
.
.
.
"apapun penilaian orang terhadapku jujur saja aku tidak peduli sayang tapi saat kamu yang menilaiku, itu masalah bagiku." sambung Sean lagi dengan lembut.
Ana berdehem lagi lalu melihat mertuanya memandang mereka dengan heran karna tidak mengerti bahasa mereka berdua.
"cukup Sean?? kamu selalu saja mengejekku." kesal Ana.
Sean tertawa sungguh seorang Penguasa Muda tertampan saat ini, tahta Sean semakin kuat berkat bersanding dengan Sang Ratu Bar-bar yang dipuja-puja Rakyat kecil dan Perdana Menteri.
"sepertinya kamu sudah tidak takut padaku lagi ha? aku bisa meracunimu sekarang juga." geram Ana dengan muka memerah.
"kenapa aku takut sayang? kamu akan menjadi janda kembang kan?" kekeh Sean malah menantang sang pujaan hati.
takk...!
Ana memukul kepala Sean dengan sendok yang dipegangnya hingga Baboly yang asik makan menjatuhkan sendok makannya, dan Etopy tersedak seketika segera meneguk minumannya.
Sean meringis mengelus-ngelus kepalanya, "sayang jangan kejam-kejam dong..! aku ini butuh diberi kasih sayang bukan di jadikan tempat melampiaskan amarah." dumel Sean.
Ana kembali hendak memukul kepala Sean dengan sendok tapi menoleh seketika ke arah Pelayan yang bersimpuh meminta ampunan atas nama Sean, Ana berdecak sebal.
"Sean..? mereka meminta pengampunan demimu benar-benar membuatku terlihat sebagai penguasa yang kejam ya? kamu aja yang baik." bentak Ana dengan galak.
Sean tertawa lebar, "mereka tidak kenal kamu sayang, jangan pedulikan penilaian Orang sayang yang penting kamu baik dimataku."
Ana menggeleng kepalanya lalu meletakkan sendok tadi di Meja, "habiskan olehmu Sean..! aku sudah tidak minat makan lagi karnamu."
Sean menarik tangan Ana yang hendak pergi hingga terduduk dipangkuannya, Ana berusaha bangkit tapi Sean menahan pinggang Ana dengan kuat sehingga Ana tidak punya pilihan selain tetap duduk dihadapan Sean.
"makanlah..! biar aku yang tidak makan." pinta Sean dengan sangat lembut mengelus pipi Ana.
Ana menekuk kedua alisnya, "kalau kamu sakit kepada siapa rakyat bersandar?"
Sean mengulum senyum, "inilah kelemahanmu." gemas Sean.
Ana terpaksa menerima suapan Sean lalu mereka makan suap-suapan dilirik saja oleh Baboly dan Etopy tanpa berbicara.
Para Pelayan malah senyam-senyum melihat kemesraan Raja-Ratu Penguasa termuda itu.
"Sean aku mau ini..!" pinta Ana.
"ini?" tanya Sean serius.
Ana menggeleng, "bukan Sean..! yang itu." tolak Ana.
__ADS_1
Sean menunjuk lagi, "yang ini?" tanya Sean lalu Ana mengangguk-ngangguk.
Sean menyuapi Ana dan mengelap sudut bibir Ana begitu romantis hingga Baboly tercengang begitu juga yang lainnya, sungguh Negara ini sangat percaya rumor yang beredar bahwa Sean itu adalah Pangeran Impoten dan semakin menyakinkan lagi ketika Sean tidak pernah dekat dengan perempuan.
maka nya ketika Sean membawa Ana ke Istana tidak ada yang berkomentar bahkan membantah saja tidak berani, malah mereka semua berharap Sean memang sungguh-sungguh menikahi Ana dan ternyata benar saja bahwa Sean hanya ingin menjadikan Ana satu-satunya perempuan sebagai Ratunya.
kini mereka melihat Sean begitu romantis seolah sangat berpengalaman dengan hal pacaran padahal Sean dekat dengan perempuan saja tidak pernah.
"besok mau kemana?" tanya Ana sambil mengayun kakinya.
"ke Pasar bagaimana? aku rasa kamu akan suka." jawab Sean sambil tersenyum.
"tentu saja..! aku penasaran bagaimana pasar di Negara ini." jawab Ana tersenyum begitu menawan.
krik. .. krik...
dunia hanya ada mereka berdua saja yang lain seperti makhluk halus yang tidak terlihat.
.
ke esokan harinya,
Ana mengepang 2 rambutnya juga mengenakan kacamata besar dan sedikit menggelapkan kulitnya begitu juga Sean yang memakai baju culun+kacamata besar.
"pakai motor bagaimana Sean?" tanya Ana yang kini celingukan di parkiran khusus kendaraan keluarga bangsawan.
Sean tersenyum, "motor lama bagaimana?"
"tentu saja..!" jawab Sean.
Ana memegang lengan Sean dengan semangat, "ayo cepat..! aku suka barang antik."
Sean pun membawa Ana menuju Motor lamanya lalu Ana memekik senang langsung duduk di Motor Sean seperti milik Sendiri, Sean terbahak padahal Ia sangat menyayangi motor itu dan tidak pernah ada yang boleh menaiki nya apalagi menyentuhnya tapi sekarang malah senang motornya disukai oleh Ana.
"cepat Sean..!" pinta Ana sambil duduk dibangku belakang menepuk bangku depannya seolah mendesak Sean mencoba motor antiknya.
Sean terkekeh lalu duduk didepan Ana dan Ana terkejut ketika Sean menarik kedua tangan Ana untuk memeluknya.
"pegang sayang." pinta Sean.
Ana mendengus tidak mau menurut lalu beberapa saat kemudian Ia menoleh ke kiri dan kekanan, Ia pun mengintip dibahu Sean melihat ke arah kunci Motor itu.
"kenapa tidak jalan?" tanya Ana.
"kamu tidak pegang jadi motor ini tidak bisa jalan." jawab Sean.
Ana menarik nafas dalam-dalam lalu melingkarkan tangannya di perut Sean, "jalan..!!" pinta Ana dengan pasrah.
Sean sumringah lalu memanasi Motornya beberapa saat dan melaju dengan kecepatan sedang keluar dari Istana, Ana berbinar sepanjang jalan bersama Sean sebab ini kedua kalinya Ana keluar dari Istana, sebelumnya karna Pernikahan Ana dan Sean namun saat itu banyak Orang sehingga Ana tidak bisa melihat dengan jelas pemandangan itu.
__ADS_1
"bagaimana?" tanya Sean sedikit berteriak.
Ana tersenyum cerah, "sangat indah Sean..?"
"tidak seindah dirimu sayang." kata Sean dan Ana tersenyum saja sudah biasa digombalin oleh Sean.
.
di pasar,
Ana terperangah melihat model Pasar di Negara Sean nyaris seperti Supermarket.
"ke--kenapa ke Supermarket?" tanya Ana tergagap.
"inilah model pasar disini Ana." jawab Sean sambil tersenyum.
Ana mengangguk pelan, "Negaramu sudah maju Sean, di Negaraku ini sudah sangat mewah."
Sean tersenyum, "aku tidak meminta pajak yang tinggi pada mereka tapi mereka yang menaikkan pajak sendiri sebagai ucapan terimakasih karna kamu telah membuat mereka sukses besar Ratu-Ku."
Ana tersenyum, "terkadang menolong itu tidak perlu menanti balasan Sean..! aku tulus menolong mereka tanpa meminta imbalan, lain kali jangan menerima pajak mereka yang tidak wajar.! aku menggunakan uang Negara dan semua itu sudah terganti kan? aku tidak butuh apapun selain keberhasilan mereka saja."
Sean tersenyum mendengarnya, Ana benar-benar perempuan yang sangat bijaksana hanya memikirkan Orang lain bukan kesenangan dirinya saja.
Ana dan Sean jalan-jalan disekitar Pasar serta banyak sekali mengikuti segala permainan ambil boneka lewat koin di sana, semua permainan ada dan jujur saja Sean begitu senang bermain seperti itu dengan Ana walau beberapa kali Ia harus kalah.
"Seaannn!!?" pekik Ana yang kini kalah memasukkan bola basket ke dalam ring sebanyak-banyaknya.
Sean tergelak lalu mengusap kepala Ana, setelah itu mereka main game motor lagi-lagi Sean menang karna Sean sangat suka balapan jadi kecepatannya bisa disamakan dengan hantu.
"Seannn? aku tidak mau main ini..!" kesal Ana.
Sean menggendong Ana dan membawa Ana ke Permainan lain, mereka melalui waktu seharian itu layaknya pasangan biasa bukan sebagai Orang penting sesekali mereka bertengkar kecil tapi setiap orang yang melihat pertengkaran mereka malah tertawa.
.
.
.
gila ketagihan Nae Ya? tapi judulnya masih sesuai kan? nanti sepertinya Alena juga masuk diNovel ini aja deh biar sekaligus Anak-anak Xabara dapat jodohnya.
oh ya bagi yang penasaran tentang An dan Carrina, mereka sudah bahagia ya? jangan tanya-tanya mereka karna Nae sudah tidak sanggup memberi konflik untuk mereka apalagi Carrina sudah lama hidup menderita kapan bahagia nya kalau dikasih masalah terus dia nya wkwkwk...!!
selamat beraktifitas pagi semuanya...!!
.
.
__ADS_1
.