Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
sangat kenal


__ADS_3

.


.


.


"bagus dong..!" jawab Ana.


"maksudnya? apa yang bagus?" tanya Sean.


"kalau kelemahannya memang perempuan tentu saja mudah menjatuhkannya." jawab Ana.


Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebab Ia memang tidak tau masalah perempuan malah taunya masalah politik saja.


"lebih baik kita bahas masalah ini nanti saja, aku ingin belanja." tukas Ana melenggang pergi meninggalkan Sean.


Sean berlari kecil mengikuti Ana yang belanja segala makanan yang dikatakan kurang sehat menurut Sean tapi ketika di coba rasa makanan itu benar-benar enak dan berbeda dengan makanan sehat yang jujur saja sudah bosan dimakan oleh Sean.


"apa dia baru hidup dari kematian? kenapa makannya seperti hantu tidak kebagian makanan?" gumam Ana menatap datar Sean yang makan lebih lahap darinya.


mereka jalan-jalan layaknya Pasangan sederhana hingga Tiba-tiba Ana menoleh ke arah seorang Preman tengah memukul-mukuli kepala Orang Tua yang memakai baju Parkir.


"kenapa Ana? mereka kenapa?" tanya Sean.


Ana tidak menjawab langsung berlari ke arah Preman yang sok Bos itu dengan santainya Ana meloncat dan memutar kepala Preman itu hingga terkapar dengan mata terbelalak.


semua Orang yang melihatnya sangat syok bahkan Kakek yang di pukuli pun juga hampir pingsan melihat kejadian super cepat itu.


"Kakek tidak apa-apa?" tanya Ana dengan lembut ke Kakek yang dipukuli oleh Preman tadi.


"tii--tidak apa Neng..? ta-tapi Neng bisa dalam bahaya karna membuatnya pingsan seperti itu." kata si Kakek.


Ana tersenyum, "dia bukan Pingsan Kek tapi mati."


semua yang mendengarnya terbelalak nyaris kehilangan separuh nyawa, mereka adalah Warga biasa yang tidak pernah melihat hal itu secara langsung.


"dia ini tidak pantas disebut Manusia karna tidak sopan pada Kakek." kata Ana.


"ta--tapi dia memang tidak salah Neng, Kakek yang salah banyak hutang tapi kerjaan Kakek tidak bagus." cicit Si Kakek.


Ana menggeleng tidak suka, "seberapa salahnya pun Orangtua sebagai anak muda harusnya pandai menjaga sikap, Orangtua saya mengajarkan tata Krama dan sopan santun kepada Orangtua itu penting."


Ana sibuk dengan Kakek itu sementara Sean menganga sedari tadi, Ia masih tidak bisa menyadarkan diri sejak melihat Ana berlari memenggal cepat kepala preman itu.

__ADS_1


"kenapa bisa sehebat itu?" gumam Sean menggeleng tidak percaya ada perempuan yang mulititalenta.


Sean terkejut melihat 10 Preman yang baru datang selesai memalakin warga Pasar, semua sungguh syok melihat salah satu rekan mereka mati dalam keadaan sangat aneh.


"siapa pelakunya?" teriak salah satu Pria bertubuh besar 3 kali lipat besarnya dari tubuh Ana.


Ana menoleh, "aku..?" jawab Ana lalu memutar tubuhnya ke arah 10 Preman itu.


"kalian memalakin warga pasar? kalian siapa memangnya? utusan Raja?" cetus Ana dengan arogan dan sombongnya sebab mengatasi Preman sok jagoan seperti mereka memang harus diinjak-injak harga dirinya terutama dicemoohkan oleh perempuan.


"tubuh kecil sepertimu berani melawan kami?" ejek Pria yang badannya sangat besar.


"kalau kau bisa selamat dari ini...? aku akan memberimu hadiah." seringai Ana mengeluarkan belati dan jarum beracunnya.


"ap--apa itu?"


"jarum segitu untuk apa? tidak akan mempan menusuk tubuh kami yang sangat berisi."


10 Preman itu menertawai Ana lalu mereka terdiam melihat Sean berdiri disamping Ana namun kembali tertawa terbahak-bahak.


"kenapa kamu memancing mereka?" tanya Sean.


"jangan banyak bicara..? suruh warga disini pergi..?" titah Ana.


Ana menyeringai lalu berlari Pria berbadan besat itu yang masih tertawa terbahak-bahak seolah meremehkan jarum Ana.


srekkh...!!


Seketika Pria yang badannya 3 kali lipat dari Ana itu tumbang ditempat dan tubuhnya membiru seperti digigit Ular yang sangat mematikan.


"bagaimana?" tanya Ana menyeringai.


"kalian salah memilih lawan, kebetulan racun baruku sudah Launching dan dia adalah Boneka Uji Cobaku yang kedua, hmm... kalian mau jadi yang ketiga? dewi racun telah berada di hadapan kalian." senyum misterius Ana.


glekk...!


"de--dewi beracun?" beo mereka berjumlah 9 Orang melangkah mundur.


"mau kemana kalian? kalian sudah menertawaiku maka aku akan antar kalian ke gerbang neraka." seringai Ana bergerak cepat menusuk melempar belatinya sekali lagi berputar dan melakukan gerakan yang sama sampai 9 Preman itu terkapar dengan tubuh membiru memang seperti di gigit Ular berbisa.


Sreaaakkkh...!


"huuh...! amis banget..!?" gerutu Ana mengusap-ngusap tangannya lalu mengambil tisu basah dari tasnya mengelap tangannya yang bau.

__ADS_1


Ana menoleh dan melihat Sean yang terpaku melihat aksi kejamnya itu.


"saat aku menyelamatkanmu aku membuang boneka Uji Cobaku sepertinya yang ditemukan oleh Abangmu itu adalah jasat dia." jawab Ana dengan santai masih sibuk mengusap tangannya yang masih merah.


Sean menganga selebar-lebarnya, "ba--bagaimana bisa wajahmu secantik ini ternyata sangat kejam."


"baguslah..? sudah aku bilang sebelumnya kalau aku jahat tapi kalian bersikeras mengatakan aku baik." jawab Ana sambil melangkah pergi meninggalkan tempat itu tanpa berbalik.


Sean yang terpaku tidak mau ditinggal langsung berlari menyusul Ana.


"ckk. !! diamlah..! kenapa kau berisik sekali? apa benar kau seorang Calon Raja yang tidak banyak bicara itu?" ketus Ana menatap tajam Sean yang melangkah mundur.


Sean bisa beladiri tapi mendengar kata dewi Beracun dari beberapa Preman tadi membuatnya sedikit takut sekaligus kagum, awalnya Sean memang sudah kenal siapa Dewi Beracun sebab sangat terkenal dinegaranya namun tidak bisa menemukan sosok itu, banyak bangsawan-bangsawan serta Raja dari Negeri sebelah selalu berlomba-lomba mencari sosok itu untuk menyelamatkan Orang terkasih mereka yang terkena racun dan Dokter pun menyerah mengobati semua Pasien keracunan itu.


.


"apa lihat-lihat?" tanya Ana dengan ketus.


"ka--kamu memang si dewi Beracun yang sangat terkenal itu?" tanya Sean.


Ana cuek saja dan Sean terus bertanya sampai Ana kesal.


"kau mau menjadi Boneka Uji Cobaku ya?" bentak Ana membuat nyali Sean menciut.


Sean sangat kuat tapi melawan Racun bukan kekuatannya, Sean bisa mati jika bermain dengan racun sang Dewi Beracun.


Ana menggeleng kepalanya pelan melihat Sean yang badannya cukup besar dari Ana tampak takut mendengar kata racunnya.


"ternyata aku sangat terkenal sampai mancanegara ya?" batin Ana tertawa dalam hati saja.


Ana sedikit percaya diri dan sangat menjaga harga dirinya sebagai Dewi Beracun serta tidak ingin ada yang mengambil posisi itu sejak Ana berumur 13 tahun.


"jika kamu Dewi beracun apa kamu kenal Master dari segala Master dunia Beladiri?" tanya Sean berhati-hati.


Ana terkekeh, "sangat kenal." jawab Ana.


Sean melebarkan matanya tidak mengira Ana sangat mengenal sosok itu, sejak Sean belajar ilmu beladiri sosok Master dari segala Master itu mampu mengalahkan gurunya sehingga sosok itu sangat terkenal dimana-mana.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2