
.
.
.
Ana mengangguk saja karna sebenarnya Ia juga malas dipandang lelaki tapi karna undangan tentu harus dipenuhi sebab bisa menyebabkan rumor tidak baik nanti.
"selamat datang di Acara Ulang tahunku yang ke 30 tahun para hadirin yang terhormat." kata seorang Lelaki tampan yang disebut-sebut seorang Pangeran Pemecah rekor memacari banyak Tuan Putri tetangga.
Frans betto nama Pria itu.
Ana mendengarkan sambil memasukkan makanan ke mulutnya dengan anggun, sementara Sean duduk disamping Ana dengan gaya coolnya dan tangannya meletakkan tangannya dikursi Ana seperti merangkul Ana padahal tidak.
"apa dia satu-satunya Pangeran Negara ini?" tanya Ana menoleh ke Sean.
Sean mengangguk, "si brengs*k ini satu-satunya keturunan Kerajaan ini." jawab Sean.
Ana berdecak, "bisa rusak Negara ini jika dia pemimpinnya."
"hmm." jawab Sean tanpa mengelak karna pemikiran Ana sama dengan apa yang ada dalam benaknya.
"bagaimana dengan Keluargaku?" tanya Ana tiba-tiba.
Sean terkekeh, "mereka asik bertamasya sayang meninggalkan kita berdua di Istana."
Ana mengangguk, "tidak apa..!" jawab Ana tidak marah di tinggal karna tau Keluarganya suka jalan-jalan.
mereka begitu asik bercerita sampai tidak sadar Frans sudah memperhatikan Ana yang paling bersinar malam ini apalagi warna rambutnya yang Silver semakin bersinar terkena sorot lampu, Ana berbicara dengan Sean begitu serius sesekali Ana tersenyum kecil.
"cantiknya." begitulah pemikiran Frans ketika melihat Ana yang sibuk dengan kegiatannya bukan melihatnya yang sedang berbicara.
"sayang? apa kamu tidak mau makan nasi?" tanya Sean.
Ana menggeleng, "makan nasi dimalam hari bisa membuat gemuk sementara ukuran gaun sudah pas ditubuhku kalau nambah 2 kilo saja dadaku bisa sesak bernapas."
Sean terkekeh, "berolahraga malam denganku bagaimana? diatas ranjang?"
__ADS_1
Ana tersenyum kecil lalu mendorong kening Sean dengan jari telunjuknya yang memainkan kedua alis Sean menggoda Ana, "apa tidak ada hal yang menguntungkanku? aku malah rugi berolahraga denganmu." ejek Ana pura-pura tidak terpengaruh dengan godaan Sean.
Sean tersenyum tampan, "aku bisa jamin kamu tidak akan rugi, kebetulan kamu penasaran aku Impoten apa tidak? iyakan? kamu sudah melihat milikku berdiri gagah kan? kita bisa coba setelah ini, mau?"
Ana menggeleng pelan kepalanya dengan kata-kata Sean padahal jantungnya berdebar kencang membayangkan adegan dewasa itu, umur Ana sudah 27 tahun tentu ia sudah disebut gadis yang sangat dewasa namun tidak pernah berhubungan seperti itu pada siapapun.
"sayang?" Sean mengelus pipi Ana lalu tangannya memegang tangan Ana dan mengecup mesra punggung tangan Ana.
Ana diam saja sambil melihat sekeliling dan baru Ia sadari semua mata menatap mereka dengan takjub, entah apa yang ada dalam benak mereka yang jelas hanya kekaguman di sorot mata mereka semua hingga matanya bersitatap dengan Frans yang tertegun ditatap oleh Ana, jantung Frans berdentum keras.
"jangan memandang siapapun." Sean memegang dagu lancip Ana dan menghadap padanya sehingga bola mata indah Ana bertatapan dengan Sean.
"Sean? semua Orang tengah menatap kita, ini tidak sopan namanya." bisik Ana.
Sean mengulum senyum, "disini tidak ada kata sopan pagi pasangan suami-istri sayang, seluruh dunia sudah tau akan pernikahan kita bahkan jika kita bercint* disini mereka akan menonton, disini dominan budaya barat sayang bukan budaya timur."
Ana mengangguk membenarkan, Ia biasa tinggal di Indonesia yang kental dengan budaya timur walau sebagian anak remaja menyukai budaya barat yang sangat bebas.
Ana sedang berpikir dengan kehidupannya dimasa Kuliah memang kebanyakan mahasiswa/i saat itu suka budaya barat yaitu pergi ke Bar dan berpesta ria, Ana maupun Alena sangat dijaga oleh An dari pergaulan bebas itu maka nya mereka terjaga dari hal-hal negatif yang merugikan perempuan itu kalau lelaki jelas tidak akan rugi. walau lelaki tidak Rugi tapi An tidak pernah suka melakukan hal di luar batas itu.
cup...!!
"hmm? panggil namaku lagi Ana." pinta Sean dengan lembut mengusap pipi Ana.
Ana perlahan beringsut karna merasa situasinya itu tidak menguntungkannya tapi Sean tidak memberi celah Ana untuk kabur darinya.
"sayang? mau coba tidak?" tanya Sean mengelus-ngelus dagu Ana.
Ana tersenyum kikuk lalu mencoba untuk berdiri tapi kedua bahunya sudah dipegang oleh Sean, Ana dibuat tercengang dengan tingkah Sean yang sekarang bukan kekanakan.
"yang mulia?" sapa Frans yang ternyata sudah berada didekat Sean.
Sean dan Ana yang bertatapan dekat pun memutar pandangan ke arah Frans, Sean merubah ekspresinya jadi dingin hingga Ana merasakan hawa dingin menyelimutinya padahal Negara ini memakai penghangat ruangan (musim dingin) tapi mengapa Ana malah merasa dingin karna Sean itu.
"sedang apa anda bersusah payah turun dari sana mendatangi kami?" pertanyaan Sean yang langsung to the Point.
Ana memicingkan matanya ketika Frans memandangnya walau sekilas tapi Ia langsung tau pemikiran Pria seperti Frans sebab banyak sekali Ia temui di Negaranya, ternyata disini banyak sampah masyarakat begitulah pemikiran Ana.
__ADS_1
"kenapa tidak menyapa saya yang mulia?" tanya Frans basa-basi.
Sean menyunggingkan senyum tipisnya, "jangan bilang anda tertarik dengan Ratu-Ku." sindir Sean bukannya menjawab pertanyaan Frans.
"Ratu-Mu cantik sekali yang mulia apalagi dengan rambut silvernya ini." jawab Frans menoleh ke Ana.
Sean menarik Ana ke arahnya lalu menyembunyikannya dibelakang Sean, Ana diam saja dibelakang Sean dan Ia malah melihat sekeliling ternyata semua Orang sudah sibuk berdansa.
Ana memutar kedua bola matanya dengan malas, "benar-benar Negara Kuno, katanya budaya barat tapi kenapa ada bagian yang kuno seperti ini?" batin Ana dengan malas.
menurut Ana lebih menyenangkan di Indonesia yang walaupun budaya timur seperti itu saat berdansa tidak kuno seperti Negara ini yang katanya penganut budaya barat jelas identik dengan dunia modern bukan kuno.
Frans dan Sean berbicara penuh sindiran jika bukan karna situasi mungkin Sean sudah melayangkan tinjunya pada Frans yang sejak dahulu memang dibiarkan semena-mena oleh Kedua Orangtuanya.
"sayang? lebih baik kita pulang!" ajak Sean menarik tangan Ana tapi ternyata Ana tidak ada dibelakangnya.
"sayang?" Sean melihat sekeliling lalu Frans pergi juga dari Sean mencari Ana untuk diajak bersalaman.
Frans sangat berpengalaman memikat perempuan jadi Ia begitu percaya diri bisa memikat Ana yang tidak diketahui Frans sangatlah mahal sebab pria sekelas Sean saja cukup kewalahan mendapatkan hati Ana.
"Ana?" panggil Sean celingukan khawatir.
Ana ternyata sedang berada di sudut Ruangan tengah minum jus buah bukannya sejenis minuman yang memabukkan.
"ckk...! mencari minuman seperti ini aja sulitnya minta ampun." gerutu Ana sambil meneguk minumannya ternyata Ana berkeliling hanya untuk mencari minuman yang pas dilidahnya bukan minuman beralkohol.
anggap saja Ana sudah melekat dalam dirinya budaya timur yang sangat menjaga diri dari perihal negatif.
alkohol adalah musuh bagi perempuan karna bisa membuat tidak sadar dan berakhir mengenaskan (maksud mengenaskan bisa ditiduri lelaki yang tidak dikenal), Ana terbiasa dikekang oleh An dan Rovert jadi tidak suka minuman seperti itu.
Ana pernah mencobanya bersama Alena di Kamar saja dan mengunci diri mereka berdua disana tanpa sepengetahuan An tapi Alena merekam aktifitas mereka ketika mabuk yang ternyata dikatakan An benar adanya, betapa malunya Ana dan Alena melihat rekaman sendiri ketika sedang mabuk sangat-sangat tidak sadar bahkan mereka tidak ingat.
sejak saat itu baik Ana maupun Alena tidak pernah berani minum alkohol lagi karna sudah merasakannya langsung.
.
.
__ADS_1
.