
.
.
.
Ina melirik situasi dan mendengar pembicaraan teman sosialnya.
"kenapa Kekasihnya Tuan An bisa secantik itu ya?"
"wajahnya seperti Barbie dan Anime, benar-benar tidak nyata."
"pantas saja Tuan An tidak suka dengan Flo dan Lidya ternyata tipe idealnya sekelas wanita itu, kalau begitu siapa yang punya wajah sepertinya?"
Ina mengepalkan tangannya dengan geram, "apa bagusnya dia begitu ha? dia seperti itu karna perawatan mahal Tuan An, kalau aku jadi pacar Tuan An pasti akan Glowing juga." bela Ina yang begitu percaya diri.
teman sosial Ina melihat ke arah Ina dengan heran lalu menanyakan mengapa Ina begitu percaya diri seperti itu jelas-jelas Vidio yang tersebar luas dimedia ketika Flo mengusap-ngusap wajah Carrina yang dikira make-up pun bersih tanpa ada setitik bedak yang artinya Carrina punya kecantikan yang sangat natural.
"palingan Operasi." kata Ina dengan irinya.
"memang kenapa kalau Operasi? kalau aku ingin mendapatkan Tuan An mau kok di Operasi biar bisa cantik tapi kita tidak ada yang tau tipe kecantikan yang di inginkan Tuan An."
"iya..! tipenya gadis Barbie wajah Anime."
Ina semakin geram, "kenapa kalian membahas wanita itu sih? dia hanya tamatan SD juga pembawa bencana."
"haa? SD?" beo mereka semua celingukan.
Ina begitu pongah tapi malah ditertawai oleh rekan sosialnya kalau Ina hanya iri dengan Carrina sebab Carrina begitu cantik dan dikagumi banyak pengusaha lain menguasai hampir 8 bahasa asing, itu alasan Carrina bisa bekerja dengan An.
Ina seketika melebarkan matanya, "kalian bercanda ya? mana mungkin dia menguasai 8 bahasa asing sementara dia hanya tamatan SD."
"kamu jangan percaya kata-kata Orang, zaman sekarang kualitas lebih dinilai daripada omongan, kamu iri ya sama Nona Carrina itu? kamu itu berbeda jauh dengannya yang hanya menguasai 2 bahasa itu pun sudah bangga kesana-kemari."
Ina menoleh tajam ke Carrina yang disuapi oleh An seperti seorang Tuan Putri, Carrina duduk di meja sementara An dihadapan Carrina menyuapi setiap makanan apa saja yang ditunjuk Carrina.
.
"sekarang giliranku An..! aku akan memanjakanmu." kata Carrina hendak mengambil piring yang An pegang tapi ditahan oleh An.
"aku butuh lembur nanti kalau sudah di Hotel dan ini anggap saja sogokanku supaya kamu mau lembur denganku." kata An menyeringai.
__ADS_1
Carrina memerah seketika lalu dengan malunya Ia mengangguk-ngangguk setuju membuat An senang lalu kembali menyuapi Carrina.
"makan yang banyak sayang karna nanti aku tidak akan memberimu waktu untuk istirahat." kata An dengan senyuman liciknya.
Carrina menutupi wajahnya yang malu dengan kedua tangannya hingga An tertawa terlihat oleh beberapa wanita yang gemas dengan kemesraan An bersama Carrina.
"Tuan An?" sapa Ina.
Carrina dan An seketika menoleh ke arah Ina, An wajah berubah datar begitu dingin sedangkan Carrina menatap tak suka Ina yang pasti mencoba merayu An atau setidaknya membuat An salah paham padanya.
"saya Sepupunya Carrina." senyum manis Ina.
An melirik sekilas tangan Ina yang terulur untuk bersalaman dengannya tapi An malah memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya seolah memberitau Ina bahwa dirinya tidak mau menjabat tangan Ina.
"Carrina? kenapa kamu tidak memberitauku kalau kamu sudah bahagia sekarang? apa kamu sengaja melupakan ku sebagai sepupumu? apa kamu bahagia putus sekolah demi bersama Pria itu?" tanya Ina.
Carrina menaikkan sebelah alisnya, "apa ini yang dia lakukan pada setiap Orang yang dulu dekat denganku? dia mengatakan hal seperti ini?" batin Carrina tidak percaya.
"kapan aku putus sekolah karna laki-laki? bukankah kamu yang mengusirku dari Rumahku sendiri?" tanya Carrina dengan berani.
Ina terkejut dengan keberanian Carrina lalu berlagak Seolah-olah Ia adalah wanita yang teraniaya oleh Carrina.
Carrina tertawa, "apa ini yang kau katakan pada Ari? dan sahabat-sahabat kecilku dulu? kau memberitau mereka kalau aku ini seorang Jal*ng kecil? bukankah kau yang jal*ng?"
Ina melebarkan matanya, "Carrina? jangan bicara seperti itu..! aku tidak pernah bilang kamu seperti itu kok."
"tidak usah sok baik lagi Ina, An tidak akan terpengaruh dengan drama recehmu ini." senyum mengejek Carrina.
Ina melihat ke arah An yang tampak cuek saja seolah tidak mendengar apapun perkataannya.
Carrina menoleh ke An lalu melingkarkan tangannya di pinggang An, "An? aku tidak mau disini..! bagaimana jika kita ke Kamar hotel saja?" tanya Carrina berbinar.
"bolehkah? kamu harus bertanggung jawab." senyum tipis An menduselkan hidungnya dengan hidung Carrina lalu membawa Carrina pergi dari hadapan Ina yang termangu.
"kamar Hotel?" beo Ina.
Ina menggeleng tidak terima sebab rencana keduanya belum terlaksana.
"Tuan?" Ina berlari mengejar Carrina dan An tapi terhalang oleh banyak tamu undangan sampai Ina kehilangan jejak mereka berdua.
Carrina dan An pergi mencari Penginapan di tempat Acara pesta ternyata sudah penuh.
__ADS_1
"tidak apa An..? bagaimana jika kita keliling acara ini saja? aku penasaran lingkungan gedung ini." pinta Carrina dengan manja.
An mengangguk lalu membawa Carrina keliling gedung hingga tiba-tiba Carrina merasakan ada yang tengah memperhatikannya.
"kenapa Carrin?" tanya An.
Carrina menggeleng kepalanya lalu melihat sekeliling dan An yakin kalau Carrina merasakan sesuatu sebab Insting Carrina sangat kuat.
"apa kamu merasa ada yang memperhatikanmu?" tanya An membuat Carrina mengangguk polos lalu matanya tertuju ke arah CCTV yang dekat dengannya.
"apa ada yang melihatku dari Ruangan CCTV ya?" gumam Carrina.
"ayo kita cari..!" ajak An merangkul pinggang Carrina.
"apa itu dia?" batin An dengan wajah dinginnya itu.
An mencari Ruang CCTV sampai ketemu namun tidak melihat seorang pun selain petugas yang tidak sadarkan diri.
"apa dia mati An?" tanya Carrina.
"dibius." jawab An.
An menatap tajam sekelilingnya benar-benar seorang pengecut yang tidak berani menunjukkan wajahnya berhadapan dengan An.
"apa kamu rasakan saat Orang yang memperhatikanmu? apa merasa terancam?" tanya An.
Carrina mencoba mengingat-ngingat jenis perasaan yang Ia rasakan tadi hingga Ia terbelalak, "iya An?? aku merasa dia mengintimidasiku."
An memukul meja yang ada didekatnya hingga Carrina memekik lalu dengan cepat memegang tangan An dan melihatnya apakah ada luka tapi ternyata tidak ada sama sekali.
"tidak apa sayang..! maaf aku membuatmu sedih." ucap An yang hampir tidak bisa menahan amarahnya ketika mendengar perasaan Carrina yang memang merasa di intimidasi.
"tidak apa An..? aku tidak apa-apa asalkan kamu baik-baik saja." jawab Carrina mengecup punggung tangan An yang memerah di pukulkan ke meja.
An seperti kehilangan amarahnya lalu memeluk Carrina dengan erat, "aku tidak pernah takut apapun Carrin tapi aku sekarang takut kamu akan terancam karnaku."
.
.
.
__ADS_1