saya permisi Nona."
Pak Martin hanya menunduk karna tidak berani melawan Alena lalu pergi membawa muridnya.
"terimakasih Nona..?" ucap Pelatih lainnya ke Alena.
Alena mengangguk lalu putar badan ke arah perempuan yang menjatuhkan murid dari Pak Martin tadi.
"muridnya Pak Jo?" tanya Alena.
"be--benar Kak!!" jawab gadis itu.
"siapa namamu?" tanya Alena.
"Lea Kak..!" jawab gadis yang mengaku Lea itu.
"perbaiki gerakan tanganmu masih tidak sesuai, jika kau mendapat lawan yang licik kau pasti sudah mengalami patah tulang." peringatan Alena.
Lea melihat tangannya lalu Alena pergi dari sana menuju Toilet.
.
__ADS_1
"hmm...? apa mereka semua hanya menonton saja? bisa-bisanya aku harus turun tangan." gerutu Alena.
Alena mencuci kedua tangannya didepan westafel lalu menatap kesal ke arah pantulan cermin, Alena menciprat-cipratin Air ke arah cermin.
"huuh.!!" Alena membuang nafas panjang lalu matanya seketika beralih ke arah pintu seakan tau sedang di perhatikan.
Alena mencabut tusuk konde kecil di rambutnya lalu melangkah secara perlahan ke arah Pintu Toilet dan berniat akan menusuk Pelaku.
Alena menemukan orangnya dan melawan Orang itu tapi tangan Alena malah di kunci berhadapan dengan Orang itu.
"lep...?" Alena mendongakkan pandangannya dan bertatap mata dengan Saga.
"k--kauu?" Alena melototkan matanya.
"instingmu memang sangat mengagumkan." puji Saga dengan senyuman tipis.
Alena melepaskan tangannya dari Saga lalu meletakkan kembali tusuk konde rambutnya ke sanggulan kecil dikepalanya.
"sedang apa Tuan Stalker?" tanya Alena dengan ketus.
Saga tersenyum tipis lalu berjongkok didepan Alena yang diam saja sambil melirik kebawah, Saga memakaikan sebuah gelang kaki di kaki Alena.
"jangan dilepas ya?" pinta Saga.
Alena mendengus lalu melangkah pergi meninggalkan Saga tanpa mengucapkan terimakasih karna Alena memang tidak meminta apapun sementara Saga yang memaksa memakaikan gelang kaki itu di kaki Alena.
Saga memutar kepalanya melihat kepergian Alena lalu bahunya bergetar-getar menahan tawa tapi pada akhirnya Ia pun tertawa kecil menutupi bibirnya sendiri.
"imut..!" gumam Saga yang gemas dengan penolakan Alena bisa dikatakan mirip anak-anak.
Alena memilih pergi dari acara itu tanpa meminta izin apapun pada pihak yang mengundangnya, Alena didalam Mobil menggerutu.
"kenapa aku harus berterimakasih? aku tidak minta kok." kesal Alena.
Alena menggeleng-geleng kepalanya, "bodo amat."
selama beberapa hari Alena tidak mempermasalahkan benda kecil yang gemerincing di pergelangan kakinya itu, Alena mulai sibuk dengan usahanya yaitu Pabrik Tas brand.
.
.
.
__ADS_1