
.
.
.
Sean dan Ana pergi ke Istana nya Frans ternyata benar sekali tebakan Sean.
Para Pelayan di Istana dijadikan wanita pelampiasan hasrat di setiap sudut Ruangan, Ana sampai berdenyut nyeri akan kekejaman manusia di Negara Itu karna dipimpin oleh Frans yang gila wanita maka para bawahannya pun ketularan.
Kedua Orangtua Frans dihabisi oleh Para Pejabat itu, dan semua benar terjadi karna semua memang seperti yang ditebak semua Orang bahwa Negara itu benar-benar runtuh tidak tersisa.
"kenapa sayang?" bisik Sean menangkup pipi Ana.
"aku tidak suka penampakan ini." jawab Ana dengan wajah datar bukannya merona.
Para Pengawal pun diberi perintah menghabisi Pria mana saja yang ada di Istana ini sebab menurut Ana Lekai Negara di sini hanya sampah saja.
"aakhh...!"
jlebb..!
"siapa kalian??"
Ana dan Sean menyamar jadi tidak ada yang tau wajah mereka, jika menggunakan wajah asli jelas memancing amarah pejabat Negara itu nanti karna terlalu ikut campur.
seharusnya Ana dan Sean tidak perlu ikut campur masalah Istana yang sudah ditebak akan runtuh.
"serang mereka...!" teriak salah satu Pengawal Istana Frans yang ternyata juga bagian dari salah satu pria sedang menikmati tubuh Pelayan Istana.
perkelahian pun terjadi, Ana memerintahkan para Pengawal menggunakan senjata tajam yang sudah diam-diam dilumuri racun olehnya tapi Ana tidak memberitau mereka akan hal itu, Para Pengawal Sean sampai terkejut ketika berhasil menggores sedikit ke tubuh musuh sudah tumbang dan mengalami kejang-kejang entah apa yang terjadi tapi mereka semakin bersemangat melawan manusia serakah di tempat itu.
"kalian manusia biad*b tidak pantas diberi umur panjang..!" teriak Ana menggema.
Ana menyerang siapa saja Orang yang berani melawannya, penyergapan besar-besaran itu terjadi begitu cepat dan dramatis hingga tuntas dan mereka berhasil menjajah Negara itu sebagai Raja-Ratu terkuat disana.
__ADS_1
Ana menyuruh Para Pelayan Wanita berpakaian lalu berkumpul di lapangan, ternyata Sean maupun Ana telah menghabisi kaum lelaki di Negara itu yang semena-mena terhadap wanita padahal ada yang sudah punya istri malah melakukan hubungan se*s pada wanita lain dan Istri mereka dibiarkan menjadi santapan Pria lain, sungguh miris sekali hidup wanita di Negara itu.
"tempat ini telah berhasil kami takhlukkan..! aku sebagai Penguasa maka membebaskan kalian melakukan apa saja yang kalian inginkan, jadilah wanita kuat dan bangun kemuliaan kalian sendiri di Negara ini." kata Ana menggema.
Para Wanita yang berkumpul penasaran Ana itu Penguasa dari mana dan Sean menjawabnya bahwa mereka adalah Raja-Ratu yang menjadi tempat mereka mengadu kesengsaraan para wanita ditempat itu.
Ana kaget melihat kumpulan wanita itu terduduk dan menangis tersedu-sedu karna terharu akan kebaikan hati Ana yang mau turun tangan membela mereka, dengan penuh tekat mereka semua ingin pindah ke Negara yang dipimpin oleh Ana dan Sean meninggalkan tempat terkutuk itu.
Ana paham keinginan mereka yang pasti memiliki rasa trauma di tempat itu jadi tidak menolak permintaan mereka.
"kenapa kamu baik sekali sayang?" tanya Sean ke Ana.
Ana menghela nafas, "aku ini perempuan Sean..! darahku terasa mendidih bangsaku dianggap rendah ditempat ini."
Sean tersenyum, "mereka sangat memujamu Ana, bisa dipastikan kamu akan jauh lebih dicintai dariku padahal aku Raja yang sangat tampan seharusnya disukai banyak wanita."
Ana berdecak, "terserahmu saja..? tebar saja pesonamu biar banyak lelaki yang menyukaimu." dengus Ana.
Sean tertawa karna Ana mengejeknya yang bisa-bisanya cemburu Ana dikagumi banyak wanita yang seharusnya bangsa wanita itu mengagumi Sean sebagai Raja mereka semua.
.
Sean berbicara, "mereka ingin tinggal di Negara kita dan dengan ini aku katakan bahwa Negara tetangga kita berhasil dijatuhkan."
"horeeee....!!"
Ana tersenyum melihat kegembiraan mereka, terkadang masalah itu harus dihadapi langsung bukan lari dan sudah dipastikan masalah terasa berat, jadi bagaimanapun sulitnya masalah harus dihadapi dengan berani dan maju tanpa rasa takut sehingga cepat teratasi.
.
.
Ana memberi kehidupan yang layak untuk para Wanita yang bersikeras ingin tinggal di wilayah Kekuasaan Ana dan Sean itu, Para Rakyat Ana juga menyambut baik para wanita yang mengagumi Ratu mereka sehingga Ana tidak kesulitan memberi pekerjaan bagi mereka.
kini Ana berada di Istana dan duduk disinggasana bersama Sean, Ana memijit pelipisnya melihat 20 Pelayan wanita dari Negara Frans ingin menjadi Pelayan setianya sementara Ana sudah banyak Pelayan yang juga mencintainya melebihi nyawa mereka sendiri.
__ADS_1
"sekarang kalian kembalilah...! aku akan kabari kalian kedepannya." pinta Ana.
Para Pelayan Wanita itu pun dengan patuh menuruti perintah Ana, sejak mereka bebas dari status jal*ng di Negara mereka sendiri melayani lelaki padahal mereka tidak ingin menjadi jal*ng tapi Ana lah yang membebaskan mereka dari belenggu kejam itu sehingga mereka semua ingin menjadi pelayan Ana yang merupakan sosok pahlawan.
sosok Ana menjadi pemimpin yang bijaksana membuat Negara kelahirannya semakin bangga bahkan semakin mengagumi Keluarga Maldev yang sejak dulu Orang dermawan juga baik hati, siapapun tau bagaimana hebatnya Keluarga Ana dalam memimpin para bawahannya.
"kenapa sayang?" tanya Sean memegang kedua tangan Ana yang tadi memijit pelipis Ana sendiri.
Ana menghela nafas, "kenapa mereka menyulitkanku Sean? aku membebaskan mereka tapi kenapa mereka malah minta diikat?" gerutu Ana.
Sean mengulum senyum lalu memberitau kalau Orang yang biasa hidup menderita dan ditolong oleh pahlawan jelas mereka ingin hidup bersama pahlawan mereka.
Ana mendengus, "aku tidak tau harus memberi mereka pekerjaan apa."
"apa kamu tidak membuka Restaurant saja sayang? masakanmu sangat enak." saran Sean membuat Ana tersentak dan memandang ke arah Sean yang tersenyum.
Sean memberikan sebuah bangunan kosong di area yang sangat strategis juga tidak jauh dari Istana pada Ana untuk membuka usaha kuliner khas Negara Indonesia yang pasti akan diminati banyak Orang di Negaranya.
malam-malam,
"Terimakasih Sean..!" ucap Ana tiba-tiba.
Sean yang tengah memeluk Ana dari belakang pun terkejut, "buat apa?"
"kamu sudah membantuku mengatasi masalahku." jawab Ana dengan jujur.
Sean mengulum senyum, "masalahmu adalah masalahku sayang..! aku juga berterimakasih padamu yang mau menolongku mengatasi masalah mereka..! kita sudah bersatu sayang ucapan Terimakasih tidak penting bagi kita karna saling membantu adalah tugas kita berdua."
Ana tersenyum mendengarnya lalu memejamkan matanya, entah mengapa Ia mulai menikmati pelukan Sean.
Ana bukan tipe perempuan murah*n tapi sebelum menerima lamaran Sean jujur saja Ana sudah menyukai Sean yang mirip sekali dengan Rovert ketika jatuh cinta pada Xabara, jadi tidak heran lagi kalau Ana sekarang jatuh cinta pada Sean namun Ana tidak tau kapan Perasaan itu tumbuh di hatinya.
.
.
__ADS_1
.