
.
.
.
Alena menginjakkan kaki di Pulau Pribadi Saga yang di jaga 10 Orang saja, Alena mengedarkan pandangannya dan melihat semua Pekerja Saga itu berlari ke arah mereka serta bersusun rapi.
"Tuan Muda, Nona Muda." sapa 10 Pekerja yang menjaga Mansion di Pulau itu.
Saga merangkul pinggang Alena yang sibuk membenahi rambutnya sendiri di terpa angin Helikopter.
Saga membawa Alena berkeliling Mansion ternyata tempatnya juga sangat luas, Alena mengangguk-ngangguk.
"aku ingin membawamu kesuatu tempat sayang." pinta Saga serius.
Alena menaikkan sebelah alisnya, "memangnya penting?"
Saga mengatakan bahwa Ia sudah lama menyimpan sesuatu dan menjadi alasan utama Ia membangun Mansion di tempat itu, Saga punya alasan yang sangat istimewa sehingga Ia tidak mau menjual Pulau itu walau awal merintis Usaha Ia cukup kesulitan dana.
Alena penasaran apa yang Saga simpan sampai tidak mau menjual Pulau itu padahal lagi butuh-butuhnya Uang, "ya udah..! aku mau lihat juga."
Saga tersenyum lebar lalu membawa Alena dengan motor ke sebuah Gua yang di jaga oleh Saga selama bertahun-tahun.
"Gua?" gumam Alena.
"iya sayang..! ayo cepat.!" ajak Saga menggenggam tangan Alena memasuki Gua itu.
Alena mengedarkan pandangannya melihat Gua itu sangat bersih.
"aku tidak bisa membawa banyak Orang ke Pulau ini sayang..! mereka tadi itu pekerja yang paling aku percaya." kata Saga.
Alena diam mendengarkan hingga tiba disudut Gua, Alena kebingungan karna tempat itu buntu.
"sebentar sayang." pinta Saga.
Saga memutar sebuah batu di sudut Gua dan Alena terperangah Pintu Gua itu terbuka lalu Saga menarik tangan Alena membawa sang Istri masuk.
"Hah?" Alena membeku ditempat melihat banyaknya tambang emas dan batu berlian di dalam Gua itu.
"awalnya aku berniat menjualnya ketika melamarmu jika aku gagal dalam merintis Usaha tapi setelah melihatmu membuka Usaha Tas berlian, aku semakin tidak ingin menjual Pulau ini." kata Saga serius.
Alena berkedip-kedip melihat itu, "ja--jadi ini semua milikmu Saga? tambang berlian kenapa bisa ada di sini? bukankah ada di Amerika?"
"tempat ini sangat aku jaga kerahasiaannya sayang." jawab Saga.
__ADS_1
Alena mendekati bebatuan didalam Gua itu, Alena merasa Ia akan sangat kaya jika semua itu bisa diolah menjadi pernak-pernik tas dan sepatu heels Perusahaannya dan Alena sangat tau kualitas Berlian dan emas.
"gila...! aku tidak pernah mengira akan melihat pertambangan Emas dan berlian secara langsung." gumam Alena merasa takjub.
Alena memegang sebongkah batu yang bersinar, "batu berlian ini sangat berat." gumam Alena tersenyum lebar dengan mata berbinar membolak-balik batu itu.
"semua ini untukmu." kata Saga membuat Alena memutar kepalanya ke arah Saga.
"Apa maksudmu Saga? ini semua untukku? kamu tidak rugi?" tanya Alena tidak percaya dapat tambang emas dan berlian secara cuma-cuma.
Saga terkekeh, "aku sangat percaya padamu sayang..?!"
Alena berlari ke arah Saga lalu memeluk Saga dengan erat sambil melompat-lompat dipelukan Saga.
"Ahahaha..? terimakasih Saga..?" ucap Alena dengan riang.
"aku tidak perlu membeli batu berlian dari Luar Negeri lagi, aku sudah punya pertambangannya." kata Alena dengan gembira.
Saga tersenyum lebar lalu membalas pelukan Alena memeluk Istrinya itu dengan gemas.
"maafkan aku terlalu lama memberitaumu hal ini." ucap Saga.
Alena melepaskan pelukannya dari Saga lalu menangkup pipi Saga menciumi kening, kedua pipi dan bibir Saga membuat Saga terpaku ditempat.
"Hahaha!" Alena terlalu bahagia sampai tidak sadar dengan apa yang Ia lakukan.
.
Saga terkekeh melihat Alena tengah tersenyum manis memegang lengan Saga yang melingkar dipinggang Alena.
"kamu tidak boleh tarik ucapanmu ya?" pinta Alena penuh ancaman.
Saga tergelak, "aku sudah memindahkan surat kepemilikan Pulau ini menjadi atas namamu sayang, syaratnya hanya 1 jangan pernah tinggalkan aku."
Alena tertawa lebar lalu kembali memeluk Saga, "janji...!" jawab Alena menyetujui syarat Saga.
Alena merasa bermimpi punya tambang emas dan berlian sendiri, Alena bisa membantu Xabara yang penjual perhiasan elit begitu juga untuk Usaha Alena sendiri.
.
di Kamar Saga,
Saga beberapa kali harus tertawa dan sangat senang melihat Alena begitu ceria setelah diberikan surat tanda kepemilikan Pulau itu ke Alena.
"yu huu...!" Alena berputar-putar sedang menari Balet membayangkan kekayaannya kelak setelah memiliki pertambangan sendiri.
__ADS_1
"Saga aku heran..? kamu punya Pertambangan Emas dan Berlian kenapa lebih Pertambangan batu-bara? aku rasa bebatuan dalam Gua itu tidak akan habis jika dikorek selama berpuluh-puluh tahun." tanya Alena menghentikan gerakan tariannya seketika memandang Saga penuh tanya.
Saga tersenyum, "aku tidak ingin dikatakan memanfaatkan kekayaanmu Alena tapi aku ingin memberikan kekayaanku padamu."
Alena tersenyum manis lalu melangkah ke arah Saga serta begitu berani melingkarkan tangannya di leher Saga walau Ia gugup tapi apa yang Saga berikan hari ini membuat Alena semakin yakin dengan pemikirannya itu.
"kita menari?" tanya Alena.
Saga menggeleng, "sek*." jawab Saga tersenyum lebar.
Alena begitu malu pun mengangguk pelan, tentu Saga terkejut padahal Ia hanya bercanda tapi di setujui oleh Alena.
"sama seperti kamu mempercayaiku maka aku juga mempercayaimu Saga, anggap saja aku memberi stempel berupa bukti kalau aku tidak akan meninggalkanmu..!" kata Alena membuat Saga bersorak melihat ke atas lalu menggendong Alena dan berlari ke Ranjang.
"Sa--Saga?? jangan lari..! ak--aku takut." pekik Alena melingkarkan erat lengannya dileher Saga.
"maaf sayang..! aku terlalu senang jadi lupa diri." ucap Saga yang tidak lagi berlari.
Alena tidak akan rugi jika ditinggalkan oleh Saga karna apa yang Saga lakukan hari ini membuktikan betapa besarnya Cinta Saga selama ini pada Alena. Usahanya di rintis dari nol, disaat semua Pria menempel padanya numpang kekayaan tapi hanya Saga yang menyimpan kekayaan dan diberikan ke Alena tanpa minta imbalan hanya syarat jangan meninggalkan Saga.
Saga melakukan hubungan itu pada Alena dengan sangat hati-hati juga penuh Cinta, Alena terbuai dengan sentuhan Saga.
jiwa dan raga mereka berdua telah bersatu di malam itu juga.
.
pagi-pagi,
Saga tersenyum lebar melihat Alena tertidur pulas di hadapannya, rasanya seperti bermimpi padahal Ia telah memiliki Alena dan yang lebih membahagiakan lagi Saga adalah Pria pertama yang menyentuh Alena.
"sayang? bangun dong..! kita main lagi." rengek Saga.
Alena mendengus lalu putar badan, "sudah berapa kali Saga? aku capek juga." racau Alena.
Saga tersenyum lebar, "aku saja sayang..? yahh..! kamu enak banget sih."
"apanya yang enak sih? memangnya aku makanan?" gerutu Alena tapi dengan mata terpejam.
Saga terus membujuk sampai Alena kesal terpaksa menuruti Saga, tapi kekesalan Alena malah berakhir dengan des*h*n yang juga menikmati hal itu padahal tadi intinya merasa perih.
pantas saja Jimmy menggoda Alena akan ketagihan jika sudah melakukan hubungan itu walau sekali dengan Saga, ternyata Jimmy tidak berbohong dan Alena diam-diam memang menyukainya.
.
.
__ADS_1
.