
.
.
.
An mengambil ponsel Carrina lalu meletakkannya di meja terdekatnya, "kamu kasihan padanya?" tanya An.
Carrina menggeleng kepalanya, "mereka pantas mendapatkannya." jawab Carrina serius.
An tersenyum lalu melebarkan tangannya dengan cepat Carrina memeluk An dan memejamkan matanya dipelukan An.
"bagus Carrin...! pikirkan saja kebahagiaanmu sendiri." pinta An membuat Carrina tersenyum lebar.
malam itu An dan Carrina tidak melakukan apapun selain berpelukan saja, An tau Carrina sedang kelelahan.
beberapa hari Carrina dan An bersama Keluarganya bertamasya di Amerika, An sampai menyewa seorang Fotografer untuk memotret mereka semua bersama-sama menjadikannya sebuah album Foto lalu diberikan pada Carrina yang sangat suka dengan Foto Keluarga nya.
An melirik Sean yang tertangkap basah memandangnya, Sean tersenyum kikuk lalu melihat arah lain sedangkan An santai saja.
Ana pun melihat Sean yang suka sekali memandang An padahal An tidak melakukan apapun.
"apa kau menyukai An, Pangeran?" tanya Ana mengejek.
"bukan rasa suka seperti yang ada dalam pikiranmu Nona." jawab Sean juga meledek Ana dengan sebutan Nona.
Ana mencibir, "kalau begitu kenapa tidak membawanya saja ke Negaramu?"
Sean tersenyum, "jika aku membawanya bukan dapat sambutan malah aku dipenggal oleh pihak Kerajaan karna seorang Pangeran membuat malu dengan menyukai sesama jenis."
"pandanganmu tadi seperti itu menurutku." jawab Ana.
"kamu bisa melihat caraku menatap Tuan An lalu bagaimana kamu tidak tau caraku menatapmu?" tanya Sean dengan gemas.
Ana menautkan kedua alisnya, "memangnya bagaimana caramu menatapku?" tanya Ana memang tidak bisa menilai cara Sean menatapnya.
"tanda Cinta ku melayang-layang terpancar dari mataku ini." jawaban Sean membuat mata Ana berotasi malas.
Ana menonyor kening Sean yang malah tertawa dengan perlakuan Ana itu, Ana memang sulit ditakhlukkan sebab hatinya itu tidak mudah terperdaya oleh rayuan lelaki.
Keluarga An bersenang-senang di semua tempat sampai puas lalu kembali ke Indonesia menempuh perjalanan jauh dan melelahkan didalam Pesawat.
__ADS_1
di tempat lain,
"kenapa lagi Ina?" tanya Libra.
"ma...! sudah aku bilang karirku sudah hancur Ma..? tidak ada yang bisa menyelamatkanku lagi, mereka bukannya mendukungku malah menghinaku." marah Ina dengan mata memerah penuh emosi.
Libra memijit pelipisnya lalu menoleh ke Reni yang tampak asik memainkan Ponselnya.
"kamu tidak marah Eni?" tanya Libra ke Putri nya itu.
"memangnya apa yang berubah kalau aku marah? salah Ina itu yang aktingnya buruk." ejek Reni.
"apa kau bilang?" Ina membentak Reni yang malah acuh saja.
"sudah--sudah..! kenapa kalian malah bertengkar?"
Reni dan Sarina memang anaknya Libra tapi mereka beda Ayah serta selisihnya hanya 2 tahun namun tidak pernah akur.
"sudah aku bilang kalau sekali menjadi jal*ng akan terus menjadi jal*ng...! kerjamu selalu menggoda Pria berdompet jelaslah tidak ada Pria yang mau denganmu, belagu lagi mau nya Tuan Muda An..! ciihh...! bahkan Tuan Muda An saja ogah melirik badut sepertimu." sindir Reni.
"maaa...!" teriak Ina.
Libra meminta mereka untuk damai tapi Reni tidak mau dan Ina tidak terima, mereka langsung berkelahi saling tarik-tarikan rambut hingga Libra juga terkena imbas dari cakaran kedua anaknya itu.
Saudara 1 Ayah dan 1 Ibu saja suka berkelahi karna suka saling menggoda apalagi berbeda Ayah jelas tidak akan pernah bisa akur.
"lepaskan aku...!" teriak Ina.
"gara-gara sikap bodohmu itu aku jadi putus Kuliah." teriak Reni.
"bukankah kau sudah S1? hanya S2 saja tidak akan membuatmu rugi." geram Ina.
"kau berpendidikan tol*l...! aku tidak mau punya otak udang sepertimu." tantang Reni.
Ina menjerit seketika lalu mereka berdua main cakar-cakaran hingga rambut berantakan, wajah penuh luka karna cakaran kuku, bahkan baju mereka pun koyak saking dahsyatnya perkelahian mereka berdua itu.
Libra memilih duduk disofa membiarkan Ina dan Reni berkelahi lalu Ia membuka Ponselnya melihat Potret Carrina bersama An telah tiba di Indonesia.
"Carrina?" gumam Libra segera bangkit dan mengambil kunci Mobilnya.
Libra mencari Carrina langsung dibandara tapi terlambat Carrina sudah pergi tanpa menunggu lagi Libra mencari Carrina di Mansion Maldev.
__ADS_1
"aku tidak boleh menyerah..! dia harus membantuku mendapatkan kembali Rumahnya." gumam Libra dengan tidak tau malunya.
Libra tersentak melihat banyaknya rombongan Mobil memasuki Mansion Maldev, Ia segera keluar dari Mobil dan mendekati Mobil mana saja yang bisa membuatnya bertemu dengan Carrina.
Mobil Terakhir berhenti,
Carrina dan An keluar dari Mobil itu membuat Libra senang seolah dapat secercah harapan untuk kembali lagi ke Rumah Orangtua Carrina.
"Carrina?" Libra mendekati Carrina yang menepis tangannya langsung.
"Carrina? kenapa?" tanya Libra merasa heran.
"apa maumu sebenarnya? kenapa kau menggangguku setelah mencampakkanku?" tanya Carrina dengan raut wajah memerah.
An diam saja disamping Carrina.
"mu?? kamu tidak salah Carrina? aku bibimu." Libra menepuk-nepuk dadanya untuk mengklaim bahwa Ia bukan Orang asing bagi Carrina.
Carrina berdecih lalu Libra langsung memelas pada Carrina untuk membantu mereka kembali ke Rumahnya membuat Carrina tertawa hambar.
"Rumah kalian? sejak kapan?" tanya Carrina dengan sinis.
Libra tidak mengerti mengapa Carrina jauh lebih dingin dari sebelumnya lalu Ia melihat ke An yang semakin tidak tertebak lagi ekspresinya, Libra memohon pada Carrina untuk menyelamatkan Rumah Carrina dan mengizinkan mereka tinggal disana.
"aku akan menebusnya tapi aku lah yang akan tinggal disana." jawab Carrina santai.
"ta--tapi kamu sudah punya Mansion semegah ini kan?" Libra menunjuk Mansion Maldev.
"ini Rumah Mertuaku bukan Rumahku." jawab Carrina.
Libra begitu sabar demi kembali ke Rumah itu tidak masalah baginya tapi bukannya dapat tumpangan Carrina tidak akan mengizinkan Libra maupun anak-anaknya memasuki Rumah itu walau hanya menjadi seorang pembantu.
Libra langsung naik darah lalu membentak Carrina yang ditampar langsung oleh Carrina hingga Libra tersungkur, Carrina seperti mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya untuk menampar Libra.
"dasar pembun*h...! berani-beraninya kau mengemis pada Putri Kedua Orangtua yang telah kau bunuh." desis Carrina dengan sangat marah.
Libra membelalakkan matanya menatap Carrina lalu Ia menggeleng-geleng kepalanya memberitau semua itu hanyalah Fitnah, Carrina tidak boleh percaya berita yang beredar.
Carrina menampar Libra lagi, "itu bayaran atas semua kau lakukan..! seberapa gigihnya pun kau mengemis padaku tidak akan pernah aku izinkan kau menginjakkan kaki di Rumah-Ku lagi, lebih baik aku membiarkan ratusan anj*ng tidur di Rumah kedua Orangtuaku dari pada mengizinkan kalian tinggal disana."
.
__ADS_1
.
.