
.
.
.
Sean terus mengikuti Ana sampai tiba di Kamarnya.
"duduk...!" titah Ana.
Sean yang berjalan dibelakang Ana tadi tidak menutup pintu Kamar sehingga Pintu Kamar terbuka begitu saja.
Sean duduk patuh lalu Ana mengobati tangan Sean tanpa berbicara sepatah katapun, tanpa disadari tingkah kedua Orang itu dilihat oleh Rebby yang kebetulan baru pulang bersenang-senang di Bar.
Rebby mengepalkan tangannya, Ia semakin bersemangat menginginkan Gadis perhatian seperti Ana yang selalu ada dengan Sean, Rebby selalu iri dengan apa yang Sean miliki karna Ia anak pertama seharusnya tahta miliknya namun Raja dengan terang-terangan meminta Sean menjadi penerusnya, sebagai Anak Pertama tentulah Rebby merasa hatinya tertampar sebab dimana-mana aturannya anak pertama menjadi Penerus tapi ini tidak.
Raja tidak pernah memberi tau Rebby kalau dia itu bukan darah daging Baboly sehingga aturan yang Ia putuskan itu sudah benar namun masalahnya Ia tidak mau memberitau Rebby, karna dinilai Baboly berdasarkan watak Rebby pasti hanya akan petaka saja bagi mereka semua.
"lain kali tidak usah kekanakan..!" titah Ana.
"iya..! maafkan aku Ana." cicit Sean.
Ana menghela nafas panjang dan duduk disamping Sean, "sekarang sudah baikan?" tanya Ana.
Sean mengangguk-ngangguk.
Ana memukul pelan kepala Sean, "dasar bocah..!"
Sean tidak membantah atau membalas pukulan Ana lalu Ia menoleh kearah pintu dan melihat Rebby berdiri didepan Pintu, Rebby yang tertangkap basah oleh Ana pun segera bersembunyi.
Ana menyunggingkan senyum sinisnya, "apa dia pikir aku tidak melihatnya? kenapa aku berpikir Penerus tahta negara ini sangat menyedihkan? mereka sama-sama bodoh bahkan untuk diri sendiri saja sangat konyol lalu bagaimana nasib rakyat di genggaman tangan mereka?" batin Ana geleng-geleng kepala.
Ana merasa Rebby tidak pantas menjadi Penerus tahta tapi Sean juga tidak cocok menurut Ana, tapi dibanding Rebby bisa dikatakan Sean jauh lebih baik.
"ada apa?" tanya Sean lalu melihat ke arah Pintu Kamar terbuka.
"kenapa bisa terbuka?" gumam Sean keheranan.
"kamu yang berjalan dibelakangku tadi kenapa tidak menutup pintu?" sambar Ana balik.
"ah.. iya juga..! kemana Pelayan tadi?" gerutu Sean sambil berdiri melangkah ke arah Pintu dan melihat keluar ternyata ada Rebby yang berlari menjauh sampai tidak terlihat lagi olehnya.
Sean menautkan kedua alisnya, "apa dia melihat kita Ana?"
__ADS_1
"hmm." jawab Ana.
.
Ke esokan harinya,
Ana tengah bersantai di kamarnya sementara Istana geger gegara masalah Ulang tahun Putri Asoka, Asoka tengah di penjara oleh Pihak Istana karna Tamu yang hadir tadi malam mengalami sakit perut sehingga bolak-balik ke Toilet setelah memakan Kue Ulang Tahun Putri Asoka.
Ana melirik kesamping dimana Sophia berpamitan pergi karna ada Sean diKamarnya (dulu kamar Sean).
"Ana aku mau bicara!!" ujar Sean.
Ana mengangguk lalu Sean melihat ke arah Pintu sudah tertutup sehingga Ia melangkah ke arah Ana dan duduk dihadapan Ana.
"apa itu ulahmu?" tanya Sean tanpa basa-basi.
"hmm..! siapa suruh dia menyinggungku." jawab Ana dengan sangat santai.
Sean pun mengangguk, "lalu apa rencanamu selanjutnya? apa kamu tidak tau kalau dia akan memanggil yang memasak kue? bagaimana jika dia melimpahkan kesalahannya pada Koki yang memasak Kue itu?" tanya Sean.
Ana terkekeh, "seorang Koki Kerajaan selalu memiliki bukti dalam tindakannya, bukankah begitu cara mereka hidup dalam lingkup kejamnya dunia Bangsawan ini?"
Sean berdecak kagum Ana sangat tau hal itu, Ana tau masalah Istana dengan santainya Ana bicara seolah sudag sangat tau bagaimana cara hidup Orang-orang lemah untuk melindungi diri dari kejahatan Orang berkuasa.
.
di persidangan Raja dan Perdana Menteri tentang Putri Asoka.
permasalahan Asoka memang sangat rumit ketika sang Koki yang dituduh Asoka malah punya bukti bahwa Ia tidak bersalah sehingga Asoka tidak bisa melimpahkan kesalahan pada sang Koki.
Ana menghela nafas mendengar debat Para Perdana Menteri Raja yang bodoh sekali menurut Ana.
"bukankah aneh jika Semua mengalami sakit perut tapi dia baik-baik saja?" pertanyaan Ana seketika membuat situasi menjadi semakin ricuh.
Keluarga bangsawan membenarkan perkataan Ana, Putri Asoka membelalakkan matanya. jujur saja malam itu Ana maupun Sean tidak sempat makan kue Ulang Tahun Asoka karna sudah dibawa pergi oleh Sean dari tempat itu sebelum acara suap-suapan kue Ulang Tahun terjadi.
Sean dan Anggota Kerajaan pun mengangguk-ngangguk karna berdasarkan keluhan Tamu Undangan malam itu ialah mengalami sakit perut setelah memakan Kue tapi tidak ada yang berkomentar bahwa Asoka juga mengalami sakit perut sebab semua Orang sudah sibuk memikirkan sakit perut mereka masing-masing.
"iya juga..! kenapa aku bisa baik-baik saja?" gumam Asoka yang malah kebingungan mengapa Ia baik-baik saja setelah memakan kue Ulang tahunnya sendiri.
plak...!
Asoka seketika tersungkur ditampar oleh seorang Wanita bangsawan lalu Wanita itu memaki Asoka jika cemburu pada Yang Mulia Kedua (Sean) silahkan saja tapi mengapa harus bermain sepicik dan segila itu melukai Orang lain yang tidak bersalah.
__ADS_1
Asoka bangkit lalu menampar Wanita itu balik sehingga masalah semakin kacau, semua bangsawan memukuli Asoka didepan Raja Baboly hingga aktifitas mereka terhenti mendengar teriakan Baboly.
"apa--apaan ini?? kalian tidak tau siapa aku?? aku Putri Asokaaa...!!" jerit Asoka yang rambutnya sudah berantakan dengan wajah memar dipukuli.
kedua Orangtua Asoka juga memohon maaf pada mereka semua tapi tidak ada yang mau menerima semua malah meminta Baboly menghukum Asoka dengan setimpal.
"huhh...! dasar Negara ini sangat menjengkelkan, bahkan menghukum penjahat pun banyak sekali aturannya." batin Ana geleng-geleng kepala.
bersadarkan keputusan bersama Asoka dicoret dari daftar tamu Bangsawan, Asoka tidak akan diundang dimanapun ada acara bangsawan bahkan Asoka juga dilarang memasuki Istana.
Ana menjatuhkan rahangnya, "hah?? hukuman apaan itu?" batin Ana tidak terima hukuman yang diberikan pada Asoka sangat tidak setimpal menurut Ana.
dan anehnya lagi Para Bangsawan tidak ada yang protes bahkan mengatai Raja sangat adil sementara Putri Asoka menjerit tidak terima.
"usir dia dari sini..!" tegas Sean mengambil alih pekerjaan Baboly.
"baik Yang mulia." jawab para bodyguard ala modern menjalankan tugas Sean.
Asoka diseret keluar, "tidak...! lepaskan aku...! Ibu..? Ayah??? aku tidak terima hukuman ini..! Ayaaahh..? yang muliaaa??" teriak Asoka.
Ana melihat semua Tamu yang tadi semangat sekali meminta Asoka dihukum malah bubar seolah hukuman itu sangat cocok untuk Asoka.
.
Sean berdiri tepat didepan Ana yang tengah bengong,
"kenapa?" tanya Sean seketika mengusap-ngusap bagian bawah dagu Ana dengan jari tangannya terlihat sangat manis dipandang mata siapapun yang melihatnya.
"apa itu hukuman setimpal?" tanya Ana.
"apa kamu kecewa?" tanya Sean.
Ana mendengus, "tidak setimpal sama sekali." ketus Ana lalu bangkit dan melangkah pergi dari sana diikuti Sophia serta 10 Pelayan wanita yang selalu mengikuti Ana.
Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "lalu hukuman apa yang pantas untuknya? jangan bilang diracun kan?" gumam-gumam Sean tanpa sadar namun beberapa saat kemudian matanya melebar menyadari sesuatu.
"jangan-jangan dia ingin?" gumam Sean seakan memikirkan sesuatu yang buruk.
.
.
.
__ADS_1