Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa

Cinta Tersembunyi Untuk Sang Penguasa
harus di tutupi


__ADS_3

.


.


.


ke esokan harinya,


Lidya semakin kehilangan kewarasannya ketika dunia maya membulinya dan tidak ada siapapun yang bisa membela Lidya bahkan lelaki simpanannya yang sedari dulu membela Lidya kini berpaling muka malah menyalahkan Lidya telah menghancurkan Rumah Tangga mereka masing-masing padahal Pria hidung belang tidak akan mau menunjukkan belangnya.


di tempat lain (Cafe),


Ana tengah membaca Artikel tentang Lidya yang sudah menjadi wanita gila.


"ahahaha...!" Ana tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit.


Alena yang baru saja tiba habis dari Toilet pun langsung membekap mulut Ana yang mengenakan masker sambil tersenyum kikuk ke banyak Orang yang melihat mereka, mata Ana terlihat sangat cantik saat tertawa tapi mengapa yang mendengar tawa Ana malah merinding.


"Oups..!" Ana melepaskan tangan Alena sambil tersenyum manis dibalik maskernya dan sorot matanya tidak merasa berdosa sama sekali.


"kenapa ketawa sih? apa kakak tidak sadar kita sedang diluar?" tanya Alena mengomeli kakaknya itu.


"sepertinya Lidya sudah menjadi gila karna Carrina yang sangat hebat melawan dia." jawab Ana menunjukkan layar ponselnya.


Alena mendengar nama Carrina pun melihat ke Layar Ponsel Ana lalu menyemburkan tawanya.


"Ahah..! Hmmff...!" Alena pun akhirnya juga tertawa tapi segera Ia menutupi bibirnya pantas saja Ana bisa tertawa seperti itu ternyata karna Lidya.


"lumayan juga An bisa mendapatkan Carrina yang keliatan manis dan penurut tapi ternyata diam-diam menyembunyikan taringnya juga." kata Ana.


"kalau memang punya Kakak Ipar sehebat ini kenapa tidak dari dulu saja dia kabur dari Lancord itu?" tanya Alena penasaran.


Ana memutar kedua bola matanya dengan malas, "apa yang bisa kamu lakukan jika kamu tidak punya siapa-siapa tapi berani melawan orang yang berkuasa? saat itu kalau dia kabur terus mencari An belum tentu An mau menampung dan melindunginya dari Lancord."


"aah..! heheh..! iya juga." jawab Alena nyengir kuda.


"berhenti bergerak..!" teriak sekumpulan perampok tiba-tiba.


Ana dan Alena seketika menoleh ke asal suara, mereka memang mengenakan masker mengikuti cara Carrina yang menutupi kecantikannya dengan Masker padahal mereka sehat-sehat saja tidak ada kecemasan sama sekali, tapi ingin aman saja tanpa harus terganggu tatapan Pria mata keranjang.


"berikan uang kalian..! cepat..!" teriak salah satu Perampok begitu berani memasuki sebuah Cafe anak remaja dan memaksa serta merampas uang dari pengungung Cafe.


Ana dan Alena menghela nafas mendengar teriakan serta jeritan pengunjung Cafe.

__ADS_1


"cepat! atau kau akan aku tusuk pisau?" ancam perampok lain.


Ana mengeluarkan salah satu jarum beracunnya lalu melayangkannya ke Orang yang mengancam akan menusuk seorang wanita hamil karna tidak mau memberikan dompetnya.


"akhhh!" teriak salah satu perampok sedangkan wanita hamil tadi buru-buru lari ke tempat yang aman.


"kenapa?" tanya kawanannya.


jumlah perampok itu ada 6 Orang dengan pakaian ninja warna biru tua.


"ti-tidak tau." jawab Pria itu yang seketika sebagian wajahnya terlihat pucat lalu mati begitu saja.


"siapa pelakunya?" teriak Pria yang lainnya sambil menodongkan pisau.


Ana dan Alena masih begitu santai sementara semua yang ada di Cafe itu sudah melarikan diri dan bersandar didinding mencari aman.


"pasti mereka berdua..!" teriak kawanan perampok itu menunjuk Ana dan Alena yang tidak terlihat takut sama sekali.


Ana dan Alena pun berdiri lalu menghadap mereka berlima yang tersisa.


"siapa kalian ha? kenapa suka mengganggu ketentraman pengunjung Cafe ini?" tanya Ana dengan nada tajam.


"bukan urusanmu!"


"banyak bacot..!"


"kalau perlu jantungnya, dia membuat rekan kita pingsan."


Ana dan Alena tertawa terbahak-bahak seketika membuat kelima Perampok itu waspada.


"pingsan?" beo Ana.


"coba kalian cek lagi..! siapa manusia yang bisa mengalahkan racun mematikan milik dewi racun ha?" ejek Alena.


"D--Dewi Racun?" beo mereka semua seketika gemetaran.


Alena mengeluarkan belatinya dan Ana memainkan jarum beracun di tangan kanannya.


"sampah masyarakat seperti kalian tidak cocok hidup dimuka bumi ini." kata Ana menyeringai sambil melangkah maju.


"kalian pergilah..?" pinta Alena ke Pengunjung Cafe yang ketakutan.


alhasil semua pengunjung Cafe melarikan diri karna telah diselamatkan oleh sosok Ana dan Alena, mereka akan menghubungi Polisi untuk membantu kedua gadis pemberani itu.

__ADS_1


hanya dalam hitungan menit Ana dan Alena sudah berhasil membuat para perampok itu mati tanpa ada belas kasih, bagi mereka berdua para sampah masyarakat tidak pantas hidup karna suka memalak (mengambil uang) Orang yang lemah.


"bagaimana kak?" tanya Alena tersenyum lebar.


"sudah...! kakak tidak mau mengambil boneka uji coba lagi, mereka sudah terkontaminasi racun pertama." jawab Ana.


"kita kabur sebelum Papa tau." ajak Alena.


Ana dan Alena tertawa cekikikan berlari sambil berpegangan tangan melompat ke jendela serta melarikan diri dari Cafe tanpa berniat membersihkan kekacauan itu.


Ana dan Alena suka bersenang-senang bahkan mereka sudah menjadi Bos di Usia yang masih muda tanpa repot-repot ke Kantor atau tempat kerja sudah dapat uang masuk.


.


di Perusahaan BlackMalv.


An melihat berita tentang kekacauan disebuah Cafe yang para perampok mati karna dewi racun, An memijit pelipisnya seketika akan tingkah Ana yang suka-suka saja menghabisi Orang dengan racunnya sehingga ketahuan jati dirinya sebagai dewi racun yang telah menghabisi nyawa para perampok itu.


An menghubungi Asistennya Rovert (Barrest),


"Om tolong bersihkan Artikel yang baru terbit, Kalau Papa tau bisa berbahaya." pinta An serius lalu Ia mematikan panggilannya secara sepihak.


Barrest tak heran lagi dengan tingkah sesuka hati An itu yang sama saja dengan Rovert (Papanya), Barrest memang Orang setia Rovert begitu juga Aya yang sampai detik ini masih Orang setia Xabara.


An menggeleng kepalanya pelan lalu terkekeh dengan tingkah saudaranya itu yang memang tidak punya rasa ampun jika berurusan dengan perampok atau penjahat yang merugikan banyak Orang terutama dari kalangan lemah.


didikan Xabara yang begitu keras pada 3 anaknya itu telah menjadi misi utama An, Ana dan Alena dalam mengambil keputusan menghabisi siapa saja yang merusak keamanan masyarakat kecil.


berbeda dengan Rovert yang tidak mau Anak perempuannya terlibat hal seperti itu karna Rovert mau anak perempuannya hidup tenang tanpa musuh tapi anak-anak Xabara memang keras kepala lebih mematuhi Xabara yang tidak pernah menganggap Ana dan Alena lemah malah mendukung keputusan anak perempuannya.


An melirik Ruangannya yang diketuk lalu menekan remot Pintu Ruangannya langsung terbuka, Wel datang memberi undangan pernikahan.


"Tuan?" senyum lebar Wel.


An mengambil Undangan pernikahan Wel dengan Ayunda, An tersenyum tipis.


"aku menahan diri untuk tidak bertanya, bagaimana kalian bisa akur?" tanya An penasaran.


"sebenarnya kalau di ingat-ingat sepertinya memang saya yang salah Tuan." kata Wel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


An mengangguk, Ia cukup senang Wel menyadari kesalahannya. sebenarnya tanpa An tau masalah Ayunda dan Wel pun sudah bisa ditebak kalau Wel masih ada Perasaan Cinta pada Ayunda hanya saja kebencian di khianati itu lebih besar dalam diri Wel tentu An tidak mau ikut campur masalah hati setiap bawahannya sebab menurut An itu Privasi setiap manusia yang tidak bisa diganggu gugat.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2