
.
.
.
"awas kau...?! main-main sama Alena." batin Alena menyeringai di gendongan Saga memikirkan Orang yang berani mengurung Alena.
Saga langsung pulang saja ke Apartemennya dan mengirim pesan pada pemilik acara kalau Istrinya sedang sakit jadi tidak bisa berlama-lama disana.
"Saga, aku bisa jalan sendiri." kesal Alena melihat Saga kembali menggendongnya turun dari Mobil.
"kamu pasti takut sayang, kamu tidak perlu sok kuat ya?" kata Saga serius.
Alena menganga lebar, "kapan aku sok kuat hah? aku memang kuat." protes Alena.
"diam sayang nanti aku telanj*ngi mau??" tanya Saga mengancam.
Alena membelalak, "beranii?? aku akan membunuhmu." teriak Alena.
Saga terkekeh, "silahkan..! biar jadi Janda sekalian." kata Saga.
Alena menggigit telinga Saga dengan penuh dendam tapi Saga malah meringis saja dan gantian Saga yang menggigit hidung Alena gemas.
"akhhh...! Sagaaaa....!?" jerit Alena memukuli kepala Saga namun tangan lainnya memegang puncak hidungnya yang merah di gigit pelan oleh Saga.
"diam sayang nanti aku gigit yang itu." ancam Saga melirik payud*ra Alena.
Alena sontak saja menyilang tubuhnya, "dasar mesum...!" pekik Alena.
"hmm..! jangan macam-macam dengan Pria mesummu ini." Saga malah akui itu.
"turunkan aku..!" perintah Alena.
Saga diam sembari masuk ke Lift, Alena bagai bicara dengan tembok tak ada sahutan sama sekali.
"Sagaaa??" teriak Alena dengan geram.
Saga terkekeh seketika lalu mencium sayang kening Alena, "kenapa kamu bawel banget sayang? bisakah kamu diam saja? selalu saja mengajak bertengkar denganku." gemas Saga.
"siapa yang ngajak bertengkar? kamu duluan..!" bela Alena tak terima.
"kamu menggigit telingaku bagian sensitifku sayang, kamu tau dong artinya." jawab Saga.
Saga bilang Alena beruntung hanya digigit di hidung saja kalau yang lain Alena bisa tamat dan nyaris kehilangan peraw*nnya, padahal Alena istrinya tentu hal itu seharusnya wajar.
Alena menyilang erat tubuhnya, "kenapa kamu makin mesum Saga? pikiranmu kotor." geram Alena.
__ADS_1
"yah..! hanya kamu saja sayang yang bisa membuatku seperti ini." jawab Saga.
Alena mendengus lalu tak bicara apa-apa lagi padahal hatinya berdebar mendengar kata-kata 21+ dari mulut Saga itu.
.
setibanya di Ranjang,
Saga menyelimuti Alena yang masih menyilang tubuhnya itu seolah takut Saga memang menggigit dadanya.
"mau mandi?" tanya Saga.
Alena menggeleng-geleng kepala. Saga melepas kemeja nya didepan Alena yang waspada seketika menggenggam erat selimutnya.
"Sa--Saga?? jangan macam-macam ya? aku tidak akan mengampunimu." teriak Alena.
padahal Alena sangat hebat beladiri tapi mengapa Ia bisa menjadi perempuan normal saat bersama Saga? Alena bahkan tidak sadar kalau pohon Cintanya pada Saga telah tumbuh walau masih kecil hanya tinggal dipupuk Cinta kasih dan disiram dengan penuh kesabaran oleh Saga maka Cinta Alena akan tumbuh subur pada Saga.
Saga menautkan kedua alisnya melihat gerak-gerik Alena lalu tiba-tiba Ia tertawa keras membuat Alena mengerjab-ngerjabkan matanya.
"ke--kenapa ketawa?" tanya Alena gugup.
Saga menggeleng kepalanya lalu melepas pakaiannya sehingga tubuh kekarnya terpampang jelas dimata Alena.
glek...!
"dasar fiktor." gemas Saga.
"apa itu?" tanya Alena dengan kesal.
"fikiran kotor." jawab Saga membuat mata Alena membulat besar.
Saga melempar kemejanya tadi ke wajah Alena sambil tertawa terbahak-bahak pergi menuju kamar mandi, Alena menurunkan kemeja yang menutupi wajahnya.
"haiiishh...!" Alena mengacak-ngacak rambutnya dengan frustasi sebab diejek punya pikiran kotor oleh Saga.
"siapa yang menyuruhnya buka baju didepanku? ya aku pikir dia ingin melakukan itulah." Alena mendumel menyalahkan Saga yang mengerjainya.
.
Saga keluar dari kamar mandi dengan handuk putih melilit pinggangnya, Alena yang melihat itu segera membuang muka.
"kenapa pakai handuk?? biasanya pakai Jubah mandi kan?" tanya Alena dengan wajah memerah.
"Jubah mandiku kotor Sayang." jawab Saga.
"ya sudah..! nanti aku cucikan sekarang pakai bajumu." jawab Alena.
__ADS_1
Saga mengulum senyum saja walau Alena bar-bar dan selalu menolaknya tapi Alena tidak pernah merendahkan Saga sebagai Kepala Keluarga, Alena masih tau cara merawat Suami padahal diluar sana banyak wanita karir yang mengesampingkan suami karna kebanyakan wanita bisnis tidak butuh pendamping bahkan tidak menghargai suami mereka masing-masing jadi rentan perceraian.
Alena adalah gadis pembisnis yang memiliki penghasilan lebih besar dibanding Saga tapi tidak pernah Alena merendahkan Saga padahal Alena Putri Penguasa, itu alasan terbesar Saga sangat mencintai Alena dan Agam juga sangat menyayangi Menantunya itu. Penghasilan Saga dan Alena hanya selisih sedikit angka saja.
"tidak usah di cuci sayang..!? bagaimana jika kita menyewa seorang ART, sayang? kamu tidak perlu repot-repot mengurus Rumah kan?" tanya Saga sembari mendekati Alena dan duduk disamping Alena.
"tidak Apa..? kita bagi tugas kan? kamu yang memasak juga, kamu selalu rajin bersih-bersih dan jujur saja aku tidak suka ada Orang lain mengotak-ngatik Rumahku." jawab Alena mengakui Apartemen Saga adalah Rumahnya.
"hmm? kalau bagian mencuci baju kita pakai jadwal bagaimana?" tanya Saga.
Alena sontak saja melihat ke Saga, "memang boleh seperti itu?" tanya Alena dengan polos.
"maksudnya?" tanya Saga balik tidak mengerti.
Alena menjelaskan bahwa tugasnya sebagai Istri memang melayani keperluan suami dan mencuci itu juga bagian dari tugas Alena.
"lalu kapan aku melayanimu sayang? kamu ratuku." tanya Saga dengan senyuman mengelus pipi Alena dengan lembut.
"hmm? memasak dan kamu juga selalu membersihKan Apartemen." jawab Alena.
"bersih-bersih kebiasaanku, memasak itu sangat mudah, apa kamu tidak mau merasakan hubungan 21+? kamu boleh memanfaatkan tubuhku." kata Saga seketika membuat wajah Alena merona.
"kita tidak usah membahas masalah hati tapi kamu seorang perempuan Sayang..? pasti butuh sek* kan? aku mencintaimu dan aku juga suamimu, aku rela jadi algoj*mu." kata Saga serius.
Alena diam menatap Saga yang memandangnya dengan sangat dalam, Alena memang ingin merasakan hubungan itu.
"manfaatkan aku sesukamu sayang..! Papa sangat mencintaimu dan selama ini dia sangat kesepian, aku kasihan pada Papa yang selalu ingin mengangkat seorang Cucu karna selama ini aku tidak mau di jodohkan dengan perempuan pilihannya." kata Saga.
"perempuan pilihan Papa?" tanya Alena.
Saga mengangguk lalu menceritakan masa lalunya kalau Agam pernah menjodohkan Saga dengan perempuan dari kalangan bisnis kecil yang menghargai kekurangannya (cacat).
"sekarang Papa sangat mencintaimu karna kamu sangat perhatian padanya terlebih lagi saat Mamaku meninggal sedang mengandung anak perempuan." kata Saga dengan senyuman.
Alena tertegun mendengarnya, "ak--aku..?"
"tidak apa sayang..! aku tidak akan memaksamu, asal kamu tau aku tidak akan mau melakukannya dengan perempuan manapun sayang..! aku berjanji pada Papa akan memberinya cucu melalui rahimmu tapi aku tidak menentukan waktunya." Saga.
Alena diam mengerjabkan matanya, "ta--tapi..?"
"tidurlah..! aku tau kamu pasti lelah kan?" potong Saga dengan lembut mengusap kepala Alena begitu penuh cinta.
.
.
.
__ADS_1