
.
.
.
"bagaimana Tuan? apa sudah siap?" tanya Carrina.
"hmm...! pergilah!" usir An.
Carrina pun bangkit lalu berbalik arah serta meraba-raba ke arah depan seperti Orang buta tapi Carrina lupa kalau ada baskom berisi air disebelahnya sehingga kakinya mengenai baskom itu karna kaget Carrina memekik.
An pun menoleh, "kenapa?"
"Ehh? ti-tidak ada Tuan." cengir Carrina lalu segera berjalan cepat mengabaikan kakinya yang basah.
duugh...
"aduuhh...!?" lagi-lagi lutut Carrina mengenai sesuatu dan Ia langsung terduduk sambil meringis.
An menghela nafas, "kenapa tidak pakai mata? apa salahnya kau membuka matamu ha? aku sudah siap."
Carrina melepas kain yang menutup matanya lalu menghembus lututnya yang memar, kulit Carrina seputih susu jadi kalau ada luka pasti langsung kelihatan.
Carrina kaget melihat kaki An berada didepannya perlahan Ia mendongak ternyata An sudah mengenakan Jubah mandi warna putih.
"luka??" tanya An.
Carrina merasa aneh wajahnya sudah terlihat oleh An tapi tidak ada kecemasan lagi mungkin karna tatapan An yang datar sehingga Carrina tidak tau An menatapnya Intens atau tidak, Carrina tidak lagi canggung memperlihatkan wajahnya pada An.
Carrina menggeleng kepalanya dan langsung berdiri lalu hendak lari, "akkh..!" Carrina malah merasa lututnya berdenyut.
"huuh..!" An menggendong Carrina yang tidak lagi memekik hanya melotot saja.
"Tu-Tuan? turunkan saya, lengan Tuan masih sakit." cicit Carrina.
"lenganku hanya tergores sedikit bukan robek, tubuhmu ini hanya seperti kapas bagiku." kata An dengan tenang sambil mengangkat tubuh Carrina yang takut dijatuhkan spontan saja melingkarkan tangannya dileher An.
Carrina dan An bertatapan mata lalu Carrina menundukkan pandangannya tidak berani bertatapan lama-lama dengan An, tangannya yang melingkar dilengan An sudah basah karna keringat (gugup).
An membawa Carrina keluar dari Kamar Mandinya lalu mendudukkan Carrina di Sofa, "itu kotak Obatnya, bisakan?" tanya An.
Carrina mengangguk, "bisa Tuan, haha..! saya bisa mengobati kaki saya sendiri." jawab Carrina tertawa kikuk.
An tersenyum tipis lalu melangkah pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian meninggalkan Carrina yang mengerjab-ngerjabkan mata.
Carrina mengobati kakinya lalu segera melarikan diri dari Ruangan Pribadi An dan memasuki Ruangan Kerjanya menuju Kamar khusus dalam Ruangan Kerjanya itu.
__ADS_1
"huuh...! kenapa jantungku semakin parah saja berdekatan dengan Tuan?" Carrina mengelus dada nya yang terus saja berdebar.
.
An keluar dari Kamarnya dan tidak melihat Carrina lagi, Ia terkekeh seketika.
"dasar bocah.! dia bisa kabur dariku lalu kenapa tidak kabur ketika dikurung oleh Lancord?" gumam An merasa heran.
An membiarkan saja Carrina yang kabur lalu ada panggilan masuk dari Egy ternyata menanyakan kondisi Carrina yang sudah ditemukan apa belum, "sudah ditemukan."
"syukurlah..? apa dia menangis Tuan?" tanya Egy.
"kau memang sangat tau tentang wanita ya?" sindir An.
"sedikit tau tapi tidak banyak juga Tuan." jawab Egy tersenyum lebar.
An mematikan panggilannya secara sepihak, mereka tadi dikepung musuh tapi An maupun Egy tidak terlihat takut sama sekali sebab bagi seorang Mafia diburu oleh musuh itu sudah hal biasa.
.
ke esokan harinya,
An memijit pangkal hidungnya melihat kedatangan Xabara, Alena dan Ana yang menanyakan keadaan An.
"darimana kalian tau? kalian tidak memasang cctv atau sesuatu di tubuhku kan?" tanya An dengan wajah datar.
"baiklah Mommy..! aku salah karna menyepelekan musuh, sekarang Mommy sudah tidak marah kan?" tanya An dengan sabar.
Xabara mendengus lalu mendekati An dan Alena pun melepaskan diri dari An membiarkan Xabara mengecek keadaan An.
"dimana?" tanya Xabara.
An melihat lengan kirinya, "sudah diobati oleh Asistenku."
seketika Xabara, Ana dan Alena menatap An tidak percaya.
"Carrina? bagaimana bisa?" tanya Ana.
"kan aku sudah pernah bilang dia punya insting yang kuat dan pendengaran yang bagus, dia menemukan kami hmmm?? sedikit berguna." jawab An.
Alena menganga takjub, "benarkah? kak Carrina yang menemukan Kakak? kenapa kalian sangat manis? kenapa kakak tidak jatuh Cinta pada Kak Carrina?"
An menatap datar Alena yang malah cengengesan.
Xabara diam lalu melepas jas kerja An juga melepas kemeja An sehingga tubuh Kekar An terlihat jelas, Xabara tidak punya maksud apapun selain ingin melihat luka di tubuh Putranya saja.
Ana dan Alena mengintip lengan Kiri An yang sudah baikan, mereka tersenyum lebar.
__ADS_1
"dia mengobati lukamu? tumben, biasanya kamu tidak mau diobati hanya luka kecil." tanya Xabara merasa ada yang aneh dengan An.
"dia menangis seperti bayi hanya karna luka kecil ini." jawaban An jelas membuat Xabara, Ana dan Alena langsung paham kalau Carrina menyukai An.
"jadi kamu mau diobati olehnya karna dia menangis?" tanya Xabara memastikan.
"hmm.. dengan begitu dia berhenti menangis, ckk..! dasar bocah." jawab An lalu meledek Carrina yang tingkahnya memang seperti anak-anak.
"hati-hati kakak bicara, kak Carrina pasti merasa berhutang budi dengan kakak yang menyelamatkannya tapi dia tidak bisa melakukan apapun untuk membalas kebaikan kakak, tentu saja dia sedih kakak tidak mau dibantu olehnya." Alena.
An diam memikirkan, "kenapa aku harus butuh bantuannya?"
"dasar angkuh..! manusia itu ditakdirkan hidup serba bergantungan jangan suka menyendiri deh." umpat Ana.
"sudah--sudah..? kenapa kalian jadi bertengkar hmm? lebih baik kalian memasak untuk abang kalian, Mommy akan menemui gadis bernama Carrina itu." Xabara.
Ana dan Alena pun terpaksa menurut, An mengerutkan keningnya ke Xabara.
"kenapa menemuinya Mommy? kami tidak punya hubungan apapun." tanya An.
"siapa bilang Mommy menemuinya sebagai menantu ha? Mommy hanya ingin berterimakasih karna dia bisa membuatmu mengobati luka mu ini, sekarang sudah mengering artinya dia mengobatimu dengan baik." ketus Xabara sambil berbalik pergi.
An menggeleng kepalanya lalu memakai bajunya lagi yang dibuka oleh Xabara hanya untuk melihat luka dilengannya.
.
Carrina kaget ketika membuka Ruangannya ada sosok dewi, saat ini Carrina masih mengenakan Masker belum berani memperlihatkan wajahnya ke semua Orang.
"si-siapa? apa ada yang bisa saya bantu Kak?" tanya Carrina mengira sosok dewi itu adalah Kakak-kakak saking cantiknya dimata Carrina.
"aku Mommynya An." kata Xabara
Carrina melebarkan matanya lalu teringat potret Xabara di meja kerja An, "Ehh? ma-maaf Nyonya..! sa-saya pikir Anda masih gadis." ucap Carrina buru-buru meminta Xabara masuk dan duduk disofa.
"Nyonya mau dibuatkan minuman apa? sa-saya akan buatkan." tanya Carrina dengan senyuman.
Xabara menahan lengan Carrina yang hendak bangkit, "tidak perlu repot-repot Carrina, Tante hanya ingin mengucapkan Terimakasih karna kamu telah mengobati luka anak Tante."
"Tante?" batin Carrina.
"Ehh? I-Iya Nyon- Ehh? Tante, itu tidak seberapa dengan semua kebaikan Tuan Muda terhadap saya." jawab Carrina dengan gerogi.
"Nyonya Xabara? jadi ini Nyonya Xabara, sangat cantik dilihat secara langsung." batin Carrina merasa kagum.
.
.
__ADS_1
.