
.
.
.
Sean terdiam dan mengerjabkan matanya melihat Ana yang tampak seperti menguasai ilmu politik.
"alasannya?" tanya Sean.
Ana berdecak sambil memutar kedua bola matanya dengan malas Ia duduk di hadapan Sean dengan kedua kaki bersila tidak ada sikap sok jaimnya sama sekali duduk di depan seorang Calon Raja.
Sean berdebar kencang melihat Ana yang seperti itu tapi Ia tidak mau menunjukkan bahwa Ia tidak pernah sedekat ini dengan wanita manapun kecuali Ana.
"apa rakyatmu tidak bisa dijadikan alasan? apa kau senang dia menjadi Raja selanjutnya lalu dia mencekik Rakyat dengan pajak yang tidak biasa?" tanya Ana.
Sean terkejut, "ka--kamu tau ilmu politik?"
"apanya yang tau? kalau demi kesejahteraan rakyat apa harus memahami ilmu politik? kamu harus mengalahkan Abangmu itu demi Rakyat, kalaupun kamu tidak mau menjadi Raja kamu bisa menunjuk Siapa saja yang kira-kira kamu percaya menjadi Raja asalkan jangan Abangmu itu." Ana.
"walau aku harus menghancurkan Abangku sendiri? kami sedarah." Sean.
Ana tertawa membuat Sean terpana dengan kecantikan Ana lalu merinding melihat tatapan Ana berubah sinis.
"Saudara? apa itu Saudara? bukankah sesama Saudara saling mendukung dan melindungi? jika dia tidak melindungimu dan menghabisimu hanya demi tahta apa itu pantas disebut Saudara? dia bukan Saudaramu tapi musuh berkedok Saudara untukmu." kata Ana dengan sangat serius.
Sean tersentak, "kamu sangat hebat."
Ana mengerjabkan matanya, "aku serius..! aku tidak memintamu menilaiku."
Sean tersenyum lebar, "jika kamu mau membantuku maka aku akan lebih bersemangat melawan Abangku, kamu bisa berpura-pura menjadi Tunanganku supaya aku bisa menduduki tahta setelah itu aku akan melakukan apa yang kamu minta."
"kenapa kau malah melibatkanku dalam urusanmu?" Ana malah melototkan matanya tidak terima.
"demi rakyat lemahku." pinta Sean.
Ana semakin melebarkan matanya saja Sean seperti tau kelemahannya yaitu Rakyat lemah.
"kenapa kau memilihku? apa tidak ada wanita yang bisa kau manfaatkan?" tanya Ana dengan datar.
Sean terkekeh, "karna hanya kamu yang sangat tau penderitaan Rakyatku jika aku tidak melawan abangku, kamu yang mengajarkanku untuk melawan."
Ana diam lalu memijit pelipisnya, "masalahnya aku tidak mungkin bisa pergi ke Negaramu."
__ADS_1
"kenapa?" tanya Sean.
"Keluargaku itu sangat Kepo kalau aku muncul di Negaramu sebagai Calon Tunanganmu nanti aku yang dalam masalah besar." gerutu Ana.
"Ke--Kepo? apa itu?" tanya Sean yang memang merasa kata Kepo tidak ada dalam kamus bahasa Indonesia yang Ia hafal.
"Ohh..! sangat ingin tau, apalagi Keluargaku..! aduhh..? kau bukannya menghadapi masalah Kerajaaan dan Politik tapi Keluargaku juga akan menjadi masalah besar untukmu." jelas Ana
Sean tersenyum lebar, Ia adalah Pria Gentle yang sangat berterus terang jadi menyukai kejujuran bukan kebohongan.
"aku akan minta izin pada Keluargamu, jika kamu sebaik ini aku yakin Keluargamu itu tidak berbeda jauh, pasti mereka yang mengajarimu cara memperhatikan rakyat lemah." ujar Sean.
Ana mengangguk-ngangguk lalu tersadar apa maksud kata-kata Sean.
"apa maksudmu? izin bagaimana? kau sengaja memasuki kandang Serigala? selama ini aku tidak pernah berpacaran apalagi membawa Pria lain ke Mansion, kalau kau menemui mereka sama saja kau menyerahkan wajah yang mulia ini untuk dijadikan samsak tinju mereka." ejek Ana menyerocos tanpa rem.
Sean tertawa lepas sebenarnya Ia tidak tau apa itu samsak tinju tapi Ana memperagakan tangan nya ingin memukuli wajahnya, jadi Sean paham karna bahasa tubuh Ana.
"aku beruntung menemui gadis yang tidak pernah berpacaran dengan Pria manapun." senyum lebar Sean.
Ana menatap datar Sean, "apa kau senang dijadikan samsak tinju?"
"jika demi Rakyatku apapun akan aku lakukan." jawab Sean membuat Ana tertegun ditempat.
Ana tersenyum melihat Sean berlari meninggalkannya, "ternyata dia tidak buruk juga, lumayan aku jadikan teman, kapan lagi aku punya Teman seorang Pangeran, hihihi..!"
Ana terkikik pelan, Ia tidak mencintai Sean hanya saja cukup menyenangkan bagi Ana memiliki teman seperti Sean tanpa peduli Sean yang menyukai Ana.
.
"kapan kita bisa bertemu Keluargamu?" tanya Sean.
Ana yang sedang makan menoleh ke Sean, "kamu ini sebenarnya kesambar apa sih? kenapa buru-buru? Kedua Orangtuaku, Saudara kembarku sama Istrinya berada di Dubai, di Mansion hanya ada adik perempuanku saja."
"benarkah?" tanya Sean.
Ana mengangguk lalu dengan santainya mengambil lauknya Sean seperti Preman Kampung, Sean bukannya jijik malah tertawa melihat tingkah Ana yang unik tidak Munafik sama sekali.
jika Sean bersama Ana malah merasa lebih hidup dan tidak ada beban berat dipikulnya yaitu sebagai seorang Penerus Tahta, Ana menganggap Sean layaknya Pria normal yang tidak ada kasta diantara mereka berdua.
"siapa saja Keluargamu?" tanya Ana sambil mengunyah.
Sean terkekeh, "apa kamu berbicara ketika makan? apa itu baik?"
__ADS_1
Ana mengangguk, "jika kamu makan tanpa berbicara sesuap nasi pun tidak akan tertelan olehmu karna tidak nyaman."
Sean tertegun benar-benar Unik sekali Ana.
"bersama Keluargamu?" tanya Sean pun ikutan berbicara saat makan padahal Ia seorang Pangeran yang makan sangat menjaga peraturan.
"kami memang Keluarga Kaya-Raya tapi kami makan seperti berada di Pasar, sebenarnya kami jauh lebih sederhana dari yang dipikirkan Orang lain." jawab Ana.
"Pasar?" beo Sean.
"kau tidak pernah ke Pasar?" tanya Ana.
Sean menggeleng kepalanya, "aku tidak pernah mencoba berbaur dengan Rakyat karna aku seorang Penerus tahta dan semua Orang bergantung padaku dari pada Abangku, kami memang bersaudara tapi aku lebih unggul darinya."
"pantas saja dia mencoba menghabisimu." ujar Ana.
mereka saling berbincang akrab satu sama lain dan anehnya Sean bisa bicara tanpa beban pada Ana, Ana bicara apa adanya tidak ada embel-embel sok jaimnya sama sekali.
Sore Harinya,
Ana membawa Sean ke Pasar dan ternyata Sean sangat menyukai situasi Pasar yang ramai juga senang dipandang mata tidak ada unsur kesengajaan melainkan serba apa adanya.
"bagaimana? beginilah kurang lebih situasi Pasar, mereka bergantungan dengan pembeli terkadang pembeli ada yang tidak punya banyak Uang dan meminta toleransi harga, berapa sih penghasilan mereka? tapi jika Kalian menetapkan Pajak yang tidak wajar bagaimana mereka bisa hidup?"
Sean menatap Ana dengan lekat, "terkadang aku merasa kalau kamu jauh lebih baik dariku jadi seorang Pemimpin."
Ana tertawa pelan, "aku juga seorang Bos besar walau tidak sepertimu kita sama-sama pemimpin bedanya cangkupan kita saja."
"iya..! mereka bilang kalau kamu adalah Bos yang baik untuk mereka semua, awalnya aku heran mengapa mereka rela bekerja juga terkadang mau terluka mempertaruhkan nyawa untukmu tapi sekarang aku mengerti alasannya." ujar Sean sambil tersenyum.
Ana melihat ke arah depan, "terkadang ada sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan Uang Sean, ketulusan seseorang itu sangat mahal."
"hmm..!" Sean membenarkan itu.
"kamu bisa mendapatkan ketulusan mereka karna kamu sangat tulus pada mereka." jelas Sean.
Ana tersenyum, "jangan sibuk menyanjungku kau harus cari cara bagaimana menjatuhkan abangmu, cari kelemahannya lalu jatuhkan dia dengan kelemahannya itu."
Sean termangu, "dia sangat menyukai perempuan."
.
.
__ADS_1
.