
.
.
.
"kau mencari kesempatan ya?" tanya Ana memicing curiga ke Sean.
Sean menggeleng kepalanya, "aku menyelamatkanmu dari tatapan jahat Rebby."
"Oh.. jadi yang menatapku seperti ingin menelanj*ngiku itu Rebby? abangmu?" tanya Ana.
Sean mengangguk, "sudah aku bilang kan kalau dia memiliki kelemahan di wanita, melihatmu jelas dia tidak bisa menutupi kelemahannya itu."
Ana terkekeh lalu mengibaskan rambutnya kebelakang, "tentu saja karna aku terlalu banyak pesona."
Sean tersenyum lebar ke Ana malah tidak membantah tanpa Sean sadari semua Pelayan dan Penjaga Mansion Megah bak Istana dongeng itu terpana melihat Sean tersenyum seperti itu, selama ini mereka tidak pernah melihat Sean tersenyum selebar itu.
"kenapa mereka menatap kita seperti itu?" tanya Ana penasaran.
Ana tidak canggung menjadi pusat perhatian tapi melihat mereka semua yang syok akan sesuatu membuatnya penasaran, Sean menepuk-nepuk dada bidangnya sendiri Ana hanya memicingkan matanya.
"karna mereka tidak pernah melihatku tersenyum selebar ini." kata Sean percaya diri lalu menunjukkan tanda Smile nya tengah tersenyum lebar menatap Ana.
Ana menaikkan sudut atas bibirnya bukan terpesona, "dasar narsis." umpat Ana.
Sean tertawa lebar hingga Sean tiba disebuah kamar mewah. jujur saja Ana tidak menyangka Istana Modern ini punya Lift juga punya Eskalator, tapi Ia masih bisa menyembunyikan ekspresinya supaya tidak terlalu memalukan.
"apa ini Kamarku?" tanya Ana ke Sean.
Sean tampak berpikir, "lebih baik kamu tidur dikamarku saja." kata Sean dalam bahasa Negaranya.
perkataan Sean membuat semua yang mengikuti Sean terbatuk-batuk seketika lalu Ana melirik kebelakang dan heran mengapa semua anggota Keluarga Sean mengikuti mereka semua.
"kenapa mereka mengikuti kita?" tanya Ana dalam bahasa Indonesia.
Sean menarik tangan Ana membawa Ana melangkah menuju Kamarnya yang lebih luas dari Kamar sebelumnya, aturan di Negara Sean jika seorang perempuan diajak tidur di Kamar Seorang Pangeran jelas hubungan mereka sangatlah serius sehingga tidak akan ada Pria yang berani menyentuh Gadis itu walaupun seorang Raja, berbeda dengan Ana yang malah biasa saja karna Ia tidak tau peraturan Negara Sean.
__ADS_1
"tidur disini saja ya? bersihkan tubuhmu, aku akan bicara dengan Keluargaku.! ku mohon jangan kemana-mana karna kepalaku jaminannya pada Papa Rovert." pinta Sean memelas memegang kedua tangan Ana.
Ana mengangguk sedang memperhatikan sekitar hingga Ia tersadar akan kata-kata Sean, "Papa Rovert?" beo Ana.
Ana menoleh ke Pintu Kamar Sean yang sudah keluar lalu masuklah seorang Pelayan perempuan dengan pakaian nya terlihat mewah bagi ukuran seorang Pelayan.
"salam hormat saya Nona Putri..! nama saya Sophia, saya akan menjadi Pelayan anda kedepannya." Pelayan Sophia memperkenalkan diri dengan bahasa Negaranya.
Ana mengerti lalu mengibaskan tangannya saja seolah memberi izin karna Ia tau Kerajaan itu memang banyak sekali aturannya, Ana berada di Zaman Kerajaan Modern dan Ia sendiri heran bagaimana bisa hidupnya akan terlibat dengan Sean yang seorang Pangeran.
Sophia menyusun pakaian Ana dilemari mewah Sean yang kosong, jika Sean sendiri yang meminta Ana tinggal di Kamar Sean jelas semua yang ada di Kamar itu milik Ana termasuk Ranjangnya.
Ana melangkah ke arah Sofa dan membuka tirai kamar Sean hingga Ia bisa melihat pemandangan indah Negara itu.
"apa itu daerah Kekuasaan Negara ini?" tanya Ana ke Sophia.
Sophia segera meninggalkan pekerjaannya dan mendekati Ana dengan jarak yang sangat aman juga berdiri dengan formal.
Ana menoleh ke Sophia yang bertingkah seolah Ana ini adalah Tuan Putri padahal Ana kan seorang Manusia biasa di Negara Indonesia walaupun statusnya seorang Putri Penguasa tapi semua Pelayannya tidak seaneh Sophia.
"kenapa seperti itu sih? kemarilah..!" Ana menarik tangan Sophia mendekat ke arahnya hingga Sophia kaget dengan tingkah Ana yang bar-bar tidak seperti etika Putri Bangsawan.
Sophia meminta ampun karna kakinya keseleo membuat Ana jengah lalu mengancam Ia akan kabur dari Kamar ini, Sophia langsung bersimpuh meminta ampunan Ana semakin pusing saja kepala Ana menghadapi Pelayan Kerajaan yang satu itu.
Ana kan Gadis milik Sean jika kabur tanpa seizin Sean jelas sebuah petaka bagi Sophia.
"sekarang berdiri jangan membuatku marah." titah Ana yang lancar sekali menggunakan bahasa Negara nya Sean.
Sophia pun akhirnya menurut walau kaku harus mengikuti aturan Ana sendiri jika ingin menjadi Pelayan Ana, diam-diam Sophia merasa kagum Ana mau menyentuh bahunya, tangan dan berbicara akrab dengannya malah yang lebih dekat berbisik ditelinga Sophia.
selama ini Sophia kan seorang Pelayan hidupnya di Negara itu hanya dianggap seperti seekor binatang yang harus penurut dan jijik disentuh oleh Tuan Putri, terkadang jika terkena sentuhan Pelayan maka Pelayan itu akan dihukum karna merusak Kulit Tuan Putri. Jika Ana tau aturan seperti itu sudah jelas Ia akan protes pada Rajanya langsung karna Ana memang tidak terikat aturan gila itu.
"aduuh...! apa kalian tidak ada makanan?" tanya Ana sambil mengusap perutnya.
"ada Nona." jawab Sophia tersenyum lebar hanya beberapa jam saja menjadi Pelayan Ana sudah membuat Sophia senangnya minta ampun.
Sophia hendak pergi tapi dicekal tangannya oleh Ana sedangkan Sophia beralih ke Ana sambil tersenyum membalas pegangan tangan Ana seperti bocah saja.
__ADS_1
"aku ikut..!" pinta Ana membuat mata Sophia melebar.
Ana menutup mata Sophia dan mengomelinya jangan banyak melotot nanti biji matanya keluar, Sophia tidak sempat tertawa saking syoknya dengan perkataan Ana.
Ana dengan santainya berjalan berpegangan tangan dengan Sophia sebagai rantai Sophia kalau Ana tidak akan kabur, hati Shopia sangat senang dianggap manusia oleh Ana.
di dapur,
Ana menjatuhkan rahangnya melihat makanan yang tertata rapi di meja makan.
"ini apa?" tanya Ana.
Sophia dengan satu tarikan nafas menjelaskan semua makanan itu, Ana membentak Sophia dengan kesal.
"memangnya aku Bab* ha? kenapa makanannya sebanyak ini?"
"bab*?" beo Sophia menggeleng tidak terima Ana disamakan dengan binatang itu.
Ana dengan bar-barnya memasak sendiri didapur, Sophia sampai memekik beberapa kali membuat Ana kesal lalu menyumpal mulut Sophia dengan sayur jika dilepas maka Sophia akan dihukum berat jadi Sophia tidak bisa melepaskan sayur yang menyumpal mulutnya.
"dasar Negara aneh..! banyak sekali aturannya, memangnya aku Karnivora? semua daging tidak ada sayurnya, apa katanya? ada harinya makan sayur? dasar aturan kalian membosankan sekali." gerutu Ana dengan bahasa negaranya sendiri.
Ana tidak sadar Para Pelayan tengah bersimpuh dibelakang nya sementara Sophia sudah begitu cemas jika Ana terluka hukuman mereka akan lebih berat lagi apalagi jika terkena 1 titik minyak panas.
"sedang apa Ana?" tanya Sean.
semua Pelayan segera berputar arah ternyata ada seorang Pelayan melaporkan Ana yang bersikeras memasak sendiri.
"bertelur." jawab Ana ketus tanpa menoleh.
"hah? memangnya kamu Ayam?" tanya Sean terkekeh sambil melangkah mendekati Ana.
"lagian pertanyaanmu itu aneh..! apa kamu tidak lihat aku sedang masak?" sambar Ana balik.
.
.
__ADS_1
.