Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
berdebat kecil


__ADS_3

.


.


.


setelah puas di Restauran, An membawa Carrina ke Taman Bunga.


"waahhh???" mata besar Carrina berbinar terang melihat bunga-bunga yang indah di sekitarnya.


An mengikuti Carrina untuk menjaga Carrina supaya tidak tersungkur atau terjatuh karna kandungannya itu walau tidak rentan keguguran tapi rentan sekali lahir prematur jika terbentur.


"An ini bunga apa?" tanya Carrina menunjuk Bunga yang membuatnya penasaran.


An seperti memiliki otak komputer bisa tau semua jenis Bunga padahal An adalah Pria hingga mata Carrina menangkap 1 kumpulan Bunga yang berhasil memikatnya.


"Wahhh?? cantiknya." gumam Carrina berlari kecil ke kumpulan Bunga itu.


"jangan berlari Carrin !!" pinta An lalu Carrina pun melangkah cepat tidak berlari seperti sebelumnya.


"wangi..?" pekik Carrina sangat menyukai Bunga itu.


"ini Bunga apa An?" tanya Carrina menoleh ke An.


"Chocolate Cosmos..!? memang punya aroma Vanily dan cantik seperti dirimu." jawab An yang sudah ada disamping Carrina.


"ini Bunga-Ku An!! aku suka Bunga ini." kata Carrina dengan senyuman manisnya.



An tersenyum saja dan mengangguk, "aku akan minta bibitnya pada Orangnya supaya bisa ditanam di Rumah Baru Kita."


Carrina tersenyum cerah, "An?? aku tidak pernah melihat ladang Bunga seluas ini, tempat ini sangat indah melebihi dunia mimpi."


An tergelak, "memang ada dunia mimpi yang kamu maksud itu Carrin?"


Carrina nyengir kuda lalu memetik Bunga itu dan mencium aromanya, "Ann?? aku suka sekali aroma Vanily nya."


"bukan bunga Mawar lagi?" kekeh An.


Carrina mengerucutkan bibirnya, "aku pikir dunia ini hanya ada Bunga Mawar dan Bunga Matahari saja."


An menjatuhkan rahangnya, "apa kamu tidak lihat berita? segitu banyaknya Bunga hanya mawar dan Matahari saja yang kamu tau?"


Carrina menggeleng lalu An bertanya apa saja yang Carrina lakukan selama ini dengan malu-malu Ia menjawab hanya mencari tau tentang An saja.

__ADS_1


Carrina dan An menghabiskan waktu di Taman Bunga sementara Sean dan Ana malah sedang di dapur.


Ana menatap tajam Sean yang menyeringai lebar meminta makan pada Ana seperti seorang Anak laki-laki yang ingin dimasakkan Ibunya, Sean tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu yang benar-benar dianggap Ibu olehnya, bagaimana pun baiknya Etopy tetap saja Ibu Kandung lebih berharga dari apapun.


"apa harus seperti ini Sean? aku tidak mau jadi juru masakmu." kesal Ana.


"Ana sayang? masak untuk suamimu ya?" rengek Sean dengan senyuman tampannya.


Ana bukannya terpana malah menatap datar Pria itu, jelas-jelas tadi Ana sedang berbaring santai di Ranjang bersama Sophia tiba-tiba si bayi besar Ana meminta ingin dimasakkan makanan, Para Pelayan pun sampai menjatuhkan rahang selebar-lebarnya melihat langsung rengekan Sean pada Ana didepan Para Pelayan Ana.


"kamu ingin makan apa Sean?" tanya Ana dengan datar.


"apa saja." jawab Sean tersenyum lebar.


Ana membuat yang simpel saja yaitu Sandwich ala Ana si Putri Sulung Maldev dan baru saja 2 piring Sandwich diletakkan di meja sudah disambar oleh Sean.


"huuh. .. panas??" Sean mengipas-ngipasi mulutnya tapi tetap mengunyah.


Ana menatap Sean saja tanpa berekspresi, "kapan terakhir kamu makan?" tanya Ana.


"5 bulan yang lalu." jawab Sean tertawa.


Ana mendelik karna tidak percaya sebab menurutnya tidak ada manusia yang bisa hidup tidak makan selama 5 bulan.


"enak sekali Ana-Ku sayang." heboh Sean menjilati jemarinya hingga Ana geli.


Ana spontan menahan kedua tangan Sean lalu mengambil tisu didekatnya dan mengelap jari tangan Sean.


"jangan menjilati jarimu Sean..! jorok." tegur Ana seperti seorang Ibu saja.


Sean memandang Ana tanpa berkedip, "Ana kamu memiliki sifat keibuan yang sangat dominan, aku sangat menyukaimu."


Ana menatap Sean yang tersenyum ke arahnya lalu Ana fokus mengelap tangan Sean lagi dan mencucinya dengan anti septik.


Ana terkejut melihat punggung tangannya basah lalu melihat ke arah Sean yang cepat menghapus air matanya, Ana menghela nafas panjang.


"kenapa lagi?" tanya Ana begitu sabarnya punya bayi besar yang cengeng dan banyak maunya seperti Sean.


"Ana aku hanya merindukan Ibuku, perlakuanmu tadi sama dengan apa yang Ibuku lakukan saat aku masih kecil, aku berusaha untuk tidak meneteskan air mata tapi air mata ini jatuh tanpa seizinku padahal aku Raja tapi air mata ini tidak mau patuh padaku." oceh Sean.


Ana memutar kedua bola matanya dengan malas, "memangnya air mata mu itu mau mendengarkanmu? bahkan aku ragu dia punya indera pendengaran." ejek Ana.


Sean tersenyum mendengar ledekan Ana bukan menertawainya sebab Sean memang kekurangan kasih sayang, selama ini Ia dituntut untuk bersikap dewasa padahal Ia sebenarnya belum mampu hanya Ana-lah yang bisa membuat Sean bersikap apa-adanya.


bulan madu Ana dan Sean hanya makan bersama, Sean hanya mencium pipi Ana saja sebab jujur saja Ia memang masih polos memikirkan hubungan seperti itu, Sean tidak ada waktu menonton adegan dewasa sebagai pembelajarannya walau terkadang perkataannya selama ini terbilang mesum pada Ana tapi sebenarnya Ia juga tidak tau apa-apa.

__ADS_1


"Ana apa kamu mau kesuatu tempat?" tanya Sean tersenyum lebar menghapus air matanya.


Ana menggeleng kepalanya, "aku masih lelah Sean..? akan ada acara beberapa hari lagi kan? kenapa aku harus datang bersamamu?" gerutu Ana.


Sean tersenyum lebar, "karna kamulah satu-satunya Ratu yang dipuja para rakyat bahkan rumormu sampai ke Negara sebelah yang juga ingin memiliki Ratu sepertimu."


"lalu apa hubungannya dengan kedatanganku? jangan bilang mereka menanti kedatanganku karna Rumor itu." tanya Ana dengan malas.


"benar sekali yang mulia." jawab Sean memberi tundukan sopannya seperti seorang Pelayan.


Ana bukannya tertawa malah mendengus sebal, "hidupku sudah terekspos."


Sean tertawa lalu mengelus kepala Ana yang diam saja bersitatap dengan Sean, terkadang Sean seperti anak-anak tapi juga bisa jadi Orang dewasa yang pandai menjaga Ana.


"apa kamu punya 2 kepribadian Sean?" tanya Ana tiba-tiba.


Sean menggeleng kepalanya, "aku hanya punya 1 kepribadian dan 1 hati yang sudah aku berikan untukmu."


Ana seketika menyemburkan tawanya tapi ditutupi dengan telapaknya sehingga Ia tampak begitu cantik, "apa kamu sedang berpuisi Sean? kamu tidak berbakat sama sekali." kekeh Ana.


Sean senyam-senyum, "terimakasih sudah membuatkanku makanan."


Ana mengangguk pelan lalu berdehem menetralkan ekspresinya dan bangkit melangkah pergi dari Sean.


"sayang tunggu?" pekik Sean.


Ana mendengus di ikuti oleh Sean, mereka terus saja berdebat mengabaikan para Bodyguard yang berjaga di setiap tempat menahan tawa dan sedikit terhibur dengan tingkah konyol Raja-Ratu Muda mereka itu.


"Sean jangan mengikutiku..?" kesal Ana.


"tidak mau." jawab Sean melingkarkan tangannya di tubuh Ana.


Ana memijak kaki Sean yang melompat-lompat seketika lalu kaget melihat Ana berlari tentu Ia ikut berlari karna tidak mau Ana menutup pintu Kamar sebab Ana sangat bar-bar dan bisa saja tega menutup pintu Kamar mereka.


Sean tau Istananya banyak Kamar tapi tidur berpelukan dengan Ana lebih baik bagi Sean sehingga semakin nyenyak tidurnya.


"sayangg??? Ratu-Kuu??" teriak Sean lari langkah seribu mengejar Ana.


Para Bodyguard yang tidak melihat Raja-Ratu mereka pun langsung tertawa terpikal-pikal padahal mereka bersusah payah menahan tawa sejak tadi dianggap patung oleh pasangan itu, mereka yang awalnya mengantuk buyar seketika melihat tingkah sepasang pengantin baru itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2