Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
mesra


__ADS_3

.


.


.


Pernikahan Sean dan Ana di gelar besar-besaran selama 3 hari berturut-turut, hari pertama khusus bersama Para Bangsawan, dihari kedua bersama Orang Penting Keluarga Ana dan di hari Ketiga bersama para rakyat.


kini Ana tidur dengan posisi telungkup di ranjang Sean memakai gaun warna Peach, Ana tidak sempat melayani Sean lagi sebab Ia benar-benar sangat kelelahan berdiri sepanjang hari menyalami para Rakyat Sean yang begitu menggebu-gebu mengucapkan selamat padanya.


Sean masuk ke Kamarnya dan melihat Ana tidur seperti itu membuat Sean tersenyum, "Ratuku sangat kelelahan." gumam Sean.


Sean melangkah ke arah Ana lalu menanggalkan heels Ana dan Ia tertegun melihat kulit Ana memerah karna mengenakan heels itu terlalu lama.


Sean mengambil kotak obat lalu mengobati kaki Ana dan membalutnya, Ana tidak merasakan lagi kakinya itu saking nyenyaknya Ia tertidur.


Sean yang sudah tergila-gila pada Ana mencium kaki permaisurinya itu padahal Ia seorang Raja dan pantas di sebut sang Penguasa (Lord) tapi Ia begitu tunduk pada seorang perempuan, Sean membenarkan tidurnya Ana lalu Ia pun berbaring disamping Ana memeluk istrinya itu.


"tidurlah Permaisuriku..! aku sangat bahagia menjadi Pria pilihan terakhirmu, aku berjanji tidak akan membuatmu menyesal telah menikahiku." bisik Sean.


Ana yang biasanya mudah terganggu dengan suara apapun kini malah tertidur pulas tanpa gangguan, sepertinya Ana benar-benar sangat kelelahan sampai tidak merasakan apa-apa lagi.


Sean ikut memejamkan matanya masih memeluk Ana dan tidak butuh waktu lama Sean juga masuk ke alam mimpinya.


.


pagi harinya,


Sean terbangun duluan lalu matanya menelisik wajah cantik Ana yang masih terlelap, Sean meraba wajah Ana dengan lembut.


"Ana?" bisik Sean.


Ana menggeliat pelan lalu membelakangi Sean yang memegang pinggang Ana untuk menahan Ana supaya tidak berputar arah, Ana mengerutkan keningnya terpaksa Ia kembali lagi berhadapan dengan Sean.


Sean benar-benar usil mengganggu tidur Ana yang belum juga puas, "Ana?" bisik Sean.


"hmm?" sahut Ana tanpa membuka matanya.


"masih mengantuk?" tanya Sean.


"hmm..? badanku terasa remuk Sean, kakiku juga rasanya sudah mati rasa." jawab Ana masih dengan mata terpejam.


"mau aku panggilkan dokter?" tanya Sean.

__ADS_1


Ana menggeleng kepalanya, "aku bisa membuat ramuanku sendiri tapi untuk bangkit saja aku tidak sanggup lagi, kamu cari Mommy-ku lalu mintakan padanya ramuan untukku yang sangat kelelahan ini."


Sean mengelus gemas pipi Ana lalu menyelimuti Ana dengan perlahan dan pergi dari sana menuju kamar mandi, Sean membersihkan diri terlebih dahulu baru pergi ke Kamar mertuanya.


"baiklah..! tunggu sebentar ya? Mommy sudah siapkan jauh hari sebelum datang kesini." kata Xabara lalu masuk ke kamarnya mencari racikan ramuan yang sudah dibuatnya tapi diletakkan ke dalam koper sehingga Xabara harus membongkar kopernya.


"ini dia..!" senyum lega Xabara lalu bangkit dan memberikan ramuan itu ke Sean.


"terimakasih Mommy." ucap Sean memegang erat ramuan berharga itu.


"iya nak." jawab Xabara tersenyum tipis lalu melihat Sean pergi.


Xabara menggeleng kepalanya sambil tersenyum karna Ia bisa merasakan Sean itu gambaran Rovert ketika jatuh Cinta, pantas saja Ana menerima Sean karna melihat bagaimana Rovert memperlakukan Xabara maka Ana yakin kalau Sean juga akan seperti itu terhadap Ana.


.


Sean dibantu Sophia membuatkan ramuan itu lalu membawanya ke Kamar Sean dan Sophia hendak mendekati Ranjang Sean.


"biar aku yang melakukannya." ucap Sean dengan serius.


Sophia pun melangkah mundur karna tau betapa berharganya Ana bagi Sean, Ana disebut-sebut Ratu Emas sepanjang sejarah sebagai pemecah rekor bisa menyenangkan hati rakyat dalam setiap tindakan apapun yang ia lakukan.


Sean duduk ditepi ranjang, "sayang?? permaisuriku?" bisik Sean dengan lembut sambil mengangkat kepala Ana lalu memindahkannya ke pangkuan Sean.


"pelan-pelan saja Sayang..! nanti kamu terbatuk." pinta Sean.


Ana terbatuk-batuk kecil.


"kan aku sudah bilang." keluh Sean sambil mengelap bibir Ana yang basah karna ramuan itu.


betapa perhatiannya Sean terhadap Ana bahkan Ia rela menunggu berpuluh-puluh menit demi memastikan tubuh Ana benar sudah baikan.


"uuuhh...!" Ana menggeliat pelan.


Sean tersenyum lebar mengelus wajah Ana lalu pipi Ana, "sudah baikan?"


Ana perlahan membuka matanya, "hmm." jawab Ana lalu duduk dibantu oleh Sean sementara Sophia tersenyum lebar melihat Ana sudah baikan.


"kenapa disini Sean? apa kamu tidak ada kerjaan?" tanya Ana.


Sean tidak bisa bekerja jika Ana sakit seperti tadi walau tidak parah tapi Sean tidak sanggup meninggalkan Ana.


Ana terdiam, "aku memang tidak salah menerimanya, dia benar-benar Pria bodoh ketika jatuh cinta." batin Ana.

__ADS_1


Sean senyam-senyum memandang Ana sedangkan Ana menarik sudut bibirnya.


"kembali bekerja Sean..! aku akan siapkan makan siang untukmu." ucap Ana.


mendengar kata-kata itu Sean langsung sumringah lalu mengecup pipi Ana dan melarikan diri seperti anak-anak yang baru berpacaran sungguh pemalu.


Ana menatap datar ke arah depan, "kenapa dia begitu kekanak-kanakan? apa aku punya bayi besar seperti Mommy?" gumam Ana dengan nada pelan.


Sophia membekap mulutnya syok karna Ia tau Sean tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun jadi saat sudah punya Istri pun Sean tidak tau harus memperlakukan Ana seperti apa, Sean hanya ingin berdua selalu dengan Ana sehingga melamar pujaan hatinya.


kecupan Sean tadi pasti akan geger di Istana nanti karna itu suatu perubahan besar bagi Sean tapi tidak bagi Ana yang menurutnya kecupan Pipi itu hanya dianggap seorang anak kecil yang mencium pipi ibunya.


.


di Kamar lain,


"kenapa sayang?" tanya An ke Carrina.


Carrina tersenyum manis ke An, "aku mau..?" Carrina memasukkan jemari tangannya kedalam baju An meraba-raba tubuh suaminya.


An langsung paham maksud Carrina, "kok tumben?" tanya An dengan gemas.


Carrina mengerucutkan bibirnya, "selama 3 hari Pesta pernikahan Ana dan Sean semua mata wanita melihat ke arahmu An, aku tidak terima."


An mengangguk-ngangguk sambil menahan tawanya mendengar kecemburuan istrinya, Carrina yang berinisiatif melakukan hubungan itu dengan An.


An sangat gemas dengan tubuh Carrina yang sangat seksi dimatanya, perut buncit Carrina itu belum lagi wajah masam Carrina karna kesal dan cemburu pada An yang disukai banyak wanita.


beberapa saat kemudian,


Carrina sudah dibuat kelelahan karna melakukan hubungan itu dengan An beberapa ronde, An terkekeh memandang Istrinya yang sangat menggemaskan ketika cemburu.


"imutnya..!" An mengusap keringat di pelipis Carrina yang kelelahan.


tiba-tiba lutut Ana mengenai sesuatu yang tidak boleh disenggol, An memejamkan matanya lalu menindih Carrina.


"kamu yang membangunkannya sayang." bisik An dengan nada berat.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2