Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
perasaan tertipu


__ADS_3

.


.


.


raut wajah Ana sangat berbeda saat ini hingga Rebby penasaran apakah Ia salah bicara, Ana tidak mengeluarkan sepatah katapun langsung pergi saja dari sana di ikuti oleh para Pelayan.


Rebby tidak tau letak kesalahannya berusaha mengejar Ana tapi terhalang karna banyaknya Pelayan yang mengikuti Ana, Rebby berteriak memerintahkan mereka untuk minggir.


"dasar tukang merintah." gumam Ana lalu berlari dari sana sehingga para pelayan juga ikut berlari.


Rebby tidak pernah berlari didepan siapapun hanya mematung ditempat melihat pemandangan tidak biasa itu, bisa-bisanya Ana mengacuhkannya padahal mengerti bahasanya.


Ana duduk di Taman Belakang Istana itu sementara para Pelayan sibuk menyenangkan hati Ana dengan cara memijit tubuh Ana.


"apa aku akan terkena masalah jika menjadikan dia boneka uji cobaku?" batin Ana penasaran.


saat Rebby berbicara seperti itu hanya ada 1 pemikiran Ana yaitu menjadikan Rebby Boneka Uji Cobanya, tapi Rebby adalah anggota Kerajaan sehingga Ana sedang berpikir bagaimana cara menculik Rebby jika Ia belum hafal letak sudut Istana itu.


"ckk...! kalau Sean tidak bisa menghancurkan Abangnya dengan cara nya maka akulah yang akan menjadikannya boneka Uji Coba Terakhirku." gumam-gumam Ana dengan bahasa Negaranya sendiri.


Para Pelayan tidak tau apa yang Ana ucapkan hanya diam sambil tersenyum, mereka senang di perlakukan dengan baik oleh Ana sebab mereka mengira Ana sedang kesal saja tanpa mereka ketahui bahwa ucapan Ana itu bisa mengundang petaka besar bagi Negara itu.


Ana mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya sambil berpikir, "apa aku racuni saja ya?" batin Ana yang kebetulan banyak membawa racun.


Ana teringat kalau dalam Istana itu identik dengan pembunuh*n lewat racun yang menggerogoti tubuh si target dengan cara perlahan sehingga kematiannya tidak bisa di deteksi.


Ana mengusap-ngusap kedua pipinya dengan raut wajah heran, "kenapa Sean tidak langsung bun*h saja sih Abangnya? apa yang sedang dia cari? memangnya ada bukti?" gumam Ana.


Ana menoleh ke Sophia yang tampak penasaran dengan apa yang Ana gumam-gumamkan, Ana hanya tersenyum dan meminta mereka untuk tidak peduli karna Ana adalah Gadis Gila, Sophia tidak suka kata-kata Ana malah mengatakan Ana sangatlah baik sehingga sangat pantas Sean begitu mencintai Ana.


Ana menyemburkan tawanya seketika, "Cinta? Tuan Kalian itu sudah Gila sejak awal pertemuan kami, mana mungkin ada perasaan Cinta dipertemuan pertama tapi....??" batin Ana.


Sophia mengerutkan keningnya melihat Ana yang tadi tertawa kini diam seakan memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"ada apa Nona?" tanya Sophia.


Ana menggeleng kepalanya, "apa kalian menganggap waras Pria yang sejak awal pertemuan memintamu untuk menikahinya? " tanya Ana serius ke Sophia.


Sophia terkejut lalu tersenyum lebar menjelaskan pemikirannya begitu juga pemikiran Para Pelayan laih hingga Ana terdiam beberapa saat.


"Papa jatuh Cinta pada Mommy juga karna pertemuan pertama dan gambarannya sama, Mommy menyelamatkan Papa sekarang aku juga menyelamatkannya, apa dia jatuh Cinta padaku sama seperti Papa jatuh Cinta pada Mommy?" batin Ana yang akhirnya mendapatkan teka-teki tentang Sean yang selama ini selalu menggodanya.


jujur saja Ana menganggap ucapan Sean hanya gurauan semata (bercanda), itu sebabnya Ana tidak terbawa perasaan sama sekali.


tiba-tiba Ana menggeleng kepalanya menghilangkan pemikiran tentang Sean, Ia harus lebih fokus meracuni Rebby karna Ana tidak suka dengan manusia yang memandang rendah manusia lain hanya karna tidak punya kedudukan.


.


di Ruangan lain,


Sean mendatangi Ruangan baca Baboly.


"Apa benar Ayah kalau Yang Mulia Pangeran Pertama bukan anak kandungmu?" tanya Sean dengan wajah serius tiba-tiba tanpa memberi penghormatan apapun.


Baboly menghela nafas sebab Ia tau kalau cepat atau lambat Sean juga akan tau kebenarannya lalu Ia pun dengan jujur mengatakan kalau Rebby adalah anak dari Raja-Ratu terdahulu yang meninggal sementara saat itu Rebby masih kecil sekitar umur 2 tahun.


"kami hidup ditempat terpencil lalu dipaksa Para Menteri untuk datang ke Istana yang tahta sedang kosong, saat itu kami sudah menggendong Rebby karna 2 hari sebelum kecelakaan itu Kedua Orangtua Rebby menitipkan dia pada kami, dialah kamu hadir di dunia ini entah dia adalah hal baik atau hal buruk bagimu." jelas Baboly.


Baboly juga berkata selama ini Raja-Ratu terdahulu menyembunyikan Rebby sebab didalam Istana ada yang menginginkan nyawa Rebby.


Sean menyunggingkan senyum meledeknya, "dia yang mencoba membunuhku." kata Sean dengan serius.


Baboly tersentak dari duduknya, "apa maksudmu?"


"aku akan cari bukti yang lebih akurat lagi." kata Sean lalu pergi dari Ruangan Baboly.


Sean sepanjang jalan hanya mengepalkan tangannya, Ia juga syok saat tau dari Orang Kepercayaannya yang mendapat bukti kalau Rebby bukan abang kandung Sean, pantas sajalah Rebby tidak punya hati hingga begitu berani mencoba menghabisinya.


"apa selama ini dia tau?" batin Sean yang penasaran tentang pemikiran Rebby tapi tidak mau juga bertanya langsung.

__ADS_1


Sean terus melangkah hingga tiba-tiba Ia tersentak kaget saat ada seseorang yang memukul kepala belakangnya, Sean berbalik ternyata pelakunya adalah Ana yang tengah berkacak pinggang.


"kenapa melamun? apa kau sengaja mengabaikanku?" tanya Ana dengan datar.


Sean tersenyum penuh makna lalu dengan cepat Ia memeluk Ana yang terbelalak dengan apa yang Sean lakukan itu didepan para pelayan.


"lepasin...?" Ana meminta dengan wajah serius sebelum Ana melakukan tendangan andalannya yang mempengaruhi masa depan keturunan Sean.


Sean menggeleng, "aku butuh pelukanmu Ana..!" bisik Sean dengan nada bergetar.


Ana menautkan kedua alisnya lalu melepaskan pelukannya dari Sean yang menunduk tidak memandang matanya, Ana langsung paham kalau Sean memang sedang memikirkan masalah serius sehingga tidak melihatnya tadi.


"berapa lama?" tanya Ana.


Sean menggeleng-geleng seperti seorang anak remaja yang tidak mau mengadu pada Ibunya tentang masalah yang dialaminya.


Ana melihat sekeliling ternyata para Pelayan sudah putar badan membelakangi mereka, Ana heran mengapa mereka balik badan hanya karna sebuah pelukan? Ana tidak tau peraturan Istana ini yang menganggap pelukan itu sebuah hak milik, Ana tinggal di Indonesia dan menurutnya Pelukan itu hal biasa.


"lebih baik kita bicara di Kamar saja." pinta Ana menarik lengan Sean melangkah pergi menuju Kamar.


Ana menutup pintu Kamar dibantu oleh Sophia yang menunggu didepan pintu.


"ada apa?" tanya Ana serius ke Sean.


Sean mengatakan kebenarannya sehingga raut wajah Ana berubah.


"lalu apa yang membuatmu sedih? bukankah dia sudah membuktikan bahwa dia bukan abang kandungmu?" tanya Ana dengan datar.


"ak--aku memang lega tapi ada sesuatu yang menghimpit hatiku, aku tidak tau perasaan apa itu." jawab Sean dengan kepala tertunduk.


Ana menghela nafas panjang, "Perasaan tertipu itu membuat hatimu terhimpit dengan harga dirimu yang merasa kamu pintar tapi tidak tau kebenaran itu, menurutku wajar saja hal itu kamu rasakan."


"perasaan tertipu?" gumam Sean yang memang benar tidak terima dengan kebenaran itu baru ia ketahui detik ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2