
.
.
.
"kamu tidak menganggapku boros kan Alena? aku hanya tidak suka menunggu kalau perutku sedang lapar." kata Saga ke Alena.
Alena melirik sekilas Saga lalu mengangguk saja pertanda dirinya tidak mempermasalahkan jiwa penguasa Saga yang bisa melakukan apa saja demi sang pujaan hati, jujur saja Alena cukup senang di permudah masalahnya padahal sebelumnya Alena sempat berdebat dengan hatinya apakah bisa menunggu antrian sepanjang itu.
"sudah kenyang?" tanya Saga.
"hmm..! ternyata masakannya memang sangat enak." jawab Alena.
Saga mengerjab melihat Alena mengelap bibirnya yang tidak memakai polesan lipstik sama sekali, Ia mengalihkan pandangannya karna tidak mau Alena salah paham dengan pemikirannya yang mesum itu.
Saga dan Alena melanjutkan perjalanan menuju Kota Perkebunan sawit Saga, setibanya di sebuah Rumah Megah terlihat banyak perkumpulan bodyguard membukakan gerbang untuk Mobil Saga.
"ini?" gumam Alena.
"ini Rumah kita." jawab Saga tersenyum lebar.
"kita?" batin Alena pura-pura tidak memikirkan kata-kata Saga padahal mereka belum menikah tapi Saga bilang Rumah Megah itu juga bagian dari miliknya.
"Perkebunan sawitku disini ada puluhan hektar sayang, jadi aku juga sering kesini setiap bulan dan penghasilannya sangat besar sampai berton-ton sekali panen apalagi harga Sawit sekarang lagi mahal." jelas Saga.
Dyrga membukakan pintu Mobil untuk Saga dan Para Bodyguard lainnya berbaris rapi menyambut Saga, Saga keluar dari Mobilnya dan berlari kecil ke arah samping Mobilnya hingga diam-diam bawahan Saga penasaran.
"apa Tuan Muda membawa barang-barang penting? kenapa harus dia yang buka pintu?" batin Dyrga.
Alena keluar dari Mobil Saga sambil mengedarkan pandangannya, melihat sosok Alena tentu Dyrga dan yang lainnya syok sebab tidak menyangka Saga membawa Alena dan lucunya lagi Dyrga sebagai Asisten pun bisa kena tipu oleh Saga.
"tidak sepanas yang dibayangkan." gumam Alena.
"ayo sayang!!?" ajak Saga.
Alena melangkah duluan di ikuti Saga yang menuntun langkah sang pujaan hati, sementara yang melihat cara Saga begitu lembut pada Alena hanya menunduk dengan raut wajah kaget masing-masing seolah tidak menyangka Saga masih punya hati.
Saga memperkenalkan Alena ke para Pelayan yang bertugas memasak untuk para Bodyguard yang berjaga di Rumah juga menjaga Perkebunan sawit milik Saga dari para tikus-tikus yang tidak bertanggung jawab walau begitu pun tetap ada tikus yang berani mencuri di Perkebunan sawit Saga.
__ADS_1
"perintah Alena bagai Perintahku, apapun permintaannya kalian harus turuti..! mengerti??" titah Saga.
"baik Tuan Muda." jawab para pelayan dengan serentak.
Alena melangkah ke arah Aquarium besar yang banyak berisi Ikan hias, "wahh..!" gumam Alena merasa takjub dengan bentuk ikan hias nya yang mungil namun terlihat elegan dan bisa Alena tebak harganya sangat mahal.
"suka ikan sayang?" tanya Saga disamping Alena.
"imut." jawab Alena.
"ikut aku..!" ajak Saga menggenggam tangan Alena dan melangkah menuju bagian belakang Rumah.
"aakkhh...?" Alena terkejut melihat sepasang lumba-lumba tengah melompat-lompat di dalam Kolam berenang khusus.
"ke--kenapa bisa ada Lumba-Lumba disini?" tanya Alena ke Saga dengan mata berbinar.
Saga terkekeh, "waktu aku ke Pantai ada induk Lumba-lumba mati gara-gara Manusia tidak bertanggung jawab melempar bom ke lautan untuk dapat ikan, waktu itu 2 Lumba-lumba kecil ini masih hidup dan kondisinya memprihatinkan jadi aku bawa ke Dokter hewan lalu dirawat sampai sembuh."
Alena mendengarkan cerita Saga dengan raut wajah berubah-ubah seperti marah, kesal, takjub, kasihan, senang sehingga Saga merasa gemas dengan perubahan cepat wajah Alena itu.
"lalu?" tanya Alena.
Alena tampak berbinar melihat sepasang hewan lucu itu lalu Saga menarik tangan Alena dan mengulurkan tangannya di tepi kolam berenang.
"aaahh." Alena memekik riang ketika tangannya di cium oleh 2 Lumba-lumba itu bergantian.
Saga terkekeh lalu Alena berjongkok mengelus-ngelus moncong hewan menggemaskan itu.
Pelayan yang bertugas memberi makan 2 Lumba-lumba itu pun datang dan Saga melangkah ke arah Pelayan itu mengambil ember berisi ikan-ikan kecil untuk makan Lumba-lumba itu.
"ini beri makannya aku ajari sayang." kata Saga.
Alena menoleh ke Saga sambil memperhatikan cara Saga memberi makan Lumba-lumba, mereka menghabiskan waktu bersama di Kolam itu dan tubuh Alena maupun Saga basah karna ulah Lumba-lumba itu seakan senang bermain dengan Saga maupun Alena.
di Kamar Alena,
Alena kaget melihat banyak pakaian perempuan di atas ranjang nya itu.
"baru saja aku pesan sayang..! bersihkan tubuhmu ya? jangan sampai demam." kata Saga mengusap rambut Alena yang basah dan Alena mengangguk pelan ke Saga.
__ADS_1
Alena baru tau kalau Ia suka dengan Lumba-lumba padahal sebelumnya Ia tidak tau akan hal itu.
ke esokan paginya,
Alena berlari kecil ke arah Lumba-lumba itu berada dan Para Pelayan yang melihat Alena hanya menunduk hormat, Alena tersenyum ceria melewati mereka semua sehingga Para Pelayan di Rumah Saga begitu terpana dengan keceriaan Alena pantas saja Saga yang tak punya hati bisa terpikat.
sebenarnya Saga punya hati tapi sangat tipis dan jarang terlihat benar-benar memiliki hati tapi ketika Saga bersama Alena baru disadari oleh bawahan Saga kalau Saga itu benar punya hati.
"dimana Alena?" tanya Saga ke Para Pelayannya.
Para Pelayan menjawab kalau Alena pergi ke Kolam Berenang khusus untuk Lumba-lumba, Saga tidak berkata-kata lagi langsung mencari pujaan hatinya yang memang terlihat sekali menyukai lumba-lumba.
"sayang? kenapa kesini?" tanya Saga membuat Alena berdiri dari duduknya dan garuk-garuk kepala dengan kikuk.
"ayo kita sarapan..! apa kamu tidak jadi mau melihat perkebunan sawitku?" tanya Saga.
Alena pun berjalan cepat ke arah Saga dan melihat arah lain sebab Ia malu karna ketahuan datang ketempat itu diam-diam, namun Saga terlihat tidak marah pada Alena malah meminta Alena untuk sarapan atau membawa sarapan di dekat Lumba-lumba itu juga tidak masalah asalkan Alena mengisi perut terlebih dahulu.
"baiklah." jawab Alena sambil tersenyum lebar.
"kenapa aku baru tau Alena suka Lumba-lumba?" batin Saga yang cukup terkejut Alena lebih memilih melihat lumba-lumba ketimbang sarapan.
.
Alena dibawa Saga naik Mobil Gunung.
"kenapa naik Mobil ini?" tanya Alena penasaran.
"kebetulan jalannya becek sayang, disini sering hujan tapi bagi seorang pemilik kebun sawit hujan malah bagus." jawab Saga.
Alena mengangguk lalu terdiam ketika Saga memakaikan Topi di kepala Alena.
"kamu harus tutupi kecantikanmu ini sayangku." kata Saga dengan senyuman mengusap hidung Alena.
.
.
.
__ADS_1