Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
unbox


__ADS_3

.


.


.


makan besar di Restaurant membuat hubungan Keluarga diantara mereka semakin akrab saja walau tidak ada Baboly dan Etopy.


Sean bahkan lupa statusnya itu jika sudah berada di lingkungan Keluarga Maldev sebab Keluarga Maldev tidak menganggap Sean itu seorang Penguasa melainkan seorang anak yang memiliki tanggung jawab besar membahagiakan anak-anak mereka nanti.


tengah malam di Kamar Ana dan Sean,


"Ana?" panggil Sean menarik tangan Ana yang terhuyung ke arah Sean.


Sean merangkul pinggang Ana, "boleh kah?"


Ana mengerjabkan matanya, "apa?"


Sean tersenyum misterius meraba punggung Ana yang terkejut dengan perlakuan Sean itu.


Sean melepaskan bajunya didepan Ana sehingga mata Ana memandang tubuh kekar Sean, mata Ana mengerjab polos namun masih betah memandang tubuh Sean.


"aku ingin mencobanya." bisik Sean yang langsung di telinga Ana.


Sean merangkul pinggang Ana lagi dan yang membuat Sean senang adalah ketika Ana tidak melakukan perlawanan.


glek...!


tangan Ana bergetar meraba tubuh Sean yang membuat Ana ingin sekali merabanya.


"suka?" tanya Sean menatap Ana dan jemari tangannya mengusap pipi Ana.


Ana tersenyum kecil dengan pipi merona betapa menggemaskannya Ana dimata Sean, saat ini tidak ada si Dewi Beracun yang kejam juga menakutkan hanya ada si gadis polos yang tidak tau apa-apa.


"aku impoten?" senyum tampan Sean lalu mata Ana beralih ke mata Sean dan mereka bertatapan cukup lama.


"aku sudah bilang percaya kamu Sean." jelas Ana serius.


"aku juga serius sayang!? tapi aku ingin membuktikan diriku sendiri padamu kalau aku pria normal dan sangat-sangat-sangat normal." kata Sean.


"bu--bukti?" cicit Ana.

__ADS_1


"hmmm..? bukti, aku bukan tipe Pria yang pandai berkata-kata tanpa bukti yang jelas." jawab Sean.


Ana menelan salivanya bersusah payah, "a--apa aku siap?" batin Ana seakan bertanya dalam dirinya sendiri.


Sean melepaskan kancing baju Ana satu persatu sambil tersenyum tampan mengelus pipi Ana sesekali, dengan lembut Sean melepaskan pakaian Ana sehingga b*nya terlihat namun ajaibnya Sean masih bisa menahan dirinya untuk tidak tergesa-gesa walau jantungnya berdentum keras melihat betapa seksinya tubuh Ana kini.


"aku akan membuatmu menikmati pelayananku Ratuku." bisik Sean ditelinga Ana dan menghembus telinga Ana begitu halus membuat bulu kuduk Ana berdiri seolah bertanya dari mana Sean belajar seperti ini.


awalnya Ana sempat ragu tapi ketika Sean menganggap dia seorang Pelayan yang melayani Ratunya membuat Ana langsung paham kalau Sean lah yang membutuhkan Ana.


padahal harga diri Ana terlalu tinggi untuk mengatakan bahwa Ia memang ingin melakukan hal baru untuk sekedar tau bagaimana rasanya berhubungan bad*n sehingga se*s bebas bisa meraja lela bahkan dizaman sekarang pacaran saja sudah bisa melakukan hubungan seperti itu seperti suami-istri saja.


Sean menciumi leher jenjang Ana yang memejamkan matanya lalu menurunkan tali br*nya Ana supaya Sean bisa lebih leluasa memberi kecupan disetiap inci tubuh Ana.


"hmm?" Ana perlahan mulai nyaman dengan sentuhan Sean dan jemari tangan lentiknya telah berani meraba tubuh Sean malah memainkan put*ng kecil milik Sean yang menggeram seketika.


"sayang?" bisik Sean dengan suara berat.


Sean mengangkat tubuh Ana dengan cara yang eksotis bahkan Ana saja yang tadi terbuai seketika tersadar sehingga Ana kelihatan linglung ketika dibaringkan dengan lembut di Ranjangnya.


"cup...?!?"


disaat Ana mulai terlena Sean mengangkat tubuh Ana seperti busur panah yang mau melepas anak panah, Sean mengec*pi leher Ana namun kedua tangannya melepas pengait br* milik Ana.


Sean terpana melihat bentuk bunga kembar Ana yang sangat menggairahkan dengan lahapnya Ia memainkan keduanya bergantian, Ana sampai menggelinjang merasakan hal itu bahkan Ana sudah tidak sadar kapan Sean sudah menanggalkan seluruh pakaiannya.


"Ooh... tidak.. ! Seannn?" pekik Ana dengan muka memerah ketika bibir Sean ingin mendekat ke bagian intinya.


Sean tidak mendengarkannya lalu melakukan kesenangannya sehingga Ana semakin menggelinjang beberapa kali menjerit memanggil nama Sean, kasur yang tadi sangat rapi sudah berantakan akibat tangan Ana serta tubuh Ana yang tidak bisa diam.


"aku impoten?" bisik Sean sambil melepas celananya.


Ana tidak sadar apa-apa lagi, wajahnya sungguh merah seperti ingin cepat-cepat hasr*tnya di penuhi, kini Sean menancapkan senj*ta kebanggaannya yang dianggap impoten oleh banyak Orang.


"akkh..! seann?" pekik Ana menjambak rambut Sean.


Sean meringis, "sa--sayang sakit."


"sakit Sean..! sakitt!" jerit Ana.


Sean tentu tau Ana masih peraw*n jadi harus lebih bersabar, tangan Ana yang dikepala Sean pun perlahan di turunkan oleh Sean lalu Sean mengunci tangan Ana sambil melanjutkan permainannya.

__ADS_1


Ana menjerit sambil menggeleng-geleng seolah tidak terima bahkan merasa jerah tidak mau mencoba lagi, Sean merasa kasihan dengan teriakan Ana tapi Ia harus bertahan karna sebentar lagi Sean akan membawa Ana terbang setinggi-tingginya.


panjang sekali drama mereka diatas Ranjang, Ana yang pertama kali menangis dan menjerit tidak terima kini mulai menikmati goy*ng*n Sean, beberapa kali Ia meracau memanggil nama Sean dan semakin semangat saja Sean memompa Ana yang makin kencang juga des*h*nnya.


"Seaannn??" pekik Ana.


"lepaskan semuanya sayang..! lepaskan semuanya." kata Sean dengan berbinar telah memiliki Ana seutuhnya.


"sebut namaku lagi sayang..!" pinta Sean.


"Seann?" panggil Ana.


"sekali lagi." pinta Sean.


"Seann!!" panggil Ana sekali lagi.


Sean mencium bibir Ana lalu mereka bercium*n panjang juga sangat intens sambil bermain dibawah sana, jemari tangan Sean juga tak henti-hentinya memilin bunga kembar Ana.


tubuh Ana terlalu menakjubkan bagi Pria normal seperti Sean.


mereka melakukan hubungan itu hingga pagi dan Ana sudah tepar seperti ikan tidak dapat air di atas Ranjang.


"sayang?" panggil Sean sambil memegang bunga kembar Ana.


Ana mendengus, "Sean? aku lelah." jawab Ana yang begitu mengantuk berat dan tubuhnya benar-benar seperti dibelah 7 saking merasa lelahnya.


Sean menyeringai lalu menindih Ana,


"Se--Sean?" pekik Ana yang setengah sadar.


Sean seperti memperk*sa Ana yang benar-benar membuat Sean seperti tidak kehabisan energi, Sean tidak menyangka berhubungan seperti itu sangat menyenangkan apalagi melakukannya dengan pasangan yang sangat dicintai.


Ana semakin tidak berdaya saja diatas Ranjang tapi Sean berbaik hati membawa Ana ke kamar mandi serta memandikan Ana, mencari kesempatan dalam kesempitan itulah kata yang pantas untuk Sean kini.


"Sean? cukup..!? aku percaya kamu sangat normal bahkan kelewat normal, apa kamu sengaja melakukan hal ini padaku?" tanya Ana dengan mata setengah tertutup karna lelahnya itu juga nafasnya terengah-engah.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2