
.
.
.
Ana hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, "sudah kan? nikmati tarianmu sendiri tidak usah mengajak aku." Ana berusaha melepaskan diri dari Sean.
"apa kamu tidak senang berdansa denganku?" tanya Sean.
"aku malas." jawab Ana.
"malas berdansa?" tanya Sean.
"iya..! aku lebih suka bertarung daripada menari." Ana membalik tubuhnya menghadap Sean yang langsung melingkarkan tangannya di pinggang Ana.
Sean tersenyum lebar, "kalau kita sudah menikah kita akan bertarung diatas ranjang."
Ana melebarkan matanya lalu memukul kepala Sean yang tertawa lepas seketika, Ana bahkan tidak peduli banyaknya mata yang melihat mereka tengah melotot tidak percaya seorang Pria Berkuasa di Negara Sean itu di pukul oleh perempuan dan ajaibnya lagi Sean tidak marah tapi malah tertawa selepas itu.
"dasar otak mesum...! siapa juga yang mau bertarung denganmu di ranjang, kau cari saja wanita lain." ketus Ana.
Sean menggeleng, "aku mau gadis bar-bar sepertimu."
"aku tidak mau." jawab Ana membuang muka hendak pergi lalu Sean menahan pinggang Ana yang membelakanginya dan Sean merapatkan dirinya ke punggung Ana sehingga Sean seperti memeluk Ana dari belakang lagi.
"aku akan menunggu." jawab Sean.
"tidak usah menunggu..? aku akan kirimkan Undangan Pernikahanku padamu nanti kalau aku sudah menemukan Pria yang aku suka." ujar Ana tanpa hati.
Sean tersenyum, "aku akan menghabisi suamimu lalu akulah yang akan menjadi pendampingmu di Altar pernikahan."
"kau berani melakukan itu?" ejek Ana.
"kenapa begitu?" tanya Sean heran.
Ana mengatakan bahwa Negara Sean sangat lemah dalam menghukum penjahat dan menganggap Sean tidak akan berbeda jauh.
Sean tertawa lebar, "jika ingin memilikimu Ana aku tidak butuh aturan itu, kamu sudah membuatku berada di tahap terpuncak yang tidak akan bisa membuatku turun lagi selain ingin kamu menjadi milikku saja."
"apa yang kau katakan? aku tidak mengerti." tanya Ana yang malah tidak faham Sean bicara apa.
"aku sangat mencintaimu dan tidak bisa menyerah membiarkanmu bersama Pria lain, aku hanya mau kamu menjadi istriku dan satu-satunya Ratu dalam hidupku." jelas Sean.
__ADS_1
"siapa juga yang mau menjadi Ratumu." ketus Ana.
Sean tersenyum, "Ana..? aku selalu berpura-pura tidak tegas demi dukungan banyak Orang, jika aku sudah resmi menjadi Raja maka akan aku perlihatkan watak asliku dalam membasmi kejahatan."
Ana terdiam, "maksudmu?"
Sean mengangguk, "aku diam bukan berarti aku lemah, aku biasa saja bukan berarti aku sengaja, aku tidak berbicara bukan berarti aku tidak tau, aku setuju bukan berarti aku takut, semua gerakan yang aku lakukan sebagai calon penerus tahta harus aku pikirkan dengan sangat hati-hati Ana..!"
"Negaraku sekarang dipimpin oleh Ayahku dan saat ini statusku adalah Putra Mahkota belum sebagai Raja tapi hanya Calon, gelar Putra Mahkota bisa dilepas jika aku bertindak ceroboh walau sekali." sambung Sean lagi.
Ana menganga mendengarnya, "aku pikir kau tidak mau tahta."
Sean menjelaskan secara rinci tentang Cita-citanya yang ingin membasmi kejahatan dengan cara yang tegas sehingga siapapun sangat berpikir untuk melakukan kejahatan, men-setarakan rakyat lemah dengan bangsawan supaya tidak ada diskriminasi kalangan bawah.
Ana mendengarnya terperangah, "ternyata Cita-Citanya sangat indah." batin Ana malah suka rencana Sean yang ingin rakyat kecil makmur tanpa pembulian.
"saat ini Rakyatku sangat mencintaimu Ana..!" kata Sean serius.
"hah? kok bisa?" tanya Ana malah syok sebab Ia tidak pernah melakukan apa-apa untuk Rakyatnya Sean.
"di Negara kami ada sistem kepercayaan yang sangat dipegang teguh oleh rakyat kecil yaitu seorang gadis Suci yang kelak akan memakmurkan Rakyat mereka, saat kamu mau menyentuh Putri Asoka yang punya penyakit menular dan tidak menginginkan status Putri Mahkota, mereka memujamu sebagai Gadis Suci itu."
(Putri Mahkota yaitu Calon Permaisuri Putra Mahkota).
mana ada niat Ana ingin mencari perhatian rakyat Sean sebab saat itu tujuannya ingin menunjukkan pada Asoka bagaimana cara berakting yang sebenarnya.
tanpa disadari pembicaraan mereka yang terlihat serius itu membuat Ana dan Sean terlihat sangat mesra.
.
Alena di tempat khusus cemilan sehat malam hanya duduk sambil mengunyah buah-buahan segar dimalam hari.
"sebentar lagi aku punya Abang ipar." gumam Alena terkikik melihat Ana tengah berbincang serius dengan Sean entah apa yang dibicarakan mereka berdua tapi dimata siapapun menebak mereka punya hubungan khusus.
pembicaraan serius berarti membahas hal yang sangat penting, bagaimana bisa Ana mau berbicara serius dengan Sean jika tidak punya hubungan khusus.
Alena melihat sekeliling, "apa dia disini?" batin Alena yang penasaran dengan seseorang.
Alena tidak melihat seseorang yang mencurigakan tengah memandangnya lalu fokus dengan cemilannya, Alena tidak takut gemuk karna Ia sangat rajin berolahraga.
Alena yang bosan pun keluar dari Acara itu dan pergi ke Taman depan membawa nampan buah-buahan segar lalu Ia duduk di kursi panjang yang dihias dengan bunga.
"huh...!" Alena menghela nafas.
__ADS_1
tiba-tiba Alena bangkit dari duduknya dan menari balet seketika ditempat itu.
"uuhh...! rasanya sangat menyenangkan saat menari." gumam Alena tersenyum lepas menatap langit malam yang penuh bintang.
tiba-tiba Alena berhenti menari lalu menoleh ke arah dalam gedung Hotel karna Instingnya merasa sedang diperhatikan.
Alena menautkan kedua alisnya, "iseng banget sih.!" gumam Alena.
Alena tidak jadi menari lalu mengambil nampan buahnya dan melangkah memasuki Gedung Hotel serta matanya memperhatikan sekitar.
"siapa??" tanya Alena menggema.
" .... ??"
tidak ada sahutan sama sekali membuat Alena menghela nafas lalu kembali melangkah menuju Acara Pernikahan Abangnya.
Seorang Pria yang bersembunyi cukup jauh dari sana perlahan melihat ke arah sosok Alena yang sudah pergi, "kamu sangat menawan Alena." gumam Pria itu mengulum senyum tulusnya.
"aku tau kamu menungguku..! ku mohon bersabarlah sebentar lagi, aku akan menyelesaikan masalahku dengan cepat lalu menemuimu." gumam Pria itu dengan penuh perasaan.
Pria itu sangat ahli bersembunyi dan menutupi Identitasnya dengan sangat baik sehingga X Company Group pun tidak bisa mendeteksi dirinya, Pria itu belajar komputer dari kecil umur 7 tahun sampai sekarang dan kemampuan hacker nya sangatlah baik.
.
Alena kembali ke acara dan menemui Mommynya.
"kenapa sayang?" tanya Xabara dengan lembut mengelus pipi Alena yang tumben sekali manja padanya sebab selama ini selalu bersama Rovert.
"orang itu benar-benar mengawasi Alena Mommy, tapi kenapa dia tidak muncul?" tanya Alena penasaran.
Xabara mengerutkan keningnya, "apa kamu sudah mau menikah sayang? kamu masih terlalu muda."
"siapa juga yang mau menikah dengannya Mommy, Alena tidak mau melangkahi Kak Ana." geleng-geleng kepala Alena.
Xabara terkekeh lalu Ratu tiba dan mengelus kepala Alena.
"kenapa Alena nak?" tanya Ratu ke Xabara.
"biasalah Mom." jawab Xabara sambil tersenyum ke Alena.
.
.
__ADS_1
.