
.
.
.
Sean mengangguk dengan senyuman lalu mengusap pipi Ana, Ana mengigit tangan Sean yang terhibur seketika dengan tingkah Ana itu.
.
"apa??" Sean terkejut mendengar rencana Ana.
"aku hanya tinggal menghabisinya saja kan? lalu apa permasalahanmu?" tanya Ana heran mengapa Sean begitu terkejut.
Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebab selama ini Ia tidak pernah bermain racun karna menurutnya itu bukan tindakan seorang lelaki sejati membuat Ana menatap datar Sean.
"jadi menurutmu aku laki-laki?" tanya Ana.
Sean menggeleng kepalanya, "kamu perempuan, buktinya itu." Sean menunjuk dengan ekor matanya bagian yang menonjol didada Ana.
Ana melebarkan matanya lalu memukul kepala Sean yang nyengir kuda menggaruk-garuk kepalanya yang di pukul Ana, Ana memang sangat bar-bar tapi ajaibnya Sean merasa lupa dengan semua permasalahannya jika bercerita dengan Ana.
Ana adalah gadis yang bijak menurut Sean sehingga karakter itu cocok untuk posisi Ratu di Negara nya itu, tapi berdasarkan fakta Ana yang suka kebebasan jelas menunjukkan kalau Ana tidak suka dikekang oleh berbagai aturan Istana walau diberi kemewahan sekalipun.
"kalau begitu apa yang bisa aku bantu?" tanya Sean.
Ana pun tersenyum lebar seperti anak kecil yang sumringah ditanya Ayahnya ingin dibelikan mainan apa.
Sean tersenyum lalu mendengarkan permintaan Ana tiba-tiba wajah Sean memucat entah apa yang dibicarakan Ana bisa membuat Sean sepucat itu.
"bisa tidak?? heiii??? kenapa?" tanya Ana mengibas-ngibasi tangannya diwajah Sean sampai tersadar.
Sean menggeleng kepalanya, "kenapa harus dijadikan boneka uji coba? bagaimana jika kamu ketahuan?"
"itukan tugasmu melindungiku sesuai permintaan Papaku." jawab Ana santai sambil memainkan kuku-kukunya.
__ADS_1
Sean terdiam beberapa saat sedang berpikir bagaimana cara mengikuti kemauan Ana tapi tidak membahayakan Ana sebab semua Istana memiliki rekaman CCTV tentu sulit bagi siapapun untuk bertindak sesuka hati apalagi tindakan jahat.
"kalau begitu aku akan antar kamu berkeliling Ana..! aku ingin kamu tau letak sudut Istana ini." ajak Sean dan Ana mengangguk pelan.
Sean pun mengelilingi Istana dengan sebuah Mobil unik khusus dalam Istana yang hanya bisa dinaiki oleh 2 Orang saja, Ana meminta Para Pelayannya untuk tidak mengikutinya karna Ia masih punya hati tidak tega membuat Para Pelayan berlari mengikuti Ana yang naik kendaraan keliling Istana.
Sophia dan yang lainnya pun menurut karna ada Sean tentu mereka tidak perlu cemas jika Ana terluka ataupun kesasar.
Sean melajukan kendaraan khas itu dengan kecepatan sedang, Ana mengangguk-ngangguk mendengar penjelasan Sean apalagi setiap CCTV yang tersembunyi maupun yang terlihat pada semua tempat yang mereka lalui.
"ini pabrik CCTV ya? kenapa bisa sebanyak itu?" tanya Ana dengan heran membuat Sean terkekeh sebab Istana memang banyak pengamannya berupa CCTV maupun penjaga.
Ana sampai menggeleng kepalanya hampir 2 jam mereka berkeliling Istana, ternyata tempat itu memang layak disebut Istana karna saking luasnya, pantas saja Sean mengajaknya berkeliling dengan Kendaraan, jika jalan kaki Ana pasti sangat pegal apalagi mengenakan sendal lumayan tinggi karna aturan Istana perempuan mengenakan sendal dengan setinggi 7 cm.
"bagaimana?" tanya Sean ke Ana yang mengangguk.
"aku ingat semuanya." jawab Ana menemukan cara meracuni Rebby karna Ia sudah tau letak sudut Istana itu.
Sean dan Ana masih berkendara hingga bertemu dengan Ratu Etopy yang sedang bersama seorang wanita dengan pakaian yang glamor, Ana mengerutkan keningnya karna ingat wanita itu yang menantang Ana malam acara penyambutan Sean memintanya untuk menari dan bermain musik tapi Ana tidak meladeninya karna sangat mengantuk.
"salam yang mulia kedua." sapa Wanita itu dengan sangat berkelas tapi hanya topeng saja.
"Nona? apa anda mau datang ke acara Ulang tahun saya dengan Yang mulia kedua?" tanya Wanita itu tersenyum anggun ke Ana yang menatap datar wanita itu.
Etopy melirik ekspresi Ana maupun Wanita itu yang sangat berbeda, Ia juga menatap Sean yang tampaknya memang tidak suka wanita berkelas seperti Wanita itu tapi suka dengan perempuan seperti Ana bersikap apa adanya tapi mempunyai kemampuan setara dengan Kesatria.
"apa kamu datang Sean?" tanya Ana tanpa melihat Sean.
"tidak." jawab Sean.
Wanita itu terus membujuk karna mereka juga pernah hampir bertunangan sebelum memiliki Ana, kini Ana langsung paham akar permasalahannya mengapa wanita itu mencoba mempermalukannya ternyata menganggap Ana adalah sebuah batu sandungan yang membuat wanita itu gagal menjadi Tunangan Sean.
"kalau begitu aku akan datang." kata Ana serius.
Sean terhenyak menatap Ana yang tersenyum misterius memandang Wanita itu yang malah menunjukkan raut wajah senangnya Ana mau datang ke acara Ulang Tahunnya, ternyata Wanita itu bisa memasuki Istana serta mengundang Orang-orang penting karna memiliki peran penting didalam Istana.
__ADS_1
.
didepan Kamar,
Sean memegang tangan Ana dan bertanya mengapa Ana mau ikut dengan acara seperti itu.
"aku ingin balas tantangannya malam itu." jawab Ana.
Sean memijit pelipisnya, "lalu masalah yang kamu ingin cepat selesai bagaimana?" tanya Sean.
"bisa nanti tapi dia yang pertama." kata Ana menyeringai lalu melenggang pergi meninggalkan Sean masuk ke Kamarnya.
malam harinya,
Ana didandani sangat cantik oleh Sophia, bahkan Ia sudah nyaman mengenakan Mahkota yang ukurannya lebih besar dari sebelumnya.
Sophia sampai heran mengapa Ana minta didandani sangat cantik hingga Ia berpikir Ana melakukan hal itu demi Sean tanpa tau pemikiran Ana yang malah ingin balas dendam pada wanita yang pernah menantang Ana.
"bagaimana Sophia? apa aku sangat cantik?" tanya Ana berputar didepan Sophia yang tercengang dengan gaya Ana seperti Cinderella di Negeri Dongeng.
saat ini Ana mengenakan gaun Lilac bercampur berlian, permata warna silver yang sangat bersinar begitu pantas dengan kulit Ana putih bersih.
Ana mendengus melihat Sophia hanya melongoh saja lalu Ia melangkah keluar Kamar, saat didepan pintu ternyata sudah ada Sean yang memakai pakaian dinasnya berwarna Lilac senada dengan Ana.
"Ana? kamu memakainya?" tanya Sean memegang bahu Ana yang mengenakan baju Couple mereka sebagai calon Raja-Ratu penerus tahta.
Ana mengangguk, "untuk membalas sesuatu." jawab Ana mengedipkan matanya sebelah lalu menepis tangan Sean dengan cara yang sangat anggun membuat Sean terkekeh mengusap kepala Ana.
Ana melototkan matanya, "rambutku tidak boleh berantakan Sean. !"
Sean sampai menganga sejak kapan Ana memikirkan penampilan.
"aku akan membuat wanita itu malu karna kecantikanku, enak saja Putri Beracun diremehkan." batin Ana sambil membenahi rambutnya yang ia kira berantakan.
.
__ADS_1
.
.