Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
gedung baru


__ADS_3

.


.


.


Seorang Pesulap mendatangi Alena lalu memberi sebuah mawar dan Alena mengambilnya di mantrai oleh Pesulap itu langsung berubah menjadi sebuah topi.


"sini...?!" Saga mengambil Topi itu dari Alena.


"jangan main-main dengannya." ancam Saga ke Pesulap itu yang menelan salivanya dan segera mengangguk untuk menyelamatkan diri.


Pesulap itu pun hanya menggunakan Saga saja untuk bermain sulap sampai terdengar tepuk tangan meriah dari semua penonton yang ada, Alena bertepuk tangan juga untuk meramaikan saja.


"terimakasih Tuan? Nona?!" ucap Pria yang menjadi pesulap itu.


Alena dan mengangguk dengan senyuman tipis saja sedangkan Saga hanya menatap datar Pria itu yang segera melarikan diri dari Saga.


Alena beralih ke Saga, "kau yang mengajakku kesini lalu marah saat dia melakukan sulap dengan tanganku?"


Saga menggaruk kepalanya yang tak gatal, "aku tidak suka ada yang memanfaatkanmu Alena, dia melakukan itu karna kamu yang menjadi pusat perhatiannya saat ini."


Alena pun tidak berbicara lagi tapi diam-diam Alena tersenyum kecil meneguk gelas minumannya.


makanan yang Saga pesan pun tiba dengan perhatiannya Saga memotongkan daging BBQ Alena lalu diberikan ke Alena yang belum sempat melakukan apa-apa, Alena memandang piringnya yang sudah dipotong kecil-kecil oleh Saga.


"bagaimana tidurmu Alena? apa nyenyak?" tanya Saga sambil memotong BBQ miliknya.


Alena beralih menatap Saga lalu menjawab semua yang Saga tanyakan dengan jujur tanpa ada rasa malu akan dikatai pemalas atau apalah itu.


"kapan kamu ada waktunya Alena untuk mencari gedung Pabrik Caramelku?" tanya Saga penasaran.


Alena tampak berpikir sejenak, "aku rasa ada tempat yang strategis tapi disana gedungnya sudah tidak bagus, mungkin sudah lama juga gedung tua itu berdiri."


"berapa luasnya?" tanya Saga.


mereka berdua berbicara bisnis satu-sama lain dan anehnya mereka tampak akrab membuat yang melihat Saga dan Alena berbicara begitu romantis padahal mereka tidak membahas hal pribadi.


setelah makan malam Saga mengantar Alena ke Mansion Maldev tapi ternyata tidak ada Rovert maupun Xabara di Mansion itu melainkan Ratu saja.


"ini siapa sayang?" tanya Ratu.


"teman Alena Nek..! dia yang membantu kesuksesan acara Alena kemarin malam." jawab Alena tersenyum kecil.

__ADS_1


"halo. ? Nyonya? saya Reyza Sagam Pratama." sapa Saga seperti Pria yang ramah.


"Reyza? Pratama? apa kamu anaknya Agam?" tanya Ratu.


"benar Nyonya." jawab Saga.


Ratu terkesima lalu memperhatikan Saga dari atas kepala sampai ujung kaki, "kamu sudah tumbuh besar nak..?"


Saga tersenyum kikuk lalu Ratu memeluk Saga dan menepuk-nepuk punggung Saga seakan ingin menghibur sesuatu.


Alena mengerjabkan matanya memperhatikan hal itu tanpa mengatakan apa-apa, "apa Nenek tau masalalu Saga?" batin Alena menebak.


"mau masuk nak?" tanya Ratu.


"ti--tidak usah Nyonya..! saya ada keperluan, saya permisi Nyonya.! lain kali saya akan datang secara resmi kesini." kata Saga dengan sopan.


Ratu tersenyum mengelus rahang Saga, "anak ini sudah tumbuh besar padahal nasibnya dulu sangat menyedihkan." batin Ratu.


Saga pun berpamitan pada Alena yang melambai sekali saja lalu pergi dari Mansion Maldev.


"Nenek?" Alena mendekati Ratu yang tersenyum lembut ke Alena.


"bagaimana kamu bertemu dengannya sayang?" tanya Ratu.


"oh ya?" Ratu tampak penasaran mendengarnya.


mereka berbincang sampai ke Ruang Tamu,


"baguslah nak..! nenek dulu sempat kasihan sama Agam tapi lebih kasihan lagi pada anaknya yang masih kecil ditinggal ibunya." kata Ratu menghela nafas.


Alena tersenyum, "tapi dia tumbuh dengan baik Nek."


"pasti kamu penyelamatnya kan sayang?" kekeh Ratu.


"hah??" Alena menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Alena tidak melakukan apapun Nek..! Alena tidak seperti Mommy, Abang An dan Kak Ana yang pasangan mereka jatuh cinta karna menyelamatkan nyawa." jelas Alena membuat Ratu terkekeh.


"sayang? menderita tekanan batin itu lebih mengerikan dari diambang kematian, jika bukan karnamu mungkin Reyza bisa mengakhiri nyawanya sendiri berbeda jika hendak dibunuh, menurutmu lebih parah yang mana? bunuh diri atau dicoba dibunuh oleh tangan Orang lain?." Ratu.


Alena mencerna kata-kata Ratu, "hanya karna Permen Caramel Nek? dia tidak jadi mengakhiri hidupnya karna Permen Caramel? memang anak kecil tau cara bunuh diri?"


Ratu tergelak lalu mengatakan kalau Reyza dulu sangat dekat dengan Ibu Kandungnya tapi tepat di hari itu dimana Ibu Kandungnya mau pergi entah kenapa Reyza tidak diizinkan Ikut padahal biasanya Reyza kecil akan dibawa kemanapun pergi.

__ADS_1


"jadi menurut Nenek Ibu Kandungnya sudah tau akan meninggal kecelakaan dan sengaja tidak membawa Sa--ehh?? Reyza?" tanya Alena serius.


Ratu menggeleng, "mungkin itu hanya firasat seorang Ibu yang kita tidak tau kan? anak itu sempat drop beberapa hari dan termenung seorang diri lalu menangis..! pokoknya kamu harus menjaganya sebagai teman sayang, Nenek kasihan sama dia dan nasib malangnya itu membuat Nenek teringat Papamu saat kehilangan Kakekmu."


Alena diam lalu mengangguk pelan, "Alena juga mau berteman dengannya karna dia tulus Nek."


"Agam juga anak yang baik dan Istrinya juga, hanya saja banyak yang orang iri juga tidak suka sama kebahagiaan mereka." jawab Ratu.


Alena mengedarkan pandangannya menanyakan kemana tujuan Rovert dan Xabara ternyata Kedua Orangtua Alena sedang ke Rumah Carrina dan An karna rindu dengan Cucu-cucu menggemaskannya.


"kalau gitu Alena ke Kamar ya Nek!" izin Alena dan Ratu mengangguk sambil melihat kepergian Alena lalu Ratu melihat ke arah Pintu Mansion Maldev seperti melihat Saga tadi.


"syukurlah Alena yang periang saat kecil bisa menghibur anak itu yang kini telah tumbuh dengan baik." gumam Ratu dengan lega.


.


ke esokan harinya,


Alena menemani Saga ke Tempat yang telah dijanjikan, dan Saga tampak menyukai tempat pilihan Alena walau bangunannya sudah tua karna jarang di huni sebab terlalu mahal juga banyak Preman yang mendatangi gedung itu dengan alasan yang tidak masuk akal.


"bagaimana?" tanya Alena.


"good." puji Saga.


Alena mengangguk lalu menanyakan bagaimana dengan bentuk bangunan yang sudah Tua itu.


"aku bisa merenovasi tempat ini." jawab Saga dengan senyuman.


"modal besar dong." sahut Alena.


Saga mengangguk, "modal besar tidak masalah sayang asalkan tempatnya Strategis."


Alena diam saja, "kita temui pemiliknya?" tanya Alena.


Saga mengangguk lalu mereka menemui pemilik Gedung itu ternyata mengatakan alasan Gedung itu sudah lama tidak berpenghuni.


"kami tidak berniat menipu Tuan Muda jika menginginkan Gedung milik kami, dulu Ayah kami punya masalah dengan rentenir padahal sudah dibayar sampai lunas beserta bunganya tapi mereka ada saja alasannya, kami tidak berkuasa Tuan." jawab Ibu dan bapak pemilik Gedung Tua di tengah kota itu.


"tidak masalah Pak..! Bu...! saya bisa mengatasinya." jawab Saga merasa yakin dengan pilihannya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2