
.
.
.
Saga tersenyum lebar, "terimakasih sayang..! lebih baik kamu istirahat malam ini ya? besok malam aku akan menjemputmu."
Alena memutar kedua bola matanya dengan malas, "hmm..! aku keluar."
Saga menahan tangan Alena yang hendak keluar dari tangga darurat sehingga Alena memutar kepalanya ke arah Saga.
"kenapa lagi?" tanya Alena.
"kalau makan diluar sudah terlalu larut malam, aku beli Roti tadi untukmu Alena..! jangan sampai perutmu kosong." kata Saga sambil mengeluarkan Roti dari saku jasnya.
Alena menatap lama Roti itu memang perut Alena sangat lapar saat ini sebab sejak tadi sibuk bekerja sehingga lupa makan.
"ini...!" Saga menyerahkan Roti itu ke Alena lalu mengelus pipi Alena.
"jangan sampai sakit perut ya?" kata Saga dengan senyuman.
"aku duluan..!" bisik Saga ditelinga Alena lalu turun lewat tangga darurat bukan di pintu mereka berdiri tadi.
Alena melihat punggung Saga yang mulai tidak terlihat lalu tersenyum tipis membuka Pintu Tangga Darurat sambil memakan Rotinya yang telah dibuka plastiknya oleh Saga.
Alena tidur di Perusahaannya tanpa berganti pakaian melainkan mencuci mukanya saja langsung terlelap saking lelahnya.
.
keesokan harinya, sekitar jam 12 siang.
Alena mengangkat panggilan Papanya dan mengatakan Ia tidak bisa pulang karna bekerja, Rovert dan Xabara tidak melarang hal itu karna mereka sebagai Orang tua sangat mengerti kalau Alena kesepian tidak punya teman di Rumah sehingga mulai sibuk dengan bekerja.
Ratu semakin aktif saja olahraga Oma-oma untuk menyehatkan badannya sehingga jarang berada di Mansion karna umur Ratu juga sudah tua sering sakit pinggang.
sementara An dan Carrina sudah punya tempat tinggal baru tentu sudah bahagia dengan Keluarga kecilnya itu.
Xabara bersama Rovert selalu berdua sebagai anak tentu Alena yang sudah beranjak dewasa tentu Alena tidak mau bersama Kedua Orangtuanya yang sibuk dengan dunia mesra nya masing-masing sementara Alena tidak punya pasangan untuk bermesraan.
__ADS_1
"huuahhh!!" Alena menguap lebar dan melangkah menuju balkon.
"akkhh!" Alena memekik kaget melihat sosok Saga berdiri didepan Pintu Gerbang menatapnya dengan senyuman.
walaupun jaraknya cukup jauh tapi Alena tau kalau Pria yang sedang terkekeh dari jauh itu adalah Saga.
Saga melambaikan tangannya lalu menunjukkan sebuah rantang nasi 4 susun ke Alena, Alena mengelus dadanya yang sempat kaget dengan wajah ditekuk masam segera Ia masuk ke Ruangannya dan membuka pagar otomatis Perusahaannya untuk Saga.
"aku tau dia seperti hantu yang datang tiba-tiba saja tapi kenapa aku bisa kaget juga?" gerutu Alena sambil menjepit rambutnya.
Saga diantar ke Ruangan Alena, "Alena?" sapa Saga dengan ramah seperti tipikal Pria yang Ramah saja padahal sebenarnya Saga bukan Orang yang ramah.
"sejak kapan?" tanya Alena dengan datar.
Saga terkekeh, "mungkin 2 jam yang lalu." jawab Saga.
"apa kau tidak punya pekerjaan lain? kenapa kau suka sekali menunggu di depan gerbang?" tanya Alena heran.
"nanti kita bahas ya? ini aku buat makanan enak untukmu Alena, sebenarnya aku ingin buka pabrik Caramel seperti yang kamu bilang kalau Caramel buatanku sangat enak." kata Saga.
"jadi?" tanya Alena menaikkan sebelah alisnya.
"bantu aku mencari tempat yang strategis untuk membuka Usaha itu." jawab Saga sambil tersenyum lalu Alena tampak berpikir dan mengangguk seolah menyanggupi permintaan Saga.
Saga melihat penampilan Alena masih sama seperti tadi malam sehingga Ia merasa Alena masih kurang istirahat, Saga izin kembali karna masih ada pekerjaannya padahal Saga hanya ingin memberi waktu supaya Alena bisa istirahat lebih banyak lagi setelah makan.
"hmm." jawab Alena tanpa mencegah Saga.
"nanti malam kamu harus berdandan cantik ya?" rengek Saga.
Alena menatap datar Saga, "harus?"
"disana sedang ada acara pertunjukan sulap, menurutku kamu harus berpenampilan menarik di tempat keramaian, iya kan?" tanya Saga dan Alena mendengus membalas kata-kata Saga yang memang benar adanya.
"aku kembali..!" kata Saga dan Alena mengangguk sambil mengibaskan tangannya.
Saga terkekeh sembari melangkah pergi dari Ruangan Alena, menjadi teman Alena sudah perubahan yang begitu besar bagi Saga yang sejak dulu memperhatikan Alena dari jauh saja.
Alena makan dengan puas, "huh..! kok bisa dia masak seenak itu ya?" gumam Alena mengusap-ngusap bibirnya ketika sudah selesai makan.
__ADS_1
Alena bisa memasak tapi Cita-Rasa masakan Saga jauh lebih sempurna di lidah Alena dan Alena sangat menyukai itu namun harga dirinya itu terlalu dijaga meminta dimasakkan oleh Saga kecuali jika Saga berinisiatif sendiri memasak untuk Alena.
malam-malam,
Alena berdandan natural tidak ada make-up tebal di wajahnya yang sudah cantik alami itu, Alena memakai tas Brand dengan berlian kecil kelas menengah dan harganya juga sesuai kantong kalangan remaja berkisar 250-an.
"sempurna..!" kata Alena memuji penampilannya seperti anak Remaja.
Alena melihat ke Ponselnya yang berdering lalu mengangkatnya ternyata Saga sudah didepan Gerbang dan Alena menekan remot Gerbang Perusahaannya sehingga Mobil Saga bisa masuk ke Perusahaannya.
.
Saga menunggu di Lantai bawah bersandar dekat Mobil sambil bersiul merapikan pakaiannya dan sesekali berkaca melihat model rambutnya sekiranya berantakan Saga akan perbaiki.
Saga berbalik badan dan terkejut Alena sudah melangkah ke arahnya, Saga terpana melihat kecantikan Alena padahal Alena tidak tersenyum sama sekali tapi sudah bisa mengguncang hati Saga yang sudah begitu terpikat pada Alena.
"woow..!" Saga mendekati Alena dan mengambil tangan Alena serta mengecupnya mesra.
"kamu cantik sekali Alena." puji Saga dengan bahasa Belanda.
"cepatlah..! aku sudah lapar." kata Alena melepaskan tangannya dari Saga dan melewati Saga begitu saja.
Saga terkekeh segera menyusul Alena dan membukakan pintu Mobilnya untuk Alena yang biasa saja diperlakukan seperti itu oleh Saga padahal seorang Reyza Sagam Pratama tidak pernah bertindak sejauh itu untuk siapapun.
Saga membawa Alena ke sebuah Restaurant yang sangat ramai dan kebetulan ada acara pertunjukan sulap mata, kedatangan Saga dan Alena membuat pandangan para pengunjung Restaurant teralihkan ke Alena yang memakai barang Brand ternama tapi tidak terlalu mencolok sehingga terlihat manis dipandang mata.
"kita duduk didepan..!" ajak Saga dan Alena mengangguk berjalan di tuntun Saga sampai ke Kursinya.
Alena melihat sekeliling tengah memperhatikannya lalu menatap Saga dengan kesal, "kau sengaja membawaku ke tempat ramai ya? entah rumor apa yang beredar nanti setelah ini."
Saga terkekeh pelan, "aku ingin kita berdua saja Alena tapi kalau aku pikir-pikir tidak ada salahnya datang ke tempat ini supaya kamu semakin banjir pemesanan dan kalahkan Perusahaan yang mencuri idemu itu."
Alena tersenyum tipis, "Perusahaan itu sudah berada diambang kebangkrutan."
Saga mengangguk membenarkan, "salah mereka sendiri yang mengusik mawar putihku."
Alena diam saja mendengarnya padahal Ia tau siapa yang Saga maksud mawar putihku adalah dirinya.
.
__ADS_1
.
.