
.
.
.
"Anaaa??" gemas Carrina merentangkan tangannya dan Ana tertawa ketika memeluk Carrina.
"perutmu makin besar Carrin." ledek Ana.
Carrina mengerucutkan bibirnya, "ini calon keponakanmu Ana, jangan mengejeknya."
Ana tertawa lalu mengelus perut Carrina, "justru aku kembali kesini untuk melihatnya."
Carrina tertawa lebar sambil mengelus perutnya, "berarti kamu lebih menyayangi nya dari pada aku?"
"tentu saja." jawab Ana dengan pongah serta menantang Carrina untuk berkelahi.
Carrina semakin manyun saja lalu An tiba disamping Ana.
"kenapa tidak ada yang memberitau kami?" tanya An.
Rovert dengan santai mengatakan kalau mereka sudah tau An dan Carrina akan datang ke Mansion Maldev jadi tidak usah ada pemberitahuan.
An menatap datar Rovert yang malah meledeknya hingga Sean yang melihat sepasang Ayah-Anak itu seperti itu hanya bisa tertawa dan seperti biasa drama mereka akan berhenti saat Xabara yang menengahi An dan Rovert.
"berapa lama abang akan tinggal disini?" tanya Alena memegang tangan Sean dengan pandangan memelas.
Sean yang tidak punya adik pun tersenyum mengusap kepala Alena.
"sampai Kakak iparmu melahirkan." jawab Sean membuat Alena memekik kegirangan lalu memeluk Ana yang tertawa dengan tingkah Alena.
Sean pun tergelak membuatnya memikirkan ingin punya anak perempuan menggemaskan seperti Alena.
Keluarga Ana berkumpul bersama-sama setelah lama juga tidak bersama Ana, dan Sean sangat senang diperlakukan begitu baik oleh Keluarga Ana sehingga Sean merasaa bukan orang asing disitu.
.
di Kamar Ana,
"masuk disini abang." pinta Alena mendorong tubuh Sean masuk ke Kamar Ana.
"Alenaa? kakakmu dimana?" teriak Sean tapi pintu kamar sudah tertutup sehingga Sean celingukan dikamar Ana.
Sean melangkah menuju Ranjang Ana dan terkejut melihat Ana Keluar dari Kamar Mandi, "An--Ana?" gumam Sean.
Ana yang tengah sibuk mengusap rambutnya yang basah dengan handuk pun mendongakkan pandangan ke asal suara.
"Sean? kenapa disini?" tanya Ana heran.
Sean menggaruk-garuk kepala sehingga Ana langsung paham.
__ADS_1
"anak itu benar-benar minta dipukul dengan palu." gerutu Ana.
"apa salah sayang? kita juga sudah suami-istri kan?" tanya Sean berdehem lalu mendekati Ana yang masih sibuk dengan rambutnya.
Ana malah menarik lengan Sean lalu Ia duduk dikursi meja rias dan memberikan Hair Dryer ke Sean, "cepat keringkan rambutku..!?"
Sean menatap benda itu dengan linglung, "ba--bagaimana cara menggunakannya sayang?"
Ana menghela nafas lalu mengajari Sean caranya dan Sean langsung paham.
"cepat Sean..!!? aku mau main ponsel." pinta Ana.
Sean pun begitu serius mengeringkan rambut Ana sedangkan Ana bermain ponsel.
"sudah sayang." kata Sean mematikan Hair Dryer ditangannya.
"terimakasih." ucap Ana mengambil benda itu dari tangan Sean dan meletakkannya didalam lacinya.
Ana bangkit dan hendak pergi namun dicekal oleh Sean sehingga Ana menoleh ke Sean, "ada apa?" tanya Ana dengan heran.
"apa bajumu tidak mau aku pakaikan?" tanya Sean.
Ana seketika melebarkan matanya, "Sean?"
"kapan sayang?" tanya Sean merengek.
Ana mendengus, "terserahmu Sean..!" jawab Ana melangkah pergi meninggalkan Sean yang mematung ditempat.
Ana dibalik pintu kamar menarik nafas dalam-dalam dan mengelus dadanya yang berdentum keras.
"kenapa kamu Ana? kenapaa?" kesal Ana yang tak terima debaran jantungnya itu.
Ana menatap ke arah pintu kamar gantinya, "jadi aku benar-benar jatuh cinta padanya? Sean? aku jatuh cinta padanya?"
Ana mengoceh sendiri mengenai hatinya itu padahal jika Ana jatuh cinta pada Sean hal itu bukan masalah besar bagi Ana, tingkah Ana seolah perasaannya itu salah sasaran maksudnya jatuh hati pada suami orang.
beberapa saat kemudian,
Ana meletakkan sebelah telinganya di pintu Ruang gantinya, Ana menarik nafas lalu segera membuka pintu Ruangannya dan kaget melihat Sean sudah ada dengan senyum tampannya.
"ka--kamu ngapain disitu Sean? sejak kapan?" tanya Ana celingukan.
Sean mengulum senyum lalu melangkahkan kakinya lebih dekat pada Ana yang terus saja melangkah mundur dan mundur sampai berada di dinding.
"terserahku?" tanya Sean menaik turunkan kedua alisnya dengan gemas perlahan jemari tangannya melingkar di pinggang Ana dan menariknya ke dalam pelukannya.
Ana memejamkan matanya ketika hidungnya mengenai hidung Sean.
"sangat menawan." puji Sean dengan takjub melihat Ana yang memejamkan matanya.
Ana membuka matanya dan bersitatap dengan bola mata Sean yang menatap lekat dirinya.
__ADS_1
"apa yang membuatmu ragu untuk mengujiku Ana? aku paham kalau bicara soal Cinta tentu hubungan itu mustahil kita lakukan karna perasaanmu tidak seperti perasaanku, kita bicara sebagai Pasangan dewasa ya? kamu tidak butuh se*s?" tanya Sean.
Ana memerah mendengarnya, "ap--apa?"
"tidak butuh se*s? sekalian kamu mengujiku apakah aku memang impoten atau tidak." tanya Sean dengan serius.
Ana berdehem lalu Sean hendak mencium Ana namun gagal mendengar pintu di ketuk, Ana mendorong tubuh Sean lalu berlari menuju Pintu dengan kikuk ternyata ada An yang ingin bicara dengan Ana.
Ana tidak tau pembahasan keluarganya tapi mengikuti An yang membawanya menuju Ruangan Kerja nya An.
"duduk..?" titah An dibalas anggukan oleh Ana sambil duduk dihadapan An.
"kenapa An?" tanya Ana tanpa basa-basi.
"aku dengar apa saja yang kamu lakukan disana bersama Sean..!?" jawab An dengan senyum miringnya.
Ana mendengus lalu menceritakan semua permasalahannya saat itu sehingga Ana turun tangan membuka masalah janji utama Ana pada Xabara sehingga An tidak bisa berkata-kata.
An menaikkan sebelah alisnya, "kenapa tidak kamu bom saja mereka sekalian?" tanya An dengan datar.
Ana terkekeh, "aku ini gadis beracun bukan si master bom sepertimu."
An mendengus, "pantas kamu melakukannya."
Ana tertawa lebar, "sekarang kamu mendukungku kan? lalu untuk apa introgasi ini?"
"ckk..! pergilah..? tidur sana sama Alena dan Carrin, dia sangat merindukanmu." usir An.
alhasil Ana berlari dari Ruangan An menuju kamar Alena bersama Carrina sudah jelas hal itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Ana bisa bebas dari Sean.
ceklek...!!?
"Alena?? Carrin?" pekik Ana.
"yee. .. !" Alena dan Carrina senang sebab Ana bisa tidur bersama mereka berdua.
Ana melangkah menuju ranjang dan masuk ke balik selimut lalu mengoceh dengan Alena maupun Carrina.
di kamar Ana,
Sean sudah menunggu Ana di Kamarnya tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan Ana sehingga Sean mencari Ana dan bertemu dengan An.
"dia tidur di Kamar bersama Alena dan Carrina, apa kamu mau?." tanya An.
"hah?" Sean tidak paham.
An menatap datar Sean yang ajaibnya langsung paham dan Sean pun pergi tanpa berani berkata-kata lagi.
.
.
__ADS_1
.