
.
.
.
Ana juga berpelukan dengan Rovert, Xabara dan Ratu serta terakhir memeluk An.
Keluarga Ana memperingati Ana untuk tidak membuat ulah terutama tentang boneka uji cobanya yang selama ini menjadi mainan Ana, Ana mengerucutkan bibirnya di omeli oleh Xabara yang baru-baru ini tau akan keganasan Putri Sulungnya itu.
Sean pun diperingati serius oleh Rovert dan An harus sering-sering membagi waktu untuk Ana, bagaimana pun Ana telah memilihnya maka jangan sia-siakan kepercayaan Ana.
"iya An." jawab Sean tersenyum lebar seperti anak kecil saja dinasehati Ayahnya.
Ana memeluk Alena dengan erat, "baik-baik ya dek?"
"Kakakk?? Alena bukan adek, Alena udah besar Kak." gerutu Alena tidak terima dipanggil Adek.
Ana terkekeh lalu mencium gemas pipi Alena yang semakin manyun saja dianggap anak kecil oleh Ana.
"Kakak sayang Alena." kata Ana dengan senyuman.
"Alena juga sayang Kakak." jawab Alena mengibarkan senyum termanisnya.
Ana dan Alena kembali berpelukan, tidak ada yang menangis diantara mereka semua sebab selagi memiliki uang yang berlimpah tentu saja mereka bisa mendatangi Ana ke Negara itu.
Ana melambaikan tangannya pada Keluarganya dan Ia seketika menoleh ke Sean yang menggenggam tangannya.
"Ana aku berjanji dengan seluruh kehidupanku, aku tidak akan membuatmu menyesal telah memilihku." ujar Sean dengan raut wajah serius tidak ada kekanakannya sama sekali.
Ana tersenyum dan mengangguk lalu kembali melambai ke Keluarganya, Sean merangkul bahu Ana dan mencium pelipis Ana.
"jangan sedih ya sayang? aku akan menjadi Ayahmu, suamimu, sahabatmu, adikmu dan teman bagimu." kata Sean dengan nada lembut.
Ana menahan tawanya saja bahwa Sean akan menjadi 5 karakter Orang berbeda untuknya, tapi jujur saja Ana merasa tidak kesepian sama sekali karna Ia banyak teman di Istana yaitu para Pelayan.
Apa yang Sean pikirkan itu bisa saja benar, bagaimanapun Ana adalah Putri Sulung Maldev yang biasa dimanja oleh Keluarga juga selalu bersama Keluarganya sepanjang waktu namun kini Ana harus berdiri sendiri di Negara Orang lain.
"Sean aku ingin membuat sebuah Labor khusus, aku ingin meracik racun karna itu kesenanganku." pinta Ana dengan serius.
Sean tersenyum mengelus pipi Ana, "apa saja yang kamu perlukan Ana-Ku Sayang? akan aku pesan dengan kualitas terbaik detik ini juga."
Ana tersenyum manis karna Sean tidak mengekang hobinya, "akan aku catat saat di Istana nanti."
Sean dan Ana pun kembali ke Istana.
__ADS_1
dikamar Ana tampak sibuk mencatat segala keperluannya tiba-tiba saja Sean datang ingin memperlihatkan sesuatu ke Ana.
"baiklah." jawab Ana.
Sean mengulurkan tangannya ke Ana yang penasaran terpaksa menerima uluran tangan Sean, mereka berdua bergenggaman tangan lalu Sean membawa Ana ke dinding.
"kenapa kesini?" tanya Ana.
Sean tersenyum lalu menekan sesuatu dan dinding yang kelihatan kokoh itu tiba-tiba bergerak membuat Ana kaget.
"a--apa ini Sean?" tanya Ana tergagap.
Sean menarik Ana masuk ke Ruangan Rahasianya, Ana tercengang melihat banyaknya senjata didalam sana ternyata itu adalah Ruang Rahasia milik Sean.
"lihat ini..?" pinta Sean.
Ana masuk ke Ruangan lain lagi dan tempat itu sangat luas, "waahh..?!"
"ini akan menjadi Ruangan Labormu Sayang..! bukankah kamu tidak mau ada yang tau identitasmu? disini tempat yang paling aman untukmu meracik apapun." jelas Sean.
"Terimakasih." ucap Ana dengan tulus ke Sean yang mengulum senyum.
"mau merubah warna catnya?" tanya Sean namun Ana malah menggeleng dan menyukai warna Ruangan itu.
Ana tentu sangat suka diberi Ruang Rahasia, "apa senjata-senjata itu milikmu?"
"aku melihat ada sepasang belati kembar hmm..? i itu...? hmm...??" ujar Ana tidak sanggup meneruskan kata-katanya.
Sean merangkul pinggang Ana dan menariknya masuk ke pelukan Sean, "apa yang ada ditempat ini milikmu juga, ambil apapun yang kamu butuhkan Ana."
Ana tersenyum, "kamu percaya padaku?"
"sangat percaya." jawab Sean.
Ana mengangguk, "aku hanya ingin belati kembar itu saja." jawab Ana membuang muka.
Sean terkekeh lalu memeluk Ana dengan mesra, "kamu meninggalkan Keluarga, harta, kekayaan dan kebebasanmu di Indonesia demiku."
Ana tersenyum mendengarnya.
"aku akan menjadi Keluargamu, hartamu, kekayaanku milikmu dan kamu bisa melakukan apa saja disini sayang." lanjut Sean lagi dengan tulus.
"baiklah." jawab Ana tertawa kecil padahal Ana bukan tipe gadis manja yang begitu haus kasih sayang malah Ana sudah puas dengan semua kasih sayang Keluarganya selama ini sehingga tidak kekurangan kasih sayang.
.
__ADS_1
Ana memberi secarik kertas segala keperluan Ana pada Sean yang melihatnya.
"semua yang kamu inginkan akan datang dalam waktu 2-3 hari lagi sayang." kata Sean dengan senyuman.
Sean tidak main-main dengan perkataannya yang selalu menuruti permintaan Ana bahkan peraturan yang menjadi titahnya sebagai penguasa juga diberikan pada Ana sehingga Ana bisa merubah Peraturan itu menjadi lebih menyenangkan bagi Ana (alias tidak terkekang).
3 hari kemudian,
Sophia tampak sibuk mengatur semua barang-barang yang Sean pesan untuk Ana ke dalam Kamar atas permintaan Ana sehari sebelumnya sudah diberitau ke Sophia.
Ana berlari dari Taman belakang mendengar kabar dari Pelayan bahwa paketannya 5 Mobil telah datang dan mata Ana berbinar-binar melihat semua perlengkapan yang ia butuhkan saat meracik racun.
"Nona? kenapa diletak didalam kamar? apa Nona tidak kesempitan nanti?" tanya Sophia kebingungan.
"nanti aku akan pindahkan bersama Sean." jawab Ana sambil tersenyum.
Sophia pun senyam-senyum saja mendengarnya, benar-benar Raja-Ratu yang sangat romantis dan penuh cinta selalu bersama dimana-mana.
.
malam-malam,
Ana dan Sean sibuk mengangkat barang-barang ke Ruang Rahasia, hanya mereka berdua saja sementara barang-barang Ana juga berat dan banyak tapi bibir Sean tidak mengeluh sama sekali malah Sean heran mengapa Ana tidak meminta Istirahat padanya.
"yeeesss...? siappp...?!!" Ana terlalu bahagia langsung memeluk Sean disampingnya dan melompat-lompat senang dalam pelukan Sean.
Sean terpaku seakan rasa lelahnya mengangkat barang hilang hanya merasakan kebahagiaan Ana.
"Ehh?" Ana seketika tersadar lalu melepaskan pelukannya tapi Sean tidak ingin Ana melepaskan diri darinya.
"aku sangat lapar sayang." bisik Sean.
Ana tersenyum tipis, "aku lihat ada Ruangan kosong di kamarmu, apa tidak bisa dijadikan dapur? aku bisa memasak untukmu tanpa harus pergi ke Dapur Istana yang jauh dari sini."
Sean tampak berpikir, "apa cukup untuk menjadi dapur tempat itu?"
Ana tertawa, "dapur tidak harus seluas Dapur Istanamu itu yang penting ada kompor listrik, perlengkapan memasak sementara besar Ruangnya tidak terlalu penting."
Sean mengangguk, "lakukan apa saja yang kamu inginkan sayang, lalu kita makan apa malam ini?"
Ana menarik nafas dalam-dalam, "sekarang sudah larut malam kamu yakin mau makan? tidak baik untuk kesehatan."
"baiklah." jawab Sean yang tidak memaksa Ana memasak untuknya karna sudah larut malam tapi Sean semakin erat saja memeluk Ana.
.
__ADS_1
.
.